
Nathan melepas pelukan Luna, "Ada apa? Kamu bisa menghubungi ku?"
"Apa? Aku istri mu, masa untuk menemui mu Aku harus membuat janji terlebih dahulu." Luna bergelayut di lengan Nathan.
Nathan melihat jam tangan yang melingkar di tangannya, "Aku ada meeting. Kamu pulanglah saja dulu."
"Tidak, Aku tidak mau. Aku akan menunggu mu sampai Kamu menyelesaikan pekerjaan mu." Luna bersikeras.
"Andai saja Kamu seperti ini tanpa melakukan perbuatan hina tersebut, Aku pasti akan sangat bahagia." Batin Nathan bergumam.
Nathar membuka pintu, dia tampak kesal melihat keberadaan Luna.
Luna tampak salah tingkah, Luna selalu tidak nyaman jika ada Nathar.
"Ada keperluan apa Kamu kemari?" Nathar bertanya kepada Luna.
"Ti...Tidak, Aku hanya mengkhawatirkan suami ku." Luna menundukkan kepalanya.
"Khawatir? Tenang saja, Aku selalu siap untuk melindungi saudara kembar ku." Nathar menatap Luna tajam.
Luna tampak ketakutan, "Ba...Baiklah, Aku akan pulang. Sampai jumpa Sayang." Luna hendak mencium pipi Nathan, namun Nathan menghindarinya.
"Ada Nathar."
Luna akhirnya keluar ruangan dengan raut wajah kesal.
"Aku sudah tahu keberadaan Andra."
"Benarkah? Bagaimana Kamu bisa mendapatkan informasi secepat itu?" Mereka duduk berdua di atas sofa.
Nathar menarik nafas panjang, "Kamu tahu kenapa Luna pingsan di pesta pernikahan Kalian?"
"Kenapa? Luna kelelahan?"
"Tidak, Andra menghadiri pesta pernikahan Kalian."
"Apa? Jadi Luna pingsan karena dia melihat laki-laki itu? Atau mungkin dia takut ketahuan?" Nathan tampak geram.
"Sejak saat itu, Aku mengirim seseorang untuk membuntuti Andra."
"Lalu? Apa Kamu tahu Andra selalu menemui Luna?"
"Tentu saja, tapi Aku tidak menyangka kalau Luna belum berubah. Setahu ku, Luna diancam oleh Andra."
"Diancam?"
Nathar menceritakan semuanya. Nathan tampak snagat terkejut, sangat bertolak belakang dengan apa yang dijelaskan oleh Luna.
"Dasar rubah licik, dan Kamu bilang apa? Andra seorang buronan?"
__ADS_1
"Iya, dia buronan karena mengedarkan benda terlarang. Tentu saja Aku tidak membiarkan dia ditangkap oleh polisi begitu saja." Nathar menceritakan semuanya dengan penuh emosi.
"Bagus, Aku tahu hukuman apa yang cocok untuk Mereka. Aku akan mengabulkan keinginan terakhir dari Luna, yaitu tetap berada di samping Andra." Nathan tidak kalah emosi dari Nathar.
Di apartemen, Luna tampak marah-marah. "Kenapa Aku harus bertemu dengan Nathar? Pria itu sangat berbahaya, Aku tidak akan bisa mendekati Nathan kalau Nathar selalu ada di sampingnya."
Luna menghubungi Andra dan menceritakan kekesalannya, "Aku akan membereskan semuanya. Kamu tenang saja Baby."
"Baiklah, Aku percayakan Nathar kepada mu. Buat dia lenyap dan tidak bisa berada di samping Nathan lagi."
"Lalu, apa imbalannya untuk ku?" Andra tersenyum licik di balik telepon.
"Aku akan membayar mu berapa pun itu."
Andra tertawa, "Satu lagi, jangan pernah menghindar dari ku lagi Baby."
"Tentu saja, akan sangat rugi bagiku meninggalkan pria seperti mu."
Andra kembali tertawa, "Deal. Apa Aku boleh menemui mu? Kita harus merayakan kembali kebersamaan Kita."
"Kemarilah Baby, Aku juga sangat merindukan mu. Nathan benar-benar tidak bisa memuaskan ku."
Akhir pekan, Nathar mengajak Flo makan malam bersama Amanda dan Kendra.
"Apa harus secepat ini? Aku benar-benar masih takut." Flo tengah melihat bayangan dirinya dari cermin.
Nathar yang sudah menjemputnya sejak sore tertawa geli melihatnya, "Kenapa? Sudah satu tahun hubungan Kita, dan Aku rasa Daddy sudah mengetahui semuanya."
"Itulah Daddy ku, dia selalu tahu semua urusan anak-anaknya. Bahkan dulu, ketika Kak Cla berada di luar negeri sendirian, Daddy mengirim seseorang untuk melaporkan keadaan Kak Cla setiap saat. Apalagi sekarang, Kami di sini. Daddy pasti mengetahui semuanya." Nathar menceritakannya dengan bangga.
"Lalu Kamu tidak merasa keberatan?"
"Keberatan? Kenapa? Aku merasa Daddy selalu memperhatikan ku, bagaimana mungkin Aku keberatan untuk itu? Lagi pula, Daddy tidak pernah ikut campur urusan Kami selama Kami tidak menceritakannya secara langsung kepadanya."
"Keren, Aku tidak menyangka Tuan Leonard yang sangat sibuk itu selalu memberikan perhatian lebih kepada keluarganya." Flo tampak kagum.
"Tentu saja, apalagi kepada Mommy. Mommy dibuatnya jatuh cinta berkali-kali. Kalau Kamu melihat keharmonisan Mereka, Kamu akan iri dan ingin segera menikah." Nathar tertawa.
Flo memukul pelan lengan kekar Nathar.
Keluarga Leonard kini tengah berkumpul di rumah utama Mereka.
Cla, Kevin dan si kembar Aurora dan Arka juga hadir di sana.
Flo tampak canggung, namun Cla menghampirinya dan mengajaknya menemui Amanda di ruang makan.
Amanda memang tidak pernah melepaskan pekerjaan rumah begitu saja, walaupun kini sudah semakin banyak asisten rumah tangga yang membantu meringankan pekerjaan Amanda.
"Kemarilah nak. Dimana Aurora dan Arka?"
__ADS_1
Cla dan Flo menghampiri Amanda, "Itulah kenapa Kami kemari, Kami diabaikan oleh empat pria itu. Mereka hanya mengajak Aurora dan Arka bermain." Cla tampak cemberut.
Amanda tertawa, "Sayang, Kamu selalu saja seperti ini. Lihatlah kelakuan Cla nak Flo, dia selalu cemburu kepada kedua anaknya."
"Bagaimana tidak, dulu Akulah yang paling Mereka cintai. Sekarang? Ada dua bayi gembul yang menggantikan ku."
Amanda dan Flo tertawa melihat Cla yang merajuk.
Beberapa saat kemudian, makanan sudah tertata rapih di atas meja makan. Mereka makan bersama.
Setelah selesai makan, Mereka kembali berkumpul di ruang keluarga.
"Dimana Luna? Kenapa dia tidak ikut kemari?" Amanda tampak bingung karena Luna tidak ada di antara Mereka.
"Luna? Luna sedang tidak enak badan. Aku tidak bisa memaksanya kemari."
"Luna sakit? Seharusnya Kamu menemaninya saja." Amanda tampak khawatir.
"Sudah membaik, hanya saja Luna belum bisa kemana-mana."
Nathar mengalihkan pembicaraan, "Mommy dan Daddy kapan akan pergi jalan-jalan? Bukankah Daddy berhenti bekerja karena ingin trip ke luar negeri bersama Mommy?"
"Setelah Kamu menikahi Nona Flo, Mommy mu tidak ingin meninggalkan mu sendirian. Jadi cepatlah menikah supaya ada yang menjaga mu dan Daddy bisa mengajak Mommy jalan-jalan."
Flo membelalakkan matanya tidak percaya, Nathar hanya tertawa menanggapi Kendra.
"Sayang, kenapa Kamu mengatakan itu di depan Nona Flo? Lihatlah, dia tampak malu." Amanda memukul pelan lengan Kendra.
"Putra bungsu mu itu sangat tidak peka, Kita harus mengatakannya dengan jelas. Lagi pula sudah satu tahun lebih satu bulan hubungan Mereka, bahkan Nathar belum melamarnya sama sekali."
Flo membelalakkan matanya tidak percaya, Kendra bahkan tahu pasti seberapa lama hubungannya bersama Nathar. Benar kata Nathar, Kendra mengetahui semuanya.
Berbeda dengan Nathar, Nathar hanya tertawa.
"Aku mengajaknya kemari karena ingin meminta restu kepada Kalian untuk melamar Flo." Nathar menggenggam tangan Flo.
Wajah Flo tampak sangat memerah.
Keadaan tampak hening, namun Amanda angkat bicara.
"Daddy mu sering menceritakan hubungan Kalian, maka dari itu Mommy merestui Kalian."
...----------------...
Akhirnya lampu hijau untuk Nathar dan Flo.
Hukuman apa yang cocok untuk Luna dan Andra yaa?
Jangan lupa untuk dukung terus karya ku yaa.
__ADS_1
Maaf kemarin-kemarin belum up lagi, biasa yaa emak anak dua, idul fitri nya sibuk banget.
Mohon maaf lahir batin yaa semuanya 🥰🤗