
Akhir pekan pun telah tiba, Rasya yang sudah merencanakan untuk pergi bersama teman-temannya yang seangkatan dengan waktu kuliah, ia sudah membuat janji ingin reuni di tempat yang sudah di sepakati.
Semua berkumpul dan datang di jam yang sudah di tentukan, Rasya yang sudah rapih memakai baju yang lebih santai untuk pergi ke reunian bersama teman-temannya, ia memakai baju kaos dengan luaran jas yang lebih santai tidak seperti ia pergi ke kantor.
Rasya turun dan menghampiri orang tuanya yang sedang menikmati secangkir teh di temani dengan cemilan yang sudah di sediakan oleh asisten rumah tangganya. Ia duduk di dekat Bundanya dan berkata.
"Bun, Rasya pergi dulu ya, mau bertemu dengan teman," pamit Rasya pada Bundanya.
"Mau kemana?" tanya Bunda Tasya yang heran sang Putra yang sudah rapih dengan setelah santainya, tapi masih terlihat ganteng.
"Reunian sama teman-teman kuliahku, Bun. Gak apa-apa kan," sahut Rasya.
Bunda Tasya pun mengangguk dan mengiyakan ucapan putranya, ia mengizinkan sang putra untuk pergi karena alasan yang baik dan untuk bersilaturahmi dengan teman-temannya.
Ayah Radit pun hanya melirik setelah itu ia fokus lagi pada majalah bisnisnya yang ia baca. Omanya hanya memperhatikan pembicaraan antara ibu dan anak. Ia bahagia masih bisa melihat dan merasakan kebahagiaannya bersama cucu dan mantunya, ia selalu bersyukur pada Allah yang telah memberikan umur yang panjang dan bisa melihat dan merasakan kehangatan keluarga ini. Ia hanya berdoa semoga Allah masih bisa merasakan dan menikmati hidupnya yang sudah tua ini masih bisa melihat cicit dari sang cucunya kelak.
Rasya pun beranjak dan menyalami tangan satu-satunya orang yang ia sayangi, ia berlalu untuk segera pergi dan menemui teman-temannya yang sudah pada kumpul separuhnya.
Sebelum masuk kedalam mobilnya ia menelpon sahabatnya yang entah akan menyusul atau pergi sendiri.
Panggilan itu pun tersambung pada nomor yang ia tuju, dan beberapa menit pun panggilan itu di angkat.
"Halo," sapa Haris yang di sebrang sana.
"Posisi lagi di mana?" tanya Rasya.
"Di rumah," jawab Haris dengan suara seraknya yang baru bangun tidur setelah mendengar bunyi ponselnya yang berdering.
"Lu belum siap-siap?" tanya Rasya yang heran dengan kelakuan sahabatnya.
"Emang mau kemana? tanya Haris, ia tidak menjawab pertanyaan sahabatnya malah balik bertanya.
"Lu gak tau apa gak inget sih," oceh Rasya yang memarahi sahabatnya sambil menepuk jidatnya.
"Ada apa sih, lu yang ganggu tidur gue yang nyenyak ini," protes Haris yang tidak terima.
"Bukannya jam sembilan pagi kita ada acara reunian bersama teman-teman kampus," ucap Rasya yang mengulangi ucapannya yang kemarin pernah ia sampaikan.
Haris pun mengingat dan mulai berpikir tentang ucapan sahabatnya yang kemarin, ia pun langsung beranjak dari ranjangnya dan mulai menyadari kelupaan nya.
"Astaghfirullah, Ras. Gue lupa," sahut Haris yang tergesa-gesa, ia melirik jam dinding dan mulai panik melihat jam tersebut sudah melingkar setengah jam lagi pukul sembilan.
"Emang semalam habis dari mana sih, jam segini baru bangun," oceh Rasya yang memarahi sahabatnya itu.
"Semalam gue begadang, bro. Habis main game sama adik gue, gue gak inget kalau hari ini ada acara," jawab Haris yang mulai panik karena waktunya yang tidak cukup untuk pergi ke reunian tersebut.
"Lu harus datang tidak ada kecualian sedikit pun, gue tunggu." ancam Rasya yang mematikan sambungan teleponnya.
__ADS_1
Haris yang mulai bingung antara datang atau tidak, ia yang belum mandi dan bersiap-siap pun tidak ada waktu sedikit pun, ia pasti akan terlambat datang ke sana. Langsung bergegas masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
Rasya yang mengendarai mobil dengan sendiri tanpa supir yang menemaninya, ia ingin my time dan tidak ingin merepotkan siapapun.
Sampai di tujuannya, Rasya pun memarkirkan mobilnya di tempat area parkir. Ia turun dan masuk kedalam ruangan yang sudah di boxing untuk acara tersebut. Rasya mengedarkan pandangannya untuk mencari teman-teman yang sudah datang. Dan ia bertemu saat temannya melambaikan tangannya kearahnya. Rasya pun menghampiri dan berjalan menuju tempat dimana teman-temannya berada.
"Wih, bos kita baru datang," sahut temannya yang menghampirinya.
Rasya pun bersalaman pada teman-temannya dan duduk di kursi yang masih kosong.
"Oh, iya, Ras. Si Haris gak datang?" tanya temen yang satunya lagi.
"Belum, kayaknya bentar lagi, tapi dia bakalan datang kok," jawab Rasya yang mulai meminum jus yang sudah di sediakan di kafe ini.
Semuanya berbincang dan mengobrol dengan teman yang sudah lama tidak berjumpa, Rasya pun mengobrol dengan asyiknya tanpa menghiraukan tatapan teman wanita yang begitu kagum dengan kegantengannya.
Sebenarnya Rasya begitu risih, ia selalu menjadi pusat perhatian orang-orang terutama kaum hawa yang selalu memandangnya dengan berbeda. Kadang para pria lain suka cemburu apa yang di miliki oleh Rasya, hidupnya yang begitu sempurna dan nyaris sempurna dengan kekayaan yang berlimpah menambah keanggunan seorang wanita yang memandangnya.
Beberapa menit pun, Haris datang yang berlari tergesa-gesa menghampiri teman-temannya.
"Habis ngapain, Ris. Di kejar hantu," ejek temannya yang melihat Haris yang ngos-ngosan.
"Diem lu, gue baru nyampe, bukannya beri minum malah di beri pertanyaan," protes Haris yang menyerobot minuman sahabatnya yaitu Rasya.
"Eh, kampret. Itu minuman gue, noh masih banyak tuh," ucap Rasya yang tidak terima, walaupun ia kasihan dengan sahabatnya yang terlambat karena ulahnya.
Byuuurr...
Rasya pun menyemburkan minuman yang ia minum, ia syok saat bisikan sahabatnya yang mengagetkan dirinya.
"Serius lu," tanya Rasya yang memastikan.
Haris pun mengangguk dan mengiyakan ucapan sahabatnya, ia yang malu hanya bisa nyengir tanda malu.
"Joro--," belum Rasya melanjutkan ucapannya, Haris pun membungkam mulutnya dengan tangan Haris. Haris yang tidak ingin sahabatnya mengumbar aibnya di depan semua teman-temannya terutama pada para wanita, ia takut wanita itu memikirkan yang tidak-tidak tentangnya. Ia yang sudah keren gini juga belum dapat pacar apa kata kalau ia sampai tahu aibnya di umbarkan bisa-bisa ia tidak laku seumur hidupnya.
Obrolan hangat pun menghiasi ruangan kafe yang sudah di boxing oleh Rasya, ia memberikan kenyamanan para teman-temannya yang sudah datang dan menyempatkan dirinya yang selalu sibuk tidak ada waktu untuk menyempatkan diri masing-masing. Ini adalah momen kebersamaan untuk menjaga silaturahmi yang semakin erat.
Tiba-tiba ada seorang wanita yang menghampiri Rasya yang duduk santai sambil mengobrol dengan salah satu dari temannya.
"Boleh duduk di sini?" pinta wanita tersebut yang masih teman seangkatannya waktu kuliah.
Rasya yang tidak enak hanya mengangguk dan mengiyakan ucapan wanita tersebut, ia tidak enak untuk menolak atau mengusirnya dengan secara langsung.
Dan, wanita tersebut duduk dengan santainya sambil memegang minuman yang ia minum. Ini adalah kesempatannya untuk mendapatkan perhatian pria yang begitu dingin dan cuek.
"Apa kabar, Ras?" tanya wanita tersebut yang berbasa-basi, ia sebenarnya merasakan bahagia bisa dekat dengan pria ini.
__ADS_1
Rasya pun menganggukkan kepalanya, ia yang malas untuk membalas ucapan tersebut hanya dengan mengangguk lalu berbincang lagi dengan teman pria tersebut.
Wanita yang kesal dengan jawaban Rasya hanya dengan anggukan saja tanpa menjawab pertanyaannya, ia yang sejak di kampus pun sudah tergila-gila pada sosok pria tersebut. Tapi tanggapan Rasya yang cuek dan dingin. Menaklukkan pria yang ada di hadapannya sekarang butuh ekstra sabar dan pelan-pelan untuk menghadapi sikapnya yang dingin.
Wanita itu berlalu meninggalkan tempat duduknya, ia yang di abaikan begitu saja oleh Rasya. Ia heran dengan sikapnya yang terlalu dingin untuk di taklukkan.
Tiba-tiba ada temannya yang datang terlambat yang sedang menggandeng tangan wanita yang ia kenali, siapa lagi kalau bukan Bunga yang datang bersama teman kelasnya waktu kuliah. Rasya pun beranjak dan menghampirinya.
"Hay, Ar." sapa Rasya yang sudah ada di hadapan temannya.
"Rasya kan?" tanya Ardi yang mengingat-ingat kembali temannya.
Rasya pun mengangguk sambil melirik ke arah samping, Bunga pun tahu lirikan itu , ia langsung menunduk dan malu saat di pandang oleh atasannya.
Ia yang mengerti dengan adanya atasannya yang ada di sini, dirinya pasti salah satu dari teman kampusnya yang lagi adakah acara ini.
"Dia siapa?" tanya Rasya yang melirik kearah samping temannya.
Ardi pun tahu lirikan temannya pada wanita yang ia bawa ke acara ini, dan memperkenalkan pada Rasya sebagai pacarnya.
Rasya yang kaget bukan kepalang, ia yang sudah berpikir untuk mendapatkan cintanya dari gadis yang ada di hadapannya sekarang.
Tapi, apa yang ia dengar barusan, kabar yang mengejutkan dari orang yang mengaku sebagai kekasih dari gadis yang ia incar selama ini. Apakah ia salah dengar atau pria ini salah mengucapkan ucapannya Rasya jadi serba salah.
Bunga yang malu atas ungkapan kekasihnya yang terang-terangan memamerkan dirinya pada atasannya, ia merasa hawanya semakin dingin dengan tatapan Rasya yang begitu tajam saat meliriknya.
Ia, Rasya yang butuh penjelasan atas apa yang ia dengar barusan. Memang ia belum berhak atas dirinya, tapi Rasya harus meyakinkan bahwa Bunga belum ada ikatan apapun dengan pria tersebut.
"Ngapain kamu Ras melirik kekasih ku seperti itu?" tanya Ardi yang mulai tidak nyaman saat temannya melirik kekasihnya dengan tatapan yang berbeda.
Rasya tidak menjawab, ia masih menatap wanita yang ada di hadapannya.
"Kamu kenal, Yang? tanya Aldi pada Bunga.
Bukan Bunga yang menjawab melainkan Rasya yang menjawab pertanyaan yang di lontarkan oleh pria ini.
.
.
.
.
.
Aku adalah teman spesialnya....
__ADS_1