
"Ras, aku ingin berkerja di sini," ucap Chika dengan kemantapan dirinya sendiri.
Seketika Rasya pun menoleh dari layar laptopnya, ia mengernyitkan dahinya tanda tidak paham dengan maksud yang Chika katakan, tidak mungkin seorang Chika ingin berkerja di perusahaannya. Wanita yang ada di hadapannya itu yang begitu manja tidak mau cape ataupun melakukan apapun itu termasuk mengerjakan tugas rumah sedikit pun, pekerjaannya hanya berpoya poya untuk menghabiskan uang orang tuanya.
"Aku gak salah dengar?" tanya Rasya untuk memastikan pendengarannya tidak salah.
Chika pun menggelengkan kepalanya, ia ingin berkerja di sini agar bisa lebih dekat lagi dengan pria yang ia cintai yang ada di hadapannya sekarang.
Ia tidak ingin ada seorang wanita yang akan merebut perhatian pria yang ada di hadapannya, Rasya hanya untuknya dan milik nya seorang, tidak ada seorang pun yang bisa merebutnya ataupun memilikinya.
Rasya menarik napasnya perlahan dan membuang dengan kasar, ia harus menjawab apa dengan keinginan wanita yang ada di hadapannya. Ia juga yang tidak ingin Chika ada di perusahaannya dan tidak ingin melihat setiap hari saat berkerja di kantor ini.
Melihatnya saja sekarang ia mulai bosan dengan tingkah laku yang seenaknya di kantor ini, ia tidak mau Chika berada di kantor ini dan berkerja di sini. Hidupnya sudah kacau saat kehadirannya yang setiap hari selalu datang menemuinya.
"Gimana, Ras. Apa kamu setuju?" tanya Chika lagi, ia ingin pria di hadapannya bisa menerimanya dan menjadi asistennya.
"Aku harus membicarakan dulu pada Ayah dan Bunda," jawab Rasya memberi alasan agar Chika berpikir lagi saat ingin berkerja di perusahaan ini.
"Ngapain harus tanya pada Ayah, Bunda. Kamu kan bosnya di sini," ketus Chika yang tidak terima dengan usulan Rasya.
"Iya, aku tahu. Tapi, yang berkuasa di sini adalah Ayah dan Bunda, aku hanya menjalankan saja." balas Rasya yang sudah pusing untuk melayani ocehan Chika.
"Pokoknya aku tidak mau tahu, kamu harus menerima aku kerja di sini, titik." ucap Chika lagi yang berlalu agar Rasya berubah pikiran dan memintanya untuk berkerja di sini.
Chika pun berlalu meninggalkan ruangan Rasya dengan hati yang dongkol bercampur aduk dengan kekesalan pada Rasya yang tidak pernah berubah sejak dulu selalu mengabaikannya saat ia ada di dekatnya. Ia yang harus bagaimana lagi untuk mendapatkan perhatian Rasya dan menerimanya menjadi kekasihnya.
Di ruangan, Rasya mengacak rambutnya. Ia begitu kesal dengan kedatangan wanita itu yang selalu mengganggu konsentrasi saat berkerja. Kepalanya menjadi pusing saat permintaannya di luar dugaannya, ia yang tidak mungkin untuk menerimanya menjadi karyawan di sini, potensi saja tidak menunjukkan bahwa dirinya bisa menangani masalah tentang pekerjaan.
Orang tuanya juga pasti tidak akan mengizinkan Chika untuk berkerja di sini, Bunda dan Ayahnya selalu mewanti-wanti agar tidak dekat dan berurusan dengan keluarga Bella. Bunda dan Ayahnya selalu bercerita tentang kehidupannya di masa lalu yang begitu kelam dan penuh dengan penderitaan dan cobaan yang di perbuat oleh keluarga dari mantan suami dari Bundanya.
Rasya yang tidak tahu kisahnya hanya dapat ceritanya saja saat Bundanya bercerita tentang kehidupannya yang menyedihkan yang penuh dendam di masa lalunya.
__ADS_1
Bunda Tasya pun melarang putranya tidak berhubungan dengan keluarga Bella, karena ia tidak ingin sang putra merasakan apa yang ia rasakan dan tidak ingin terjadi pada putranya. Bella pasti akan menuntut dan membalas dendamnya saat orang terdekatnya telah tiada dan mendekam di penjara seumur hidupnya.
Ketukan pintu membuyarkan lamunan Rasya yang sedang memikirkan cara agar Chika tidak berkerja di perusahaan ini. Ketukan pintu itu terus di ketuk belum Rasya mempersilahkan untuk masuk, dan Rasya pun menyahut agar orang itu masuk kedalam ruangannya.
Bunga masuk dengan beberapa berkas di tangannya, ia menyerahkan hasil pekerjaannya pada atasannya.
"Silahkan di cek lagi dan berikan tanda tangannya, Pak," ucap Bunga yang berdiri setelah menyerahkan berkas tersebut.
Rasya yang tidak fokus selalu memandang wajah Bunga, ia selalu terpesona saat Bunga ada di hadapannya.
"Pak," panggil Bunga yang membuyarkan lamunan atasannya.
"Eh, maaf. Saya lagi banyak pikiran," jawab Rasya yang malu saat dirinya melamun dan memandang kearahnya.
Bunga hanya mengangguk paham, setelah selesai tanda tangan Bunga pun mengambil lagi berkas yang sudah di cek dan di tandatangani oleh Rasya.
Ketika Bunga ingin membuka pintu tersebut Rasya pun mencegah dan memanggilnya.
"Nanti makan siang temani saya ya," ajak Rasya pada Bunga.
Bunga terdiam, ia enggan untuk menjawab ajakan atasannya. Ia yang sudah ada janji dengan sang kakak tirinya yang akan makan siang bersama. Tapi ajakan Rasya membuat ia bimbang dengan untuk menolaknya.
"Kenapa?" tanya Rasya yang melihatnya dengan tatapan aneh.
"Saya sudah ada janji, Pak. Nanti siang saya akan makan bersama dengan kakak saya," sahut Bunga yang memberi alasan dengan jujur agar tidak ada pertanyaan lagi.
Rasya yang mengangguk paham, dan mempersilahkan Bunga untuk pergi dari ruangan. Ketika Bunga sudah berlalu meninggalkan ruangan ini, Rasya merasakan kekecewaan atas penolakan dari Bunga, ia yang sudah merencanakan untuk makan bersama dengan Bunga dan mendekati gadis tersebut.
Ia ingin mengenal lebih jauh lagi tentang Bunga, kepribadiannya, kesukaannya, dan tentang apa yang di sukai dan tidak di sukai oleh Bunga. Ia ingin mencari tahunya dengan tangannya sendiri tanpa bantuan orang lain.
Pintu terbuka, Haris datang dengan raut wajah yang kacau.
__ADS_1
"Kenapa lu?" tanya Rasya yang terkekeh melihat sahabatnya.
"Bete banget, tadi ada jelmaan Kunti yang seenaknya mengatur di ruangan gue," adu Haris dengan kedatangan Chika ke ruangan untuk meminta agar merayu Rasya agar keinginannya tercapai.
"Dia ke ruangan lu juga! Gila tuh cewek, tadi juga udah dari sini, bikin pala gue puyeng seketika." balas Rasya yang tak kalah heboh saat menceritakan tentang Chika yang ingin berkerja di perusahaan ini.
"Terus keputusan lu apa?" tanya Haris pada sahabatnya.
Rasya mengangkat bahunya, ia juga bingung dengan keputusan yang ia berikan pada Chika. Tapi ia juga harus meminta izin dulu pada orang tuanya, dan memberikan keputusan yang tepat.
Haris membuang napasnya dengan perlahan, ia juga tidak suka dengan kelakuan Chika yang selalu semena-mena terhadap dirinya dan tidak menghormati dirinya sebagai asisten pribadi di perusahaan ini. Chika selalu besar kepala dan ia bilang jika dirinya juga ada kekuasaan di perusahaan ini. Ini adalah perusahaan kakeknya juga.
"Dengerin saja sih, aku juga bingung dengannya, bisa-bisa dia ingin berkerja di perusahaan ini. Tapi, aku curiga!" tanya Rasya dengan serius.
"Maksud lu apa?" tanya Haris yang mulai serius juga.
.
.
.
.
.
.
.
Apa mungkin ini ada kaitannya dengan masa lalu orang tua gue, dan Chika ingin membalas dendamnya pada gue!!!
__ADS_1