
Luna menundukkan kepalanya, "Maaf... Maafkan Aku, Aku tidak bermaksud..." Air mata Luna mengalir begitu saja.
Nathan tidak tega melihat Luna seperti itu, dia memeluk Luna dan menenangkan Luna.
"Sudah, jangan terlalu dipikirkan. Aku hanya ingin Kamu lebih dekat dengan keluarga ku."
Luna menganggukkan kepalanya, "Aku akan mencobanya."
"Good job girl."
Beberapa hari di rumah Leonard membuat Luna tidak karuan. Kendra dan Nathar tidak memberikan sikap yang baik kepada Luna.
Seperti saat ini, Mereka tengah berkumpul di ruang keluarga karena Cla dan Kevin datang membawa Aurora.
"Haii Lola, apa sini sama Uncle..." Nathar menggendong tubuh kecil Aurora. Aurora tampak senang.
"Uncle..."
"Iya bayi gembul. Kamu lucu sekali sih." Nathar menggelitiki tubuh Aurora, Aurora tertawa terbahak-bahak.
"Oh ya, ini Aunty Luna..." Cla mengenalkan Luna kepada Aurora.
"Haii Aurora, sini sama Aunty?" Luna mengulurkan tangannya.
Namun Aurora menolak dan memeluk Nathar.
"Sepertinya Aurora belum terbiasa dengan orang asing." Nathar kembali memeluk tubuh kecil Aurora.
Cla tersenyum, "Lama-lama akan terbiasa. Oh ya Kamu belum isi?"
"Belum Kak."
"Tidak apa-apa, Aku pun sama dulu tidak langsung isi. Aku dengar Kamu sudah tidak ke kantor? Itu bisa menjaga kesuburan. Oh ya kapan Kalian akan pergi bulan madu?"
"Sekarang sedang ppkm, Kami tidak bisa bepergian Kak. Mungkin harus menunggu satu atau dua bulan lagi. Mencari waktu yang tepat untuk Aku mengambil cuti." Nathan menjawab.
"Oh iya benar, seluruh penerbangan diberhentikan untuk sementara." Kevin menambahkan.
"Daddy saja yang mau mengajak Mommy mu jalan-jalan harus tunda dulu." Kendra turut menambahkan
"Itu karena Kamu menunda-nunda terus." Amanda tampak kesal.
Cla tertawa, "Kalau Daddy tidak mau mengajak, Aku akan mengajak Mommy pergi jalan-jalan. Jangan ajak Daddy, biarkan Daady di sini menjaga Nathar."
"Apa? Kenapa Aku?" Nathar tampak keberatan. "Tentu Aku akan ikut dengan Mommy."
"Sudahlah, Daddy akan kalah. Kalian semua tim Mommy, tidak ada yang mendukung Daddy." Kendra pura-pura terlihat sedih.
Semua orang tertawa, "Itu karena Kami sangat menyayangi Mommy lebih dari apapun." Cla menambahkan.
"Betul, Kami tidak akan membiarkan siapapun menyakiti Mommy." Nathar menambahkan.
Luna tampak salah tingkah.
"Glaaannnpaaaa..." Aurora memegang tangan Kendra.
__ADS_1
"Lihatlah, ada yang membela ku." Kendra tertawa bahagia.
Semua orang terfokus kepada Aurora.
"Pintar sekalii cucu Granpa."
Semua orang tampak harmonis, kecuali Luna yang mulai tampak tidak nyaman dan salah tingkah.
Malam sudah larut, Cla dan Kevin memutuskan untuk pulang.
"Tidur saja di sini Sayang."
"Besok pagi Aku harus ke rumah sakit Mom, jadi maaf ya malam ini Aku belum bisa tidur di sini."
"Tidak apa-apa, jaga kesehatan mu Sayang." Amanda memeluk Cla dan mengecup kedua pipinya.
"Kami pamit Mom." Kevin mencium tangan Amanda.
"Hati-hati nak Kevin. Tolong jaga Cla ya."
"Iya Mom." Kevin memeluk Amanda.
Aurora sudah tertidur dalam gendongan Cla.
Tidak lupa Cla juga berpamitan kepada Luna, "Aku pulang dulu ya, lain kali main lah ke rumah Kami."
"Iya Kak, terima kasih."
Luna kini berada di dalam kamar bersama Nathan.
"Beruntung sekali ya Kak Cla." Luna duduk di samping Nathan.
"Kak Cla menikah dengan pemimpin perusahaan Z."
"Kamu juga menikah dengan pemimpin perusahaan L Sayang."
"Tapi Kak Cla masih diberi kebebasan untuk pergi bekerja."
"Sayang? Kak Cla saat ini adalah pemimpin L Hospital, kalau Kak Cla tidak bekerja, siapa yang akan memegang L Hospital."
"Tapi Aku jenuh berada di sini terus." Luna merajuk.
"Kamu sekali-kali ikut dengan ku ke kantor."
"Maksud ku di rumah ini."
Nathan tampak terkejut, "Rumah ini? Kenapa? Bukankah Mommy selalu menemani mu. Bahkan Mommy bilang Kalian membuat kue bersama."
"Tetap saja Sayang, Aku belum biasa dengan suasana seperti ini. Sejak kecil Aku tinggal bersama Ayah, Ayah selalu meninggalkan ku untuk pergi bekerja. Jadi Aku benar-benar belum bisa terbiasa." Luna memasang wajah sedihnya.
Nathan menarik nafas panjang, "Maaf Sayang, Aku terlalu memaksakan kehendak ku. Apa tidak apa-apa kalau Kita tinggal di apartemen untuk sementara?"
Luna tampak berbinar, "Iya tidak apa-apa Sayang. Aku mau tinggal di sana."
"Baiklah kalau Kamu tidak keberatan, Besok Kita akan pindah ke sana. Kamu bisa siapkan barang-barang mu besok pagi."
__ADS_1
"Terima kasih Sayang." Luna mengecup bibir Nathan.
"Jadi Nathan punya apartemen pribadi? Kenapa tidak dari awal dia mengajak ku ke sana? Kenapa harus ke rumah ini? Aku bagaikan berada di neraka, berada dalam pengawasan Tuan Kendra dan Nathar." Batin Luna bergumam.
"Apa hanya itu tanda terima kasih dari mu?" Nathan membuka kancing baju milik Luna secara perlahan.
"Tunggu. Tunggu dulu Sayang, Aku mau ke kamar mandi dulu."
"Aku tidak bisa menunggu." Seluruh kancing di pakaian Luna kini telah terbuka.
Luna mendorong tubuh Nathan hingga Nathan terlentang, "Aku akan melakukannya dengan sangat baik, tunggu Aku." Luna mengecup bibir Nathan dan pergi meninggalkannya.
Di dalam kamar mandi Luna mengeluarkan sebuah pil dan meminumnya.
"Hampir saja Aku melewatkan ini."
Luna mengganti pakaiannya dengan lingerie yang dia simpan di dalam lemari pakaian.
"Wah wah wah jadi karena ini Kamu ingin pergi ke kamar mandi?"
"Aku ingin memberikan yang terbaik untuk mu." Luna menghampiri Nathan.
Malam itu menjadi malam yang panjang bagi Mereka berdua.
Pagi hari Nathan menceritakan ingin pindah ke apartemen milik keluarganya.
"Kenapa Kamu pindah ke sana? Apa Kamu tidak betah berada di sini?" Amanda menggenggam tangan Luna.
"Bu...Bukan begitu Mommy."
"Kami ingin lebih fokus untuk memberikan cucu yang lucu untuk Mommy." Nathan tertawa.
Namun Luna tiba-tiba tersedak oleh minumannya.
"Hati-hati nak Luna, jangan dipikirkan kata-kata suami mu itu. Dia hanya bercanda." Amanda turut tertawa.
Luna tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Akhirnya Luna dan Nathan pindah ke apartemen milik keluarga.
"Untung barang bawaan Kita tidak terlalu banyak. Hari ini Aku harus tetap ke kantor. Apa tidak apa-apa Kamu di sini sendirian?"
"Iya tidak apa-apa Sayang." Luna tersenyum.
"Baiklah, Aku mandi dulu yaa Sayang." Nathan meninggalkan Luna dan pergi menuju kamar mandi.
Saat Nathan tengah mandi, ponsel Luna berdering menandakan panggilan masuk.
"Andra? Kenapa lagi dia menelpon ku?"
...----------------...
Haduuuh Luna tidak habis-habisnya.
Jangan lupa dukung karya ku dengan cara like, komentar dan vote Zheyeenk.
__ADS_1
Episode berikutnya Aku mau bahas keunyuan dari duo kesayangan Kita semua. Ayoo makanya dukung karya kuu 🥰🥰
Ditunggu bunga mawar dan secangkir kopinya yaa 🥰🥰