
pagi itu semua keluarga istana sudah berkumpul begitu pula dengan perdana Mentri beserta tetua istana semuanya hadir pagi itu untuk membahas perihal ucapan Arthur yang kontroversial ketika acara bersama bangsawan kemarin malam.arthur yang duduk di samping Arkana' hanya menatap dingin pada semua yang berada di ruangan
" bagaimana bisa seorang putra mahkota yang nantinya akan menggantikan posisi raja dengan lantang mengumumkan bahkan mengenalkan seorang wanita yang tidak kamu kenal untuk menjadi calon istri putra mahkota, apakah ini memang rencana mu memporak porandakan Susunan kerajaan yang sudah kami atur sedari dulu, dengan kamu tak pernah muncul ke publik semenjak kepergian ibumu apa yang ada di pikiran mu Arthur" ucap tetua kerajaan dengan suara menekan
"maafkan kelancangan putra hamba tetua"
" aku tak ingin mendengar ucapan mu Theodore aku hanya ingin putra mahkota yang menjelaskan semua ini"
" ayahanda , sudah cukup" ucap Arthur seraya menaikan telapak tangannya untuk menyuruh ayah nya itu untuk diam.
" maafkan atas semua, kesalahanku, karena telah lancang memperkenalkan shanum pada publik" ucap arthur semua yang mendengar menarik nafasnya dalam dalam
"arthur apa kamu tahu dan menyadari apa yang kamu kemarin membuat gaduh istana dan negara ini,kamu tahu kan perjodohan mu telah di tentukan sedari kamu masih kecil"ucap salah satu tetua istana
"saya sangat tahu'tapi seiring berjalannya waktu dan berkaca dari peristiwa mendiang ibuku aku tak ingin kehidupan rumah tanggaku nanti harus di atur dan semua orang ikut campur" ucap arthur dengan lantang
theodore menarik nafasnya dalam dalam sembari memijit pelipis matanya yang terasa sakit
" mendiang ibumu sosok ratu yang sangat baik dan sangat mengerti posisi raja theodore" ucap tetua kembali
"oh yaa, apakah betul ibuku mengerti akan posisi ayahanda ku yang seorang raja, di hadapan publik dan media ia berpura pura bahagia namun ketika ia sendiri apa kalian tahu tangis pilu nya, menghadapi sikap dingin ayahku saat itu, sampai hari kematian nya pun tak ada seorang pun yang ingin membahasnya walaupun aku merasa janggal"
"tapi kematian ibumu tidak janggal arthur"
" oh yaa tidak janggal, untuk apa malam itu ibu berada di hotel istana dan untuk apa malam itu membeli serbuk beracun sebegitu bodohnya kah aku, saat itu aku percaya bahwa ibuku meninggal Karena kecelakaan"ucap arthur dengan lantang
semuanya terdiam mendengar ucapan Arthur Theodore menarik nafasnya dalam dalam begitu juga ibu suri.
"hingga detik ini kematian ibuku di ketahui oleh publik karena kecelakaan, hanya mobil ibu yang hancur, sedangkan ibuku tak ada di tempat dia mati terkapar di hotel di racun atau meracuni dirinya sendiri kalian seolah tutup mata,dan anda perdana Mentri andapun tahu kan anda ikut diam"
" itu kasus besar dan tidak boleh bocor ke publik aku harap kamu mengerti" ucap Theodore
" ya, aku selalu di tuntut mengerti, dan ikut menutup mata, kasus besar yang kalian sembunyikan bahkan mungkin pelaku nya masih berkeliaran di istana mungkin diantara kalian semua"
__ADS_1
" lancang sekali kamu Arthur!!!" tetua istana terdengar marah,Arthur hanya senyum menyeringai
"perjodohan mu dan anakku Shakira akan mendapatkan keuntungan yang besar apakah kamu tahu keuangan istana sedang tidak baik Arthur, banyak dana yang hilang dan tanpa jejak" ucap perdana Mentri
" seceroboh itukah istana!" ucap Arthur kembali
" aku tegaskan aku menolak perjodohan ini dengan alasan apapun" ucap Arthur ia bangun dari duduknya dan meninggalkan ruangan
" cih itu kah sikap seorang putra mahkota, bila tahu akan seperti ini lebih baik Arkana yang aku pilih" ucap salah satu tetua
" tetap saja Arkana' tidak bisa menjadi putra mahkota ia lahir lagi anak selir" ucap tetua sembari melirik ke arah Theodore, Theodore hanya diam tak menyahuti ucapan tetua
Arthur keluar dari ruangan dengan cepat langkahnya terhenti tatkala ia melihat Shakira yang berdiri di pintu masuk.
"Shakira, kenapa tidak masuk" tanya Arthur dengan tatapan dinginnya
" masuk atau tidak aku sudah tahu akan isi percakapan itu"ucap Shakira ia mendekati Arthur ia memandangi sinis wajah Arthur
" hubungan? hubungan apa! , apakah ada hubungan spesial di antara kita, kita memang teman masa kecil, tetapi itu tak bisa aku jadikan sebagai hubungan yang spesial, aku tak pernah mencintaimu Shakira" ucap Arthur sembari menatap dingin pada Shakira
Shakira menahan kesal ia mengepalkan tangannya diam diam ia tak percaya Arthur akan bicara seperti itu
"di dalam pernikahan politik tidak di butuh kan cinta Arthur! hanya kerjasama dalam bersandiwara padahal ini semua membawa keberuntungan untuk istana dan untuk negara ini" ucap Shakira
Arthur berjalan perlahan mendekati Shakira wajah mereka sangat dekat
" aku tak butuh keuntungan, aku hanya ingin menikahi orang yang aku cintai, berkali kali pun aku selalu berkata yang sama aku tak ingin ada perjodohan cukup orang tuaku saja yang di jadikan bidak dalam permainan di negara ini" ucap Arthur ia pun berlalu pergi, Shakira semakin kesal
" shanum tak akan aman bila ia terus di sisimu ia tak punya pelindung kuat ia hanya rakyat biasa" ucap Shakira lantang membuat Arthur menghentikan langkah nya lalu ia kembali membalikan tubuhnya dan memandang Shakira dengan tatapannya yang dingin dan memburu
" aku yang akan melindunginya, dan aku pastikan siapapun yang menyentuh shanum ia tak akan hidup dengan tenang dan nyaman di valuta walaupun ia berasal dari orang terpandang di valuta camkan itu" ucap Arthur ia pun pergi meninggalkan Shakira
Shakira masih terdiam menahan emosi nya namun ia tak ingin gegabah bertindak karena ia berada di area istana.
__ADS_1
Arthur berjalan menyusuri lorong istana langkahnya terhenti ia karena ia bertemu dengan ratu Elisa,
" selamat siang yang mulia ibu ratu" ucap Arthur tanpa merunduk hanya menatap tajam pada ratu Elisa
"putra mahkota, bukannya semua tetua masih berada di istana pusat mengapa putra mahkota sudah meninggalkan ruangan bukankah itu sangat lancang" ucap ratu Elisa
" aku sudah menolak perjodohan itu" ucap Arthur
" apa!, apa yang mulia tahu langkah yang mulia putra mahkota itu sangat,.."
" stop bicara formal padaku aku muak" ucap Arthur menghentikan ucapan ratu Elisa semua dayang yang mengikuti ratu hanya tertunduk ratu Elisa pun menahan kesal pada Arthur
"baiklah bila itu mau mu Arthur, aku tahu aku hanya ibu sambung mu tetapi aku ,masih memiliki wewenang untuk menegurmu, apa yang sudah kamu lakukan itu akan berdampak buruk pada istana ini kamu tak akan tau apa yang terjadi di istana,kamu berbeda dengan Arkana dia tau segala hal yang terjadi di istana "
" cih, membanggakan anak mu sendiri rupanya, yaa aku memang tidak tahu apapun dalam perekonomian dan politik di istana aku hanya mengetahui soal keamanan di istana, tapi bukan kan ini semua rencana mu yang berjalan dengan sangat mulus aku menarik diri dan anak mu yang di kenal luas, semua nya demi ambisi menjadi putra mahkota kan, sebenarnya kamu tau dia tak akan pernah jadi putra mahkota yang lahir dari seorang selir atau perebut suami orang yang dengan liciknya membunuh ratunya sendiri demi sebuah jabatan" ucap Arthur sembari menatap penuh emosi
" plaaaak!! " ratu Elisa menampar Arthur
" lancang sekali kamu, menuduh tanpa bukti" ucap ratu Elisa dengan suara bergetar penuh emosi
" heuh,,," Arthur tersenyum ketir sembari memegangi pipinya
" tamparanmu kurang mantap nyonya, rasanya seperti tersapu angin, aku akan ajari caranya menampar hingga musuh jatuh terkapar, ohh aku lupa kamu wanita, aku akan coba ke Arkana " bisik Arthur ke telinga ratu Elisa
" brengsek, anak sialan, beraninya dia ancam aku" bisik hati Elisa ia terus menahan emosi
" jangan bawa bawa Arkana "
" hahahaha,dia harus terseret karena dia keluarga istana kan"
"ouh berarti nona shanum pun harus terseret bukan kan saat ini ia adalah keluarga istana yang akan menjadi istrimu kan" ucap ratu Elisa dengan tatapan sinis dan senyum menyeringai
"bila terjadi sesuatu pada shanum kamu orang pertama yang akan aku cari ratu Elisa " bisik Arthur pada ratu Elisa, ratu Elisa hanya diam menahan emosi dan Arthur pun pergi, meninggalkan ratu Elisa yang masih berdiri menahan kesal dan emosi pada Arthur
__ADS_1