
"Baby..." Andra tertawa.
"Hentikan. Beraninya Kamu memanggi ku dengan sebutan itu." Luna tampak marah.
"Apa? Kenapa? Bukankah Kamu sebelumnya yakin untuk meninggalkan dia dan pergi bersama ku?"
"Apa? Kamu gila? Mana mungkin Aku mau meninggalkan suami ku demi pria br*ngsek seperti mu."
"Dasar perempuan j*lang, Kamu memang pantas untuk dibuang." Andra mencibir.
Nathan hanya tersenyum melihat Mereka berdua.
"Wah wah, pasangan sempurna. Daddy, ijinkan Aku menyatukan Mereka di pulau X. Sepertinya Mereka berdua sangat cocok untuk tinggal disana."
"A...Apa? Pulau X? Bukankah disana tidak dihuni manusia? Bahkan banyak sekali binatang buas di pulau itu. Tidak ada yang selamat tinggal disana. Aku mohon, maafkan Aku Sayaaaang..." Luna memeluk Nathan.
"Jangan pernah menyebut nama itu lagi. Kamu bahkan lebih berbahaya jika dibandingkan dengan binatang buas. Manusia buas!" Nathan menjambak rambut Luna.
"Aawww sakit... Lepaskan Aku" Luna meringis kesakitan.
"Sakit? Kamu tahu bagaimana sakitnya hati ku karena percaya kepada perempuan j*lang seperti mu?" Nathan menatap Luna dengan tatapan yang penuh emosi. Luna bahkan menundukkan kepalanya, tidak berani menatap Nathan sama sekali.
Andra tampak tertawa, "Nathan... Nathan... Kenapa Kamu begitu bodoh? Kamu dibodohi perempuan ular seperti Luna."
Nathan menghampiri Andra dan memukul wajahnya hingga babak belur, "Beruntung sekali Kamu karena ada Daddy disini, kalau tidak... Aku akan menghabisi mu dengan tangan ku sendiri."
Nathan menarik nafas panjang, "Bawa Mereka ke pulau X, pastikan Mereka tidak pernah keluar dari pulau itu dan tidak pernah mendapatkan pasokan makanan."
Luna tampak menangis dan memohon. Namun Nathan pergi meninggalkan Mereka begitu saja.
Malam itu juga Kendra membereskan urusannya dengan Luna dan Andra.
"Pilihan yang tepat, jalur hukum tidak akan cocok bagi Andra maupun Luna." Nathar tertawa dan mencoba menghibur Nathan.
"Sudahlah, perempuan seperti itu tidak pantas untuk dipikirkan." Kevin tersenyum.
"Bukan, bukan itu. Aku tidak memikirkan Luna." Nathan menarik nafas panjang.
"Lalu?"
"Aku malu. Aku malu kepada Kalian semua. Kenapa Aku tidak mempercayai Kalian waktu itu. Aku malah mempercayai perempuan ular itu. Benar, Aku benar-benar bodoh." Nathan tampak kecewa.
Cla memeluk Nathan, "Ssstt, jangan berkata seperti itu. Lupakan semuanya, bersyukurlah Kamu masih bisa melihat kebusukan Luna sebelum dia semakin menjadi."
Nathan tampak menangis dan memeluk Cla.
Kendra baru saja tiba di kediaman Cla dan kevin.
"Daddy..." Nathan memeluk Kendra bagaikan anak kecil yang baru saja bertengkar dengan temannya.
"Semua akan baik-baik saja. Maafkan Daddy karena terlambat mengatasi semuanya." Kendra memeluk Nathan dan mengusap punggungnya.
"No Daddy, ini salah ku."
Hari pun sudah kembali terang. Nathan, Nathar dan Kendra tidur di kediaman Kevin dan Cla.
__ADS_1
Mereka kembali berdiskusi mengenai masalah semalam, "Apa yang harus Kita katakan kepada Mommy?" Nathan tampak khawatir.
"Katakan yang sebenarnya, Mommy mu adalah wanita kuat."
"Aku sangat berdosa kepada Mommy, seharunya Aku mendengarkan kata-kata Mommy terlebih dahulu."
Flo datang dengan tergesa, "Nathar? Apa yang terjadi?"
"Semalam, Andra dan Luna menghadang mobil ku dan kemudian melakukan penculikan dan penyekapan." Nathar menjelaskan.
"Apa? Apa Kamu terluka? Bagaimana mungkin Luna dan Andra menyekap mu? Dimana?" Flo tampak panik.
Semua tampak tertawa, "Yang diculik itu Nathan, Mereka bertukar mobil. Luna mengira kalau Mereka menculik Nathar." Cla mencoba menjelaskan.
"Ta...Tapi... Nathar bilang kepada ku. Jadi Kamu berbohong? Kenapa Kamu berbohong seperti itu kepada ku? Kamu tahu kalau Aku sangat khawatir." Flo tampak kesal dan menangis.
Nathar tampak terkejut, "Kenapa? Kenapa Kamu menangis?"
"Kenapa Kamu berbohong kepada ku?"
"Maafkan Aku, Aku hanya ingin tahu seberapa pedulinya Kamu kepada ku." Nathar tertawa.
"Apa? Lalu Kamu tidak peduli dengan perasaan ku? Kenapa Kamu begitu kepada ku?"
Yang lain tampak terdiam dan pergi meninggalkan Mereka berdua sambil menahan tawa.
"Sepertinya Nathar belum tahu kalau mengatasi perempuan itu lebih sulit daripada menaklukan seluruh hewan buas di pulau X." Kevin tertawa.
"Apa? Jadi menurut mu Aku lebih mengerikan daripada hewan buas di sana?"
Kini Cla tampak merajuk, Kevin mencoba menjelaskan dan meminta maaf.
Kendra dan Nathan kini pergi meninggalkan Kevin dan Cla.
"Kalian sangat beruntung karena memiliki perempuan yang sangat menyayangi Kalian." Nathan duduk di samping Kendra.
"Apa? Lalu menurut mu Kamu tidak beruntung? Kamu sangat beruntung karena lahir dari seorang wanita kuat. Daddy memang beruntung karena memiliki Mommy Amanda. Tapi Kalian jauh lebih beruntung, Mommy mengorbankan hidup dan matinya demi melahirkan Kalian."
Nathan tertawa, "Bahkan cintanya lebih besar kepada Kami dari pada kepada Daddy kan ya?"
"Jangan katakan itu, Daddy sangat cemburu kepada Kalian."
Nathan kembali tertawa, Kendra memeluk Nathan.
"Kamu tidak kalah kuat dari Mommy mu, percayalah akan ada perempuan tulus yang mencintai mu dengan sepenuh hati."
Ponsel Kendra tiba-tiba berdering, menandakan panggilan masuk.
"Lihatlah, Mommy mu menelpon. Mommy pasti sangat merindukan Daddy."
Kendra menggeser tombol berwarna hijau, "Hallo sayang..."
"Dimana Kamu? Kenapa tiba-tiba hilang? Aku mencari mu ke seluruh ruangan dan tidak ada. Penjaga bilang Kamu keluar tengah malam dengan tergesa-gesa. Ada apa? Kenapa tidak bilang kepada ku?"
Nathan tertawa, "Siap-siaplah Daddy."
__ADS_1
"Suara siapa itu? Nathan?" Amanda tampak bingung.
"Emm Sayang..."
"Ada apa sebenarnya?" Amanda masih tampak kesal.
"I Love you..."
"I Love you too. Tapi ada apa?"
Kendra tertawa, "Rasanya Aku ingin segera menculik mu keliling dunia."
"Sayang, Kamu berhutang penjelasan kepada ku."
Nathan tertawa dan pergi meninggalkan Kendra.
Nathan menemui Aurora dan Arka di dalam kamar.
"Uncle..."
"Hallo jagoan Uncle... Princess nya Uncle... Good morning."
"Mowning Uncle." Mereka memeluk Nathan secara bersamaan. Suara khas bangun tidur dan anak-anak itu terdengar merdu di telinga Nathan.
"Uncle, apa Uncle cedang bewcedih?" Aurora mengusap wajah Nathan.
"Kenapa Uncle?" Arka turut mengusap wajah Nathan.
"No... Uncle baik-baik saja."
"Uncle, tidak boweh bewbohong. Doca tau." Aurora duduk di pangkuan Nathan.
Nathan tertawa kemudian memeluk keduanya.
"Uncle tidak berbohong. Lalu siapa yang mengajari Kalian bicara seperti ini?"
"Mommy... Mommy cuka mawah cama Daddy kawau Daddy bewbohong. Mommy biwang, Daddy bewdoca kawau bohong." Arka menjelaskan.
Nathan kembali tertawa, "Kalian pinter banget, sayang deh Uncle sama Kalian."
"Aku cayang Uncle."
"Aku juga cayang Uncle."
"Jangan, ini Uncle Lola." Aurora mendorong Arka.
"No, ini Uncle Aka." Arka tidak mau kalah.
"Ya ampun, apa ini yang dinamakan adil? Aku harus memisahkan Kalian yang sedang bertengkar."
...----------------...
Rasanya lega udah baca Luna yang dijambak, Andra yang dipukul, bahkan Mereka diasingkan. 😂😂
Jangan lupa dukung selalu karya ku yaa 🥰
__ADS_1
Buat Kalian yang selalu dukung karya ku, terima kasih 🥰🥰🥰🥰