
pukul 07.00 pagi shanum di temani Arthur berkeliling melihat kebun strawberry miliknya
" Arthur kamu tau, dulu awalnya aku gak paham berkebun"
" lalu siapa yang mengajarimu?"
" heum, aku di ajarkan oleh kakek nya Dika, dari pemupukan penggempuran tanah,heum cara stek,cangkok pokoknya semuanya beliau yang ajari aku"
" oh begitu berarti kamu harus banyak berterima kasih sama kakeknya Dika"
" ya tapi kakek Dika sudah lama meninggal pas aku masih sekolah SD kelas 6"
Ucap shanum mereka menyusuri jalan setapak yang kiri dan kanannya di tanami strawbery yang berukuran besar, shanum memetik buah strawberry yang sudah memerah,
"kamu coba deh" ucap shanum Arthur meraih buah itu
" tunggu yang mulia, itu harus di cek terlebih dahulu " ucap Leo dengan sigapnya
Shanum menarik nafasnya dalam dalam, Arthur tersenyum pada Leo
" aku percaya calon istriku Leo,ini aman, disini aman, kalau bisa nikmati liburan mu disini"
" ah, baik yang mulia" ucap Leo ia masih berdiri mematung, Arthur terdiam melirik kearah leo
" ahh baik yang mulia" Leo segera pergi ia faham Arthur tak ingin Leo mengikuti
"ck..ck..ck.. Apa setiap hari dia selalu ikut kemanapun kamu pergi"
" ya"
" kamu ga risih"tanya shanum
" haahaaaaa ya awalnya aku risih tapi tak apa" ucap Arthur seraya tertawa
" ahh ni cobain" shanum menyodorkan buah strawberry pada Arthur
" aaaaa" Arthur membuka mulutnya ia ingin shanum menyuapinya,lalu shanummenyuapi strawbery itu ke mulut Arthur
"gimana manis banget kaaan" ucap shanum dengan mata berbinar, Arthur mengunyah nya perlahan
"chupp..manis" ucap Arthur sembari mencium lembut bibir shanum, shanum tersipu malu
"iiisshh apaan sih,maksudku strawberry nya" ucap shanum sembari menepuk bahu Arthur, Arthur hanya tersenyum melihat shanum yang malu-malu
" dua duanya manis" ucap Arthur seraya membelai lembut kepala shanum dan berlalu pergi dan mereka kembali menyusuri kebun pagi itu.
pukul 11 siang dayang sun telah menyiapkan makan siang untuk semuanya tiba tiba Bu parti dan pak Parmin datang membawa lauk untuk makan siang
kedatangan mereka di sambut hangat pak Parmin terlihat sedikit canggung dan takut ketika melihat Arthur Bu parti menyiapkan di meja segala lauk dan sayur kesukaan shanum
" ayoo ini ,masakan desa valas, dan ini kesukaan shanum" ucap Bu parti shanum terlihat bahagia ia melihat ke semua menu yang di buat oleh Bu parti
__ADS_1
" semuanya harus coba jangan terus terusan makanan istana" ucap shanum
" maaf nona tapi kami membawa yang mulia semuanya harus di cek terlebih dahulu" ucap Leo , Bu parti dan pak Parmin terdiam
" nduk, gak apa apa itu sudah jadi peraturan istana to, gak apa apa kamu ajah yang nikmati" ucap Bu parti
" heum padahal ini gak beracun" ucap shanum sembari menyiduk sayur nya shanum mulai makan tiba tiba
" heeekkk..hek..." ia memegangi lehernya semua panik begitu pula Arthur ia langsung mendekati shanum Bu parti dan pak Parmin mulai ketakutan
"shanum... shanum"
" heekkk huekk,,," shanum terlihat gelagapan
" pak.. kenapa shanum jadi begitu pak"
" sabar Bu, sabar"
" kalian masukan apa di masakan ini" ucap Arthur dengan tatapan memburu pada Bu parti dan pak Parmin
"oohook. Uuhuukk plook..ploook " shanum menepuk lengan Arthur agar ia berhenti bicara shanum minum segelas air
" haaaah Arthur iih" shanum menarik nafasnya dan memukul lengan Arthur
" aku tersedakkkk, aku gak apa kok" ucap shanum dengan sedikit kesal
"alhamdullilah " pak Parmin dan Bu parti berucap syukur,Arthur menarik nafasnya ia terlihat kesal dan panik
"minta maaf" ucap shanum pada Arthur, ia hanya diam
"cepet minta maaf" ucap shanum sembari melotot pada Arthur, Arthur terlihat enggan ia merasa wibawanya akan menjadi runtuh
"Arthur aku tahu kamu putra mahkota, punya kedudukan punya kuasa tapi ingat, kalo tanpa mereka rakyatmu kamu bisa apa, kamu mau image jelek tentang kamu selalu melekat di dirimu kamu, yaaa itu sih terserah Kamu" ucap shanum sembari makan dengan tenang
" pak, Bu, saya minta maaf" ucap Arthur shanum tersenyum senang Leo dan Laras berpandangan serasa tak percaya Arthur yang terkenal dingin akan menuruti semua ucapan shanum
" tidak apa apa yang mulia kami faham yang muli panik kami yang seharusnya minta maaf"ucap pak Parmin dengan hati hati
"bude pakde makasih yaa, menu makan siang nya enak banget" ucap shanum seraya tersenyum.
Setelah selesai makan siang shanum beserta Bu parti dan pak Parmin duduk bersama di halaman belakang, dayang sun dengan sigapnya menyiapkan teh hangat dan beberapa kudapan
"pakde yang ngurus kebun strawberry siapa ya kok masih subur" tanya shanum
" ah itu anu, pakde yang urus pakde mikir sayang num, kalo terbengkalai"
" whoaa makasih pakde"
"tapi sudah seminggu ini pakde ga ke rumah ini karena" pak Parmin mengentikan ucapannya ia melirik pada Bu parti, Arthur dan shanum mengernyit kan dahinya
" ada apa apa ada sesuatu yang tidak beres di sini?" tanya Arthur
__ADS_1
"begini yang mulia seminggu yang lalu ketika saya hendak menyiram kebun ada seseorang yang terus mengawasi rumah ini ia selalu mencoba untuk membuka rumah ini pernah satu kali pintu rumah ini terbuka, entah apa yang ia cari untuk itu saya dan istri segera mengunci dan menggembok rumah ini" ucap pak Parmin shanum terdiam, Arthur terus terdiam ia seolah memikirkan sesuatu
" pantas saja kunci ya beda jadi harus dirusak hehehe" ucap shanum
" yaa pakde ga tahu kalo kamu mau pulang nduk"
" Oia shanum , kamu mau tinggal disini lagi?" tanya Bu parti
" tidak shanum akan menetap di istana" ucap Arthur dengan dingin
" syukurlah" Bu parti dan pak Parmin menghela nafas lega
" kenap bude padahal aku mau tinggal disini"
" nduk, kamu sudah mau menikah jadi calon istri putra mahkota, itu sudah membuat bude tenang walaupun bude ga tau kenapa kamu bisa sampai sana, setidaknya hidupnya di sana terjamin kamu Ndak sendirian nduk,dan kamu aman di sana " ucap Bu parti
Bu parti sangat tahu keadaan yang menimpa keluarga shanum untuk itu ia sangat menjaga shanum.
" ibu dan bapak tenang saja shanum kami jaga dengan baik"
"terima kasih yang mulia terima kasih banyak titip shanum" ucap Bu parti dengan mata yang berkaca kaca
Sepulangnya Bu parti dan pak Parmin Shanum beristirahatlah dikamar Laras tetap berjaga di dalam rumah dan Arthur di temani oleh Leo berjaga di halam depan rumah shanum
"dia masih penasaran dengan rupanya, perketat lagi penjagaan di sini, buat pagar lebih tinggi tak peduli atas pandangan orang aku hanya ingin, menjaga apa yang shanum miliki walaupun aku tau keadaan istana sedang genting"ucap Arthur
" baik yang mulia" ucap Leo.
" gila, dia masih harus akan harta dan kekuasaan, tapi siapa dalang di balik semua ini" ucap Arthur dalam hatinya, tiba tiba ponsel Leo berdering Leo pun beranjak dan sedikit menjauh dari Arthur, wajahnya seketika menjadi gusar, segera ia menutup telepon dan menghampiri Arthur.
" maaf yang mulia, Mery memberikan kabar raja Theodore jatuh sakit" ucap Leo
" apa, kemarin bukannya ayah baik baik saja" Arthur terlihat khawatir
" raja tak bangun dari tidurnya semenjak tadi malam yang mulia" ucap Leo
"Kita kembali ke istana sekarang" Arthur beranjak dari duduknya dan menghampiri shanum yang tengah tertidur lelap,ia duduk bersimpuh di hadapan shanum di belainya pipi shanum,shanum membuka matanya perlahan
"heumm, ada apa" tanya Shanum
" maaf aku menganggu kebahagiaan mu, aku tahu kamu masih rindu di rumah ini" ucap Arthur sembari memandang lembut wajah shanum
" heii ada apa sih ada masalah di istana?" ucap shanum sembari membelai pipi Arthur
"ayah jatuh sakit,beliau tak sadarkan diri semenjak semalam" ucap Arthur terlihat raut ke khawatiran di wajahnya
"ya Tuhan, ayoo kita kembali ke istana" shanum beranjak dari tidurnya ia bergegas berkemas Arthur terdiam melihat shanum bersiap untuk pulang ke istana dengan cepat Arthur mendekap shanum dengan erat, shanum menarik nafasnya dalam dalam sembari tersenyum
"aku tidak apa apa masih ada waktu untuk kembali kesini, kesehatan ayahmu lebih penting," ucap Shanum seraya membelai lengan Arthur yang tengah mendekapnya ia tahu saat ini pikiran Arthur sedang tidak tenang.
Akhirnya sore itu mereka bertolak ke istana untuk melihat keadaan raja Theodore yang tengah tak sadarkan diri.
__ADS_1