
Jam lima sore waktunya Rasya pulang, ia membereskan beberapa berkas yang belum ia periksa. Ia akan memeriksanya besok lagi secara ia butuh istirahat untuk berkerja lagi besok bergelut dengan banyaknya berkas yang tidak akan ada habisnya.
Rasya beranjak dari kursinya, ia memakai jasnya dan membuka pintunya menuju lantai bawah. Semua orang yang berpapasan dengannya selalu hormat dan tunduk, Rasya hanya menanggapinya dengan tatapan yang dingin.
Tak berselang lama Haris pun menyusul sang atasannya yang sudah ada di pintu lift tersebut, ia menekan tombol dan beberapa saat pintu kotak tersebut terbuka dengan otomatis. Keduanya masuk menuju lantai bawah tempat dimana kendaraannya terparkir.
"Oh, iya, Ras. Entar malam ada acara gak?" tanya Haris sang asisten pribadinya sekaligus sahabatnya.
"Ada apa?" tanya balik.
"Kita nongkrong yuk? Udah lama kita gak kayak dulu lagi, teman-teman yang lain pada nanyain kita berdua," jawab Haris yang memberitahukan pada Rasya.
Rasya tidak menjawab, ia berpikir sejenak. Waktunya yang mulai sibuk dalam beberapa hari ini dan seterusnya, entah sampai kapan ia pun hanya bisa membuang napas dengan perlahan dan melihat kearah sahabatnya.
"Aku gak tahu, Ris. Kamu tahu kan jadwal aku yang setiap hari selalu padat, dan kamu yang selalu membacakan jadwal aku kan!" tanya Rasya lagi, ia hanya mengikutinya yang sesuai jadwal yang di bacakan oleh Haris.
Haris pun mengangguk dan mengiyakan ucapan sahabatnya, ia juga sama sibuknya secara ia yang akan mendampingi sahabatnya kemana pun dia pergi.
"Ya udah deh, gue cari waktu yang pas buat kita nongkrong, gue akan cari jadwal yang pas dan longgar saat jadwal yang tidak padat ini," saran Haris memberi alasan dan mencari waktu yang tepat untuk berkumpul dengan teman-temannya yang lain.
.
.
.
Di puncak tempat kediaman rumah Bella adik dari Tasya yang katanya masih satu darah dengan Ayah Tasya pun tak henti-hentinya ia selalu memeras ataupun meminta haknya sebagai anak juga, Bella yang hidup sendiri tanpa kasih sayang dari ibunya yang sudah tiada sejak lama. Ia yang semakin membenci Mbak Tasya mantan Kakak iparnya sekaligus kakak kandungnya dari sang Ayah.
Ibunya meninggal karena depresi saat di tahan di kantor polisi saat kasus penculikan Mama mertuanya Mbak Tasya, dan kakak satu-satunya juga di penjara dengan pidana seumur hidupnya. Hidupnya yang seakan harus berlanjut tanpa seseorang pun yang menyemangati hidup yang sedang mengandung anak. Ia yang harus bertahan hidup demi bayi yang di kandungan yang tidak pernah di akui oleh ayah dari si cabang bayi tersebut.
Hatinya sakit dan hancur berantakan saat di posisi yang sangat sulit, ia berjanji pada dirinya sendiri akan membalas semua perbuatan Mbak Tasya pada keluarganya terutama saat meninggal ibunya yang berwasiat untuk membalas semua yang di lakukan oleh keluarga Tasya padanya.
Pagi harinya, Mama Bella menggedor pintu putrinya satu-satunya yang ia miliki, ia sudah tahu bahwa sang putri sudah pulang dari malam.
__ADS_1
Tok... Tok... tok...
"Chika.. Buka pintunya, Mama tahu kamu ada di dalam," teriak Mama Bella yang tidak sabaran ingin bertemu dengan putrinya yang kemarin ke kota untuk menemui keluarga Mbak Tasya.
Tidak ada sahutan dari dalam membuat wanita paruh baya tersebut menggedor dengan kencang agar sang putri membukanya langsung.
Ceklek...
"Ada apa sih, Mah. Ini masih pagi," protes Chika yang masih ngantuk.
"Gimana apa rencana kita kamu sudah jalan kan?" tanya Mama Bella yang tidak sabaran ingin tahu kondisi keluarga Mbak Tasya yang berantakan.
Chika tidak menjawab, ia enggan untuk melihat kearah Mamanya dengan sorot mata yang meminta penjelasan, ia yang tidak mau hal terjadi pada Rasya, karena ia begitu sangat mencintainya.
"Aku gak bisa lakuin itu, Mah. Karena aku sangat mencintai," sahut Chika yang memberikan jawaban yang berbeda dari maksudnya.
"Kamu bodoh banget sih, Chik. Mama sudah bilang beberapa kali jangan jatuh cinta padanya, dia itu sodara sepupu kamu, kamu tidak boleh berhubungan dengannya, kamu ngerti gak sih?" teriak Mama Bella yang sudah jengah menasehati putrinya agar tidak terbawa perasaan.
"Aku tidak perduli, Mah. Aku sangat mencintainya, walaupun kami sodara sepupu pun, bagi Chika Rasya adalah cinta pertamaku, Mah. Dan Mama jangan pernah menghalangi ataupun mencegah Chika untuk mendapatkan cintanya Rasya, titik." jawab Chika yang membanting pintunya, ia menutupnya dengan kasar agar sang Mama tidak melarangnya untuk mendapatkan cinta dari Pria yang selalu Mamanya keluarga hancur.
Mama Bella menghela napas panjang ia membuang perlahan, menghadapi putrinya harus ekstra sabar dan berhati-hati agar semua yang di rangkai berjalan dengan mulus tanpa gagal. Meninggalkan kamar tersebut Mama Bella memikirkan sesuatu dan rencana apa yang tepat untuk membalas dendamnya terhadap keluarga mantan Kakak iparnya.
.
.
.
.
Di kediaman rumah Tasya yang lagi rame dan riuh dengan kedatangan Kirana berserta keluarga kecilnya. Kirana yang ingin bersilaturahmi dengan Mbak Tasya dan ingin menjenguk Mama Radit yang kini sedang tidak baik-baik saja.
Bunda Tasya pun menyambut dengan senang hati, ia sudah melupakan kejadian yang sudah kelam dan ingin membuka lembaran baru dengan suasana yang baru juga.
__ADS_1
"Waalaikumsalam, Na. Masuk dulu," sahut Bunda Tasya yang menyambut kedatangan keluarga Kirana.
Kirana datang bersama dengan suaminya dan kedua anaknya yang tak lain adalah Evan yang sudah besar dan dewasa. Ia menjadi pria yang gagah seperti mantan suaminya yang dulu, Devan.
Kirana juga menuntun anak laki-laki yang usia masih tujuh tahun, ia masuk bersama dengan suami dan di susul oleh Evan.
"Mari duduk, saya panggil Mas Radit dulu," titah Bunda Tasya yang mempersilahkan tamunya untuk duduk, ia yang berlalu meninggalkan mereka untuk memanggil sang suami yang masih ada di dalam kamarnya.
Ceklek...
"Mas..," panggil Tasya pada suaminya, ia menghampiri sang suami yang sedang mengecek beberapa laporan yang di kirimkan oleh sang anak.
"Hem," sahut Ayah Radit yang masih fokus pada ponselnya.
"Di bawah ada tamu, Mas. Coba deh kamu tebal siapa yang datang?" tanya Bunda Tasya yang sudah duduk di samping suaminya.
Ayah Radit mengalihkan pandangannya pada ponsel tersebut, ia melirik kearah istrinya yang tersenyum penuh arti.
"Siapa?" tanya Ayah Radit.
"Tebak dong," balas Bunda Tasya yang terkekeh melihat raut wajah sang suami yang kebingungan.
"Nyerah deh, emang siapa?" tanya Ayah Radit yang pasrah.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Mantan masa lalu kamu yang dulu, yang pernah ngejar-ngejar kamu waktu kita sudah pacaran...