
Malam itu Arthur masih berada di kediaman shanum waktu menunjukkan pukul 10 malam Arthur yang masih duduk santai sembari menikmati kopi panas dan ketela rebus,. arthur hanya sesekali menatap shanum sedangkan shanum masih merasa bingung dan takut. Ia terus menatap ke luar jendela ia melihat beberpa orang sedang berjaga di luar kediaman shanum.
"Jangan khawatir mereka tak akan melukaimu" ucap Arthur
"Ya aku tahu apa sebaiknya mereka diizinkan masuk, menikmati secangkir teh" ucap shanum dengan polosnya
"Shanum, mereka sedang melakukan tugas dan perintah, ada waktu mereka akan beristirahat"
"Oouhh, begitu rupanya, oh tunggu sebentar" shanum berjalan menuju kamarnya dan kembali memebawa tas
"Maaf, aku tak bisa menerima ini!" Ucap shanum dengan hati hati dalam hatinya ada perasaan takut pada Arthur.
Arthur tak menjawab bahkan melirik pun tidak, wajahnya berubah menjadi dingin tak ada senyum lagi di wajah Arthur ia bangkit lalu berdiri di hadapan shanum
"Leo...!!" Panggil Arthur pada leo dan dengan sigapnya leo masuk ke dalam kediaman shanum
"Bawa tas itu kembali" ucap Arthur sembari menatap tajam pada shanum, leo hanya mengangguk mengiyakan lalu meraih tas yang saat itu di pegang oleh shanum
"Leo siapkan pesawat," ucap arthur dengan cepat ia menarik lengan shanum
"Ahh .. mau kemana..." Shanum terkejut akan sikap arthur ia mencoba berontak namun genggaman tangan arthur sangat kuat.
Arthur membawa shanum menuju distrik kepemerintahan desa valas di sana pesawat pribadi milik kerajaan valuta berada
"Arthur aku ga mau ikut" ucap shanum namun Arthur hanya diam.seketika shanum pun terdiam ia faham Arthur sedang marah padanya karena menolak pemberiannya
Di dalam pesawat shanum terlihat gelisah ia sangat takut karena ini kali pertama baginya naik pesawat. Di hadapan nya leo selalu menatapnya dengan tajam dan sinis setiap gerak yang shanum lakukan ia seperti bersiaga.
"Jangan buat dia takut dengan tatapanmu, dia sudah cukup takut dengan perlakuanku tadi" ucap Arthur pada leo,dan menoleh pada shanum yang duduk di sampingnya.
Leo manarik nafasnya dalam-dalam ia faham ia tak boleh terlalu waspada pada shanum
Mendengar itu shanum pun menoleh dan kembali menatap jendela di pesawat ia terus memainkan jemarinya Tiba tiba arthur meraih jemari shanum dan menggenggam nya shanum terkejut ia menoleh pada Arthur
"Apa dia tau kalo aku sedang takut dan khawatir, bagaimana bila pesawat ini jatuh hiiiy seram" ucapnya dalam hati
"Jangan khawatir kita tak akan jatuh" ucap arthur sembari berbisik
"Hah...heheh aku ga mikir gitu"
"Tapi aku tahu apa yang kamu fikirkan" ucap Arthur kembali
"Maaf"
"Apa yang buat mu khawatir dan takut?" Tanya arthur
"Ini kali pertamanya aku naik pesawat aku sangat takut ,dan lagi pula seharusnya kamu berikan aku sedikit waktu untukku berganti pakaian" ucap shanum sembari Memanyunkan bibirnya
Mendengar ucapan shanum, Arthur tertawa membuat leo dan pengawal yang lain terkejut mereka saling berpandangan
"Hahaha maaf, iyaa aku salah" ucap arthur ia tertawa karena ia baru menyadari bahwa malam itu shanum hanya memakai piyama tidurnya
"Kenapa yang mulia bisa tertawa lepas seperti itu langka sekali bisa melihatnya tertawa dengan lawan jenis bahkan dengan pria pun ia tak pernah tersenyum" ucap leo dalam hatinya
"Leo, fikiranmu berisik sekali," ucap Arthur tiba tiba, leo membungkuk memohon maaf
__ADS_1
"Maafkan aku yang mulia"
"Kau sudah faham kan, maka diamlah" ucap Arthur sembari tersenyum
"Kenapa, kalian bicara apa?" Tanya shanum dengan polosnya
"Tidak ada apa apa, lihat di bawah itu kota valuta dengan banyak gemerlap nya cahaya dan gedung pencakar langit" ucap Arthur
"Whooaaa indah yaa" ucap shanum ia masih belum melepaskan genggaman tangan arthur, Arthur hanya tersenyum dan semakin mengeratkan genggaman tangannya pada shanum.
Akhirnya pesawat pun mendarat dengan mulus dinatas gedung tertinggi di kota valuta,. Shanum berjalan mengikuti langkah arthur begitu juga kelima pengawal termasuk leo
"Leo, kalian berjaga di luar saja" ucap arthur
"Baik yang mulia"
Arthur membuka pintu dan mengajak shanum untuk masuk betapa Terkejutnya shanum, semua barang terlihat mewah lantai marmer, sofa yang mahal dan peralatan dari Cristal alat makan dari emas tersaji do meja makan milik Arthur
Shanum melihat ke sekeliling tak henti hentinya mulutnya berdecak kagum. Lalu ia berdiri di hadapan kaca yang sangat besar di lihatnya dari atas keadaan kota valuta pada malam hari.
"Indah yaa" ucap arthur yang tiba tiba menghampiri shanum
"Iyaa, ohh maaf aku kampungan yaa" ucap shanum
"Hahah tidak apa-apa,apa kamu suka view kota valuta pada malam hari"
"Iyaa suka begitu cantik seperti bertabur bintang" ucap shanum, Arthur hanya tersenyum manis
"Oh aku lupa kamu pasti lapar, ayoo aku akan memasak untukmu" ucap arthur berjalan menuju dapur
"Yaa benar tapi ketika aku ingin makan sesuatu dan menenangkan diri aku selalu kesini" ucap Arthur sembari menggulung kedua lengan bajunya dan bersiap memasak
Shanum duduk tak jauh dari arthur ia melihat kelihaian Arthur dlaam mengolak bahan bahan masakan
"Mau aku bantu"
"Tidak usah diam saja di sana"
"Baiklah"
Tak lama berselang masakan pun tersaji di hadapan shanum bau yang sangat harum dan enak dengan tampilan menggugah selera
"Whooaa...luar biasa" mata shanum berbinar melihat hasil masakan dari Arthur
"Ayoo makan"
"Apa nama masakan ini?" Tanya shanum sembari mencoba menyendok masakan yang di buat oleh Arthur
"Nasi goreng ham sapi dengan lada hitam"
"Aku boleh makan Sekarang??"
"Tentu saja." Ucap Arthur sembari tertawa
Shanum mulai menyuap makanan nya ia terdiam matanya berbinar
__ADS_1
"Heumm...enyaaakkk banghett" ucap shanum dengan mulut penuh makanan
"Heii..pelan pelan makan nya nanti kamu tersedak" ucap Arthur, sembari menyeka mulut shanum yang terlihat ada sisa makanan
"Ini enak ..enak banget," ucap shanum,namun tiba-tiba shanum terdiam ia mengunyah dengan lamban dan termenung, matanya mulai berkaca-kaca
"Hei..kenapa??" Tanya Arthur
"Jujur ini kali pertama aku makan enak, mungkiin..bila. Ayah dan bunda masih ada,aku tidak akan seperti ini" ucapnya ia menelen makanan itu perlahan dengan perasaan sesak
Arthur beranjak dari duduknya dan berjalan memutar menghampiri shanum lalu memeluk shanum yang tengah terduduk
"Ceritakan lebih banyak padaku tentang mu, tentang keluargamu" ucap Arthur is memeluk dan membelai kepala shanum
"Seandainya pagi itu aku tak lari bersama Shanaz mungkin aku pun sudah mati" ucap shanum terisak-isak
"Maksudnya??" Arthur duduk di hadapan shanum
"Dini hari ketika aku duduk di sekolah dasar kelas 6 aku terbangun dan melihat orangtuaku sudah tergeletak di lantai dengan banyak darah, ayah sudah tak bernafas, saat itu bunda menyadari akan kedatangan ku, ia menyuruh ku lariii...lariiii..lariii" ucap shanum sembari menangis menutup wajahnya, Arthur segera memeluk shanum
"Dengan sekuat tenaga aku berlari sembari menggendong sahnaz yang masih bayi,mungkin bila aku tak sembunyi dia pun akan membunuhku"
"Siapa dia, kamu tahu??"
"Tidak aku tak tahu, aku hanya ingat dia bertumbuh tinggi dan mencari sesuatu di kamar bunda,itu terakhir kali dia datang selanjutnya dia tak pernah datang mungkin apa yang dia cari tak ia temukan"
"Apa yang dia cari???"
"Aku tidak tahu hingga saat inipun aku tak tahu, di tambah shanaz pun pergi entah kemana" ucap shanum sembari menahan sesak
"Apa kamu sudah pernah melaporkan kejadian ini?"
"Semuanya menutupi mereka ketakutan akupun sama Takutnya" ucap shanum, arthur menarik nafasnya dalam-dalam.
"Tinggallah bersamaku" ucap Arthur sembari menatap wajah shanum dan membelai lembut pipi shanum.
"Aku tidak mau, aku...aku tak ingin pergi dari rumah"
"Saat ini kamu kekasihku shanum kamu wanitaku"
"Apaa..kamu bilang aku kekasihmu, arthur..kamu becanda aku hanya gadis kampung sedangkan kamu,kamu putra mahkota hahaha " ucap shanum sembari menyeka air matanya. Ia tak percaya akan ucapan Arthur.
Tiba tiba leo masuk dengan hati hati ia menghampiri Arthur dan shanum
"Maaf yang mulia, sudah waktunya nona shanum untuk kembali ke desa valas" ucap leo, Arthur berjalan mendekati leo
"Dia akan bermalam di sini"
"Tidak...aku harus pulang" ucap shanum namun Arthur menoleh ke arah shanum dengan tatapan dingin shanum langsung terdiam
"Besok pagi kamu baru pulang, Leo kamu boleh kembali beristirahat"
"Baik yang mulia" leo pun kembali ke ruangannya
"Ayoo habiskan makananmu, lalu tidur"
__ADS_1
Shanum masih tak percaya malam ini ia akan bermalam di kediaman Arthur, ia hanya diam tak bisa membantah apa yang Arthur ucapkan