
Sementara itu shanum Tengah diperiksa oleh dokter kerajaan dengan hati-hati sang dokter melihat pergelangan kaki shanum yang sudah mulai membaik tiba-tiba Arthur masuk ke dalam kamar shanum semua yang berada di kamar shanum menjadi tegang dan berdiri merunduk menghormati pada Arthur
"selamat siang yang mulia putra mahkota"dokter kerajaan mengucapkan salam pada Arthur
"bagaimana keadaan kakinya"
"sudah mulai membaik tapi masih harus hati-hati untuk berjalan" ucap dokter kerajaan
Arthur duduk di samping shanum ia melihat keadaan shanum, shanum hanya tersenyum
"apakah semuanya baik-baik saja Merry mengatakan kepadaku kita harus konferensi pers apakah benar pasti akan sangat ribet dan pasti akan sangat memusingkan sekali" sembari menggerutu, Arthur hanya tersenyum mendengar ucapan shanum.
" ya, itu semua harus di lakukan karena banyak berita simpang siur di luar sana" ucap Arthur
"gara gara ucapan mu pasti" ucap shanum dengan sedikit kesal, Leo dan Laras hanya saling melirik, tak da seorang pun yang berani mengatakan hal yang tak sopan pada Arthur
"memang sudah seharusnya kan aku publikasi, apa kamu mau hanya mendekam di istana tanpa ada yang tahu" ucap Arthur
" bukan begitu maksud ku,aku bingung bila nanti banyak wartawan yang bertanya aku harus jawab apa "ucap shanum dengan rasa khawatirnya
" itu semua sudah di atur oleh Merry"
" ohh begitu,ah apakah setelah konprensi itu aku boleh ke valas aku rindu rumah" ucap shanum
Arthur hanya diam sembari melihat pergelangan kaki shanum yang sedang kembali di balut dengan ramuan tradisional
" hemm, pasti ga boleh" lirih shanum, Arthur melirik shanum terdiam.
"apakah keadaan shanum aman untuk keluar dari istana dengan keadaan kakinya yang masih seperti ini" tanya Arthur pada dokter kerajaan
"sebaiknya tunggu hingga dua hari ke depan yang mulia " ucap dokter istana, shanum yang mendengar,menarik nafasnya dalam dalam ia merasa kesal
" besok shanum akan ke valas" ucap Arthur, membuat dokter kerajaan terkejut begitu juga dengan semua orang yang berada di kamar shanum
" tapi yang mulia.."
" kenapa, aku yang akan menjaganya siapkan saja obat obatan yang harus di konsumsi oleh shanum"
"baik yang mulia" ucap dokter kerajaan, lalu iapun pergi meninggalkan kediaman shanum
shanum yang mendengar itu menahan bahagia ia terus tersenyum ,ingin rasanya ia melompat dan memeluk Arthur
"kenapa senyum senyum" ucap Arthur pada shanum
" heehee makasih yaa," ucap shanum sembari tersenyum lebar
__ADS_1
" hemmm, aku,Laras dan Leo akan ikut"
" haaaah!!, " shanum terkejut ia pikir akan pulang seorang diri namun ternyata ia tak sendiri
" serius? aku pulang sendiri saja yaa" rengek shanum
" no"
" please..Arthur boleh yaa"
" aku bilang tidak yaa tidak! paham!, aku, Leo Laras akan ikut" ucap Arthur shanum memanyunkan bibirnya ia melihat ke Leo dan Laras keduanya Tersenyum sembari mengangguk-angguk setuju
" haaaaah ya sudahlah" ucap shanum dengan lesu
" maaf yang mulia bolehkah aku ikut" ucap dayang sun tiba tiba semua terkejut melirik pada dayang sun, namun dayang sun hanya tersenyum tanpa rasa takut
"boleh..! bila dayang sun ikut semuanya boleh ikut tetapi bila dayang sun tidak ikut semuanya tidak boleh ikut titik..." ucap shanum dengan tegas semua menarik nafas dalam-dalam kecuali dayang sun ia tersenyum bahagia
"sudah berani ambil keputusan ternyata" ucap Arthur
" yaa be..raaniii,kan aku calon istri putra mahkota heeheee" ucap shanum sembari terbata bata ketakutan ia khawatir Arthur akan marah, seketika senyum Arthur mengembang dan ia pun tertawa terbahak bahak
" hahahaha... haaahaa.calon istri yang sudah mulai terbiasa mengomeli putra mahkota walau di depan para pengawal yaa" ucap Arthur sembari mencubit pipi shanum
"aah...ahh saaakiiit tauu" manja shanum, Arthur tersenyum memandangi wajah shanum tiba tiba ia mendekati hendak mencium shanum
"ck, ada orang tau" ucap shanum sembari menepuk lembut bahu Arthur Arthur hanya tertawa ia lupa bahwa di kamar shanum buka hanya mereka berdua tetapi ada Leo,Laras, dan dayang sun
" oke besok kita ke valas, dayang sun boleh ikut, untuk melayani nona shanum dari mulai memasak untuk kami semua"
" baik yang mulia, apa harus membawa stok makanan dari istana" ucap dayang sun penuh semangat
" boleh,karena di sana tak ada apapun hanya ada ikan asin" ucap Arthur sembari tertawa kecil, shanum pun ikut tertawa kecil sembari memukul lengan Arthur
"Leo,Laras persiapkan keamanan untuk ke valas, perketat area rumah shanum"
" tunggu...! di sana nanti apa akan banyak tentara yang berjaga "
" iyaa" ucap Arthur
"Arthur aku hanya ingin pulang bisa tidak hanya kita berlima tanpa ada banyak orang berjaga, dan aku ingin semua berdandan normal tanpa jas" ucap shanum melirik ke Leo dan laras
"tanpa kostum dayang dayang" lirik shanum pada dayang sun
" Daan tanpa jubah kerajaan" ucap shanum sembari menatap sinis ke Arthur
__ADS_1
" hiiy sereem, tatapannya" ucap Arthur sembari bergidik meledek shanum
"iiihhh Arthur kok gitu aku serius tauuu" shanum merajuk
" hahahaha iyaa iyaa oke, tanpa pakaian resmi kita berpakaian santai" ucap Arthur sembari bangun dari duduknya
" makasiihh " ucap shanum dengan suara manja sembari menggenggam jemari Arthur
" hemm iyaa,nanti siang kita ke aula istana pusat untuk konferensi pers"
" okee"
" istirahat yang cukup dan makan yang bergizi okee " ucap Arthur sembari membelai rambut shanum, shanum hanya tersenyum di perlakukan manis oleh Arthur
Siang itu shanum terlelap dalam tidurnya, ia terlihat lebih rileks tiba tiba seorang pria menaruh buket bunga di meja tidur shanum, bunga yang sangat harum shanum membuka matanya perlahan
"ahhh, maaf yang mulia raja Theodore" shanum bergegas turun dari tempat tidurnya
" aaaww,,asshhh" karena panik ia menurunkan kakinya dan Terasa sakit
" kamu tidak apa-apa,tidak usah bangun ayo kembali naik ke tempat tidurmu" ucap Theodore ia membantu shanum di kamar itu hanya ada Theodore dan shanum
" maaf kan saya yang mulia raja"
" tidak apa-apa aku mengerti akan keadaan mu"
" maaf bila boleh saya bertanya ada maksud apa yang mulia mengunjungi istana timur" ucap shanum dengan hati hati. raja Theodore memandangi wajah lugu shanum dalam dalam lalu ia pun duduk di hadapan shanum, shanum semakin terkejut ia sedikit menggeser posisi duduknya
" maaf bila kamu tidak nyaman, di luar banyak yang berjaga tanpa Arthur tahu aku menemui mu, aku hanya ingin menjenguk dan sekaligus bertanya tentang dirimu dan anakku Arthur" ucap Theodore sembari menarik nafasnya dalam-dalam
" apakah kamu berkenan untuk menjawab" ucap Theodore
" yaa,saya berkenan yang mulia"
Theodore bangun dari duduknya dan berdiri memandang ke luar jendela kulit nya yang mulai keriput dan rambutnya yang sudah sedikit memutih terlihat ia hanyalah pria tua.
"Arthur anakku dari ratu terdahulu, dia lahir sebagai anak yang ceria, penurut dan selalu banyak bicara bila berhadapan dengan ibunya dan tentu denganku juga, tapi ketika malam naas itu ibu Arthur meninggal dunia dan ia menjadi seorang anak yang murung, waktu terus berjalan hingga akhirnya ratu Elisa naik tahta, yaa dia memang selirku dan dia mengandung anakku Arkana, saat itu Arthur menjadi seorang anak yang tertutup pembangkang dan emosional" ucap Theodore dengan tatapan mata yang kosong seolah ia mengingat akan masa lalu Arthur
" ia memutuskan untuk terjun ke militer dan lebih menjaga area pertahanan dan keamanan untuk negara dan istana tentunya, ia tak pernah muncul ke publik selalu bergerak di Balik layar,tapi aku akui ia sangat cerdik dan berhati-hati dalam mengambil keputusan dalam keadaan genting ketika istana valuta akan di serang oleh negara lain ternyata Arthur mampu mengatur strateginya dengan baik"
Theodore menceritakan masa lalu Arthur dengan detail pada shanum
" begitu pula ketika ia mengatakan bahwa ia memilihmu dan menolak perjodohan dengan putri dari perdana Mentri untuk menjadi istrinya, pada saat itu aku yakin Arthur pasti telah memikirkan semuanya dengan hati hati, namun ada satu pertanyaan dalam hati ini" ucap Theodore ia membalikkan tubuhnya dan memandangi shanum yang tengah duduk di atas tempat tidurnya
"apakah kamu benar mencintai Arthur, bukan karena rasa takutmu akan Arthur bila engkau menolak" ucap Theodore
__ADS_1
shanum terdiam seketika semua isi kepala shanum hilang entah kemana begitu mendengar pertanyaan dari Theodore.