Kisah Cinta Tuan Muda

Kisah Cinta Tuan Muda
BAB 8


__ADS_3

Selesai meeting, semuanya membubarkan diri masing-masing, kecuali Bunga yang membereskan beberapa berkas yang tadi ia presentasikan didepan. Rasa gugup yang luar biasa, ini adalah pengalaman pertamanya berdiri didepan para pekerja dan bos pemilik perusahaan ini.


Bunga sempat melirik, ia juga kaget dengan kedatangan Rasya bersama temannya yaitu asistennya. Tadinya ia tidak percaya kalau pria yang sering ia tabrak adalah pemilik perusahaan yang ia berkerja.


Tapi, ia akan fokus dan profesional dalam pekerjaan, tidak akan menyangkut pautkan dengan masalah pribadi dengan bosnya.


Ehemm...


Rasya berdehem, membuyarkan keheningan didalam ruangan ini, sesekali melirik wanita yang membereskan beberapa berkas.


"Ris, memang dia yang jadi sekretaris ku?" tanya Rasya pada sahabatnya sekaligus asisten pribadinya.


"Benar, Tuan. Dia adalah asisten kantor ini," jawab Haris.


Rasya mengangguk paham, ia bangun dari duduknya dan menghampiri wanita yang sudah membereskan berkasnya dan ingin segera keluar dari ruangan ini.


"Selamat ya, selamat bergabung di perusahaan ini." ucap Rasya yang menyodorkan tangannya, tanda ia memberikan ucapan pada wanita yang berhasil ada di pikirannya.


Bunga tak langsung menjabat tangan atasannya, ia melihat dan hanya memandangi nya.


Sesaat kemudian, ia menyadari segara bersalaman dan bilang terima kasih juga pada bosnya.


"Terimakasih, Pak. Mohon bimbingannya," pamit Bunga yang berlalu dari hadapan bosnya, ia ingin segera menyelesaikan pekerjaannya yang pertama diberikan padanya.


Rasya mematung, ia merasakan getaran didalam hatinya saat pertama kalinya ia bersentuhan dengan lawan jenisnya kecuali Bunda dan Omanya.


Ada yang beda yang ia lihat dari wanita lainnya, menurutnya Bunga penuh teka-teki yang harus ia pecahkan. Membuat ia semakin penasaran dengan sosok gadis yang sering ia temui dan menjadi sekretarisnya sekarang.


"Ras...," panggil Haris yang membuyarkan lamunan sahabatnya.


Rasya menoleh, ia membalikkan badannya dan menghampiri sahabatnya yang berdiri hendak keluar.


"Lagi pikirin siapa?" tanya Haris.


"Gak mikirin siapa-siapa," jawab Rasya yang meninggalkan sahabatnya yang bengong dengan kelakuan sahabatnya.

__ADS_1


Haris menggelengkan kepalanya, ia tidak mengerti dengan kelakuan sahabatnya barusan. Ia langsung menyusul atasannya yang sudah meninggalkannya.


Didalam ruangannya, Rasya mengecek beberapa berkas dan di layar laptopnya untuk memastikan laporan di berkas dan di laptopnya semua benar tanpa ada salah. Ia ingin memberikan kebanggaan kepada orang tuanya, ia juga bisa memajukan perusahaan ini dengan pesat dan baik dari sebelumnya.


Pintu itu terbuka oleh sahabatnya yang membawa berkas di tangannya. Dan menyerahkan pada sahabatnya yang fokus pada laptopnya.


"Lu periksa deh, mungkin ada yang berbeda," ucap Haris.


"Hem, sebentar. Aku lagi mengecek beberapa hasil yang kemarin Ayah berikan padaku." sahut Rasya tidak mengalihkan pandangannya dari laptopnya.


.


.


.


.


Di luar ruangan, Bunga kembali mengerjakan beberapa tugas yang diberikan oleh asisten pribadinya bosnya. Ia mengerjakan pekerjaannya dengan teliti dan hati-hati, takut ada yang salah, beberapa ia mengulangi dan membacanya.


"Kamu Bunga ya?" tanya karyawan yang bernama Vita.


Bunga kaget dengan kedatangan seorang karyawan wanita yang sudah duduk dihadapannya.


"Eh, iya Mbak. Saya Bunga karyawan baru di sini, salam kenal." ucap Bunga yang ramah menyambut uluran tangan karyawan ini.


"Jadi sekretaris pak Bos?" tanya Vita lagi.


Bunga mengangguk pelan, ia melihat kearah wanita yang lebih tua darinya.


"Hebat ya kamu, jadi sekretarisnya pak bos, pak bos sekarang mah jauh lebih muda dan bikin mata jadi seger kalau melihanya," ucap Vita lagi.


Membuat Bunga mengernyitkan dahinya tanda tidak paham yang di ucapkan oleh rekan kerjanya.


"Maksud, Mbak. Apa?" tanya Bunga yang tak paham.

__ADS_1


"Kemarin yang menjabat jadi atasan di sini tuh, pak Radit Papahnya pak Rasya, pemilik perusahaan ini," jelas Vita.


Bunga hanya mengangguk saja, ia juga bingung tak paham apa yang di bicarakan oleh rekan kerjanya. Ini adalah hari pertama ia berkerja dan tidak mengenal dengan sosok yang dulu bosnya itu.


"Ya udah, selamat berkerja ya, selamat bergabung di perusahaan ini," ucap Vita yang merasa senang bisa mengobrol dengan karyawan baru.


"Sama-sama, Mbak. Mohon bantuannya dan bimbingannya," balas Bunga yang tersenyum.


Vita mengangguk dan berlalu meninggalkan tempat Bunga, ia juga akan meneruskan pekerjaannya yang tertunda sebentar.


.


.


.


Jam makan siang pun tiba, semua karyawan berhamburan keluar dan masuk ke dalam kantin untuk mengisi perutnya yang keroncongan ingin di isi. Bunga juga selesai mengerjakan pekerjaannya tepat waktu di saat jam makan siangnya. Ia membereskan semua berkas yang akan di serahkan kepada asisten pribadinya pak bosnya.


Beranjak dari duduknya dan ingin berisi perutnya dengan berbagai makanan yang ia bayangi sejak tadi.


Sesampainya di depan pintu lift, Bunga bertemu dengan atasannya bersama asisten pribadinya yang ingin masuk ke dalam kotak besi tersebut.


Suasana semakin canggung dalam keheningan sesaat, pintu lift di buka Rasya masuk ke dalam bersama dengan asistennya dan memanggil Bunga untuk masuk bersama dengannya.


.


.


.


.


.


Ayok cepetan, ngapain bengong di situ sendirian...

__ADS_1


__ADS_2