
"Asalamualaikum, pak. Ada apa ya malam-malam telpon saya?" jawab Bunga di sebrang sana saat sambungan teleponnya tersambung dan langsung di angkat sama Bunga.
Rasya yang menyadari kebodohannya hanya bisa mengusap tengkuknya, ia yang berniat untuk menghubunginya dan merasa bimbang saat ponselnya ia genggam untuk menghubungi gadis tersebut. Tapi ia harus berbicara apa pada gadis di sebrang sana saat sambungan teleponnya sudah tersambung.
"Halo, Pak." ucap Bunga lagi saat suara sahutan itu tidak di balas.
"Iya, halo. Kamu lagi apa?" tanya Rasya dengan basa-basi nya, ia sebenarnya merasa malu dan harus mengatakan apa setelah ini.
"Mau istirahat, Pak. Saya lelah, tadi saya lembur baru pulang," jawab Bunga yang jujur.
Rasya terdiam, ia yang bingung harus berkata apa lagi dan bertanya apa lagi, ia yang tidak pernah dekat dengan seseorang lawan jenis kecuali keluarganya sendiri. Tidak punya pengalaman apapun tentang mendekati gadis, ia hanya fokus belajar dan belajar saja. Haris pun suka mengatai dirinya yang tidak normal yang tidak pernah dekat dengan wanita manapun, banyak wanita yang selalu ingin dekat dan menjadi kekasihnya terutama Chika yang tergila-gila padanya.
Bunga yang tidak mendengar suara dari sebrang sana, ia bingung dengan bosnya yang tiba-tiba menelponnya di waktu malam saat ini.
"Pak, ada perlu apa ya? Menelponnya saya," tanya Bunga membuyarkan keheningan di telpon tersebut.
"Tidak apa-apa, saya hanya ingin memastikan kalau kamu sudah pulang!" sahut Rasya yang memberi alasan, ia sebenarnya ingin menanyakan tentang kehidupan Bunga lebih dalam lagi dan ingin mengenal lebih jauh tentang gadis yang ia telpon.
"Saya sudah pulang kan, Pak. Saya mau istirahat dulu," jawab Bunga yang memberi alasan agar sang bosnya mengakhiri sambungan teleponnya, ia ingin segera beristirahat karena tubuhnya terasa lelah.
"Ya udah, kamu matiin aja," ucap Rasya yang tidak enak hati telah mengganggu Bunga yang ingin beristirahat.
Sambungan itu pun terputus, Rasya yang begitu bodoh hanya merutuki dirinya sendiri, berawal nya ia yang ingin menelpon tapi keberuntungan berpihak padanya walaupun dengan kesalahannya yang menekan tombol tersebut.
Ia menyimpan benda pipih tersebut di atas nakas nya, ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang dan memikirkan apa yang barusan ia lakukan. Tapi perasaan sangat bahagia saat mendengar suara gadis itu yang begitu lembut dan menenangkan hatinya, ia yang masih terbayang-bayang sosok Bunga di dalam pikirannya hanya terkekeh dan tersenyum.
.
.
.
.
Di kamar Bunga, ia juga merasakan perasaan yang berbeda saat di telpon oleh pria yang selalu menyebalkan yang sekarang menjadi atasannya. Ia bingung dan aneh saat sang bos tersebut menghubunginya di waktu malam, ia juga tanpa berpikir pun langsung mengangkat telpon tersebut.
__ADS_1
Ada hati yang begitu senang saat ada panggilan tersebut tersemat di layar ponselnya, ia juga tidak tahu dengan dirinya sendiri saat atasannya mulai baik padanya.
Merebahkan tubuhnya di atas ranjang, ia yang berniat ingin tidur dan beristirahat karena besok hari ia akan berkutat dengan pekerjaannya yang akan menunggunya esok.
.
.
.
.
Pagi harinya, Rasya bangun dengan teriakan Bundanya. Ia yang tadi malam tidak bisa tidur terus memikirkan dan selalu membayangkan wajah gadis itu, kenapa dengan dirinya? Apa ini yang di namakan dengan jatuh cinta. Rasya menggelengkan kepalanya dan tersenyum dengan apa yang ia pikirkan saat ini.
Rasya melangkah setelah sudah bersiap untuk pergi ke kantor, ia menghampiri Bunda dan Ayahnya yang sedang sarapan bersama.
"Pagi, Bun, Yah." sapa Rasya yang menarik kursinya setelah itu ia duduk dan mengambil makanan untuk ia santap.
"Pagi, sayang." sahut Bunda Tasya yang melirik sang anak.
Ayah Radit pun yang tidak seaktif dulu saat ia menjabat di perusahaan itu sebagai orang memegang tertinggi, ia juga masih memantau perkembangan dari rumah, kadang sang anak sendiri meminta saran ataupun meminta pendapat saat ingin memutuskan untuk berkerja sama dengan perusahaan lain. Bunda Tasya pun selalu memberi saran ataupun masukkan saat putranya bertanya pada sang suami. Ia juga pernah di posisi suami dan anaknya saat perusahaannya sedang di ambang kebangkrutan.
Selesai sarapan, semuanya membubarkan diri masing-masing. Rasya yang pamit untuk berkerja dan Bunda Tasya menghampiri Mama mertuanya yang tidak enak badan. Ayah Radit pun masuk ke ruangan pribadinya untuk mengecek pekerjaan yang di lakukan oleh sang anak kemarin.
Rasya yang mengendarai mobilnya sendiri saat pergi ke kantor, suasana jalanan pun mulai ramai dan macet di jam yang akan memulai aktivitas masing-masing.
Rasya yang tidak suka dengan kemacetan yang ia lalui, ia selalu merutuki dan kadang mengoceh sesuatu yang tidak jelas ia ucapkan.
Setengah jam kemudian, Rasya datang dan langsung naik ke atas di mana ruangan berada. Di depan pintu ruangannya ia melihat asisten pribadinya yang sudah standby di kantor.
"Wih, ada apa nih, pagi-pagi udah datang saja," tanya Rasya yang merasa heran dengan kedatangan asisten pribadinya sekaligus sahabatnya.
"Gue ingin menjadi karyawan teladan," sahut Haris dengan cekikikan, ia juga yang heran saat datang di perusahaan ini begitu pagi-pagi.
"Alaahhh, sok lu, jadi karyawan teladan, jadi murid saja suka telat saja," jawab Rasya yang terkekeh dengan sahutan sahabatnya yang beralasan.
__ADS_1
"Hehehe, sekali-kali napa sih, puji gue. Gue datang ke kantor ini sebelum penjaga depan belum datang," ucap Haris.
"Ngapain lu pagi-pagi datangnya? Curiga gue," oceh Rasya yang menyelidik raut wajah sahabatnya.
"Mengabsen para penghuni malam, waktu subuh kan, waktu dia pada pulang," jawab Haris yang ngelantur kemana-mana, ia juga tidak habis pikir dengan jawabannya.
"Ngapain lu bahas begituan, jadi gak semangat gue kerjanya, takut ia belum pulang saat lu absen dan meminta lembur," balas Rasya, ia juga menimpali ucapan sahabatnya yang mulai eror.
"Udah aman, semua minta pulang tidak meminta lembur, cuma dia minta kenaikan gaji saja," sahut Haris dengan cengengesan.
"Itu lu, pe'a." sahut Rasya menjitak kepala sahabatnya.
Keduanya pun tertawa dengan ucapan yang terlontar dari mulut masing-masing, setelah itu Haris pun membacakan agenda kegiatan hari ini untuk atasannya, setelah itu ia pamit untuk mengerjakan pekerjaannya yang kemarin belum sempat selesai ia kerjakan.
Rasya pun mulai aktif dan fokus di layar laptopnya, ia akan mengecek ulang saat meeting bersama Bunga di kafe tersebut. Ia tidak ingin mengecewakan kedua orang tuanya yang selalu membanggakan perusahaan ini hingga saat ini menjadi perusahaan terbesar.
Ketukan pintu membuyarkan keheningan sesaat, Rasya menoleh dan memandang ke depan pintu dan memberikan sahutan agar orang tersebut masuk kedalam.
Pintu itu di buka dengan perlahan dan masuk lah sosok yang tak pernah ia inginkan kehadirannya.
"Pagi, Tas," sapa Chika yang selalu datang sesuka hatinya.
Rasya yang malas menimpali sapaan wanita tersebut, ia hanya berdehem dan kembali fokus pada layar laptopnya.
Chika duduk tanpa Rasya persilahkan, ia yang sudah biasa saat di perlakukan seperti itu oleh Rasya.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Ras, aku ingin berkerja di sini...