
"Mulai hari ini aku akan mengantar dan menjemputmu, jika aku berhalangan aku pun akan mengirim sekretarisku untuk menjemputmu. Jangan pergi kemana pun sendiri lagi. Aku tidak ingin kejadian semalam terulang lagi. Meski aku tidak tahu apa yang terjadi tapi aku yakin itu hal yang sangat tidak baik dan juga membuatmu terluka.Aku akan berusaha menjagamu , karena menjagamu adalah perioritasku sekarang." ucap Varell.
"Iya.." ucap Kiara.
"JIka kau sudah selesai aku tunggu di luar." ucap Varell dingin dan meninggalkan Kiara.
"Kenapa dia seperti ABG sensitif banget. Baru aja manis-manis kaya permen, tau-tau ngambek pait banget." ucap Kiara yang jadi ikutan kesal.
***
Diluar Varell mendinginkan kepalanya rasanya dia sangat jengkel mendengar jawaban Kiara masalah anak.
"Apa yang aku pikirkan.. tentu saja Kiara masih butuh waktu.. Seharusnya aku tidak perlu terlalu sensitif." ucap Varell menyalahkan diri.
Tak lama Kiara pun keluar.Varell pun masuk kedalam mobil dan diikuti Kiara. Varell pun melajukan mobilnya dan mengantarkan Kiara ke kantor. Sesampainya Kiara pun turun.
"Kita akan bertemu nanti setelah jam makan siang." ucap Varell saat Kiara sudah menutup pintu mobil
"Kenapa? bukankah kau akan menjemput setelah pulang kantor." tanya Kiara sambil membungkukkan badannya ke arah jendela mobil.
"Apa wawancara denganku di batalkan?" tanya Varell.
"Apa!! bagaimana aku tidak ada pemberitahuan jika wawancaramu hari ini."
"Jadi persiapkan hatimu sayang."ucap Varell dan langsung menjalan kan mobilnya.
Kiara menatap mobil Varell yang mulai keluar dari halaman kantor Kiara.
"Sayang??" ucap Kiara dan lalu tersenyum dengan malu dan masuk ke dalam kantor.
Tok..tok..tok..
"Masuk.."
"Maaf menganggu kepala editor..Saya mau tanya hari ini saya dengar akan melakukan wawancara dengan Varell William. Tapi kenapa saya tidak mendapat pemberitahuan dari kantor. Dan tim saya tidak ada yang tahu. padahal dari sekretaris pihak Varell William menghubungi saya akan melakukan Wawancara siang ini setelah selesai jam makan siang."ucap Kiara
"Ahh iya.. apa kau belum membuka e-mail yang saya kirimkan kepadamu?"
"Saya belum membuka e-mail pagi ini karena saya sibuk mempersiapkan naskah untuk wawancara tuan Varell William."
"Baiklah saya akan katakan secara langsung padamu.Tim tiga akan melakukan wawancara langsung dengan Vino William.Dan untuk Varell William akan di wawancarai oleh tim dua. Bisa dibilang ini pertukaran tugas , terkadang hal seperti ini sering terjadi. Namun kemaren dari pihak Vino William menghubungi kita secara langsung dan akan melakukan wawancara tapi dari pihaknya ingin wawancaranya harus dilakukan dengan mu. Apa kau mengenal secara pribadi Vino William?"
"Tidak!! saya tidak mengenalnya." ucap Kiara tegas.
"Oh.. Baiklah kalo begitu.. saya yakin ketua tim tiga mampu melakukan wawancara dengan Vino William dengan lancar."
"Baik.. akan saya usahakan."
Kiara pun meninggalkan ruangan kepala editor dengan muka ditekuk. Kiara yakin jika ini adalah ulah Vino.
"Kiara.. bagaimana ?" tanya Rini.
__ADS_1
"Maaf sepertinya kau tidak akan bisa mewawancarai idolamu. Karena kita harus melakukan wawancara dengan Vino William."
"Lho..bagaimana bisa?"
"Entahlah kepala editor bilang tugas kita ditukar dengan tim dua. Karena dari pihak Vino William ingin tim kita yang melakukan wawancara dengannya."
"Kenapa tiba-tiba sekali.. Dan juga apa di tim kita ada yang mengenal Vino William bagaimana bisa pihak Vino meminta tim kita yang mewawancarainya?"
"Entahlah.." ucap Kiara.
"Jadi kita harus membuat naskah ulang .. huft.." ucap Rini mengeluh.
drrt..drrt..
"Halo.."
"Maaf ada yang lupa saya katakan tadi. Vino William juga akan melakukan wawancara siang ini setelah jam makan siang."
"Apa!!"teriak Kiara.
"Maaf saya benar-benar lupa. Tolong secepatnya naskah dicetak karena waktu kalian tinggal dua jam lagi sebelum Vino William melakukan wawancara." ucap kepala editor di telepon.
Kiara pun mematikan telepon dengan segera dan meminta anggota tim untuk segera membuat naskah pertanyaan dan langsung dicetak.Setelah selesai Kiara pun membawa cetakan naskah pertanyaan untuk wawancara ke ruangan kepala editor.
"Naskah ini cukup bagus Kiara aku tahu kamu memang bisa diandalkan."
"Terima kasih pak."
"Dan untuk lokasi wawancara ada di cafe Anggrek ."
'Kenapa dari banyak cafe dia memilih cafe Anggrek.' batin Kiara.
"Baiklah saya akan pergi dengan tim tiga sekarang juga untuk mempersiapkan tempat untuk wawancara." ucap Kiara.
"Emm.. maaf Kiara seprti nya hanya kau yang bisa pergi ke tempat wawancara itu karena dari pihak Vino hanya ingin kau yang mewawancarainya secara pribadi. Mungkin karena tuan Vino tidak nyaman dengan banyak orang."
"Tapi saya tidak bisa melakukan wawancara sendiri pak."
"Tenang saja karena Vino William tidak ingin di wawancara lewat kamera dia hanya ingin wawancara dengan audio. jadi kau hanya perlu membawa alat perekam dan juga naskah saja.Ternyata Vino itu orang yang ramah dan juga pengertian."
"Baiklah saya akan berusaha yang terbaik."
"Terimakasih Kiara."
"Jadi sekarang saya pun pamit untuk langsung menuju lokasi untuk wawancara."
"Iya baiklah."
***
Kiara pun sampai di cafe Anggrek dan menunggu Vino datang.
"Kiara.." panggil seseorang.
__ADS_1
Kiara pun berdiri sopan saat melihat Vino sudah datang.
"Akhirnya kita bertemu lagi.aku kira akan sangat sulit untuk kita bertemu lagi. tapi ternyata Tuhan berkehendak lain. Kita dipermudah untuk bertemu." ucap Vino
Kiara hanya diam dan tetap berdiri sopan. Kiara pun mengulurkan tangannya. Dan Vino pun menyambut tangan Kiara. Namun ternyata yang dimaksud Kiara adalah berjabat tangan.
"Nama saya Kiara Dannisha dari tim tiga saya yang akan mewawancarai anda tuan Vino William." ucap Kiara yang kemudian melepas tangannya.
"Kenapa sangat formal." ucap Vino yang kemuadian duduk di hadapan Kiara.
"Kiara pun mengikuti Vino duduk dan menyodorkan kartu namanya. serta mengaktifkan tombol on pada alat rekamnya.
"Saya akan mulai melakukan wawancara." ucap Kiara.
"Maaf bisakah kita memeasan minuman karena saat jam istirahat tadi saya belum sempat makan dan minum." ucap Vino.
Kiara pun kembali mematikan alat perekamnya.
"Baik silahkan anda pesan dulu."
Lalu Vino pun memanggil pelayan dan memesan makanan.
"Kau mau pesan apa , apa menu yang biasa."
"Tidak tuan Vino kebetulan saya sudah kenyang karena saya sudah makan siang tadi."
"Ok kalo begitu saya pesankan minuman saja."
Setelah pelayan pergi untuk memesan makanan. Kiara hanya diam memandang Handphonenya sedang Vino memandang Kiara dengan tersenyum bahagia.
'Bagaimana dengan Varell apa dia sudah melakukan wawancara dengan tim dua. huft sungguh beruntung tim dua.' batin Kiara.
"Apa kau bosan.. kau bisa mengajukan pertanyaan sambil menunggu pesanan datang."ucap Vino.
Kiara pun memencet tombol On dan mulai mewawancarai Vino.
Maaf tuan Vino sekarang ini anda adalah salah satu pengusaha muda yang sukses. Apa saya boleh tau siapa saja yang mendukung dibalik suksesnya anda?" tanya Kiara.
"Emm.. yang mendukung saya adalah mama saya dan juga diri saya sendiri dan wanita yang sedari dulu selalu didekatku dan menyemangatiku."
"Kalau boleh tau siapa perempuan yang telah beruntung mendapat hati tuan Vino?"
"Hah.. perempuan itu.. apa kau tidak tahu ketua tim tiga KIiara Dannisha."
"Maaf saya tidak tahu. Dan saya bertanya sesuai naskah yang saya dapatkan." ucap Kiara sambil menunjukkan kertas ditangannya.
"Dia adalah Kau. tentu saja Kiara Dannisha.."
Bruuk...
***bersambung***
Guys jangan lupa tekan jempol dibawah ya. Sebagai tanda apresiasi kalian terhadap penulis.. tinggal klik okee guys..
__ADS_1
thank you sudah membaca "knocked my heart"😘 kalo sempat kasih komennya..