Kisah Cinta Tuan Muda

Kisah Cinta Tuan Muda
BAB 20


__ADS_3

Setelah selesai mengobrol dengan sahabatnya lewat sambungan telepon, Rasya bergegas ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya ia yang sudah mengantuk ingin segera memejamkan kedua matanya.


☀️☀️☀️☀️☀️


Pagi harinya Rasya pun sudah bangun dan rapih dengan setelah jasnya yang ia pakai, ia memakai setelan jas berwarna hitam dengan kemeja putihnya. Ia merapihkan nya lagi sebelum keluar dari kamarnya.


Ketukan pintu pun mengalihkan pandangan yang fokus di depan cermin, ia melangkah menuju pintu untuk membukanya dan melihat seorang asisten rumah tangganya yang di perintahkan oleh Bundanya untuk memanggil nya untuk segera turun memulai sarapan paginya.


Rasya pun mengangguk saat asisten rumah tangganya itu sudah menyampaikannya, Rasya pun turun dari lantai dua menuju lantai satu menuju ruang makan.


Sapaan pun Rasya layangkan pada kedua orang tuanya yang sudah duduk di kursi masing-masing, Rasya pun menarik kursi tersebut dan mengambil piringnya. Bundanya pun mengisikan piring sang putra satu-satunya yang ia miliki.


"Segini cukup?" tanya Bunda Tasya.


"Sudah, Bun," jawab Rasya mengambil beberapa lauk dan teman-temannya.


Sarapan pun begitu hangat dengan obrolan yang terselip dengan candaan kadang Ayah Radit pun menanyakan sesuatu tentang perkembangan perusahaan.


Selesai sarapan, semua membubarkan diri masing-masing dan Rasya pun pamit dan bersalaman pada kedua orang tuanya dan Omanya. Ia ingin pergi pagi-pagi karena tidak ingin merasakan kemacetan di pagi hari.


Ia mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang karena waktu masih menunjukkan pukul setengah delapan, ia masih ada waktu luang saat tiba di perusahaannya. Sesampainya di perusahaannya ia turun dan memberikan kunci tersebut pada penjaga untuk di parkirkan di tempat bisa para petinggi perusahaan. Melangkah dengan raut muka yang begitu dingin Rasya memandang kearah depan, banyak para karyawan yang menyapa memberi hormat pada atasannya.


Rasya yang tidak menanggapi sapaan tersebut, ia langsung masuk ke ruangan yang ada di lantai paling atas. Ia masuk ke dalam lift tersebut dan menekan tombol tujuannya yang ada di lantai sepuluh.


Setibanya di lantai sepuluh, ia masuk kedalam ruangannya dan merebahkan tubuhnya di kursi. Ia meletakan tasnya dan memulai pekerjaannya yang sudah menunggu untuk segera di lakukan. Rasanya Rasya harus mulai terbiasa dengan keadaan seperti ini bertumpukan berkas-berkas yang sudah menunggunya di atas meja.


Pintu itu pun di buka, Rasya tau siapa yang datang kalau bukan Sahabatnya yang sudah biasa masuk tanpa mengetuknya terlebih dahulu.

__ADS_1


"Tumben sudah datang?" tanya Haris yang menghampiri sahabatnya yang sedang fokus membaca laporan kemarin.


"Gak tau gue juga, pengen aja," jawab Rasya dengan santai.


"Gue tau apa yang ada di otak kamu," tebak Haris pada sahabatnya.


"Apa?" tanya Rasya.


"Pengen lihat di Bunga kan!" tebaknya lagi, ia yang sudah tahu karakter sahabatnya yang seperti apa.


Rasya yang terkekeh, ia melihat kearah sahabatnya yang sedang membawa berkas untuk ia periksa dan tandatangani.


"Jawab aja sih, Ras. Gak usah sok ngelak segala, udah tau gue mah karakter lu seperti apa!"


"Tapi sayangnya tebakan lu gak sepenuhnya bener, gue datang ke sini dia kayaknya belum datang," ucap Rasya yang lemas. Ia sebenarnya datang pagi-pagi karena ada tujuan, ingin melihat wajah gadis tersebut yang setiap malam selalu menghantuinya.


"Kata gue juga, mending tanyain perasaan lu pada dia kalau benar-benar lu udah jatuh cinta, dari pada kayak gini," saran Haris yang memberi ide pada sahabatnya.


"Itu udah resikonya, Ras. Mau di terima atau ditolak haknya dia,"


"Eh, kampret. Bukannya nyemangatin malah bikin orang jadi lemes, sebelum berperang." protes Rasya yang mendengar saran dari sahabatnya.


"Hehehe, pis. gue juga belum ada pengalaman jadi gue juga gak tahu gimana rasanya tembak cewe," jawab Haris dengan cengengesan.


Rasya pun melemparkan bolpoin pada sahabatnya, bukannya memberi saran atau masukan malah ia menjerumuskannya sebelum berperang. Rasya pun menghela napas panjang dan membuangnya perlahan.


Ia juga tidak ingin berburu-buru untuk mengungkapkan perasaannya sebelum ia mengetahui perasaan dirinya terhadapnya. Rasya takut untuk di tolak cintanya pada gadis tersebut.

__ADS_1


Obrolan itu pun selesai saat Haris membacakan jadwal untuk dirinya hari ini, jadwal yang begitu padat akan memakan waktu sampai ia harus lembur untuk hari ini hingga batas waktu yang belum di tentukan.


Sebelum memulai aktivitasnya Rasya sudah membuang napasnya dengan kasar, ia sebenarnya tidak ingin terjun langsung ke perusahaannya, ia yang mau tidak mau harus menerimanya untuk meneruskan perusahaan ini karena dirinya adalah anak tunggal dari pasangan Bunda dan Ayah Radit.


"Banyak banget jadwal gue hari ini?" protes Rasya yang sudah mendengar jadwal tersebut.


"Mau di tambahin? tanya Haris.


"Lu aja sendiri, gue udah bayangin aja udah nek duluan, kapan gue dapat jodohnya kalau gini terus," oceh Rasya pada dirinya sendiri.


"Harusnya lu bersyukur, Ras." nasehat Haris yang mulai serius.


"Bersyukur apa?" tanya Rasya yang mulai curiga.


"Bersyukur jadi anak satu-satunya dari orang terkaya di kota ini, coba deh lu bayangin kalau ada pria ganteng tapi hidup di jalanan kan gak seru, yang ada cewek-cewek pada kabur mikir dua kali," jawab Haris.


Rasya mulai berpikir dan membayangkan tentang hal tersebut yang di ucapkan oleh sahabatnya barusan, ia juga harus bersyukur atas apa yang telah di berikan oleh Tuhan padanya, ia masih bisa merasakan kebahagiaan bersama keluarga dan sahabatnya sekarang.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Makasih ya, bro. Udah ngingetin gue, kadang lu ada benarnya...


__ADS_2