Kisah Cinta Tuan Muda

Kisah Cinta Tuan Muda
BAB 18


__ADS_3

Sore menjelang magrib Rasya turun dari mobilnya, ia masuk kedalam rumah yang begitu sepi tidak ada satu orang pun, ia langsung masuk ke kamarnya untuk membersihkan diri dan menemui orang tuanya untuk memberitahukan tentang Chika yang ingin berkerja di perusahaannya.


Selesai membersihkan diri dan memakai baju rumahan, Rasya pun turun ingin menemui orang tuanya. Entah apa yang di berikan oleh kedua orang tuanya setelah ia mengatakan sesuatu yang terjadi siang tadi.


Rasya melangkah ke kamar orang tuanya dan mengetuk pintu tersebut.


Tok... Tok.. Tok...


"Bun," panggil Rasya.


Ceklek...


Pintu pun di buka, Bunda Tasya menghampiri sang anak yang berdiri di depan pintu kamarnya.


"Ada apa?" tanya Bunda Tasya.


"Ada yang Rasya bicarakan dengan Bunda dan Ayah," jawab Rasya.


"Bicara apa? Penting?"


Rasya mengangguk, ia melangkah masuk ke dalam setelah di izinkan masuk kedalam kamar sang Bunda. Ia melihat sang Ayah yang sedang merebahkan tubuhnya di atas ranjang.


"Yah, bangun. Ada Rasya," panggil Bunda Tasya yang mengguncang bahu suaminya.


Rasya duduk di sofa yang ada di kamar orang tuanya, ia melihat ke arah sang Ayah yang sedang di bangunkan oleh Bundanya.


Setelah selesai membasuh muka, Ayah Radit pun menghampiri sang anak yang lagi mengobrol dengan istrinya.


"Ada apa, Ras?" tanya Ayah Radit yang duduk di samping istrinya.


Rasya yang bingung harus memulai dari mana membicarakan tentang hal Chika yang ingin berkerja di perusahaannya.


"Gini, Yah. Tadi pagi Chika datang ke ruangan Rasya dan meminta kalau dia ingin berkerja di perusahaan kita," ucap Rasya pada orang tuanya.


Tasya dan Radit mengernyitkan dahinya, ia saling memandang dengan ucapan sang anak barusan. Apa ia tidak salah dengar saat ucapan sang anaknya tadi.

__ADS_1


"Kamu gak salah kan, Ras?" tanya Ayah Radit yang memastikan.


Rasya menggelengkan kepalanya, ia pasti sudah tahu dengan raut wajah orang tuanya yang begitu terkejut saat kabar yang ia berikan. Ia sebenarnya enggan untuk membicarakan soal ini. Tapi, ini demi kebaikan keluarganya yang tidak boleh memutuskan keputusan yang berakhir patal di kemudian hari.


"Jangan, Ras. Bunda takut terjadi sesuatu sama kamu, kamu tahu kan yang pernah Bunda ceritakan tentang masa lalu yang pernah Bunda dan Ayah rasakan, Bunda tidak mau terjadi sesuatu juga pada kamu, Sayang." sahut Bunda Tasya yang begitu khawatir dengan sang putra jika menerima wanita tersebut.


"Tapi, Rasya harus bilang apa Bun buat alasannya!" tanya Rasya yang ingin meminta saran pada Bunda dan Ayahnya.


Ayah Radit dan Bunda Tasya pun berpikir untuk memberi alasan yang tepat untuk tidak menerima Chika di perusahaan itu, ia yang begitu ketakutan tentang masa lalunya yang begitu kelam dengan kisahnya bersama dengan mantan suaminya yang dulu.


Bunda Tasya yang trauma dengan kejadian kejadian menimpanya saat ia merasakan hangatnya pelukan, cinta dan kasih sayang yang di berikan pria di masa lalunya. Ia yang di bohongi dan di tipu, dan yang paling parahnya ia di khianati bertahun-tahun lamanya tidak ia sadari. Sampai ada seorang anak kecil di kehidupannya saat mengetahui kebusukan mantan suaminya yang dulu.


Rasya yang terdiam, ia yang harus bagaimana untuk menolak keinginan Chika yang kekeh ingin berkerja di perusahaannya.


"Tapi Rasya harus bilang apa, Bun. Sana Chika," tanya Rasya


"Bilang aja dengan jujur," sahut Bunda Tasya yang memberi usulan.


"Gak gitu juga, Bun. Pasti Chika tidak semudah itu menerimanya, Bunda tahu kan watak keras kepalanya seperti Mamanya," balas Ayah Radit yang menimpali percakapan antara ibu dan anak.


Bunda Tasya menghela napas panjang lalu membuangnya perlahan, ia juga sempat memikirkan soal itu, keras kepalanya seperti Bella yang gigih dengan keinginannya yang beberapa tahun silam. Sempat menghancurkan kehidupannya saat akan berbahagia bersama dengan Radit. Entah apa maksudnya saat Bella ingin membunuh dirinya di depan matanya sendiri.


Bunda Tasya pun selalu mewanti-wanti Rasya agar berhati-hati saat bersama wanita itu, Bunda Tasya mengkhawatirkannya keadaan sang anak di bandingkan dengan dirinya.


Rasya adalah berlian satu-satunya dalam hidupnya, pengorbanannya pun ia pertaruhkan demi kehadirannya sang anak di kehidupannya.


Ia akan menjadi orang pertama saat sang anak ada yang menyakitinya dan membuat ia sedih.


Keputusan pun sudah di ambil oleh ketiganya, semua sudah sepakat untuk tidak menerima Chika sebagai karyawan di perusahaannya.


Ia takut dan trauma saat penghianatan di mulai dari orang terdekatnya yaitu sepupunya sendiri yang tega menusuknya dari belakang. Dan lebih parahnya lagi kematian orang tuanya juga adalah perbuatan mereka yang tega menghabisi nyawa orang tuanya dengan kejam.


Entah apa kabar dengan sepupunya yang sudah mengkhianatinya itu, setelah pengundurannya di perusahaan nya Bunda Tasya tidak tahu tentang kabarnya lagi.


Setelah berbincang dan mengambil keputusan, Rasya tidak kembali ke kamarnya. Ia malah bergelanjut dengan manja pada Bundanya. Ayah Radit yang tidak terima dan melayangkan protes dengan kelakuan sang anak yang sudah dewasa.

__ADS_1


"Ngapain masih di sini sih, Ras. Kamu tuh udah besar, jangan manja-manja sama Bunda, malu. Udah gede juga," protes Ayah Radit yang tidak suka dengan kelakuan sang anak yang seperti anak kecil.


Di rumah Rasya akan seperti anak kecil yang butuh perhatian dan ingin di manja, ia yang terus menempel pada sang Bundanya selalu meributkan kedua pria berbeda usia tersebut.


Bunda Tasya pun selalu geleng-geleng kepalanya dengan tingkah laku suaminya dan sang anak yang selalu berdebat ataupun merebutkannya.


"Udah dong, Yah. Biarin saja, Rasya juga belum ada yang manjain, jadi puas puasin aja sekarang, eh, iya. Kamu kapan sih Ras mengenalkan seorang gadis pada Bunda?" tanya Bunda Tasya yang melirik kearah sang anak.


Rasya terdiam di pelukan sang Bunda, ia belum bisa mengatakan sesuatu pada Bundanya yang belum ada kepastian yang jelas tentang hubungannya dengan gadis tersebut. Ia baru saja ingin mendekatinya dan belum mengenal lebih jauh lagi tentang gadis itu.


"Kok malah diam, kenapa?" tanya Bunda Tasya yang tahu dengan raut wajah sang anak yang berbeda.


Rasya tersenyum dan mengalihkan pertanyaan sang Bunda padanya, ia yang belum siap untuk mengatakannya sebelum status nya jelas.


Ia masih butuh perjuangan untuk meyakinkan hatinya yang tertuju pada gadis tersebut.


"Bunda tahu nih, kayaknya ada yang lagi jatuh cinta nih Yah," sindir Bunda Tasya.


"Apa sih, Bun. Jangan ngarang deh," sahut Rasya yang tidak suka dengan tuduhan sang Bunda.


"Mau sampai kapan kamu, Ras. Kayak gini terus! Ayah juga pengen nimang cucu," sahut Ayah Radit.


Rasya yang melotot dengan jawaban sang Ayah barusan, ia yang belum kepikiran tentang hal itu, untuk memulai hubungannya saja ia butuh berpikir lagi saat perasaannya masih semu dan belum memantapkan hatinya. Ia yang merasakan kenyamanan saat di sisinya saja dan merasakan perasaan yang berbeda saat memikirkan tentangnya.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Nah, itu. Bunda setuju dengan Ayah. Kapan kamu kasih Bunda cucu???


__ADS_2