Kisah Cinta Tuan Muda

Kisah Cinta Tuan Muda
BAB 9


__ADS_3

"Ayok cepetan, ngapain bengong di situ sendirian," ucap Rasya yang membuyarkan lamunan seorang gadis yang ingin masuk ke dalam lift dengan ragu.


"Bapak duluan saja," jawab Bunga yang tidak enak hati, didalam lift bersama atasannya.


Tanpa berpikir, Rasya menarik tangan Bunga untuk masuk ke lift bersamanya. Haris pun mengangguk tanda mengerti yang di kodein oleh atasannya, ia memencet tombol untuk turun ke bawah lantai satu perusahaan.


Tring...


Benda berkontak persegi panjang pun berhenti di tempat yang di tuju, Rasya yang lebih dulu keluar di susul dari belakang oleh Haris dan Bunga. Ketiganya akan mengisi perutnya yang keroncongan ingin segera di isi.


Bunga memisahkan diri yang akan makan siangnya di pinggir jalan untuk menghemat pengeluarannya yang baru masuk kerja.


"Kamu mau kemana?" cegah Rasya yang menghentikan langkah Bunga.


"Makan," jawab Bunga dengan singkat.


"Iya, aku tahu. Maksud ku makan dimana?" tanya Rasya.


Bunga menunjukkan warung pinggir jalan, membuat Rasya menautkan kedua alisnya tanda ia tidak paham.


"Apa sih, emang itu tempat makan?" tanya Rasya lagi.


Bunga mengangguk langsung, ia ingin segera berlalu dan memakan makanan yang ada di warung tersebut.


"Ikut saya saja," ajak Rasya yang menarik tangan Bunga tanpa meminta izin lebih dulu padanya, seketika Bunga pun terhuyung ke belakang yang ditarik tiba-tiba.


"Eh, eh. Pak. Mau kemana? Saya mau makan," protes Bunga yang mengikuti langkah atasannya yang menarik tangannya tanpa seizin nya.


"Makan," sahut Rasya tanpa ingin melepaskan tangan itu.


Haris hanya memandang bos sekaligus atasannya, ia heran dengan kelakuan sahabatnya yang tiba-tiba menarik tangan gadis lain yang baru ia kenal, Haris mengenal sahabatnya sejak lama, sejak ia dan Rasya duduk di bangku sekolah menengah. Rasya yang susah banget untuk di deketin oleh lawan jenisnya. Banyak yang terang-terangan mengungkapkan perasaannya sampai sepupunya juga terang-terangan meminta jadi istrinya. Tapi, apa yang ia lihat barusan adalah momen berharga untuk dirinya saat sahabatnya menggandeng tangan seorang gadis yang baru ia kenal.

__ADS_1


Haris pun mengikuti langkah bosnya bersama asisten barunya.


Sampai di kafe yang tidak jauh dari kantornya, Rasya turun dari mobil dan disusul oleh kedua sekretaris pribadi dan Bunga. Ketiganya masuk kedalam untuk mengisi perutnya.


.


.


.


Satu jam sudah, semuanya selesai mengisi perutnya dengan kenyang, Bunga pun merasa bahagia sudah ditraktir makan siangnya oleh atasannya. Ia yang sempat menolaknya tapi atasannya selalu memaksa, mau tidak mau ia pun memakan makanan itu dengan lahap seperti orang yang baru pertama memakan makanan di kafe tersebut. Rasa malu bercampur kenyang yang dirasakan oleh Bunga, ia hanya menyengir tanda ia menutupi kelakuannya.


Sampai di kantor, semua orang melihat dan pemandang ke arah Bunga yang sudah beruntung bisa jalan bersama atasannya yang baru saja menjabat menggantikan Ayahnya.


Rasa iri yang dirasakan oleh karyawan perempuan, ia ingin sekali di posisi Bunga yang merasakan satu mobil dengan atasannya yang ganteng gak ketulungan.


"Siang, Pak." sapa karyawan yang melewati Rasya.


Sampai di lantai tempat ruangannya, Rasya masuk ke dalam ditemani oleh Haris sang asisten. Ia duduk ingin melakukan pekerjaan yang tertunda sebentar.


Tanpa menunda lagi, Haris pun melayang pertanyaan pada sahabatnya yang ingin bertanya tentang kelakuan atasannya sekaligus sahabatnya.


"Ras, lu sekarang normal kan, Alhamdulillah, sahabat gue gak belok ternyata, ia suka juga sama kacang-kacangan." celetuk Haris, membuat Rasya mengernyitkan dahinya yang dikatakan sahabatnya tidak paham.


"Maksud kamu apa?" tanya Rasya.


"Ini momen langka, Ras. Kenapa tadi gak geu abadikan ya," jawab Haris yang tersenyum, membayangkan bagaimana sahabatnya menggandeng tangan seorang wanita sampai ke parkiran tanpa di sadari oleh keduanya.


"Kamu aneh, senyum-senyum sendiri," sahut Rasya kembali fokus mengerjakan pekerjaannya.


"Kamu yang aneh, Ras. Harusnya kamu yang di periksa oleh dokter spesialis hati dan kelamin agar bisa berfungsi dengan baik," jawab Haris dengan cekikikan.

__ADS_1


Puk...


Pulpen itu pun mendarat dengan sempurna di atas kepala sahabatnya, membuat Haris merasakan sakit dan kaget dengan kelakuan sahabatnya.


"Ngapain timpuk kepala gue sih, Ras. Sakit tau," protes Haris yang tidak terima, walaupun tidak sakit tapi ia begitu kaget.


"Sekali lagi lu bilang kayak gitu, habis entar sama gue, sana lu kerjain pekerjaan lu, jangan makan gaji buta," oceh Rasya yang tidak terima ucapan sahabatnya.


"Maafkan, saya Pak Bos, saya tidak akan mengulangi ucapan saya lagi, soalnya baru pertama kerja, gak enak banget ya baru kerja langsung dapat surat pengunduran diri," ucap Haris yang memelas.


"Pergi gak, gue suruh lu nanam kopi di planet lain, mau?"


"Ogah gue, jahat banget punya atasan seperti ini," gurutu Haris yang melangkah untuk keluar dari ruangan atasannya.


Rasya yang terkekeh dengan gerutuan sahabatnya yang membicarakan tentang dirinya yang tidak tahu, Rasya kembali fokus pada layar laptopnya. Tiba-tiba pintunya diketuk lagi membuat Rasya membuang napasnya.


Ini pasti kelakuan sahabatnya yang tak pernah puas mengerjai ia sampai murka dan marah-marah.


"Masuuukk..," sahut Rasya yang mempersilahkan orang itu masuk.


.


.


.


.


.


Ngapain lagi sih, Ris. Belum puas lu ya ...

__ADS_1


__ADS_2