
Pagi harinya seperti biasa, Rasya bangun dan pergi ke perusahaan milik dirinya. Orang tuanya sudah menyerahkan pada dirinya untuk ia kelola menjadi perusahaan makin besar dan berkembang pesat.
Rasya yang bangun kesiangan karena tidak dibangunkan oleh Bunda seperti biasanya. Ingin Rasya bertanya tapi waktunya tidak memungkinkan karena hari ada pertemuan dengan klien penting.
"Rasya.. Sarapan dulu, Nak," teriak Bunda Tasya yang melihat putranya pergi tanpa pamit kepadanya.
"Ini sudah siang, Mah." sahut Rasya dengan nada yang keras. Ia harus buru-buru datang ke tempat yang sudah di janjikan oleh asisten pribadinya.
Bunda Tasya menggelengkan kepalanya, tingkah laku putranya yang menggemaskan. Ia memang tidak membangun Rasya karena badan sedikit tidak enak. Ia hanya merebahkan tubuhnya di atas ranjang bersama suaminya. Beberapa menit Bunda Tasya ingin keluar dan mengecek apakah putranya sudah bangun atau masih tidur. khawatirnya, karena Rasya susah untuk dibangunkan.
Rasya mengemudikan dengan kecepatan tinggi, ia tidak ingin terlambat dan mengecewakan kliennya datang jauh dari luar negeri. Ini adalah kesempatannya untuk membuktikan pada kedua orang tuanya jika ia bisa menjalankan perusahaannya hingga berkembang pesat ditangannya.
Tak membutuhkan waktu lama, Rasya turun dengan tergesa sambil menelpon asisten itu.
"Halo, Ris. Lo dimana?" tanya Rasya. Ia ingin memastikan kalau klien tidak kecewa karena kedatangan terlambat.
"Di ruangan Lo," jawab Haris disebrang sana.
Rasya mengernyitkan dahinya, ia bingung dengan sahabatnya itu bukannya menyiapkan persentase sebagus mungkin malah dia sedang di ruangannya.
Rasya pun mematikan sambungannya, ia berjalan tergesa-gesa untuk menghampiri asistennya. Saat melangkah menuju ruangannya Rasya sempet bertemu dengan Bunga dan Rasya menghiraukan keberadaannya ia hanya ingin sampai dan bertemu dengan sahabatnya.
__ADS_1
Ia berkerja dengan perusahaan besar yang cukup terkenal dengan pebisnis terhandal di kotanya. Rasya pun dengan bangganya menarik perusahaan itu untuk berkerja dengan perusahaannya.
Ceklek..
"Sedang apa Lo di sini? Bukannya ke tempat kita sudah sepakati bersama klien itu," tanya Rasya menghampiri sahabatnya yang sedang duduk di sofa yang ada di ruangannya.
"Tenang dulu, Ras. Justru itu gue mau memberitahukan kalau klien kita memundurkan jadwalnya bersama kita, dia beralasan karena istrinya sedang melahirkan," jawab Haris yang menjelaskan tentang pembatalan kedatangan klien yang akan berkerja sama dengan perusahaannya.
"Dasar lu, kenapa gak memberitahukan gue kalau klien itu tidak jadi datang," umpat kesal Rasya yang melemparkan bantal sofa itu.
"Santai saja sih, Ras. Kayak ibu ibu habis setok belanjaan ekonominya saja,"
"Bukan itu masalah, gue bangun kesiangan dan langsung kesini tanpa memikirkan nyawa gue karena tidak ingin gagal, tidak berpamitan pada Bunda gue dan lebih parahnya gue mengabaikan wanita gue," ucap Rasya dengan kali lebar, ia keroncongan pun di hiraukan karena ini untuk masa depannya bersama wanita yang ia cintai.
"Diem lu," titahnya, Rasya merebahkan tubuhnya di sofa dan membayangkan raut wajah Bunga yang bingung karena dirinya tidak menjawab sapaannya.
"Pesankan aku sarapan, Ris." titah Rasya lagi. Perutnya yang lapar dan butuh energi untuk kembali ke tumpukan kertas tak habis habisnya.
"Siap pak bos," jawab Haris, ia akan menggantikan apa perintahnya karena itu kesalahan yang tidak bilang pada Rasya tentang pembatalan itu.
Haris yang keluar untuk mencari makanan untuk atasannya, Rasya pun melangkah menuju kursi kebesarannya untuk mengecek dan mengetahui perkembangan perusahaan ini. Akhir bulan ia akan memberikan laporan pada Ayahnya tentang perkembangan perusahaannya.
__ADS_1
Saat sedang fokus menatap layar laptopnya, ketukan pintu dan sahutan dari luar menandakan ada seseorang yang ingin masuk dan Rasya pun mempersilahkan orang itu masuk tanpa menatapnya siapa yang datang.
"Ini pak pesanannya," ucap seorang wanita.
"Taruh saja di situ," titah Rasya tanpa melihat siapa yang mengantarkan pesanannya.
wanita itu terdiam, hari ini ia di abaikan oleh pria pacar bohongan yang sudah menyatakan cintanya tadi malam. Apa Rasya hanya bercanda, pikirnya.
Bunga pun berlalu tanpa berbicara lagi. Meninggalkan atasannya yang sedang fokus dilayar laptopnya.
Satu detik dua detik dan seterusnya, Rasya baru menyadari kalau suara itu ia kenal. Dan Rasya pun bangkit untuk mengejar wanita itu.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Aarghh... Kenapa lagi lagi gue mengabaikannya sih..