
Pertanyaan Bundanya membuat Rasya bingung, bingung untuk menyampaikan bahwa Bunga bukanlah pacar atau teman dekatnya. Itu hanya sebuah salah satu rencana sahabatnya yang membantu dirinya dari jerat wanita ular tersebut.
"Tapi, Bun," ucap Rasya yang bingung.
"Tapi apa? Bunda hanya ingin ketemu saja, emang gak boleh?"
"Bukannya begitu, Bun. Tapi Rasya belum tanya dulu sama orangnya," jawab Rasya memberi alasan lain.
"Kenapa gak kamu telepon saja sekarang?" pinta Bunda Tasya yang gembira, ini adalah kesempatan ia untuk mengenal sosok wanita yang tadi di ceritakan oleh putranya.
Rasya terdiam, ia bingung harus menjawab apa tentang perintah Bundanya yang menyuruh untuk menelpon Bunga sekarang.
"Gimana ya, Bun. Jam segini dia mungkin sibuk,"
"Sini ponsel kamu, biar Bunda yang telpon dia sekarang," pinta Bunda Tasya, ia tidak boleh kecolongan dengan alasan sang putra yang selalu mengundur untuk mengetahui tentang sosok wanita itu.
Kapan lagi bisa melihat putranya dekat dengan lawan jenis seperti ini, ini adalah kesempatannya untuk mengenal lebih dekat lagi dan mengetahui bebet bobot dan bibirnya.
Rasya pun dengan pasrah menyerahkan ponselnya, ia tidak bisa membantah dan menolak keinginan sang Bunda tercinta. Ia tidak ingin melihat kesedihan dan kekecewaan wanita hebatnya yang sudah melahirkannya dengan sebuah pengorbanan yang luar biasa. Walaupun dirinya tidak melihat dan merasakan apa yang di lakukan oleh Bundanya. Tapi sang Ayah selalu menceritakan tentang pengorbanan Bundanya saat melahirkan dirinya ke dunia ini.
Bunda Tasya pun mengambil dan membuka ponsel sang anak untuk mencari kontak ponsel wanita itu.
"Siapa namanya, Ras?" tanya Bunda Tasya.
"Bunga, Bun," jawab Rasya.
"Nama yang cantik, pasti orangnya juga cantik," puji Bunda Tasya yang tidak sabar ingin menghubungi nomor tersebut.
__ADS_1
"Emang cantik, Bun. Gak mungkin anak Bunda tidak tergila-gila padanya," batin Rasya.
Panggilan itu pun berdering menandakan bahwa nomor itu aktif dan tersambung, Bunda Tasya pun dengan senang ingin segera mendengar calon mantunya itu.
"Halo, asalamualaikum, Pak. Ada apa ya?" ucap Bunga di sebrang sana.
"Waalaikumsalam, benar ini dengan Nak Bunga?" tanya Bunda Tasya yang ingin memastikan bahwa wanita itu bernama Bunga. Ia tidak ingin sang putra berbohong lagi untuk masalah perempuan.
Di sebrang sana, Bunga mengernyitkan dahinya. Ia heran dengan suara wanita yang memanggilnya dengan nomor atasannya.
"Iya, bener. Ini dengan siapa ya?" tanya Bunga.
"Saya dengan Bundanya Rasya, kamu kenal kan."
"Iya, betul, Tan. Saya Bunga sekretarisnya Pak Rasya," jawab jujur Bunga.
"Boleh kita ketemuan?" tanya Bunda Tasya lagi.
"Bun," protes Rasya yang malu dengan ajakan Bundanya pada Bunga yang entah akan menjawab apa tentang ajakan Bundanya yang tidak masuk akal.
"Diam, Bunda lagi bicara sama calon mantu Bunda," jawab Bunda Tasya yang begitu bangga dengan pengakuan pada wanita yang belum pernah ia lihat.
Di sebrang sana, Bunga yang bingung harus menjawab apa tentang ajakan wanita yang di sebut orang tua dari atasannya.
"Gimana Nak Bunga?" tanya Bunda Tasya lagi.
"Nanti saya kabari lagi ya, Tante. Saya belum bisa memastikan kapan akan bertemu dengan Tante," ucap Bunga yang memberi alasan agar Bundanya atasannya tidak marah dan tidak kecewa dengan jawaban yang ia berikan.
__ADS_1
"Tante tunggu ya,"
"Iya.," jawab Bunga, dan keduanya mengakhiri sambungan teleponnya saat beberapa menit kemudian, keduanya membahas tentang perkenalan yang begitu akrab seperti sudah lama mengenal sesama.
Bunda Tasya pun menyerahkan ponsel sang putra pada pemiliknya dengan senyum yang mengembang. Dan berlalu tanpa memberi tahukan pada putranya tentang ajakannya pada wanita itu.
"Yah, gimana ini," adu Rasya pada ayahnya yang sedang duduk sambil membaca majalah bisnisnya.
Ayah Radit pun mengangkat bahunya tanda ia juga tidak paham dan tidak tahu tentang rencananya sang istri yang begitu semangat untuk bertemu dengan sosok wanita itu.
Rasya pun membuang napasnya dan pergi berlalu meninggalkan sang Ayah yang lagi fokus tanpa menghiraukan rajukan putranya yang frustasi.
Bruk...
Rasya pun membanting pintu kamarnya dengan kasar, ia harus cari alasan saat Bunga bertanya pada dirinya tentang Bundanya yang kekeh ingin bertemu dengan dirinya.
Yang di khawatirkan pun terjadi, Bunga pun meng chat nya. Dan Rasya pun membuka pesan dari Bunga.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
[Asalamualaikum, Pak. Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa ibunya Bapak mengajak saya untuk pertemuan?]