
Ucap Haris yang mengeluarkan kekesalannya pada sahabatnya yang tega meninggalkannya tanpa memberitahu.
"Apa sudah sih tinggal telpon doang," umpat Haris yang bangun untuk memanggil office boy untuk di bagikan makanan tersebut. Rasya yang tak kira-kira memesan makanan sebanyak ini untuk ia makan di tambah pemberian Bunga.
"Iya, Tuan. Ada yang saya bantu!" ucap office boy tersebut.
"Tolong bagikan pada rekan mu," titah Haris yang tak mungkin menghabiskan makanan yang ada di meja tamu tersebut.
Office boy tersebut mengiyakan dan tersenyum karena mendapatkan Rizki yang tak terduga. Perutnya yang mulai keroncongan di tawari makanan lezat tersebut.
"Terimakasih, Tuan." ucap office boy tersebut sambil membawa makanan itu keluar untuk ia makan bersama teman-temannya.
Haris pun mulai memakan makanan tersebut, ia menikmati makan siang dengan sendirian. Rasa kesalnya pada sahabatnya yang sudah meninggalkannya dengan Bunga.
"Enak-enakan pacaran sedangkan gue sendirian di sini. Itu Rasya benar-benar ya," gumam Haris yang masih marah pada sahabatnya. Ia yang di suruh untuk membelikan makanan tersebut begitu banyak, setelah dapat semuanya dengan susah payah Haris harus mengantri, kepanasan dan masih banyak lagi saat ia membeli makanan tersebut.
.
.
.
Di resto, Bunga dan Rasya memesan makanan dengan selera masing-masing. Hanya saja Bunga jadi salah tingkah yang terus di pandang oleh Rasya.
"Ada yang salah dengan saya, Pak?" tanya Bunga yang tak enak karena di lihatin oleh atasannya.
__ADS_1
"Kamu cantik," puji Rasya yang terpukau dengan kecantikan Bunga yang alami dengan polesan make up tipis tak berlebihan membuat Bunga begitu cantik.
"Ya iyalah, Pak. Cantik kan cewek," jawab Bunga sambil bercanda untuk mengurangi kegugupannya.
"Tapi kamu berbeda, Bunga." ucap Rasya lagi.
"Apa sudah ada jawaban untuk pertanyaan yang kemarin?" tanya Rasya dengan serius, bukannya ia tak sabar tapi sampai kapan ia harus menunggu kepastian cinta yang akan di terima atau di tolak.
"Saya masih berusaha, pak. Mohon bersabarlah, tak semudah itu jatuh cinta pada seseorang yang baru ia kenal. Kita baru saling kenal dan belum tau karakter masing-masing," jawab Bunga yang belum dapat jawaban atas ungkapan perasaan atasannya.
"Sampai kapan?" pancing Rasya lagi, ia yang tak sabar ingin memiliki wanita yang ada di hadapannya sekarang.
"Cinta tak harus terburu-buru, dia akan mengenal dan merasakan kenyamanan saat bersama. Yang buru-buru itu tak baik pada hubungan." jawab Bunga yang meyakinkan atasannya.
Rasya tak bertanya lagi saat kedatangan pelayan yang sudah mengantarkan makanannya dan Bunga.
"Sama aku juga kaget banget, saat aku masih bayi dan Bunda koma Mamah Kirana lah yang mengurus ku sampai Bunda sadar dari komanya," balas Rasya lagi, yang ia tahu hanya itu karena Bunda dan ayahnya hanya menceritakan itu tidak dengan Kirana yang terang-terangan menyukai ayah Radit.
"Kamu mau?" tawar Rasya, ia mengambil makanannya untuk menyuapi Bunga.
Bunga terdiam, ia enggan untuk menolak atau menerimanya karena malu yang belum status kan sebagai pasangan.
"Ayo buka mulut ya," paksa Rasya yang melihat Bunga hanya terdiam.
Mau tak mau pun Bunga membuka mulutnya dan menerima apa yang di tawarkan oleh Rasya, steek yang Bunga makan begitu nikmat dengan daging yang juice dan lembut saat di kunyah.
__ADS_1
"Enak ya, Pak." ucap Bunga yang sambil mengunyah.
Rasya pun menyuapi lagi dan tanpa terasa makanan yang ada di piring Rasya pun habis oleh Bunga.
"Sudah kenyang?" goda Rasya yang terkekeh. Tadi menolaknya dan sekarang habis tak tersisa.
Bunga yang melihatnya merasa malu, pertamanya ia menolak dan sampai ia habiskan tanpa tersisa. Bunga tersenyum dan membuang muka karena malu.
"Mau nambah gak?" goda Rasya dengan mata berkedip.
"Gak deh, Pak.": tolak Bunga.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Ternyata kamu malu malu kucing ya...