
"Aku adalah teman spesial nya," sahut Rasya yang menyodorkan tangannya lalu tersenyum kearah Bunga.
Perkataan Rasya pun mengundang ketegangan di sekitarnya, Bunga yang kaget hanya melotot kearah atasannya yang sembarangan mengucapkan sesuatu yang akan memperkeruh hubungan dengan pria yang ada di sampingnya. Ia hanya menjelaskan apa pada kekasihnya tentang pengakuan Rasya yang mengaku sebagai teman spesialnya. Dan pria tersebut melirik kearah kekasihnya yang ingin meminta penjelasan tentang semua ucapan Rasya yang mengaku dirinya teman spesialnya.
"Kak, kita ke sana yuk!" ajak Bunga yang mengalihkan perhatian sang kekasih agar tidak terpancing omongan Rasya dan tidak menanyakan tentang penjelasan ini.
Aldi pun mengangguk setelah beberapa menit menatap tidak suka keberadaan teman kuliah itu, ia sebenarnya ingin tahu dan menanyakan hal tersebut. Tapi, Bunga terus menariknya untuk ke tempat lain.
Rasya hanya memandang punggung keduanya yang berlalu meninggalkan sendirian, ia menatap minuman yang sedang ia pegang sembari tersenyum seolah mentertawakan dirinya yang menginginkan Bunga yang menjadi kekasihnya. Tapi apa yang ia lihat barusan, Bunga sudah mempunyai kekasih sebelum ia menyatakan perasaannya.
Belum sempat ia menyatakan perasaannya sudah mendapatkan pertanyaan yang begitu meyakinkan untuk dirinya yang seolah memutuskan semangat untuk mendapatkan cinta dari gadis tersebut.
Rasya pun di kagetkan dengan kedatangan sahabatnya itu walau bukan Haris yang selalu menemaninya dan tahu tentang dirinya.
"Ngapain melamun, Ras." tanya Haris yang memukul pundaknya.
Rasya menoleh dan tersenyum, ia enggan menjawab pertanyaan sahabatnya yang entah harus ia jawab apa.
"Tadi gue lihat di Bunga bersama teman kita waktu di kampus," adu Haris yang melihat pemandangan Bunga dan pria yang ia kenal.
"Dia kekasihnya," ucap Rasya dengan singkat sambil memainkan gelas yang ia pegang.
"Yang bener," kaget Haris yang tidak percaya dengan hubungan mereka, karena dirinya tidak pernah memergoki Bunga dekat dengan pria manapun saat dirinya berkerja di perusahaan Rasya sebagai sekretaris.
"Iya, dia sendiri yang bilang," balas Rasya yang berlalu meninggalkan sahabatnya, ia merasakan sakit yang tidak bisa di jelaskan. Sakit karena cintanya yang tidak terbalas atau cintanya yang bertepuk sebelah tangan.
"Sabar, Ras. Masih ada peluang, belum ada janur kuning, si Bunga masih bisa di perjuangkan," ucap Haris yang meyakinkan sahabatnya agar tidak patah hati sebelum berperang.
"Gue cabut dulu, gue ada urusan," pamit Rasya yang tiba-tiba ingin pergi, ia tidak semangat lagi saat pernyataan gadis yang ia incar pun sudah memiliki seorang kekasih. Ia malas di sini dan tidak semangat, ia tidak ingin melihat kemesraan dua orang yang ia cintai itu.
"Jangan gitu, Ras. Lu kan yang semangat untuk ngadain acara ini, gue rela ke sini sampe gak mandi," cegah Haris pada sahabatnya.
Rasya pun membuang napasnya, lalu meninggalkan sahabatnya yang masih merayu dirinya untuk tidak meninggalkan acara tersebut.
Rasya pun bergabung kembali pada teman-teman yang sudah lama tidak berjumpa, ia mengobrol untuk menghilangkan kejenuhannya setelah melihat keberadaan Bunga bersama kekasihnya. Ia sempat melirik kearah Bunga yang di suapi makanan oleh pria itu.
Hati Rasya sakit saat pemandangan itu ada di depan matanya, dirinya yang seharusnya ada di samping gadis itu bukan pria itu. Tapi Rasya tidak boleh egois untuk memaksakan perasaan Bunga terhadapnya, ia yang sudah mengetahui tentang perasaan gadis itu terhadapnya.
__ADS_1
Tiba-tiba datang wanita yang tidak pernah Rasya duga kehadirannya, dan dari mana wanita itu tahu keberadaan yang lagi mengadakan acara reunian bersama teman kuliahnya.
Siapa lagi kalau bukan Chika yang ada di hadapannya, Rasya yang malas dan semakin malas saat bertemu dengan jelmaan nyi Kunti ini.
"Rasya, kok gak ngajak-ngajak aku sih," protes Chika yang bergelanjut di lengan Rasya, membuat Rasya risih dengan tatapan orang-orang yang menatap kearahnya.
"Dari mana kamu tahu aku di sini?" tanya Rasya yang aneh dengan wanita di hadapannya.
"Itu tidak penting, yang penting aku sudah ada di sini, kamu senang kan?" tanya Chika lagi.
Rasya tidak menjawab, ia terus menghempaskan tangan Chika yang ada di lengannya, tapi itu sia-sia tangan Chika begitu enggan lepas darinya. Rasya pun membiarkannya dari pada ia jadi pusat perhatian orang-orang saat berdebat dengan wanita ini.
Bunga yang melihatnya pun langsung terlihat tidak suka dengan wanita itu yang manja pada atasannya, ia sebenarnya kenapa dengan perasaan yang entah tidak menginginkan Rasya dekat dengan seorang wanita manapun.
Kekasihnya pun menawarkan beberapa cemilan tapi terus di abaikan oleh Bunga, hingga membuat dirinya mengikuti arahan pandangan kekasihnya yang memandang kearah teman kuliah itu.
"Kamu lagi lihatin apa?" tanya Aldi yang mengagetkan Bunga yang sedang fokus.
"Eh, gak. Lagi memandang keadaan kafe ini," sahut Bunga yang mencari alasan, ia takut kekasihnya salah paham tentang ini.
"Bener?" tanya lagi.
"Bunga..," panggil Haris yang menghentikan langkah keduanya.
Keduanya pun menoleh berbarengan dan menatap kearah Haris yang tadi memanggilnya.
"Iya ada apa?" tanya Bunga.
"Boleh bicara gak?" tanya Haris yang tidak enak karena ada teman kampusnya.
"Bicara saja," pinta Bunga.
"Jangan di sini, bro boleh pinjam bunga nya!" pinta Haris pada pria ini.
"Mau bicara apa sih, emang gak bisa di sini ya," tanya Aldi yang mulai curiga.
"Ini penting, bro. masalah pekerjaan," alasan Haris yang masuk akal.
__ADS_1
"Bentar ya, kak."
Aldi pun mengangguk walaupun ia tidak rela kekasihnya mengobrol dengan pria lain selain dirinya.
Bunga dan Haris pun berjalan beriringan untuk berbicara serius dan mencari tempat agar orang-orang tidak tau maksud dirinya.
"Ada apa?" tanya Bunga yang sudah menemukan tempat yang pas berbicara dengan rekan kerjanya di kantor.
"Kamu bisa tolongin aku gak?" pinta Haris.
"Tolong apa?" tanya Bunga.
Haris pun membisikkan tentang rencananya dan Bunga pun mengangguk tanda mengerti, walaupun ia bingung dengan rencana itu yang akan jadi salah paham tentang hubungannya.
"Gimana? Mau kan," tanya Haris lagi.
"Tapi, Kak. Aku takut, ini akan jadi masalah buat hubungan ku,"
"Tenang saja, biar aku yang bicara pada kekasih mu itu,' ucap Haris yang meyakinkan Bunga agar bisa melakukan rencananya.
Bunga pun dengan pasrah ia mengikuti rencana ini dari pada ia di pecat dari kantor tempat ia berkerja, ia sudah nyaman dan senang saat berkerja di sana.
Bunga pun dengan pedenya melangkah dan mendekati Rasya yang masih bergelanjut manja oleh wanita itu. Dan datang langsung berkata.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Sayang, kok kamu tinggalkan aku sih...