Kisah Cinta Tuan Muda

Kisah Cinta Tuan Muda
BAB 19


__ADS_3

Pertanyaan yang di layang oleh Bunda Tasya pun membuat Rasya membuang wajahnya karena malu sampai detik ini ia belum pernah mengenalkan sosok wanita yang yang ia cintai itu pada orang tuanya. Rasya adalah pria yang tipikal cuek dalam hubungan antara lawan jenis, ia yang suka di katain tidak normal oleh sahabatnya sendiri pun Rasya tidak menanggapinya. Ia hanya fokus belajar dan belajar saja.


"Tuh di tanyain kapan, Ras?" tanya Ayah Radit melihat kearah putranya yang malu harus berbicara apa.


"Hmm, Rasya sebenarnya sudah ada pilihan Yah, tapi belum yakin juga dengan perasaan wanita itu," jawab Rasya yang malu mengatakan hal yang pribadi.


"Emang kamu belum nyatain perasaan kamu ke dia," tanya Bunda Tasya.


Rasya menggelengkan kepalanya, ia juga masih bingung dengan perasaannya yang belum yakin dan mantap dengan hatinya. Ia hanya merasakan nyaman saat ada di dekatnya saja.


"Harus berani dong, sayang. Jangan seperti ayah kamu," ucap Bunda Tasya yang menyindir suaminya.


"Aku beda, Bun. Kisah kita tidak seperti Rasya, aku masih tidak ingin di jauhi sama kamu setelah mengungkapkan perasaan ku saat persahabatan kita masih berlangsung." jawab Ayah Radit yang memberi alasan.


"Iya, iya. Ayah memang beda, beda dari pria lain yang Bunda temukan, Ayah selalu bikin Bunda nyaman dan menjadi pahlawan untuk Bunda di saat Bunda terpuruk dengan keadaan yang tidak ingin Bunda ingat lagi," sahut Bunda Tasya yang menghambur memeluk sang suami.


Rasya yang melihatnya merasa bahagia dan iri, ia ingin seperti pasangan Bunda dan Ayahnya yang selalu romantis dan saling melengkapi sesama pasangannya.


"Bunda sama Ayah romantis di depan Rasya, emang gak malu?" protes Rasya yang sebenarnya ia bahagia melihat kedua orang tuanya yang selalu bahagia.


"Ngapain malu, Bunda sama Ayah pasangan halal, jadi gak dosa kalau Bunda sama Ayah kayak gini," jawab Bunda Tasya yang terkekeh, ia sebenarnya malu pada putranya karena dirinya bukan lagi pasangan muda yang harus mengumbar kemesraan di depan putranya.


Rasya beranjak ia yang sebenarnya ingin tidur bareng bersama orang tuanya, setelah melihat keadaan yang tidak memungkinkan ia ingin memberi waktu berdua pada orang tuanya yang semakin hari semakin romantis itu.


"Mau kemana, Ras?" tanya Ayah Radit.


"Bukannya mau tidur sama Bunda," sambungnya lagi.


"Gak jadi, takut ganggu pasangan yang sudah keriput," jawab Rasya yang berlalu meninggalkan kamar orang tuanya.


"Ayah sama Bunda masih muda, Ras. Masih bisa buatin kamu adik," teriak Ayah Radit yang tertawa melihat tingkah sang anak seperti itu.


"Kamu sih, Mas. Ngapain godain anak kamu," protes Bunda Tasya.


"Biarin, Bun. Rasya harus berpikir untuk memberikan kita seorang mantu, kapan lagi coba kita dapat cucu dari dia, kalau gak di gituin." balas Ayah Radit yang menggenggam tangan wanita yang selalu menemani sampai sekarang.

__ADS_1


.


.


.


.


.


Di dalam kamar Rasya, ia merebahkan tubuhnya yang begitu lelah ingin beristirahat. Seharian di kantor di temani dengan berkas dan layar laptopnya, ia seharian ini begitu sibuk untuk mengecek ulang laporan keuangan perusahaannya dan laporan tentang kerja sama dengan perusahaan lain.


Rasya yang tadi siang mengajak Bunga untuk makan siang pun di tolak oleh gadis itu, karena ia punya kesibukan yang entah itu apa.


Satu kali saja ia tidak bertemu dengan gadis itu rasanya lain yang di rasakan oleh Rasya, ada yang kurang dari dalam dirinya saat tidak ada gadis itu di sampingnya. Ia butuh alasan yang tepat agar Bunga mau di ajak menemui orang tuanya untuk meyakinkan bahwa dirinya bisa seperti pria pada umumnya. Tapi, ia harus bagaimana untuk menjelaskan tentang perihal keinginan untuk menjadi pacar bohongan nya, tidak mungkin Bunga setuju begitu saja saat ia memintanya.


Berpikir panjang, Rasya yang seolah buntu saat memikirkan hal seperti, ia lebih baik memikirkan tentang ide untuk perusahaan di bandingkan dengan hal ini.


Rasya ingin menghubungi sahabatnya itu untuk meminta bantuan dan saran, Haris juga sudah mengetahui tentang hal ini yang terjadi pada dirinya sendiri.


Tut... Tut... Tut ..


Tidak ada jawaban dari sebrang sana membuat Rasya merasa kesal ingin membanting ponselnya, ia terus menghubungi lagi sampai beberapa menit panggilan itu terhubung.


"Halo," sapa Haris dari sebrang sana.


"Kemana lu, baru angkat," sahut Rasya yang memarahi sahabatnya.


"Hehehe, tadi habis dari kamar mandi bro, mau apa?" tanya Haris yang harus siaga, menghadapi sahabatnya yang ada maunya saat menghubungi di waktu yang tidak tepat.


Rasya pun menceritakan keinginannya pada sahabatnya, Haris pun mengangguk dan mengiyakan ucapan sahabatnya dari sebrang sana. Dan Rasya pun meminta bantuan agar orang tuanya percaya kalau dirinya juga pria normal yang ingin berpasangan dengan lawan jenis.


"Lu sih, sibuk melulu, jadi gini nih, pas udah di tekan aja baru pusing sendiri," sahut Haris yang memarahi sahabatnya yang selalu fokus belajar dan sekarang fokusnya berkerja.


"Gue harus gimana?" tanya Rasya lagi.

__ADS_1


"Gue mau tanya, lu ada perasaan gak sih sama si Bunga?" tanya Haris yang mulai serius.


Rasya terdiam, ia yang bingung harus mengatakan apa pada sahabatnya, ia sebenarnya merasakan perasaan yang berbeda saat bersama gadis tersebut, tapi ia belum meyakinkan hatinya yang sudah atas nama Bunga.


"Di tanya malah diem, entar ke sambet baru tau rasa,"


"Gue gak tahu, Ris. Tapi yang gue rasain sih beda dari wanita yang aku temui, dia beda dari yang lain, bikin gue nyaman," jawab Rasya yang jujur dari lubuk hatinya.


"Berarti lu udah ada rasa, bro. Mendingan pepet terus, jangan sampai ada orang yang duluan ngedeketin tuh orang," sahut Haris yang memberi saran.


"Tapi gue malu, Ris. Gue harus gimana?" tanya Rasya yang belum pernah pengalaman untuk mendekati seorang gadis.


"Mangkanya jangan terlalu fokus, gini nih, kalau gak gaul mah,"


"Emang lu ada pengalaman?" tanya Rasya balik.


Haris pun terdiam, ia sebenarnya juga seperti Rasya yang belum pernah berhubungan dengan gadis manapun. Tapi ia yang selalu menggoda para gadis yang lewat atau di dekatnya tanpa ia memacari ataupun berhubungan serius. Ia hanya main-main saja dan bercanda dan menggodanya.


"Sok bijak lu, nyatanya lebih dari gue," sahut Rasya yang tidak kalah menghinanya.


Keduanya pun tertawa renyah untuk mempertawakan dirinya sendiri, yang tidak ada pengalaman soal cewek. Kepribadian Rasya pun yang tergolong dingin dan cuek pada wanita membuat para wanita yang ingin mendekatinya harus mikir dua kali.


Bukan Rasya yang tidak laku ataupun apa, semua wanita ingin berlomba-lomba untuk mendekati dan menjadi kekasihnya. Rasya yang terkenal dengan kegantengannya dan hidupnya yang berlimpah kekayaan membuat siapa saja ingin berlomba-lomba untuk mendapatkannya.


Rasya dengan santainya tidak pernah menanggapi semua cewek cantik dan seksi yang ingin bersamanya. Begitu pun dengan sepupunya yang tergila-gila pada dirinya.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Kalau lu suka sama dia, mending perjuangin dia, Ras. Mungkin dia jodoh mu yang di kirimkan oleh Tuhan....


__ADS_2