Kisah Cinta Tuan Muda

Kisah Cinta Tuan Muda
BAB 28


__ADS_3

Pesan dari Bunga yang tadi ia khawatirkan pun terjadi, ia yang bingung harus membalas dan mencari alasan apa agar Bunga bisa menerima ajakan Bundanya untuk datang ke rumahnya.


Rasya yang enggan membalas pesan dari Bunga pun ia urungkan dan mengetik pesan untuk membalas pesan itu. Mulai berpikir lagi saat mengetik pesan ia langsung menghubungi tanpa berpikir lagi.


Tut... Tut... Tut...


Panggilan itu terus berlangsung tidak ada jawaban dari panggilan membuat Rasya takut kalau Bunga marah dan menolak ajakan Bundanya.


Beberapa menit kemudian, panggilan itu tersambung dan suara merdu yang ia rindukan terdengar oleh Rasya. Rasa senang luar biasa yang dirasakan oleh Rasya saat ini saat mendengar suara itu.


"Halo..," sapa Bunga disebrang sana.


"Asalamualaikum..," bukannya menjawab sapaan Bunga, Rasya menyapa ulang yang lebih sopan.


Membuat Bunga jadi salah tingkah dibuatnya. Kalau sudah kelihatan pasti Bunga malu dan ingin bersembunyi, untung Bunga ada di apartemennya saat ini jadi ia tidak harus melihatkan wajah malunya saat ini.


"Waalaikumsalam," jawab Bunga dari sebrang sana yang begitu gugup.


"Ada apa ya? Menghubungi saya?" sambungnya lagi. Ia yang takut jika ini ada hubungannya dengan pekerjaannya.


"Saya hanya ingin memastikan kalau kamu bisa memenuhi undangan dari Bunda ku," ucap Rasya yang begitu dingin. Ia sebenarnya merasa malu dan takut Bunga menolak ajakan sang Bunda.


Bunga terdiam, ia enggan untuk menjawab pertanyaan atasannya saat ini. Rasanya bimbang dan tak enak hati dengan lancangnya ia menyetujui permintaan Bundanya atasannya.


"Maaf, Pak. Atas lancangnya saya, saya menerima ajakannya tanpa bertanya dahulu dari bapak." jawab Bunga yang begitu gugup takut dengan jawaban atasannya.


"Tidak apa-apa, saya senang atas jawaban kamu bisa menerima ajakan Bunda saya. Tolong bantu saya untuk menjadi pacar bohongan saya, seperti saat kemarin yang dilakukan oleh mu tempo hari." sahut Rasya yang mengingat kejadian yang terjadi saat itu, saat Bunga mengaku menjadi pacarnya.

__ADS_1


Seketika wajah Bunga memerah seperti kepiting rebus, walau sampai Rasya melihatnya saat ini. Pasti Bunga malu di buatnya.


"Kamu bisa kan?" tanya Rasya lagi.


"Tapi, Pak?" jawab Bunga yang ingin protes. Ia tidak ingin melangkah lebih jauh lagi tentang kebohongan yang ia lakukan saat ini. Kemarin ia yang di ancam dari pekerjaannya membuat Bunga mau tidak mau pun melakukannya demi pekerjaannya agar tidak di pecat.


"Kenapa? Kamu tidak mau, kamu yang memulai sandiwara ini dan kamu juga harus melanjutkan yang kamu mulai. Saya tidak ingin ada penolakan atau alasan apapun, Mengerti..," ucap Rasya yang mengancam agar Bunga mau menuruti perintahnya. Ia sebenarnya takut saat Bunga akan menolaknya.


.


.


.


Di sebrang sana, Bunga yang frustasi karena ancaman atasannya yang seenaknya saja padanya. Ini juga kesalahannya sampai harus terjun kedalam hubungan sandiwara cinta yang entah kenapa tiba-tiba saja Bunga merasakan perbedaan yang berbeda.


Saat ingin memilih baju yang pas untuk datang ke kediaman atasannya atas undangan dari orang tuanya. Bunga mulai bingung untuk memilih baju yang pas dan sopan.


Ia mengambil baju yang begitu cocok untuk dirinya tiba-tiba bel apartemennya berbunyi menandakan seseorang datang. Bunga meletakan bajunya di atas ranjang dan beranjak keluar dari kamarnya untuk menemui seseorang yang datang.


Ceklek...


Saat Bunga membuka pintu itu, seseorang kurir membawa beberapa paper bag yang begitu besar.


"Permisi, Nona. Saya mengantarkan pesanan anda," ucap kurir tersebut sambil menyerahkan semua barang-barang yang begitu banyak.


Membuat Bunga heran dan bertanya-tanya, siapa yang memesan pesanan sebanyak ini. Ia yang tak pernah pesan dari siapapun hanya melongo saat barang-barang itu di pindahkan ke tangannya.

__ADS_1


"Tapi, saya tidak memesan apapun bang," jawab Bunga yang masih menerima barang tersebut. Ia yang terpaksa menerimanya karena kurir tersebut menyerahkannya padanya.


"Ini pesanan atas nama Tuan Rasya putra Wijaya, Nona. Tolong tanda tangan di sebelah sini, dan jangan mempersulit keadaan saya," balas kurir tersebut yang menyerahkan buku kecil untuk tanda tangan.


Bunga pun melongo dibuatnya, sejak kapan atasannya tau tentang tempat tinggalnya sekarang. Ia tidak pernah memberitahukan kepada siapa pun kecuali pada keluarganya dan Kakak tirinya.


Setelah mengantarkan barang-barang tersebut, kurir itu pamit dan meninggalkan Bunga dengan barang-barang yang begitu banyak dengan merek yang begitu terkenal.


Bunga pun membawanya dan mulai membuka satu persatu barang tersebut. Ia tercengang saat membuka baju yang begitu cantik dan elegan.


Tiba-tiba ia di kejutkan dengan notifikasi pesan dari ponselnya. Bunga pun mengalihkan pandangan pada ponselnya dan mengambilnya untuk memeriksa pesan tersebut.


.


.


.


.


.


.


.


[Pakai untuk malam ini, saya sudah siapkan semua. Jangan bikin saya kecewa, saya tunggu satu jam lagi.]

__ADS_1


__ADS_2