Kisah Cinta Tuan Muda

Kisah Cinta Tuan Muda
BAB 32


__ADS_3

"Apa kamu tidak merasakan perasaan padaku?" tanya Rasya pada Bunga yang sekarang ada di hadapannya.


Bunga terdiam, ia bingung dengan perasaannya sekarang, apa dia juga merasakan perasaan yang sama dengannya. Tapi rasa nyaman yang dirasakannya tidak di pungkiri.


"Bapak nembak saya?" tanya Bunga yang terbata, ia takut kepedean dengan ungkapan perasaan atasannya itu.


"Menurut mu?" tanya Rasya kembali, bukannya menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Bunga ia malah balik bertanya.


"Saya tidak tahu, Pak." jawab Bunga yang grogi.


"Maksudnya?" tanya Rasya yang bingung dengan perkataan Bunga, ia hanya butuh jawaban atas ungkapan perasaannya pada wanita yang ada dihadapannya sekarang.


"Saya tidak tahu, secara bapak mengungkapkan perasaan terhadap saya secara mendadak membuat saya kaget, Pak. Apa bapak bercanda?" tanya Bunga lagi, ia yang masih merasakan sakit hati karena di tinggalkan oleh kekasihnya hanya karena sepele tanpa mendengarkan penjelasannya dulu. Ia masih belum siap untuk menjalani hubungan dengan pria lain termasuk pria yang ada di hadapannya sekarang.


"Saya sebenarnya sudah sejak lama menaruh hati pada kamu, saat itu juga saya masih ragu dengan hati ini yang belum pernah merasakan rasanya jatuh cinta pada seseorang. Saya merasakan perasaan yang berbeda saat bersama kamu. Mungkin itu yang di namakan cinta. Tapi makin kesini perasaan itu semakin besar dan ingin memilikinya. Aku tulus mengungkapkan perasaan ku padamu, Bunga." ucap Rasya dengan panjang lebarnya menjelaskan tentang perasaan yang kini ia rasakan saat ini.


Bunga terdiam, ia begitu tertegun dengan ungkapan perasaan atasannya ini. Rasa cintanya begitu tulus saat dirinya mengungkapkan perasaannya itu. Apa Bunga harus menerimanya dan melupakan masa lalunya yang membuat trauma untuk menjalankan hubungannya dengan pria lain.


Bunga yang belum ada perasaan pada pria yang ada di hadapannya sekarang, bukan tak cinta ia masih menata hatinya dan meyakinkan juga jika hatinya bisa menerima pria yang ada di hadapannya sekarang.


Rasa nyaman saat bersama dengan Rasya sang atasannya membuat Bunga grogi dan deg degan saat di dekat pria ini. Bunga belum bisa menentukan walau itu cinta untuk Rasya, ia masih meyakinkan dan mencari tahu tentang baik buruknya kehidupan atasannya ini.


"Boleh minta waktunya, Pak. Ini terlalu cepat bagi saya, kita baru saling mengenal dan belum tahu karakter masing-masing, saya juga masih takut dan trauma dengan hubungan yang beberapa lalu yang saya jalani, jadi tolong pengertiannya, pak." kata Bunga, bukan ia menolak tapi Bunga harus meyakinkan hatinya dulu agar nama masa lalu terhapus di hatinya.


Rasya mengangguk dan tersenyum, ia merasa sedikit senang dengan jawaban Bunga walaupun ungkapan perasaan belum di tolak, tapi ada kemungkinan besar bisa mendapatkan cinta wanita yang ada di hadapannya sekarang.


Bunga mengajak atasannya untuk masuk ke dalam lagi, ia tidak enak harus meninggalkan dua keluarga yang pasti sedang menunggunya.

__ADS_1


Tekat Rasya, ia akan menumbuhkan rasa itu pada wanita yang ia cintai. Dan menggeser nama masa lalunya dan di gantikan dengan namanya nanti seiringnya waktu dalam penyamaran menjadi pasangan kekasih bohongan. Ia akan memanfaatkan kondisi dan waktu agar Bunga bisa membalas cintanya ini.


"Lama banget kalian, lagi bicarakan apa sih?" tanya Oma yang sudah ingin bangun dan beristirahat ke kamarnya di bantu oleh Bunda Tasya.


"Kita lagi bicarakan tentang pekerjaan, Oma." jawab Bunga yang tidak enak hati karena meninggalkan terlalu lama.


"Terus kapan membicarakan tentang hubungan kalian?" tanya Oma yang menghentikan menantunya, ia ingin bertanya tentang kelanjutan hubungan cucunya ini.


"Maksudnya?" tanya Rasya dan Bunga yang berbarengan.


Ehemm....


"Kompak bener nih," goda Ayah Radit . menimpali kedua pasangan bohongan tersebut.


"Apaan sih, Yah," jawab Rasya yang malu di goda oleh Ayahnya.


Rasya dan Bunga hanya saling pandang, ia bingung harus jawab apa tentang pertanyaan yang di berikan oleh Omanya itu.


"Malah bengong lagi, biar Oma yang tentukan kalau kalian masih ingin pacaran," ujarnya Oma.


"Jangan, Oma. Biar kami saja yang tentuin kan sayang?" jawab Rasya dengan cepat, takut kebohongan terbongkar oleh orang-orang.


"Bagus lah, lebih cepat lebih baik, jangan menunda-nunda untuk melakukan hal baik ya," ucapnya lagi sambil berlalu meninggalkan tempat itu untuk beristirahat. Bunda Tasya hanya jadi pendengar ia yang masih syok dengan pengakuan kalau Bunga adalah anak Kirana mantan madunya itu.


"Oh,iya, Nak. Mau pulang bersama Mamah?" tanya Mamah Kirana yang membuyarkan keheningan ruangan ini.


Bunga menoleh dan menganggukkan kepalanya, ia juga kangen pada keluarganya terutama orang tuanya yang sekarang ada di sini.

__ADS_1


Rasya membuang napasnya perlahan, ia yang ingin mengantarkan wanita pujaannya itu agar lebih banyak waktu bersamanya dan menumbuhkan rasa cinta itu dengan adanya kebersamaan yang sudah terbiasa di antara keduanya. Ia akan memberikan cinta tulusnya dan membuktikan pada Bunga kalau dirinya begitu mencintai tanpa syarat apapun.


Selesai berbincang dan mengobrol hal biasa, keluarga Bunga pamit pulang dan Bunga pun pulang bersama keluarganya.


bunda Tasya dan Ayah Radit mengantarkan keluarga Kirana sampai depan pintu utama, dan Kirana pun pamit dan berterima kasih atas jamuan makan malamnya yang cukup terkesan karena adanya sang putri di tengah-tengahnya dengan hubungannya sama Putra dari Mbak Tasya yang pernah ia urusin sejak bayi itu.


"Terimakasih ya, Mbak." ucap Mamah Kirana.


"Sama-sama, Na. Jangan sungkan main lagi kesini," jawab Bunda Tasya yang begitu ramah, ia akan membuang egonya lebih mementingkan keadaan dan waktu.


"Saya pamit ya, Pak," ucap Bunga juga yang berpamitan pada atasannya itu.


"Kok pak panggilnya?" tanya Ayah Radit yang heran dengan sebutan pada putranya, bukannya mereka pacaran.


"Eh, bukan." jawab Bunga yang gelagapan takut ketahuan.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Ya ampun, Yang. Masa kamu lupa sih...


__ADS_2