
"Kamu cantik," ucap Rasya yang keluar dari mulutnya dengan tatapan aneh, membuat Bunga salah tingkah di buatnya. Ini adalah pujian pertama dari atasannya yang bisa di bilang langka.
"Hah, apa pak?" tanya Bunga yang bertanya lagi dan ingin memastikan pendengarannya tidak salah.
"Gak ada, ayok kita langsung ke kafe saja," jawab Rasya yang terkekeh dan malu telah memuji Bunga secara langsung.
keduanya berjalan beriringan menuju parkiran mobil yang sudah di siapkan dari tadi, Rasya yang berjalan lebih dulu dan di susul oleh Bunga yang memegang beberapa berkas yang akan ia bahas nanti di restoran. Tanpa berpikir Rasya pun membukakan pintu mobil untuk Bunga dan mempersilahkan masuk lebih dulu, membuat hati Bunga merasa hangat dan nyaman saat di perlakukan seperti itu di depan semua orang tanpa malu dengan jabatan Direktur yang ia miliki.
Kendaraan pun melaju dengan kecepatan sedang, Rasya duduk di samping Bunga sambil memegang ponsel di tangannya. Sesekali Bunga melirik kearah atasannya yang fokus terhadap benda pipih tersebut. Rasya hanya terkekeh melihat sekretarisnya yang mencuri pandang terhadapnya.
Mobil berhenti tepat tujuan mereka, Rasya yang lebih dulu turun dan membukakan pintu untuk Bunga, ia yang tidak enak hati dengan kelakuan atasannya yang memperlakukannya dengan baik. Seharusnya ia yang memperlakukan itu terhadap atasannya bukan sebaliknya.
Bunga merasa canggung dan hanya tersenyum untuk menutupi kecanggungan yang Rasya lakukan terhadapnya.
Masuk ke restoran yang sudah di boxing oleh asisten pribadinya untuk meeting bersama rekan kerjanya yang dari luar kota, Rasya memilih primat room untuk meeting nya bersama klien untuk menghindari kebisingan dan keramaian restoran tersebut.
Sesampainya di tempat yang sudah di pesan tadi, Rasya sudah melihat kedatangan para kliennya yang sudah duduk bersama temannya. Rasya menjabat tangan Kliennya dan mempersilahkan duduk kembali. Meeting pun langsung di mulai untuk mengurangi waktu yang masih padat yang masih Rasya lakukan.
.
.
.
Di kantor pusat, Haris mengecek beberapa berkas yang di yang tadi di berikan oleh staf kantor untuk memeriksa beberapa bagian yang tidak di pahami oleh staf tersebut. Ia merutuki sahabatnya yang seenaknya memberikan pekerjaan orang lain pada dirinya yang bukan tugasnya.
"Ih, dasar sahabat durjana, kayak gini di kasih sama aku, giliran yang enak saja lupa sama sahabat sendiri, mentang-mentang udah love in love sama gadis itu lupa sama sahabat sendiri, dan yang paling marah ia meninggalkan aku di sini tanpa jatah makan siang pun, sungguh kamu Rasya terlalu." gumam Haris yang merutuki sahabatnya dengan berbagai macam ocehan.
Selesai meeting, Rasya dan Bunga bergegas pulang lagi ke kantor dan membereskan berkas yang tadi sudah di tandatangani oleh kedua belah pihak. Ini adalah tender proyek pertama yang di tangani oleh Rasya sendiri, ia perlu belajar dan bertanya pada sang Ayah mengenai keputusan soal ini.
Keduanya sampai di kantor, Rasya berjalan dengan angkuhnya dan Bunga berjalan dengan cepat untuk mengimbangi atasannya. Bunga pamit untuk ke ruangannya dan mengerjakan yang tadi sudah di sepakati kerja samanya.
__ADS_1
Rasya masuk ke ruangannya dan menempati asisten pribadinya sedang santai sambil memainkan ponselnya. Ia langsung menghampiri sahabatnya itu yang sedang asyik membalas pesan entah itu dari siapa.
Ehemm...
Deheman Rasya mengalihkan pandangan Haris dari layar ponselnya tersebut, ia menoleh dan mendapati atasannya sekaligus sahabatnya sudah ada di sampingnya tanpa ia sadari kedatangannya.
"Kapan kamu ada di sini?" tanya Haris yang heran dengan kedatangan atasannya.
"Bukan kerja, mau makan gaji buta ya?" tanya Rasya, bukannya menjawab pertanyaan sahabatnya ia malah balik tanya.
"Hehehe, sorry bos. Pekerjaan saya sudah selesai, ini baru santai." jawab Haris dengan cengengesan.
"Emang gak ada pekerjaan lain?" tanya Rasya lagi.
"Ya elah, Ras. Ini otak butuh istirahat dulu napa, baru juga selesai mengerjakan yang bukan tugas aku, tega bener lu sama gue," protes Haris yang tidak terima dengan kelakuan sahabatnya yang seenaknya memberikan pekerjaan tanpa memberi tahu dulu pekerjaannya.
Rasya tidak menjawab, ia duduk di kursi kebesarannya dan mengecek laporan dan yang tadi ia kerjakan bersama Bunga sang sekretarisnya.
"Bahagia banget, habis dari mana?" tanya Haris yang mulai kepo dengan sahabatnya.
"Meeting lah, emang dari mana!" ucap Rasya yang bertanya balik.
"Beda aja gitu auranya, eh. Ngomong-ngomong gimana kerja samanya sama klien itu berhasil gak?" tanya Haris lagi.
"Berhasil dong, siapa dulu gue," sahut Rasya yang membanggakan dirinya sendiri.
"Cih, gaya lo. Sok hebat, itu juga hasil otak gue juga kali," protes Haris yang tidak terima dengan pernyataan sahabatnya kalau tender ini ia yang mengerjakannya sendirian.
"Hehehe, sorry, Ris. Lupa ternyata ada mahluk lain di ruangan ini," jawab Rasya yang terkekeh melihat raut wajah sahabatnya yang protes dengan ucapannya.
"Emang lo mah kayak gitu dari dulu, tidak menganggap aku ada, kecuali kalau ada maunya baru deh cari aku sampai ke liang semut pun,"
__ADS_1
"Ras, udah makan belum?" sambungnya lagi.
"Udah barusan sambil meeting," jawab Rasya dengan santainya.
"Tega bener lu sama sahabat sendiri, bungkusin napa Ras satu, ya Allah punya sahabat gak peka banget ya, gue nungguin lu buat makan siang bareng, eh yang di tunggu malah lupa sama sahabat sendiri," gerutu Haris yang mengoceh tanpa berhenti.
Rasya yang menggelengkan kepalanya, ia yang sudah biasa melihat sahabatnya seperti itu. Jadi tidak heran lagi kalau sahabatnya protes tentang apa saja yang membuat keduanya selalu di berdebat ataupun mempermasalahkan sesuatu yang biasa.
Rasya pun mengetik pesan dan menaruhnya lagi di atas meja, ia akan melanjutkan pekerjaannya yang masih menumpuk yang tak ada habisnya.
Haris tetap mengoceh dan membicarakan apa saja membuat ia menoleh seketika saat pintu itu di buka oleh seorang wanita yang tak lain adalah Bunga sang sekretarisnya.
Bunga membawa beberapa kantong plastik yang berisi makanan yang di pesan oleh atasannya melalui pesan yang di kirimkan beberapa menit lalu, Bunga pun menaruh pesanan itu dan pamit undur diri dari ruangannya ini setelah menaruh kantong plastik tersebut.
Haris yang heran dan langsung menghampiri meja itu, ia membuka beberapa kantong plastik dan ia tidak menyangka sahabatnya sudah memesankan beberapa menu makanan yang ia inginkan. Haris melihat ke arah Rasya dan berkata.
.
.
.
.
.
.
.
Terimakasih, bro. Gak sia-sia gue pidato panjang lebar, ternyata lu peka juga jadi manusia. Hehehe...
__ADS_1