KING OF VALUTA

KING OF VALUTA
KOV PART 7


__ADS_3

Malal harinya shanum masih tak percaya udin yang beberapa hari tinggal bersamanya ternyata adalah putra mahkota dari kerajaan valuta


"Kok aku bisa bisanya ga nyadar dia siapa, apa memang aku yang gaptek ga tau wajah putra mahkota, tapi menurut banyak orang dia jelek, berbulu, dan pokoknya hiiiiih sereeem" ucap shanum sembari bergidik ngeri


"Tapi dia tampan, ahh udah ahh ga mau mikir kemana mana, intinya aku gak mau terlibat Masalah, tapi kenapa ngerasa kehilangan begini" ucap shanum ia melihat kursi kosong yang biasanya di duduki oleh Arthur yang saat itu mengaku bernama udin


Sementara itu di kediaman Arthur yang megah dan mewah semua pengawal istna dan staff istana berkumpul menunggu kedatangan Arthur yang sudah hampir satu minggu menghilang ketika perayaan ulang tahunnya.


Pintu kastil terbuka lebar semua membungkuk beri hormat pada arthur. Arhur berjalan dengan gagahnya tanpa senyum aura dingin begitu terlihat dan terasa semua mata tak ada yang berani menatap arthur.


"Arthur.... " Ucap seorang ayah dengan suara bergetar dengan tertatih ia berjalan dan memeluk arthur ia sangat merindukan dan mengkhawatirkan Arthur


"Kamu baik baik saja nak" ia memeriksa seluruh tubuh Arthur


"Ya, ayah aku baik baik saja" ucapnya dengan dingin


"Arthur kamu kembali nak..." Suara yang lantang ia berlari memeluk arthur,dengan derai air mata ia memeluk arthur namun Arthur hanya menatapnya dengan tatapan sinis


"Apa kabar ibu tiri!" Ucap Arthur dengan lantang semua terdiam tak ada yang berani menatap


"Arthur jaga bicaramu di depan para staff istana" ucap ayah Arthur


Arthur hanya diam berlalu pergi meninggalkan semuanya.didalam kamar Arthur memejamkan matanya leo yang masih berdiri di dalam kamar Arthur tetap berjaga


"Leo, kamu istirahat saja"


"Tidak yang mulia, saya tak ingin kejadian minggu lalu terulang akibat kecerobohan saya"


"Haha tidak apa-apa, itu bukan kecerobohan mu tapi dia yang bermain sangat cepat dan terkesan tak tertata" ucap Arthur sembari tersenyum ketir


"Bagaimana kabar shanum, apa dia sudah tidur,aku sedikit merindukan nya" ucap Arthur dalam hatinya.


Pagi harinya di kediaman Arthur, ia sedang sarapan bersama kedua orang tuanya, tiba tiba seseorang duduk di samping Arthur


"Selamat pagi" ucapnya,ia adalah Arkana anak pertama dari ibu sambung Arthur.


"Selamat pagi arkana, hari ini apa kegiatan mu" ucap ibu suri ia adalah nenek Arthur


"Aku hari ini ada kunjungan menuju rumah sakit cancer untuk anak anak nek"


"Wah, pasti mereka sangat bahagia. Berikan mereka bingkisan yaa" ucap ibu suri sembari tersenyum


"Selalu menghabiskan waktu dengan kunjungan , kapan akan memulai latihan militer" ucap Arthur dengan dingin semua menjadi diam


"Maaf,. Seperti arkana tak bisa mengikuti latihan itu" ucap ibu arkana


"Lalu untuk apa anak kesayangan ibu ratu ada di sini?"


"Arthur jaga sikapmu di hadapan ibu suri" ucap ayah arthur,ibu suri hanya diam menarik nafasnya dalam-dalam


"Arthur, cucuku sudah,cukup" ucap ibu suri sembari menatap wajah Arthur dengan lembut


"Maaf" ucap Arthur sembari tertunduk


Setelah makan pagi Arthur meninggalkan ruang makan menuju tempat latihan

__ADS_1


"Ka .tunggu..." Panggil arkana


"Kakak, apa aku kakamu??" Ucap Arthur


"Maaf, yang mulia" ucap arkana ia sedikit menjaga jarak.


"Ada apa?" Tanya Arthur kembali


"Aku hanya ingin tahu keadaanmu saja"


"Heum, ada angin apa kamu ingin tahu keadaan ky bukannya kamu selalu tak peduli" ucap Arthur sembri mendekati wajah arkana


"Ohh, apa kamu penasaran kenapa aku masih hidup" ucap Arthur dengan lirih seraya menatap tajam wajah Arkana, Arkana tak menjawab ia hanya diam ia pun menatap tajam wajah Arthur.


Arthur tak melanjutkan ucapannya ia pergi meninggalkan arkana


"Lebih baik kamu banyak berlatih bela diri dibandingkan selalu aktif di sosial media, yaa aku tahu mereka lebih mengenal mu di banding aku putra mahkota yang buruk rupa dan tiran, namun aku tak pernah berpura-pura dalam segala hal, sebaiknya kamu fikirkan bagaima melepas topeng mu itu" ucap Arthur. Sembari berlalu pergi


"Heum, dia memang sangat membenciku" ucap arkana dalam hatinya


Sementara itu Arthur sedang berlatih anggar di temani oleh Leo pengawal pribadi Arthur.ia berlatih dengan sangat gigih, tiba tiba Arthur membanting anggar nya


"Apa anda lelah yang mulia?" Tanya leo


"Tidak, leo siapkan kendaraan, kita ke desa valas" ucap Arthur dengan suara nya yang berat dan dingin sembari berjalan meninggalkan leo di ruang latihan


Leo hanya terdiam mengapa Arthur ingin kembali ke desa valas.


Didalam kamar Arthur tengah bersiap untuk ke desa valas


"Maaf yang mulia, apa anda yakin akan ke desa itu,"


"Maaf bila saya lancang, jarak dari kota valuta ke desa valas memakan waktu 5 jam apa yang mulia akan tetap mengendarai mobil kerajaan"


"Huuuf...maaf aku lupa, siapkan pesawat saja dan pastikan pendaratan tidak di ketahui oleh siapapun dan mengganggu siapapun"


"Baik yang mulia" leo segera pamit dan menyiapkan segalanya


Sementara itu di kediaman shanum, ia sedang menonton televisi seorang diri, tiba tiba di kesunyian malam ia mendengar ketukan halus dari pintu luar shanum menurunkan volume televisi benar saja ketukan itu semakin jelas dada shanum berdetak cepat ia berjalan perlahan ia membawa sapu untuk berjaga jaga


"Ayoo shanum jangan takut, klo pencuri, kamu pukul langsung" ucapnya dalam hati.


Dengan hati hati ia membuka pintu


"Aaaaaaa.....plok.plok..dug..." shanum mencoba memukul pria asing itu namun dengan sigap ia bisa menepis pukulan sapu milik shanum dan sapu itu terpelanting ke lantai


"Ckrek...!!" Lagi lagi pistol pengawal arthur dengan sigap menjaga tatkala ia melihat Arthur di pukul oleh shanum


"Ohh .maaf ..maaf..." Ucap shanum ia terlihat takut dan panik, tatkala yang datang malam itu ia lah Arthur putra mahkota kerjaan valuta


" Leo ..cukup, tolong awasi keadaan sekita saja ya"


"Tapi yang mulia.." leo khawatir akan keselamatan Arthur


"Aku tidak apa-apa, dia hanya waspada" ucap Arthur lalu Arthur pun masuk kedalam kediaman shanum, ia menutup pintunya rapat rapat shanum berjalan mundur seraya menjauh

__ADS_1


"Maa..maafkan saya yang mulia saa ya....tidak tahu" ucap shanum tak berani menatap wajah arthur


Arthur berjalan perlahan ia mendekati shanum yang tertunduk ketakutan


"Apa kabar, apa kamu hidup dengan baik" ucapnya sembari tersenyum


namun shanum hanya diam tertunduk ia tahu pria yang ada di hadapannya kini ialah Arthur bukan lagi udin yang ia tolong saat itu.


Arthur membelai rambut shanum dan ia memeluk shanum dengan lembut memebuat shanum terkejut ia takut bila menolak rumor tiran yang ada dalam diri arthur akan benar adanya ia tak membalas pelukan Arthur


"Aku selalu memikirkan kamu shanum" ucapnya sembari memeluk shanum dengan erat


"Kenapa..yang mulia kembali"


"Tolong panggil aku Arthur," ucapnya


"Ta...piii..."


"Arthur,cepat panggil aku Arthur,bila tidak aku tak akan melepaskan pelukan ini hingga kamu sesak dan mati.." bisik arthur ke telinga shanum


"Arthur ..!!!" Ucap shanum dengan cepat ia takut akan ancaman Arthur


"Ahahaahh.....hahaha shanum shanum apa kamu setakut itu" ucapnya sembari melepaskan pelukannya ia membelai wajah shanum, wajah lembut dan alami tanpa riasan makeup kulit putih dan rambutnya yang hitam lebat panjang menjuntai hingga pinggang


"Apa kamu takut dengan ku sekarang,bila kamu takut aku menyesal telah membuka identitas ku di hadapan mu shanum" ucap Arthur


"Maaf, aku hanya sedikit takut dan canggung" ucap shanum sembari tertunduk, arthur terus saja menatap wajah shanum dengan lembut ia menyentuh dagu shanum dan mencium lembut bibir shanum, mata shanum terbelalak tak percaya mengapa seorang putra mahkota mencium dan mendatangi kediamannya


Arthur melepaskan ciumannya lalu ia membelai lembut pipi shanum


"Di istana aku selalu memikirkan kamu, apa kamu makan dengan layak, apa kamu baik baik saja, apa kamu sehat" ucap Arthur


"Kenapa kamu jadi seperti ini" tanya shanum


"Entahlah, aku pun bingung. Tapi isi kepalaku saat ini hanya kamu num"


"Apa kamu baru kali ini mengenal wanita?" Tanya shanum


"Apa kah aku terlihat seperti itu??"


"Kamu terlihat belum pernah pacaran karena..."


"Karena??" Tanya arthur


"Lupakan saja"


"Ya . Ini pertama kalinya aku seperti ini pada seorang wanita, ini kali pertama aku merasakan rindu, dan ini pertama kalinya aku pacaran"


"Haa... maksud kamu" ucap shanum ia terkejut,dengan cepat Arthur memeluk shanum kembali tubuhnya yang tinggi dan kekar memeluk shanum yang bertubuh kecil mungil.


"Aku rindu"


"Becanda...kita baru kenal 5 hari apa 5 hari itu sudah cukup untuk..."


"Untuk jatuh cinta???" Tanya Arthur, shanum hanya diam menahan malu

__ADS_1


"Aku tak pernah berpura-pura pada perasaan ku sendiri" ucapnya dengan hati hati


Shanum tak dapat berkata apapun ia merasa ini sangat cepat, perasaan shanum pada Arthur pun ia masih merasa canggung.


__ADS_2