
"Seperti orang yang ada di samping ku," sahut Rasya yang masih betah memandang kearah Bunga.
Bunga pun segera menoleh langsung kearah Rasya, perkataan pria yang ada di sampingnya pun membuat ia salah tingkah di buatnya. Ia yang sedang merasakan patah hati karena di putuskan oleh pria yang selama ini menjadi pacarnya. Bukan masalah sakitnya tapi ia malu karena di putuskan di depan umum dan tempat ramai yang sedang ada acara tersebut.
Satu jam sudah mereka ada di tempat ini, Bunga pun beranjak lalu berdiri untuk pulang, karena hari semakin sore.
"Kita pulang yuk?" ajak Bunga pada atasannya.
Ia merasa canggung saat berhadapan dengan atasannya, Rasya pun berjalan menuju tempat mobilnya berada. Satu jam saja ia sudah senang bisa bersama dengan gadis yang selalu ia impikan dan bayangkan saat ingin tidur dan di dalam tidurnya pun.
Rasya membukakan pintu untuk Bunga dan menutupnya kembali, ia memutari mobil untuk masuk kedalam mobilnya dan mengemudikan kendaraan dengan kecepatan sedang. Ia menawarkan beberapa makanan untuk di bawa pulang, Rasya yang ingin tahu tempat tinggal gadis yang ada di sampingnya. Ini adalah kesempatannya untuk mendekatinya yang sedang patah hati karena di putuskan oleh kekasihnya itu.
Bunga menggelengkan kepalanya, ia tidak ingin sesuatu hanya ingin segera datang dan beristirahat. Ia masih merasakan sakit dan malu karena di permalukan oleh kekasihnya sendiri. Hanya sebuah salah paham dan ia menerima kesalahannya itu yang berawal darinya.
Ia yang hanya ingin membantu atasannya malah dirinya yang dapatkan pengakuan dari kekasihnya itu yang memutuskan dirinya di tempat umum belum mendengar alasan dirinya yang menjadi pacar bohongan atasannya. Ia sebenarnya menyesal telah membantu bosnya yang berimbas pada hubungan dengan pria yang bernama Aldi.
Pria itu dengan lantangnya memutuskan dirinya tanpa bertanya dan mendengar perkataannya, tapi Bunga tidak ingin berlarut dalam kisah cintanya yang sudah kelar, mungkin itu bukan jodohnya melainkan hanya mampir singgah di hatinya.
Sesampainya di bangunan tinggi itu, Bunga turun ia juga sempat berterima kasih pada atasannya sudah mengantarkannya sampai bangunan tempat tinggal dirinya.
Rasya yang merasa bersalah, ia juga menawarkan dirinya untuk menjelaskan pada pria itu tentang kejadian waktu di kafe tersebut. Tapi, rasa bahagianya itu menyelimuti dirinya karena gadis incarannya sudah lepas dari hubungan itu.
Rasya juga tidak tahu dengan yang dilakukan oleh Bunga untuk membantu dirinya lepas dari wanita yang bernama Chika, semoga wanita itu tidak akan menggangu dirinya setelah pengakuan Bunga tersebut.
"Kalau ada apa-apa hubungi saya saja," tawar Rasya yang tidak enak hati, ia cemas karena Bunga sedang merasakan patah hati.
__ADS_1
"Terimakasih, Pak. Saya akan baik-baik saja, mari saya masuk dulu," pamit Bunga yang sudah turun dari mobil Rasya.
Rasya pun mengangguk, ia menyalakan lagi mobilnya dan mulai melaju dengan kecepatan sedang setelah memperhatikan Bunga untuk masuk ke dalam bangunan tersebut.
.
.
.
.
.
"Asalamualaikum..," sapa Rasya yang menciumi satu-satunya orang yang ia cintai itu.
"Baru pulang, emang sampai sore, Ras?" tanya Ayah Radit.
"Sampai siang saja sih, Yah. Tadi Rasya ada kepentingan mendadak," sahut Rasya yang memberi alasan.
"Oh, iya, Chika tau dari mana kalau Rasya sedang ada acara di kafe tersebut," tanya Rasya yang ingin tahu siapa yang memberitahukan dirinya ada di situ.
Kedua orang tuanya menggelengkan kepalanya, dan tidak memberitahukan Chika dan dari pagi juga ia tidak bertemu dengan Chika.
"Oma, Rasya. Maaf, Oma gak tahu kalau Chika akan kesana," sahut Omanya yang memberitahukan cucunya ada di kafe tersebut.
__ADS_1
Rasya pun menceritakan kejadian yang terjadi di kafe tersebut, Chika membuat onar dan mempermalukan dirinya di depan umum.
"Terus Chika nya kemana?" tanya Bunda Tasya.
Rasya menggelengkan kepalanya, setelah perdebatan itu Chika meninggalkan dirinya setelah pengakuan Bunga kalau dirinya adalah pacarnya.
Ayah Radit pun menghela nafasnya, ia yang tidak suka dengan wanita itu yang terus menganggu sang putranya. Ia sudah memberi peringatan dan berbicara secara baik-baik pun tidak ada respon untuk tidak menggangu putranya.
"Maafkan Oma ya, Ras?" pinta Omanya yang begitu salah telah memberitahukan itu.
"Itu bukan salah Oma, Rasya tidak menyalakan Oma, jadi jangan khawatir ya," ucap Rasya yang mengerti dan meyakinkan Omanya.
.
.
.
.
.
.
Oh, iya, Ras. Siapa wanita yang mengaku jadi pacar kamu? Boleh Bunda bertemu dengannya....
__ADS_1