Kisah Cinta Tuan Muda

Kisah Cinta Tuan Muda
BAB 14


__ADS_3

Sahut Bunda Tasya yang terkekeh melihat raut wajah sang suami yang berubah seketika, ia yang paham dengan kondisi sang suami Bunda Tasya pun menghampirinya dan memeluknya dari samping.


"Kita temui yuk! Yang datang Kirana bersama keluarganya," titah Bunda Tasya yang masih bergelanjut di lengan sang suami yang selalu menemaninya saat senang ataupun sedih.


Ayah Radit pun mengangguk tanpa menjawab pertanyaan yang di lontarkan sang istri saat masuk tadi, ia enggan untuk berdebat dengan sang istri yang ujung-ujungnya ia juga yang harus meminta maaf.


Keduanya turun dan menghampiri keluarga Kirana yang sedang duduk sambil menunggu yang punya rumah datang. Saat yang punya rumah datang dan menyapa semua berdiri dan menyambutnya dengan penuh kehangatan.


"Gimana kabarnya, Mas?" tanya Kirana yang membuyarkan keheningan sesaat.


"Alhamdulillah baik, Na. Gimana kabar kamu juga?" tanya Ayah Radit membalas uluran tangan dari Kirana, sebenarnya ia tidak enak dengan adanya sang istri di sebelahnya. Itu hanya masa lalunya yang sudah kelam akan menjadi sebuah kenangan saja.


Semuanya duduk dan mengobrol sambil memperkenalkan suami Kirana yang dari kota Z, Bunda Tasya juga menimpali percakapan antara suaminya dan Kirana yang lebih banyak mengobrol.


"Ini anak kamu, Na?" tanya Bunda Tasya yang melihat anak kecil yang berusia 7 tahun.


"Iya, Mbak. Ini anak saya," sahut Kirana yang memanggil sang anak agar dekat dengannya. Anak kecil menggelengkan kepalanya tanda protes ia yang selalu bermanja pada Papahnya.


"Dan ini Evan ya, sekarang sudah besar dan ganteng," tanya Bunda Tasya lagi, ia melihat sosok Evan seperti melihat sosok masa lalunya dengan sang mantan suaminya yang dulu. Evan seperti Devan wajah dan postur tubuh menyerupai sosok Devan sejak masih remaja.


Evan pun mendekat dan menyalami Bunda Tasya yang penuh hormat, ia masih ingat dengan sosok wanita yang pernah ia jumpai waktu kecil dulu.


"Gimana kabarnya, Bun?" tanya Evan yang berbasa-basi.


"Alhamdulillah baik, Nak." jawab Bunda Tasya dengan tersenyum.

__ADS_1


Semuanya mengobrol dengan hangat, sesekali terselip canda dan tawa, Bunda Tasya tidak ingin mengungkit masa lalunya bersama mantan suaminya dan Kirana, biar itu menjadi kisah yang kelam dan menjadi pelajaran agar bisa lebih tegar lagi saat menghadapi yang akan datang. Tapi, Bunda Tasya sangat bersyukur telah di pertemuan dengan Kirana yang menjadi bagian dari masa lalunya, ia tidak akan merasakan kebahagiaan sejak saat ini kalau belum dan merasakan sakit atas apa yang di perbuat oleh mantan suaminya yang dulu.


Beberapa menit kemudian, Rasya datang dan menghampiri yang ada di ruang tamu. Ia begitu heran dan ingin tahu keramaian di ruang tamu tersebut.


"Asalamualaikum," sapa Rasya yang sudah ada di ruang tamu.


"Waalaikumsalam." sahut semua orang yang ada di ruang tamu tersebut. Semua orang melihat Rasya yang sedang menyalami satu persatu orang tersebut.


"Ini Rasya, Mbak?" tanya Kirana yang begitu penasaran dengan sosok pemuda yang sedang menyalami tangannya.


"Iya, Na. Itu Rasya yang pernah kamu urus waktu bayi," sahut Bunda Tasya yang enggan untuk mengatakan itu, ia masih terbayang-bayang Kirana yang begitu terang-terangan ingin mengambil Rasya dan suaminya di depannya.


"Ya Allah ganteng banget kamu, Nak." puji Mama Kirana yang terpesona dengan wajah anak dari suami yang pernah ia sukai itu.


Rasya yang melirik kearah Bunda dan Ayahnya yang meminta jawaban atas pertanyaan yang di lontarkan oleh Mama Kirana, Bunda Tasya dan Ayah Radit tidak pernah menceritakan ataupun memberitahukan sosok Kirana pada sang putra, ia tidak mau mengulang dan mengingat masa-masa saat istrinya yang begitu cemburu dengan kejadian yang dulu pernah Kirana lakukan.


"Dia teman Ayah waktu dulu, Tas," jawab Ayah Radit yang tidak berkata jujur pada sang putra, ia tidak mau ada kesalahpahaman di antara ia dan sang istri.


Wajah Mama Kirana yang berubah seketika, ia yang merasa tidak di akui dan hanya sebagai teman saja. Walaupun hatinya sakit saat pertuturan dari mulut pria yang pernah singgah di hatinya waktu dulu.


Tapi itu dulu, ia sudah menemukan sosok yang menggantikan posisi pria tersebut dengan pria yang ada di sampingnya saat ini. Ia sudah merasakan kebahagiaan dan menjadi istri dan ibu dari anak-anaknya.


"Oh iya, Mbak. Anak saya yang gadis di sini, di kota ini, dia ingin mandiri dan menjadi sosok wanita yang membanggakan katanya, ya sebenarnya saya tidak mengizinkannya, dia yang keras kepala dan Papah selalu mendukungnya," ucap Mama Kirana yang melirik kearah suaminya.


"Bukan mendukungnya, Mah. Tapi Papah hanya memberi kesempatan padanya agar lebih mandiri dan menjadi wanita kuat," sahut suami dari Kirana.

__ADS_1


Mama Kirana yang tidak bisa mengelak ataupun menolaknya, ia hanya khawatir dengan anak gadis yang seorang diri di kota ini.


Rasya yang pamit untuk ke kamarnya, ia berlalu meninggalkan semua orang yang sedang mengobrol dan bercanda bersama melepas rindu yang sudah lama.


Ia membuka pintu kamarnya dan langsung membersihkan tubuhnya yang merasa lelah dan letih saat kerja seharian di kantor dan di luar kantor.


Saat membayangkan sesuatu ia teringat dengan sosok wanita yang tidak pernah hilang dari ingatannya, ia begitu merindukan tingkah laku wanita tersebut yang berbeda-beda, kadang menyebalkan, kadang kangenin, kadang bikin emosi saat berhadapan nya.


Rasya tersenyum saat bayangan sosok tersebut melintas di matanya, ia juga yang tidak tahu dengan dirinya yang selalu membayangkan gadis tersebut.


Hatinya dan perasaan yang begitu nyaman saat ada di dekat gadis tersebut.


.


.


.


.


.


.


Kangen dia, baru tadi siang bertemu sudah kangen saja. Lagi ngapain ya sekarang???

__ADS_1


__ADS_2