Kisah Cinta Tuan Muda

Kisah Cinta Tuan Muda
BAB 11


__ADS_3

"Diam, jangan berisik. Takut nyi Kunti ngikutin kita," titah Rasya pada asistennya. Bunga mengangguk tanda patuh pada atasannya, ia yang tidak mengerti dan hanya mengikuti perintahnya saja. Dari pada ia di pecat mendingan ia menurut pada atasannya.


Di ruangan yang sepi ini, Rasya dan Bunga ada di ruangan direktur utama tempat Rasya berkerja dan beraktivitas seperti biasa. Bunga memandang sesaat wajah atasannya dengan yang berbeda dari biasanya, tidak seperti kemarin saya selalu marah-marah tidak jelas.


"Aku tahu kalau aku ganteng, biasa saja pandangnya. Puas-puasin deh, sebelum di larang." sahut Rasya yang terkekeh melihat wajah Bunga yang tak berkedip memandang dirinya.


Seketika Bunga pun tersadar, ia memalingkan wajahnya karena malu sudah ketahuan oleh pemiliknya. Ia enggan melihat ataupun meliriknya.


"Jangan kepedean ya, aku hanya, hanya--," ucap Bunga yang memberi alasan tapi ia bingung untuk memberi alasan agar atasannya tidak kepedean.


"Hanya apa?" goda Rasya yang merasa lucu dengan tingkah gadis di hadapannya.


"Sudah ah, aku pengen keluar," jawab Bunga dengan nada ketus. Ia takut dengan ucapannya yang salah dan mengakibatkan dirinya yang akan termakan oleh omongannya.


Bunga berjalan menuju pintu, ia yang akan membuka di cegah oleh Rasya.


"Mau kemana? Sebentar lagi kita akan meeting di luar, kamu sudah mempersiapkannya?" tanya Rasya.


Bunga mengernyitkan dahinya, bukan kah itu tugasnya pak Haris asisten pribadinya. Bunga membalikkan badannya dan.


"Maaf, Pak. Bukannya itu tugasnya pak Haris!" tanya Bunga.


"Haris sudah saya tugaskan untuk menemui klien lain, kamu yang akan menggantikannya bersamaku," jawab Rasya yang sudah duduk di kursi kebesarannya.


Bunga terdiam, Pak Haris tidak berkata-kata apapun tentang ini untuk menggantikannya, belum lagi ia mengecek dan memeriksa beberapa berkas yang belum ia pelajari dari Pak Haris, dan pak Haris pun tidak memerintahkannya untuk menggantikannya bersama atasannya.


"Ngapain bengong, cepetan siapkan berkasnya. Sebentar lagi kita akan pergi," titah Rasya pada Bunga.

__ADS_1


Bunga tersadar, ia melangkah dan membuka pintu keluar dari ruangan ini untuk meminta berkas yang di tugaskan tadi oleh atasannya.


Ia mengetuk pintu ruangan asisten pribadinya bosnya, setelah ada sahutan dari dalam Bunga pun masuk dengan langkah yang buru-buru.


"Permisi, Pak Haris. Saya meminta berkas yang akan siang ini dilakukan meeting diluar bersama Pak Rasya," pinta Bunga pada asisten pribadi bosnya.


Haris mengernyitkan keningnya tidak paham dengan ucapan wanita di hadapannya, tiba-tiba ponselnya berbunyi dan ia mengangkat langsung.


Panggilan itu pun terputus. Beberapa menit kemudian, Haris pun mengerti dan memberikan berkas itu pada Bunga.


Ia menggelengkan kepalanya, bosnya sekaligus sahabatnya itu sudah tertarik dengan sosok wanita yang ada di hadapannya. dengan trik untuk mendapatkannya dan memberi perhatian Rasya berbohong pada Bunga agar bisa di dekatnya.


"Terimakasih, pak. Saya permisi," ucap Bunga meninggalkan ruangan asisten pribadi bosnya.


Bunga pun berlalu untuk mengecek dan memeriksa beberapa berkas yang ia akan lakukan meeting beberapa menit lagi, pikirannya begitu kacau, apakah ia sanggup dan bisa mengerjakan pekerjaannya yang baru ia lihat dan periksa saat ini. Ini terlalu buru-buru dan tentunya ia yang harus seperti apa untuk menghadapi klien yang akan ia temui sehabis makan siang.


Di ruangan Haris, ia langsung menelepon balik sahabatnya yang tadi memerintahkan dirinya untuk memberi berkas itu pada Bunga, bukannya ia yang akan menemui klien itu bersama Rasya, kenapa bosnya memerintahkan seenaknya saja tanpa memberitahukannya walaupun ia telponnya.


"Apa lu, seenaknya saja. Itu berkas sudah gue kerjain seharian, kenapa lu kasih pada Bunga?" tanya Haris yang tak habis pikir dengan kelakuan bosnya.


Rasya hanya tertawa, ia tidak menjawab pertanyaan yang dilontarkan padanya.


"Si Chika sudah pulang belum?" tanya Rasya yang juga malas untuk bertanya tentang wanita itu.


"Giliran ke gue aja di kasih nyi Kunti, sedang lu yang bening-bening," protes Haris yang tidak terima.


"Sabar, Ris. Dari pada temannya nyi Kunti mau?"

__ADS_1


"Ogah, mendingan gue sendiri deh dari pada di temenin sama dua-duanya," tolak Haris yang bergidik nyeri.


"Hahaha.. Mangkanya harus nurut sama atasan,"


Perdebatan itu terhenti dengan ketukan pintu, Rasya memutuskan sambungan teleponnya dan menyimpan ponselnya di atas meja. Ia melihat ke arah pintu yang sudah terbuka.


"Permisi, Pak. Ini berkas yang bapak pinta," ucap staff pada atasannya dan meletakkan berkas tersebut.


Rasya mengangguk, staff tersebut berlalu meninggalkan ruangan ini setelah memberikan apa yang di pinta oleh atasannya.


Rasya mengecek beberapa berkas hasil bulan kemarin, ia akan lebih teliti lagi dalam urusan keuangan perusahaan ini.


Beberapa menit kemudian, ketukan pintu itu berbunyi lagi, Rasya melihat benda yang melingkar di tangannya, ini sudah waktunya ia akan meeting bersama klien yang sudah di sepakati dua belah pihak. Rasya beranjak dari duduknya dan membukakan pintu yang tadi di ketuk.


Ada sosok wanita yang Rasya tunggu-tunggu dari tadi, Rasya pun melihat kearah Bunga yang berdiri tidak jauh dari atasannya.


"Kenapa, Pak? Penampilan saya memalukan ya!" tanya Bunga yang tidak yakin dengan penampilan dan kemampuan untuk persentasi di depan klien tersebut.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Kamu cantik...


__ADS_2