
Tak terasa hampir dua minggu shanum mengikuti segala kegiatan belajarnya.hari itu kelas menari dan di awasi oleh ratu elisa beberpa kali shanum selalu salah gerakan salah hentakan dan sebagian ratu elisa terliht kesal
"SHANUM!!!" Ia berteriak pada shanum melihat shanum yang selalu salah, shanum berdiri dengan keringat membasahi bajunya dan terlihat lelah.laras yang melihatpun merasa iba ingin rasanya ia mmbawa shanum pulang namun ia tak kuasa karena ada ratu elisa.
Ratu elisa memandang shanum dengan tajam ia berjalan mendekati shanum
"PLAAAAK....PLAAAK!!" ia menampar kedua pipi shanum membuat semuanya terkejut shanum hanya diam ia tak bisa melawan ia hanya tertunduk
"Sudah hampir dua minggu kamu mengikuti pelajaran di istana ini apakah belum cukup untukmu bisa beradaptasi nona shanum?"tanya ratu Elisa dengan tatapan memburu
"Ma.. maafkan saya ibu ratu saya terlalu lamban untuk mempelajari sesuatu"ucap shanum sembari tertunduk dan terbata
"Saya tak butuh alasan untuk itu kamu dipilih oleh Arthur untuk memasuki istana ini dan kamu pula harus ikut peraturan yang ada di istana ini bila kamu tak sanggup kamu boleh pergi dari istana ini tapi saya tidak yakin apakah Arthur akan setuju bila kamu pergi meninggalkan istana ini untuk itu kamu harus ikuti semua yang ada di istana ini"ucap ratu Elisa dengan tatapan memburu selayaknya benci pada shanum
Semua yang melihat hanya bisa menarik nafasnya dalam-dalam
"Alberto tolong tambah lagi pelajaran menari untuknya saya tidak ingin ia tidak memiliki skill apapun"ucap ratu Elisa pada Alberto seorang guru tari
"Baik yang mulia ratu"ucap Alberto lalu ratu Elisa pun pergi meninggalkan studio latihan sembari menatap kesal pada shanum
Merry sekretaris pribadi Arthur sekaligus sekretaris pribadi shanum melihat di kejauhan ia hendak memasuki ruang latihan ia pun terdiam dan hanya bisa menarik nafasnya dalam-dalam mereka tak bisa membantu shanum karena shanum berhadapan langsung dengan ratu Elisa, Laras menghampiri shanum perlahan-lahan dilihatnya wajah shanum sudah terlihat lelah keringat bercucuran dan pakaiannya yang sudah mulai basah oleh keringat
__ADS_1
Shanum hanya tersenyum ia tahu bahwa ia merasakan kesakitan namun ia tak ingin menunjukkannya di hadapan orang banyak ia hanya ingin menyembunyikannya
"Menangislah bila kamu ingin menangis"ucap Laras dengan suara lirih
"Untuk apa kak? aku baik-baik saja"ucap shanum dengan suara bergetar dan senyum ketir
"Sebaiknya nona shanum hari ini beristirahat karena sudah pukul 08.00 malam kasihan dia sebenarnya nona sanum sudah cukup lebih baik dan sudah banyak gerakan yang mulai dikuasai sedikit demi sedikit dan hentakannya pun hanya sedikit yang salah hari ini tapi mengapa ratu Eliza sangat marah sekali"ucap Alberto pada laras dan shanum
"Tidak apa-apa tuan Alberto mungkin ini kesalahan aku yang tidak fokus untuk belajar, oh ya besok ajari aku gerakan yang lainnya,Jangan pernah lelah mengajari aku"Ucap shanum saya tersenyum lalu ia pun berjalan meraih handuk dan tas kecil miliknya, perlahan air matanya mulai jatuh namun dengan cepat shanum menghapus air mata itu agar tak terlihat oleh semua orang ia sebisa mungkin terlihat tegar dan kuat menjalani segala perlakuan dari ratu Elisa
"Selamat malam Nona shanum, sudah waktunya anda pulang ke istana timur dan istirahat"ucap Merry dengan hati-hati ia tahu bahwa saat ini shanum sedang terguncang akibat perlakuan ratu Eliza
"Oh baiklah, oh iya sekretaris marry besok ada agenda apa setelah aku pulang sekolah?"ucap shanum seraya tersenyum ketir.
"Tidak usah ikuti saja agenda yang semestinya harus aku jalani"ucap shanum dengan senyum ketir dan berlalu pergi
"Ya Tuhan hatiku terasa sangat sakit melihat gadis kecil ini diperlakukan tidak adil oleh ratu Elisa namun aku tidak bisa berbuat apapun karena aku tidak tahu posisi nona shanum nantinya akan menjadi seperti apa selirkah atau Putri mahkota"ucap sekretaris marry dalam hatinya ia melihat sanu pergi meninggalkan tempat latihan bersama Laras
Shanum berjalan menuju istana timur dilihatnya jam di tangannya sudah pukul 09.00 malam dan ia melihat ponselnya yang masih sunyi tanpa kabar dari Arthur sudah hampir dua minggu ini Arthur tak mengabarinya bahkan menemuinya ke istana timur.
Tiba-tiba langkah shanum terhenti ia berjongkok larras hanya diam melihat shanum ia pun bingung harus berbuat apa, shanum pun mulai menangis terisak ia merasakan dadanya sesak dan ia pun merasa bahwa ia sendirian di istana tanpa kehadiran Arthur
__ADS_1
"Aku ingin pulang kak"ucap shanum sembari menangis dengan suara bergetar
Laras pun menghampiri shanum secara perlahan ia pun ikut menenangkan shanum
"Nona harus tetap semangat nona harus tetap bertahan di istana ini karena saya yakin tuan muda Arthur pasti punya tujuan lain untuk nona bertahan di istana ini
"Ini bukan duniaku kak ini bukan tempatku ini asing bagiku, aku pun tidak tahu mengapa arthur bawa aku ke sini aku hanya ingin kembali ke duniaku yang lalu kak kampung halamanku itu saja"ucap shanum sembari menangis terisak
Malam itu ia benar-benar merasa sesak pilu dan ia merasakan hampa dalam kesendirian ia merasa benar-benar menjadi orang asing di istana dan dia pun menyadari bahwasanya ia bukan keturunan bangsawan namun kenapa ia harus dilibatkan dari dalam istana.
Keesokan harinya shanum bersiap dengan pakaian terbaik menuju tempatnya menimba ilmu
"Selamat pagi nona sanum"ucap Merry pagi itu yang datang lebih pagi
"Selamat pagi sekretaris marry"
"Maaf nona shanum atas permintaan ibu suri hari ini kegiatan belajar Anda dihentikan sementara karena ibu suri ingin berbincang dengan anda satu hari ini kiranya nona shanum menyempatkan diri untuk menghampiri ibu suri yang sedang beristirahat di istana barat"ucap Merry seraya tersenyum
"Oh baiklah sekretaris marry saya akan ke sana menghampiri ibu suri, tapi sebelumnya apakah aku boleh bertanya sesuatu"tanya shanum sembari menatap marry, Merry hanya tersenyum ia paham apa yang akan ditanyakan oleh shanum
"Yang mulia putra mahkota Arthur saat ini sedang mengikuti pelatihan militer di perbatasan dan mungkin akan kembali dalam beberapa hari dan maaf sebelumnya karena tuan muda Arthur pun dilarang menggunakan ponsel di sana tapi tenang saja saya selalu mengabari keadaan anda kepada tuan muda Arthur"ucap Merry sembari tersenyum
__ADS_1
"Oh, heum, maksud aku bu..bu... Ah sudahlah sekretaris marry kenapa bisa langsung membaca pikiranku"ucap shanum sembari merajuk
Sekretaris Merry hanya menahan tawa melihat ekspresi shanum yang terlihat malu namun merajuk