Kisah Cinta Tuan Muda

Kisah Cinta Tuan Muda
BAB 33


__ADS_3

Sahut Rasya yang menggenggam tangan Bunga di depan sang Ayah, ia tidak ingin kebohongannya terbongkar dengan cepat sebelum hubungannya dengan Bunga yakin dengan keputusannya akan melanjutkan hubungan ini dengan saling cinta.


"Eh, iya. Aku lupa," jawab Bunga begitu gugup, bukan gugup karena berhadapan dengan Ayah Radit melainkan tangannya di genggaman di depan semua orang. Peraturannya saat ia membantu tidak ada kontak fisik antara dirinya dan atasannya.


Tapi, apa sekarang yang dilakukan oleh Rasya membuat hati dan pikirannya berdebar tidak karuan.


Ayah Radit menggelengkan kepalanya dengan tingkah laku kedua anak muda tersebut, ia pernah mengingat dimasa dirinya membenamkan rasa cintanya pada sahabatnya sendiri sejak lama sejak ia masih kecil dulu.


Kepergian keluarga Kirana membuat Ayah Radit dan Bunda Tasya masuk beriringan menuju kamarnya. Bunda Tasya akan menanyakan soal hubungan putranya pada suaminya jika itu akan diseriusin oleh putranya tersebut.


Ceklek...


Bunda Tasya duduk di sisi ranjang sambil menunggu sang suami selesai membersihkan diri, ia akan bertanya tentang hubungan sang putra dengan gadis cantik putrinya Kirana tersebut.


Saat Ayah Radit keluar dari kamar mandi ia menghampiri sang istri yang sedang menunggunya untuk berbicara, Ayah Radit duduk di sebelahnya dan mulai mengerti apa yang akan dikatakan oleh istrinya.


"Apa Ayah akan merestui mereka?" tanya Bunda Tasya langsung, ia tidak menyangka saja kalau putra semata wayangnya jatuh cinta pada sosok gadis itu. Sempat Bunda Tasya memperkenalkan pada anak temannya tersebut tapi Rasya selalu menolak dengan alasan lain.


Ayah Radit pun terdiam, ia juga bingung di satu sisi ia bahagia karena putranya sudah mendapatkan seorang wanita yang akan mendampingi dan menemaninya. Tapi ia takut dengan perasaan sang istri masih membenamkan rasa curiga dengan masa lalunya saat Kirana mengungkapkan perasaannya untuk mendapatkan dirinya.


"Kok Ayah diam?" tanya Bunda Tasya lagi dengan terdiam nya suaminya saat ia bertanya.


"Kalau mereka saling cinta kenapa tidak, Bun. Mungkin cinta Rasya berlabuh pada sosok wanita itu," jawab Ayah Radit mengutarakan pendapatnya, ia takut sang istri kecewa dengan jawabannya yang salah menyebutkan kata takut sang istri salah paham dan berujung marah padanya.


Bunda Tasya juga terdiam saat sang suami berkata tersebut, bukan ia tidak merestui hubungan putranya tapi ketakutan atas masa lalunya selalu menghantui pikirannya sekarang.

__ADS_1


"Jangan takut, Bun. Biar masa lalu kita kubur bersama sama, aku tahu dengan kecemasan dirimu, Kirana sudah bahagia dengan kehidupannya termasuk kita sekarang. Jadi jangan mengingat atau menengok ke belakang lagi, jangan sampai kita egois karena keinginan kita jika Rasya benar-benar mencintai gadis itu," ucap Ayah Radit meyakinkan sang istri untuk lebih tenang dan menerima semua ini.


Bunda Tasya menatap wajah suaminya itu, ada rasa begitu nyaman dan tentram saat Radit selalu meyakinkan dan membernya kenyamanan hingga sekarang. Ia bersyukur telah dikirimkan malaikat tanpa bersayap itu untuk menemani di hari harinya sedang terpuruk.


"Terimakasih Yah, Bunda hanya merasa takut. Takut dengan penghianatan," lirih Bunda Tasya yang menundukkan wajahnya.


Segera Ayah Radit menariknya untuk masuk kedalam pelukannya agar sang istri mencari kenyamanan dan kejujuran dirinya yang begitu mencintainya sejak persahabatan dari kecil hingga sekarang.


"Aku mencintaimu sejak kita masih kecil tidak mengenal itu cinta atau apa, dan sekarang aku sudah memiliki mu dan tidak akan meninggalkan apapun yang terjadi karena kamu adalah separuh jiwaku, Bun." ucap Ayah Radit meyakinkan rasa besarnya cintanya pada sosok wanita yang sudah menemani puluhan tahun ini.


"Jangan kecewakan aku, Yah. Hanya kamu yang aku percaya di dunia ini, hanya kamu satu-satunya yang aku miliki, Yah. Dan hanya kamu orang satu-satunya juga hingga sekarang aku percaya," balas Bunda Tasya mendongak ke atas, ia begitu nyaman berada didalam pelukan sang suami.


.


.


.


.


Merebahkan tubuhnya sambil memainkan ponselnya, Rasya ingin sekali menghubungi Bunga. Tapi alasannya apa kalau terhubung dengan Bunga.


"Kenapa gue jadi ABG gini sih," gumam Rasya yang merutuki dirinya yang sedang jatuh cinta.


Saat ponselnya berdering ia segera melihatnya. Dan yang menghubungi sekarang adalah sahabatnya yang ia tidak di harapkan saat ini. Rasya hanya ingin menunggu Bunga menghubunginya.

__ADS_1


"Iya," jawab Rasya begitu malas pada Haris.


"Kenapa lu lemes banget jawabnya," tanya Haris tidak biasanya sahabatnya seperti itu.


"Gak kenapa Napa, ada apa?" tanya Rasya.


"Nongkrong yuk?" ajak Haris yang bete di apartemennya sendirian.


"Malas," jawab Rasya dengan singkat.


"Kenapa?" tanya Haris lagi.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Gue lagi mikirin caranya gimana mendapatkan gadis itu ...


__ADS_2