
Perintah Rasya bagai terhipnotis seolah Bunga menurut apa yang di perintahkan nya. Bunga mengambil dari suruhan Rasya untuk ia pakai di acara malam bersama dengan keluarga bosnya.
Ini adalah pengalaman pertamanya berkunjung ke rumah pria, Bunga yang pernah pacaran dengan Aldi pun ia enggan saat di ajak makan malam bersama dengan keluarganya. Ia selalu beralasan karena sibuk dan kelelahan saat pulang kerja.
Tapi sekarang, apa yang di perintahkan oleh Rasya seolah tidak ada wewenang untuk menolak, karena Bunga tidak ingin karir terhenti gara gara hal sepele seperti ini. Hanya makan malam saja ia sanggup untuk bersandiwara di depan orang tua bosnya.
Dress yang dipakai Bunga yang sederhana namun elegan saat di pakai olehnya. Ia juga terpana dengan dirinya sendiri saat bercermin di kaca besar yang ada di dalam kamarnya. Bos sangat pandai memilih baju yang pas untuk dirinya.
Bunga tersenyum, ia merapihkan rambutnya yang tergerai dengan indah. Selesai bersiap Bunga akan turun dari apartemennya untuk menemui Rasya yang menunggu di bawah. Ia tidak ingin atasannya marah saat menunggu dirinya begitu lama takut kena hukuman darinya.
Saat Bunga tiba di bawah dengan senyuman manisnya, Rasya terpukau dengan kecantikan yang dimiliki oleh Bunga. Ia tidak pernah melihat Bunga berpenampilan se menarik mungkin.
Ehemm...
Deheman asistennya membuat lamunan Rasya terbuyarkan.
"Bisa pergi sekarang, Pak?" tanya Bunga membuyarkan keheningan sesaat.
"Eh, iya," jawab Rasya yang grogi, ia melirik kearah sahabatnya yang tersenyum meledek dirinya.
Kendaraan roda empat pun membelah jalanan ibu kota yang begitu ramai orang orang yang lalang pergi dengan aktivitasnya. Rasya sempet melirik ke belakang untuk memastikan Bunga begitu nyaman saat duduk di belakang.
"Gak akan hilang, Ras," goda Haris pada sahabatnya.
Rasya menjitak kepala sahabatnya itu, dia tidak ingin ketahuan oleh Bunga kalau dirinya sempat melirik kearahnya.
"Apa yang hilang, Pak?" tanya Bunga yang mendengar ucapan asisten pribadi bosnya.
"Gak ada, tadi ada kucing yang lewat," jawab Haris yang memberi alasan agar Bunga tidak curiga kalau ia menggoda sahabatnya, ia fokuskan lagi ke depan agar sampai tujuan dengan selamat.
Satu jam sudah kendaraan mobil sampai tempat tujuan, dimana mobil itu terparkir di halaman rumah mewah dan elegan. Bunga yang grogi dan gemetaran, ia takut dengan kebohongan yang akan terjadi bongkar seiringnya waktu.
Bosnya selalu meyakinkan dan memberi saran agar akting berjalan lancar dan sukses. Bunga takut dan berdosa harus berbohong pada orang yang lebih tua darinya. Orang tuanya selalu mengajarkan tidak boleh berbohong karena kebohongan satu akan bertambah jika ada kebohongan yang lainnya juga.
__ADS_1
"Sukses ya Bunga," ucap Haris yang menyemangati sekretaris sahabatnya.
"Kok jadi gemetaran ya," ucap Bunga dengan pelan, tapi masih di dengar oleh keduanya.
"Anggap saja ketemu calon mertua," sahut Haris yang tertawa, ia sebenarnya hanya meledek sahabatnya yang dari tadi tersenyum sendiri.
Saat Rasya menggenggam tangan Bunga, seketika Bunga reflek melepaskannya. Ia merasakan ada sesuatu dari dalam hatinya dengan getaran yang berbeda.
"Kenapa?" tanya Rasya, ia takut Bunga marah saat ia genggam tangannya.
"Memangnya harus ya, Pak? Kayak gini," tanya Bunga yang grogi.
"Iya, biar Bunda tau kalau kita memang lagi pacaran, kan sudah ku bilang kamu harus nurut perintah ku, paham."
Bunga menganggukkan kepalanya, ia harus menuruti kemauannya dan perintah apa yang dilakukan oleh Rasya. Pegangan tangan hal yang wajar, tapi kalau diluar batas Bunga akan segan-segan untuk memarahi atau memukulnya.
Sampai di depan teras, Rasya menyapa dan memanggilnya.
"Waalaikumsalam, Den. Syukur lah Aden sudah datang, dari tadi nyonya besar dan nyonya sudah menunggunya di ruang tamu," ucap pembantu itu mempersilahkan majikannya dan temannya untuk masuk kedalam.
"Bun..," panggil Rasya yang menghampiri wanita hebatnya yang lagi duduk bersama Omanya.
"Alhamdulillah yang di tunggu-tunggu datang juga," ucap Bunda Tasya yang merasa senang dengan kedatangan putra semata wayangnya.
Tatapan Bunda Tasya yang beralih pada seorang wanita cantik yang masih muda yang di bawa oleh putranya, ia berjalan dan menghampiri wanita yang bernama Bunga itu.
"Kamu yang bernama Bunga kan?" tanya Bunda Tasya yang ingin memastikan agar putranya tidak berbohong.
"Iya, Tante. Saya Bunga," jawab Bunga sambil bersalaman pada wanita paruh baya tapi masih cantik.
"Yuk, duduk." ajak Bunda Tasya yang ingin memperkenalkan pada ibu mertuanya kalau putranya tidak kalah hebat saat mencari pendamping hidupnya.
"Kenalin, Mah. Ini Bunga calon mantu kita," ucap Bunda Tasya memperkenalkan pada mertuanya yang begitu antusias.
__ADS_1
Deg...
Bunga takut walau kebohongannya suatu saat akan terbongkar, ia takut mengecewakan wanita baik yang ada di hadapannya sekarang.
"Cantik sekali, siapa namanya?" tanya Oma.
"Bunga, Oma." jawab Bunga yang tersenyum ramah.
"Makan malam dulu yuk," ajak Bunda Tasya, ia meninggalkan semuanya untuk memanggil sang suami tercintanya.
.
.
.
Saat semuanya sudah berkumpul di ruangan meja makan, Bunda Tasya menghampiri bersama tamunya yang dari tadi di tunggu-tunggu.
Ketika ingin menaruh makanan di atas meja, semar semar Bunga mendengar suara yang tidak asing baginya. Saat menoleh ke belakang ia terkejut.
.
.
.
.
.
.
Mamah...
__ADS_1