
Perkataan Rasya membuat Bunga salah tingkah dan kemerahan kedua pipinya. Bunga memalingkan wajahnya kearah lain untuk menghindari tatapan Rasya padanya.
"Mau makan siang bersama?" tanya Rasya yang mengalihkan perhatian, ia juga tahu jika Bunga malu dan enggan untuk menatapnya.
Tanpa menjawab Bunga pun menganggukkan kepalanya tanda mengiyakan ajakan atasannya. Karena Bunga pun merasa lapar di jam waktunya istirahat.
Rasya keluar bersama Bunga, ia akan makan siang diluar yang tadi di bicarakan oleh keduanya. Beriringan berjalan menuju tempat mobil Rasya terparkir yang sudah di siapkan oleh penjaga itu karena Rasya sudah memberitahukan jika ia akan memakainya.
Sesampainya di lobby, Rasya maupun Bunga bergandengan tanpa di sadari keduanya. Semua orang kaget dengan hubungan antara sekretaris dan atasannya.
Rasya yang tak menyadarinya dan juga Bunga, berjalan menuju dimana mobil tersebut.
Saat Rasya ingin merogoh kunci mobil, ia kaget dengan rasa bercampur bahagia karena tanpa ia sadari telah menggenggam tangan wanita yang ia cintai tanpa penolakan.
"Eh," Bunga pun sama halnya ia juga kaget bercampur malu.
"Maaf,tak sengaja," ucap Rasya yang tak enak hati. Bukannya ia lancang tapi memang tak tahu.
"Tidak apa-apa, Pak. Saya juga tak menyadarinya," sahut Bunga.
Rasya pun membukakan pintu mobil untuk Bunga segera masuk ke dalam, Bunga pun menganggukkan dan berterima kasih pada atasannya karena tindakan yang menghormati wanita.
Bunga membayangkan kejadian tadi membuatnya menjadi memanas karena tingkahnya yang seolah berani menggenggam tangan atasannya di depan umum tersebut. Pasti semua karyawan akan menangkapnya ada hubungan dengan atasannya.
"Kamu kenapa? Kok melamun," tanya Rasya yang melirik kearah Bunga yang terdiam saat kejadian tadi.
"Tadi tuh aku beneran tak menyadarinya," jelas Rasya yang takut Bunga marah dengan tindakannya berani menggenggam tangan Bunga tanpa meminta izin.
"Ah, bukan itu, Pak. Saya malu saja saat karyawan lain menatap kita dengan aneh dan ternyata mereka melihat kita bergandengan tangan seperti tadi. Jadi saya tidak enak, Pak." jelas Bunga yang ia tadi pikirkan.
__ADS_1
"Gak usah perduliin mereka, kita yang jalanin. Baru pegangan tangan kalau sudah resmi pacaran bisa lebih dari itu," ucap Rasya.
"Maksudnya?" Bunda tak mengerti dengan ucapan Rasya.
"Tidak usah dipikirkan, mending pikirkan jawaban untuk menerima cinta aku," goda Rasya yang tahu jika Bunga akan kemerahan karena gugup dan malu.
"Bisa tidak, Pak. Jangan bahas itu dulu, saya masih menata hati saya dulu," sahut Bunga.
"Santai saja, saya tak memaksa sekarang. Yang penting hati kamu akan berlabuh di tempat ku," ucap Rasya yang memberi waktu pada Bunga untuk jawaban yang ia tunggu.
Bunga terdiam, ia menikmati perjalanan menuju resto yang sudah atasannya pesan sedari tadi. Rasya yang melirik kearah Bunga hanya tersenyum dengan Bunga yang telah mencuri hatinya.
Banyak wanita berbondong bondong mengulurkan tangannya dan memberikan cintanya pada Rasya tapi dia tak merespon dan melirik sama sekali.
.
.
.
Haris pun ke ruangan Rasya untuk menunggunya, ia melihat makanan yang sempat Rasya pesan barusan belum sama sekali di sentuh dan di makan. Sebanyak ini yang di pesan Rasya dan ada lagi yang tadi di bawakan oleh Bunga makin banyak makanan di atas meja ruangan Rasya.
"Kemana tuh orang, bikin kesal aja. Ini juga makanan sebanyak ini siapa yang habiskan coba," gurutu Haris yang kesal dengan atasannya.
"Ini juga ponselnya kenapa gak di bawa, kebiasaan emang tuh orang dari dulu sampai sekarang gak berubah ubah," omel Haris sedari tadi, ia pun terpaksa memakan makanan yang tadi ia pesan dari pada menunggu Rasya yang entah kapan datangnya.
Saat ingin memakan ada seseorang yang mengetuk pintu, Haris tau jika bukan sahabatnya.
"Masuk," sahut Haris yang mempersilahkan orang itu untuk masuk.
__ADS_1
Seorang bagian HRD masuk untuk menyerahkan beberapa berkas yang dipinta oleh bosnya.
"Maaf pak Haris, saya hanya mengantarkan berkas ini," ucap seorang HRD tersebut.
Haris mengangguk dan mengambil berkas tersebut, saat HRD tersebut ingin pergi Haris mencegahnya dan bertanya.
"Kamu melihat pak Rasya tidak?" tanya Haris.
seorang HRD tersebut berpikir dan ia mengingatnya.
"Tadi saya sempat lihat keluar bersama sekretarisnya, pak," jawab seorang HRD tersebut.
Dan seketika Haris melotot tak percaya dengan apa yang ia dengar barusan.
"Pergi," ucap Haris lagi.
"Iya, pak." jawabnya lagi. Setelah itu seorang HRD tersebut berlalu meninggalkan ruangan atasannya.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Benar-benar tuh, dia enak-enakan gue di sini tungguin dia. Terus ini makanan siapa yang habisin????