
Ucap Rasya mengusap wajahnya dengan kasar, ia bangun untuk menemui Bunga dan menjelaskan keadaan yang lagi sibuk. Saat ingin membuka pintunya tiba-tiba Haris datang membawa pesanan bosnya yang tadi di pesan.
"Mau kemana?" tanya Haris.
Bukannya menjawab Rasya melihat apa yang sedang dibawa oleh sahabatnya, ia melirik kearah atas meja yang terdapat makanan yang tadi di bawa Bunga.
"Kamu bawa pesanan siapa?" tanya Rasya.
"Pesanan lu lah," jawab Haris, ia bingung dengan sahabatnya memerintahkannya tadi malah aneh seperti ini.
"Berarti itu...," gumam Rasya yang mulai mengerti, Bunga membawakan makanan untuk dirinya.
Rasya menepuk keningnya, ia ingin menemui gadis itu dan berterima kasih padanya karena telah mengkhawatirkan dirinya.
"Mau kemana lu, Ras?" tanya Haris, melihat sahabatnya berlalu meninggalkan dirinya.
Bukannya ia bilang tadi lapar ingin makan, setelah ia membawakan makanan tersebut dia malah kabur entah kemana.
Haris masuk dan menaruhnya di atas meja. Haris pun mulai penasaran dengan kantong plastik yang ada di atas meja.
"Apaan nih," ucap Haris yang penasaran, ia buka perlahan kantong itu dan mendapati makanan kesukaan sahabatnya.
"Siapa yang bawa makanan ini? Tidak mungkin Rasya kan,dia lagi sibuk," gumam Haris yang memikirkan itu. Dan Haris mulai menerka ada hubungannya dengan sang sekretarisnya.
.
.
__ADS_1
.
.
Di ruangan yang berbeda, Rasya menghampiri wanita yang sedang sibuk dilayar laptopnya. Ia akan menghabiskan waktunya karena kesal telah diabaikan oleh pria yang telah menyatakan cintanya kemarin malam.
Tok... Tok ... Tok ...
Ketukan pintu yang Rasya lakukan diruangan Bunga, ia akan meminta maaf dan menjelaskan apa yang terjadi pada dirinya karena Bunga akan berpikir kalau dirinya main-main dengannya.
Sahutan dari dalam membuat Rasya masuk dengan pelan, Rasya memang atasannya di sini tapi ia juga punya tatakrama dalam bersikap. Bunda Tasya selalu mendidiknya dengan baik dan harus sopan pada wanita dan orang yang lebih tua.
Bunga menoleh. "Pak Rasya," kata Bunga yang berdiri di tempatnya. Atasannya tidak pernah datang keruangan walaupun dalam keadaan darurat, dia akan menyuruh siapapun termasuk asistennya.
"Bapak butuh sesuatu?" tanya Bunga walaupun hatinya lagi dongkol.
"Silahkan,"
"Maaf tadi sempat mengabaikan kamu, aku tadi ada yang harus aku urus dan itu sangat penting. Jadi jangan beranggapan jika aku mengabaikan kamu dan mempermainkan perasaan ku padamu." jelas Rasya.
Bunga terdiam, ia bingung harus menjawab apa karena Bunga sadar tidak ada hubungan antara ia dan Rasya. Ia juga mengerti dengan kesibukan Rasya yang baru menjabat sebagai direktur utama di perusahaan orang tuanya. Tapi kenapa diabaikan oleh Rasya begitu sakit ada perasaan yang berbeda saat itu dan membuat ia sedih dan enggan berkomentar pada siapapun.
Bunga kali ini tersadar, ia tidak pernah sesedih ini jika kak Aldi berbuat seperti itu malah Bunga biasa saja menanggapi hal itu.
"Kenapa diam, kamu marah?" tanya Rasya, ia takut hal itu terjadi. Belum ia mendapatkan balasan cintanya dan sekarang wanita itu merajuk entah sampai kapan.
"Saya tidak apa-apa, Pak. Bapak tidak usah khawatir dan berlebihan pada saya." jawab Bunga sambil menatap kearah atasannya.
__ADS_1
"Syukur lah kalau kamu tidak marah, Bunga. Kamu juga tahu kalau hari ini aku ada jadwal pertemuan dengan klien penting kita, mangkanya aku buru-buru di tambah lagi tadi pagi aku kesiangan bangun gara-gara tidak di bangunkan oleh Bunda," adunya pada Bunga.
Bunga hanya tersenyum untuk menanggapi perkataan pria yang ada di hadapannya sekarang, pengalaman sehari harinya dia umbarkan pada dirinya.
"Kok kesiangan, memang bapak tidur jam berapa?" tanya Bunga.
"Bukan itu, tapi...," ucap Rasya yang malu untuk mengatakannya.
"Tapi apa, katakan saja," jawab Bunga, ia juga penasaran tentang apa yang terjadi sampai pria itu bangun kesiangan.
.
.
.
.
.
.
.
.
Karena aku tidak ingin mengakhiri mimpi indahku bersamamu...
__ADS_1