
Setibanya di kantor, Rasya turun dari mobilnya ia berjalan masuk ke dalam gedung pencakar langit. Ia berjalan dengan wajah dinginnya.
Sampai di depan pintu lift, Haris menghampiri sang bosnya sekaligus sahabatnya.
"Selamat pagi, Tuan." ucap Haris dengan formal, ia akan menjadi asisten yang hormat pada atasannya saat di dalam kantor.
"Hem," sahut Rasya dengan pandangan ke depan.
Tring...
Pintu itu pun terbuka, Rasya dan Haris pun masuk kedalam kotak besi yang akan mengantarkan mereka ke lantai dimana ruangannya berada. Sesampainya di depan pintu ruangannya Haris pun membuka pintu itu untuk atasannya.
Rasya masuk dan duduk di kursi kebesarannya, Haris pun membacakan catatan jadwal atasannya. Rasya yang mendengarnya hanya bisa pasrah dan mengikuti yang sudah di jadwalkan oleh asistennya.
"Ris..," panggil Rasya.
"Iya, Tuan." jawab Haris.
"Udah deh, jangan formal kayak gitu, geli gue dengernya," ucap Rasya.
"Iya, ada apa?" tanya Haris lagi.
"Lu udah dapat belum, asistennya?" tanya Rasya yang memerintahkan asisten pribadinya untuk mencarikan asisten untuk di kantor.
"Sudah, kemarin ada yang melamar, dan menurut gue dia pintar juga," sahut Haris yang menyerahkan identitas asisten baru.
"Kerja bagus, namanya Bunga," ucap Rasya, ia pernah mendengar nama yang tak pernah asing bagi Rasya.
"Iya,"
Rasya hanya mengangguk, ia menyerahkan berkas lamaran asisten barunya pada Haris, sahabatnya bisa dipercaya tentang masalah ini.
"Gue ke ruangan dulu," ucap Haris.
__ADS_1
Rasya mengangguk, ia fokus pada berkas yang menumpuk di atas mejanya, membuat ia membuang napasnya dengan kasar. Rasanya baru pertama masuk kerja membuat ia langsung pusing untuk membayangkannya.
Ia membuka laptopnya dan memeriksa laporan di perusahaan ini, sedang fokusnya Rasya tidak menyadari ada seseorang yang sudah ada di depan mejanya. Yaitu seorang office boy.
"Permisi, Tuan. Saya mengantarkan minuman untuk tuan," ucap karyawan laki-laki yang berseragam OB.
Rasya mendongak ke depan, ia mengernyitkan dahinya sejak kapan dia ada di hadapannya dan tidak mengetuk pintunya.
"Maaf, Tuan. Saya sudah mengetuk pintunya, tapi tidak ada ada sahutan, saya langsung masuk, maaf." ucap office boy itu pada atasannya setelah itu ia menunduk karena takut dengan kelancarannya.
"Taruh saja di meja, jangan ulangi lagi, mengerti!" titah Rasya dengan tegas, ia tidak mau ada orang yang seenaknya masuk ke ruangan tanpa perintah darinya.
Office boy itu pun mengangguk tanda paham, ia menaruh minuman itu di atas meja, ia pamit dan berlalu meninggalkan ruangan ini.
Rasya fokus lagi pada berkas dan mempelajari tentang semua yang ada didalamnya. Ketukan pintu membuyarkan suasana di keheningan ruangan ini.
"Masuk," sahut Rasya yang mempersilahkan orang dari luar untuk masuk.
Ceklek...
"Serius banget, Bos." ucap Haris.
"Ada apa?" tanya Rasya tidak mengalihkan pandangan pada layar laptopnya.
"Satu jam lagi kita akan rapat, Ras. Ini berkasnya," jawab Haris yang menyerahkan berkas pada atasannya.
"Hem,"
.
.
.
__ADS_1
Diluar ruangan, sebuah ruangan khusus asisten. Seorang gadis cantik yang sudah berkerja hari ini, ini adalah hari pertama ia berkerja di perusahaan besar ini. Ini adalah impiannya untuk mandiri jauh dari keluarganya dan kakaknya.
"Permisi, Mbak. Satu jam lagi kita akan meeting, tolong persiapkan berkas dan beberapa untuk meeting nanti, mengerti?" ucap karyawan perempuan.
Bunga mengangguk dan paham, ia mengerjakan apa yang sudah diserahkan kepadanya. Mempelajari dan memahami tentang beberapa berkas yang akan sebentar lagi melakukan meeting bersama rekan kerjanya.
Satu jam kemudian...
Meeting pun di mulai, semua orang sudah memasuki ruangan khusus untuk meeting, Bunga pun sudah menempati posisi duduknya, ia begitu gemetar dan grogi, ini adalah pengalaman pertamanya ada diruangan ini.
Tangan dingin karena keringat dingin mulai keluar, ia menarik napas dalam-dalam dan membuang pelan-pelan untuk mengontrol kegugupannya.
"Kamu kenapa, Bunga?" tanya karyawan disampingnya.
"Gak apa-apa," sahut Bunga yang tersenyum, mengurangi kegugupannya saat teman kerjanya menegurnya.
Beberapa menit kemudian, pintu itu pun dibuka oleh asisten pribadi bosnya, Rasya masuk dan melangkah dengan gagahnya dengan tatapan dinginnya. Semua karyawannya berdiri dan menunduk tanda hormat pada atasannya yang baru saja memimpin perusahaan ini.
Rasya mengangguk dan mengiyakan, setelah itu karyawan itu pun duduk kembali untuk memulai meeting pertamanya dengan atasan yang baru saja menjabat menggantikan Ayahnya.
Rasya duduk di kursi kebesarannya di dampingi oleh asisten pribadinya.
Haris memulai percakapan untuk membuka meeting pertamanya. Rasya mengedarkan pandangannya pada karyawan yang ada diruang meeting ini.
Ia mengernyitkan dahinya, melihat seorang wanita yang ia kenal sedang duduk diantara karyawan diruangan ini.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Itu bukannya gadis yang kemarin aku tabrak ya...