
"Ngapain lagi sih, Ris. Belum puas lu ya," ucap Rasya tanpa menoleh ke arah depan, membuat wanita yang ada di ruangan ini terlihat heran dengan ucapan atasannya.
Ehemm...
Sahut Bunga yang berdehem, ia memandang atasannya yang fokus pada laptopnya, begitu gagah dan berwibawa. Bunga terpesona dengan sosok pria yang ada di hadapannya, mengagumi ketampanan yang dimiliki oleh atasannya.
Rasya kaget dengan suara yang berbeda, ia langsung memandang kearah depan, bukan Haris melainkan sekretarisnya yaitu Bunga. Rasya yang malu sudah mengucapkan kata-kata itu terhadap sekretarisnya.
"Permisi, Pak. Saya ingin menyerahkan laporan yang tadi kita bahas di ruang meeting," ucap Bunga yang menyerahkan berkas pada atasannya dan menyimpan di atas meja.
"Hem," sahut Rasya yang malu karena ketauan oleh bawahannya wibawa kedinginan nya lenyap di hadapan Bunga sang sekretarisnya.
Selesai menyerahkan berkas, Bunga pun pamit dan berlalu meninggalkan ruangan bosnya. Ia takut dengan wajah atasannya yang tak menjawab dengan kata-kata hanya deheman saja, ia pikir bosnya marah karena lancang masuk tanpa seizin dirinya. Bukannya tadi ia dengar sahutan atasannya dari dalam dan mempersilahkan ia masuk, tapi setelah ia mendengar itu tiba-tiba atasannya berubah 99% membuat Bunga takut.
Ia berjalan dan kembali tempatnya untuk mengerjakan tugas berikutnya.
.
.
.
Didalam ruangan, Rasya mengetuk kepalanya. Ia merasa bodoh dan ceroboh atas kelakuannya di hari pertama ia menjadi atasannya. Ini semua gara-gara asisten pribadinya itu, kalau bukan ia yang iseng mungkin hal barusan tidak terjadi dan membuat ia malu dengan wibawanya yang begitu dingin.
Rasya melupakan kejadian tersebut dengan fokus membaca dan melihat berkas yang di antarkan oleh sekretarisnya barusan, ia meneliti dan membacanya dengan detail apa yang dikerjakan oleh sekretarisnya, Rasya tersenyum, dengan hasil kerja kerasnya di hari pertamanya ia jadi karyawan di perusahaan ini. Sangat memuaskan dengan kinerja yang dilakukan oleh Bunga.
Sore harinya, Rasya pulang lebih awal karena hari ini tidak ada jadwal dirinya untuk meeting dan bertemu dengan orang lain. Tapi, Haris mencegahnya dan memanggilnya.
"Ras..," panggil Haris.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Rasya yang heran.
"Kamu mau kemana?" bukannya menjawab Haris melontarkan pertanyaan pada sahabatnya.
"Pulang lah, ngapain lagi," sahut Rasya dengan santainya.
"Enak lu ya, jam begini sudah pulang, sedangkan gue masih ngerjain tugas yang lu berikan," protes Haris yang tidak terima.
"Yang bos di sini siapa?" tanya Rasya.
"Lu,"
"Berarti gue bebas, dan gue gak ada pekerjaan yang harus gue lakukan."
"Terus lu mau ninggalin gue gitu, gak bisa. Lu harus temenin gue sampe selesai titik." ucap Haris yang menarik tangan sahabatnya untuk masuk ke dalam ruangannya.
Mau tidak mau Rasya pun menurut dan mengikuti langkah kaki sahabatnya yang menariknya sampai keruangan asisten pribadi.
Terselang beberapa saat pintu itu terbuka oleh seorang wanita yang begitu seksi, ia masuk tanpa mengetuk pintu dan berjalan menuju sofa yang ada Rasya di sana.
Siapa lagi kalau bukan Chika anaknya Mama Bella yang selalu mengganggu dan menggoda Rasya, karena Chika begitu tergila-gila pada sosok Rasya yang masih satu darah dengannya, ia tidak perduli dengan perkataan Mama dan Bunda Tasya yang sudah mengatakan kalau kalian itu masih saudara benar ataupun salah yang di katakan Mama Devan kalau Bella adalah anak dari mendiang Ayahnya yang sudah meninggal beberapa silam lalu.
"Hay, Ras." sapa Chika yang duduk di samping Rasya dengan manjanya.
Rasya pun menggeser duduknya, ia tidak suka dengan kedatangan wanita yang ada di sampingnya, selalu mengganggunya di manapun berada.
"Sini, Ras. Ngapain jauh-jauh, aku kangen banget sama kamu," ucap Chika pada Rasya yang tidak tahu malu mengungkapkan perasaannya di ruang asisten pribadinya.
"Eh, Chik. Di sini tuh tempat kerja, bukan tempat orang mesra-mesraan," protes Haris yang melihat kelakuan wanita yang bermuka dua.
__ADS_1
"Diam lu, jangan nyambung terus, dan jangan ikut campur masalah gue," protes Chika yang tidak terima.
Ketukan pintu pun membuyarkan perdebatan kedua orang yang berdebat, ketiganya memandang ke arah pintu tersebut.
"Masuk..," sahut Haris
Bunga pun masuk kedalam ruangan ini, melangkah dengan pelan dan membawa beberapa berkas di tangannya, dan menaruh berkas itu di atas meja asisten pribadi pak bosnya.
"Saya permisi dulu, Pak," pamit Bunga pada semua orang yang ada di ruangan ini.
"Tunggu dulu," cegah Rasya yang berdiri.
"Iya, Pak bos?" tanya Bunga yang membalikkan badannya.
"Kamu ikut saya," ajak Rasya yang menarik tangan gadis itu.
"Eh, Pak. Saya mau di bawa ke mana?" tanya Bunga yang kebingungan.
"Rasya... Rasya...," panggil Chika yang tidak di dengar oleh Rasya membuat ia kesal.
Di luar ruangan Bunga melepaskan tangan yang di genggam oleh bosnya.
"Pak mau kemana sih?" protes Bunga.
.
.
.
__ADS_1
.
Diam, jangan berisik, takut nyi Kunti ngikutin kita...