Kisah Cinta Tuan Muda

Kisah Cinta Tuan Muda
BAB 21


__ADS_3

Sepulang dari kantor Rasya menyempatkan diri untuk membeli pesanan sang Oma yang menginginkan kue langganannya, ia terus di ingatkan oleh Bundanya pun harus mampir untuk membelinya. Kadang Rasya risih saat membeli kue pesanan tersebut, ia selalu menjadi pusat perhatian semua orang yang ada di toko tersebut.


Rasya menelpon sang Bunda untuk memastikan pesanan hanya itu, ia tidak mau kembali lagi saat pesanan itu ada yang kurang ataupun salah memilih pesanan sang Oma. Serasa sudah cukup Rasya mengambil beberapa kue yang di inginkan sang Oma Rasya pun melangkah menuju ke tempat kasir untuk menghitung belanjaan yang ia ambil. Ia ingin segera pergi dari toko yang membuat ia risih dengan tatapan wanita.


Tiba-tiba, saat akan melangkah ke kasir ada seorang anak kecil yang sedang berlari ke arah depan dan menabraknya dengan kencang. Semua yang di bawa Rasya pun terjatuh termasuk pesanan sang Oma.


Saat Rasya ingin memarahi anak kecil tersebut umurnya yang sekitaran tujuh tahun, dari arah depan pun ada suara wanita yang ia kenali suaranya. Suara yang tidak asing lagi untuk Rasya.


Ia mendongak ke atas dan melihat langsung pemilik suara tersebut, saking terkejutnya Rasya mengernyitkan keningnya tanda tidak paham.


"Ngapain kamu marahin anak kecil," cetus Bunga yang tidak terima dengan kemarahan pria yang ada di hadapannya sedang memarahi adiknya.


"Lihat sama kamu, anak kecil ini menabrak ku sampai kue ini jatuh semua dan isinya pun BERHAMBURAN," tegas Rasya yang menekan kata terakhir.


Bunga yang melihatnya pun menelan ludahnya dengan kasar, ia yang tidak tahu permasalahannya pun langsung menghakimi dan menyalahkan tanpa bertanya terlebih dahulu. Sang adik yang bersalah dalam posisi ini.


"Maafkan saya, Pak. Saya tidak tahu kalau adik saya yang melakukannya," ucap Bunga yang malu saat ini dirinya yang salah dan adiknya.


"Kakak ayok cepetan Gilang pengen pulang," rengek anak kecil itu pada Bunga sambil menarik tangannya.


Keduanya pun menoleh berbarengan, saat rengekan anak kecil tersebut ingin meminta pulang tanpa menghiraukan keadaannya. Gilang di bilang anak yang begitu manja yang selalu di manjakan oleh Papahnya dan sifatnya pun berbanding balik dari kakak-kakak yang mandiri dan tidak ceroboh.


Semua orang yang ada di toko tersebut melihat kearah Rasya dan bunga, ia menjadi pusat orang-orang yang ada di toko tersebut, pusat keributan di dalam toko ini.


Rasya membuang napasnya dengan perlahan, ia tidak mungkin memarahi anak kecil tersebut di depan umum seperti ini, ia tidak ingin wibawanya menjadi jelek karena hal sepele ini.


Bunga pun meminta maaf dan akan mengganti kue tersebut yang di rusak oleh sang adiknya. Ia merutuki kesalahannya yang memarahi atasannya tersebut.


"Tidak usah saya akan membelinya lagi," tolak Rasya yang berlalu meninggalkan Bunga dan adiknya itu.


Bunga yang tidak enak pun mengikuti langkah kaki pria tersebut, ia merasa bersalah telah memarahinya dan menuduhnya tanpa melihat kebenarannya.


Bunga pun memukul kepalanya, ia takut atasannya memecatnya saat ia melakukan kesalahan di luar jam kantornya. Takut atasannya mencampur adukkan pada pekerjaannya yang sudah ia senangi.

__ADS_1


Rasya yang tidak tahu ia di ikuti oleh gadis tersebut, dengan santai ia mengambil kue tersebut dan memasukkan ke dalam keranjang lagi. Saat ingin mengambil kue lagi tangan Rasya di cekal oleh Bunga dan menariknya.


"Ada apa?" tanya Rasya yang kaget dengan tindakan Bunga.


"Biar aku yang ganti, Pak. Saya tidak enak, ini kesalahan adik saya," pinta Bunga untuk kedua kalinya, ia takut hal ini berimbas pada pekerjaannya.


"Tidak usah, saya masih bisa membelinya," jawab Rasya dengan santainya, ia sebenarnya ingin marah dan emosi saat ini tapi ia tahan demi egonya yang tidak ingin di lihat kan di depan umum terutama pada gadis yang ada di hadapannya.


"Beneran, Pak." tanya Bunga lagi.


Rasya pun menganggukkan kepalanya dan tersenyum, ia kembali akan memilih tapi di cegah oleh Bunga.


"Ada apa lagi," protes Rasya yang bingung dengan yang di lakukan oleh Bunga.


"Biar saya yang pilihkan ya, Pak. Kue apa saja yang jadi favorit di sini," tawar Bunga, mungkin dengan cara seperti ini ia bisa mengurangi kesalahannya.


Rasya pun mengangguk dan mengiyakan ucapan gadis yang ada di hadapannya, ia yang belum fokus hanya menurut tanpa mengingat pesanan sang Bunda dan Omanya. Ia bagaikan terhipnotis oleh rayuan wanita yang ada di hadapannya ini, lupa akan segalanya.


Saat selesai memilih, Rasya pun ke kasir untuk menjumlah semuanya termasuk Bunga pun mengantri untuk membayar apa yang ia ambil bersama sang adiknya yang mulai merengek meminta pulang.


Sesampainya di rumah, Rasya turun dan menghampiri Omanya yang sudah menunggunya sejak tadi.


Rasya pun menghampiri dan menyalami tangan wanita yang sudah keriput tapi masih cantik di masanya.


"Asalamualaikum, Oma?" sapa Rasya.


"Waalaikumsalam, sayang. Kok baru datang? Emang macet?" tanya sang Oma pada cucunya.


"Bukan, Oma. Tadi ada kendala yang harus Rasya selesaikan," jawab Rasya yang memberi alasan agar sang Oma tidak merajuk atau marah.


Oma pun mengangguk dan mengambil pesanannya, ia berlalu meninggalkan sang cucu yang masih berdiri di depan teras.


Rasya yang melihatnya pun langsung membuang napasnya dengan kasar, ia takut sang Oma marah karena menunggunya terlalu lama. Ia masuk setelah sang Oma sudah tidak kelihatan lagi, ia langsung ke kamarnya untuk membersihkan tubuhnya yang merasa lengket ingin segera mandi.

__ADS_1


.


.


.


Jam makan malam pun tiba, Rasya turun dari lantai dua untuk menghampiri orang tuanya dan Oma yang sudah menunggunya untuk makan bersama. Ini sudah rutinitas yang harus dilakukan tanpa kecuali, ini adalah momen kebersamaan saat ada di depan meja makan. Rasya pun selalu menyempatkan diri untuk melakukan makan bersama dengan keluarga.


Rasya menarik kursi dan duduk di sebelah Bundanya, seperti biasa Bundanya melayani dengan baik. Kadang Ayah Radit pun selalu protes apa yang di lakukan sang anak yang begitu manja saat di rumah. Bunda Tasya pun selalu memperlakukan sang anak layaknya seperti anak kecil yang butuh perhatian dan perlakuan khusus seperti anak kecil, tapi jangan salahkan Bunda Tasya karena tindakannya selalu di dukung oleh Mama mertuanya yang selalu membela saat Ayah Radit memarahi cucu kesayangannya di depan matanya sendiri.


Ayah Radit pun mau tidak mau pun selalu pasrah dan mengalah demi kebaikan juga, karena ia tidak ingin berdebat berujung ke rumah tangganya sendiri.


Selesai makan malam di lanjutkan mengobrol di ruang tamu. Ini adalah momen bahagia yang selalu di nantikan keluarga, berkumpul bersama mencurahkan isi hati dan keinginannya di ruang tamu ini. Bunda Tasya pun bersyukur masih bisa mengurus dan merawat sang buah hati yang pernah ia perjuangkan hidup dan matinya.


"Bunda kenapa?" tanya Ayah Radit dan Rasya berbarengan.


Bunda Tasya pun tersenyum menanggapi pertanyaan dua pria yang berarti dalam hidupnya. "Bunda hanya bahagia saja saat ini, bisa merasakan kebahagiaan yang tak ternilai harganya. Dan benar kata Ayah, akan ada pelangi saat hujan badai petir yang akan melanda kita," ucap Bunda Tasya yang tersenyum membayangkan kisah hidupnya begitu tragis dengan masa lalunya yang begitu kelam dengan dendam seorang suami pada istrinya.


Malam semakin larut, semuanya membubarkan diri ke kamar masing-masing. Rasya pun masuk setelah berbincang sebentar dengan orang tuanya. Ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang dan memikirkan tentang hal yang tadi Bundanya ceritakan.


Kisah masa lalu orang tuanya yang begitu kelam membuat Rasya merasa ada yang di tutupi oleh Bundanya saat menceritakan tentang masa lalunya yang belum selesai tapi sudah di cegah oleh Ayahnya sendiri.


Apa maksud semua ini, apa belum ada permasalahan yang belum selesai orang tuanya lakukan dan masih berlanjut sampai sekarang. Rasya pun penasaran dengan semua ini.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Aku harus mencari tahunya sendiri, dan menyelesaikan segala kesalah pahaman ini....


__ADS_2