Kisah Cinta Tuan Muda

Kisah Cinta Tuan Muda
BAB 15


__ADS_3

Malam semakin larut, keluarga Kirana pun pamit pulang setelah menjenguk Mamanya Radit yang sedang tidak enak badan, Kirana yang masih bertukar kabar dengan wanita yang sudah keriput tapi masih cantik dan anggun, ia masih bisa tahu dan bisa mengobrol lewat sambungan telepon saja. Kadang Kirana yang ingin menjenguk dan silaturahmi pun ia harus berpikir dua kali untuk menemuinya, karena ia tidak ingin melihat dan menemui sosok yang ia ingin lupakan.


Saat waktu berjalan beberapa tahun, Kirana pun bisa menemukan sosok pria yang menggantikan pria yang masih melekat di hatinya. Ia yang sudah melayang gugatan cerai pada mantan suaminya yang dulu bersama dengan Mbak Tasya begitu sangat sulit ia dapatkan surat tersebut, Mas Devan yang kekeh ingin mempertahankan rumah tangganya demi sang anak Evan, Kirana yang tidak ingin lagi berhubungan dengan mantan suaminya tersebut, ia di bantu oleh pria yang sekarang menjadi suaminya.


Perlahan ia mengikis nama Radit di dalam hatinya yang selalu bertahta di dalam hatinya, dan tergantikan sosok pria yang baik hati dan menerimanya apa adanya dan menerima ia dan Evan.


Sekarang keluarga bahagia dan tentram dan damai, dan ia di berikan seorang anak pertama dari suami yang sekarang, seorang putri yang begitu cantik dan menggemaskan sewaktu kecil dan menjadi sosok wanita yang sudah lulus dari universitas yang ternama, ia menjadi sosok mandiri dan ingin jauh dari orang tuanya dan membanggakan kedua orang tuanya. Hanya Evan yang tidak pernah jauh dari Kirana sejak kecil sampai sekarang ia menjadi sosok yang penurut dan tidak pernah membantah.


"Sayang kenapa makan tidak habis?" tanya Mama Kirana pada anak bungsunya.


"Sudah kenyang, Mah," tolak anak kecil tersebut yang bernama Gilang.


"Habisin dong, sayang. Kasihan nasinya, entar dia nangis," rayu Mama Kirana agar sang anak menghabiskan makanannya.


Saat ingin merayu sang anak, tiba-tiba ponselnya berdering Mama Kirana mengambil di atas meja makan yang tidak jauh darinya. Ia tersenyum saat nama tertera di layar ponselnya, segera menekan tombol hijau untuk mengangkat panggilan tersebut.


"Asalamualaikum, Mah," sapa sang anak gadisnya yang di sebrang sana.


"Waalaikumsalam, sayang. Kapan kamu ke sini? Mama ada di kota sambil menjenguk Oma temannya Mama," sahut Mama Kirana.


"Ini juga baru pulang kerja, Mah. Tadi Bunga lembur dan baru sekarang pulang," adunya pada sang Mama.


"Jangan terlalu di porsil, sayang. Kasian tubuh dan otak kamu butuh istirahat juga," pesan Mamanya yang tidak ingin terjadi sesuatu pada anak gadisnya.

__ADS_1


"Iya, Mah. Bunga akan ingat pesan Mama, oh iya, Mah. Mama kesini sama Papa, Adek dan kak Evan?" tanya Bunga.


"Iya, Sayang. Baru saja sampai tadi siang langsung ke rumah teman Mama dan menjenguk Oma teman Mama," jelas Mama Kirana.


Bunga hanya ber oh ria saja, ia yang tidak tahu tentang keluarga teman Mamanya hanya menjadi pendengar di saat sang Mama menceritakan tentang kehidupan keluarga temannya yang ada di kota ini juga. Bunga yang tidak pernah tahu dengan sosok keluarga yang Namanya ceritakan.


Sambungan telepon pun terputus, Mama Kirana yang di panggil oleh anak bungsunya yang sudah selesai makan. Mama Kirana menghampiri dan membersihkan sisa makanan yang sudah selesai dari tadi.


Anak kecil tersebut menghampiri sang Papah yang sedang mengobrol dengan anak tirinya yaitu Evan, ia dan sang anak lagi membahas tentang bisnisnya yang sedang di kelola oleh keduanya, ia berkerja sama dengan sang anak untuk mendirikan sebuah perusahaan yang dari nol sampai sekarang berkembang pesat walaupun tidak perusahaan tersebut tidak sebesar perusahaan yang di kelola oleh Rasya saat ini.


Tapi, Evan bangga dengan dirinya dan Papah tirinya yang tidak pernah membedakan dirinya dan anak kandungnya, ia selalu


menyayangi dan mencintainya layaknya anak kandungnya sendiri, ia sudah tahu tentang jati diri sang anak tirinya yaitu Evan. Dari pria yang mendekam di penjara seumur hidupnya. Ia yang mengurus dan mempercepat proses perceraiannya dengan sang mantan suami istrinya. Tadinya ia yang begitu kasihan dengan sosok Kirana yang lemah lembut mendapatkan suami dengan watak yang keras kepala dan temperamental selalu meninggikan nada bicaranya, Devan yang sekarang dan yang dulu yang berubah drastis dan suka marah-marah tidak jelas.


"Papa terserah kamu saja, Van. Gimana baiknya saja saat kita mengajukan kerja sama kita pada perusahaan tersebut," jawab Papah Alan yang memberi saran pada sang anak agar lebih bijaksana dalam mengambil keputusan.


"Iya, Pah. Evan akan memikirkannya lagi sebelum memutuskan kerja sama itu," sahut Evan yang melihat kearah sang Papah tirinya yang ia anggap seperti Papah kandungnya.


Ia juga yang begitu merindukan sosok sang Ayah kandungnya yang masih di tahan di kantor polisi seumur hidupnya, ia juga begitu kasihan dengan kondisi sang Ayah. Tapi, ia tidak bisa berbuat apa-apa untuk mengeluarkannya. Hanya saja ia sering menjenguk sang Ayah di kala ia tidak sibuk berkerja.


Obrolan keduanya pun selesai, Evan undur diri dan pergi ke kamarnya, ini adalah rumahnya saat mengelola perusahaannya di kota ini.


Ia merebahkan tubuhnya yang lelah seharian berkutat dengan berkas dan layar laptopnya. Ia memejamkan matanya tanpa membersihkan tubuhnya terlebih dulu, rasanya yang enggan beranjak dari tempat tidurnya saat tubuhnya sudah menempel di atas kasur tersebut.

__ADS_1


.


.


.


.


Di dalam kamar Rasya ia yang bimbang saat ingin menghubungi wanita yang selalu ada di pikirannya. Ia yang harus beralasan apa saat menghubungi gadis yang sedang ia pikirkan.


Rasya ingin mendengar suara lembutnya saja merasa enggan untuk menghubunginya. Tiba-tiba ia ke pencet tombol dan tersambung dengan nomor yang ia tuju.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Asalamualaikum, Pak. Ada apa ya malam-malam telpon saya???


__ADS_2