
Aku tidur dulu selamat malam." ucap Kiara cepat.
Dibalik selimut Kiara berpikir orang seperti apa Varell itu.
Varell pun naik ke atas ranjang dan tidur disisi lain ranjang.
"Buat celah untukmu bernapas, atau kau akan kehabisan napas. "ucap Varell
"Dan selamat malam"imbuh Varell.
Sepanjang malam Varell tidak bisa tidur. Bagaimana dia bisa tidur Kiara terlihat sangat lelah hingga tak sadar jika tubuh Varell sudah dijadikan guling olehnya. Varell melihat wajah wanita yang kini sudah menjadi istrinya. Setelah lama dengan posisi tidur itu Varell mulai merasa kebas, diapun menyingkirkan Kiara dengan halus dan perlahan. Setelah terbebas dari tubuh Kiara Varell pun membelai lembut Kiara di usapnya pipi kiara dan tak sadar dia pun mencium pipi Kiara dengan lembut. Hingga beberapa saat tetap tidak ada gerakan dari Kiara. Varell pun tersenyum dan mengecup bibir Kiara. Setelah mencium kiara dengan mencuri-curi kesempatan pun dirasanya dia ingin lebih dari sekedar mencium Kiara. Dia pun bangun dari tempat tidurnya mendinginkan pikiran dan hatinya serta jantungnya yang bergejolak. Diapun keluar menuju balkon kamar Kiara. Dipandangnya halaman rumah Kiara ada perasaan aneh didalam hatinya. Varell tidak mengerti kenapa dia bisa terjebak dengan perasaan yang ingin dia hindari, bahkan kenapa harus dengan wanita yang sama sekali tidak menyukainya.
Varell pun membalikkan tubuhnya terlihat samar wajah Kiara yang tertidur pulas tanpa pertahanan apa pun.
Varell pun berjalan mendekati tubuh Kiara diambilnya selimut yg sudah turun dikakinya dan menutupkan kembali pada tubuh Kiara.Dibelainya rambut Kiara dan menyingkirkan beberapa helai yang menutupi wajah Kiara.
"Sungguh Cantik. " ucap Varell lirih.
Jarum jam sudah menunjukkan pukul 03.00 Varell masih tidak bisa menutup matanya. Varell masih puas melihat wajah Kiara. Namun tak lama Varell seperti mendengar keributan di lantai bawah. Varell pun bangun dari tidurnya dan keluar dari kamarnya menuju lantai bawah.
"Oh.. Nak Varell." ucap mama Kiara.
Varell tersenyum ramah namun dia bingung apa yang terjadi, seluruh keluarga Kiara tampak sedang bersiap-siap.
"Ada apa? "tanya Varell
"Oh kami akan pergi selama tiga hari, sebenarnya mama sudah menempelkan memo kalau-kalau kalian bangun nanti. Tapi ternyata kau sudah bangun apa karena suara kami yang berisik... "
"Ohh.. tidak.. "jawab Varell
"Kiara tidak akan bangun seberisik apa pun. " ucap salah seorang anggota keluarga.
"hahahahhaa.. "seluruh keluarga tertawa.
"Benarkah? "tanya Varell.
"Tentu.. kami semua tahu sedari kecil Kiara paling susah bangun dan juga kalo tidur pasti seperti kerbau.. "
"hahahahahahhaaa.... "
"menurut ku Kiara sangat cantik dan polos saat tidur. "ucap Varell
Seluruh keluarga pun terdiam dan memandang Varell.
"hahahahahaaa...."tawa keluarga Kiara pecah.
"Itulah Cinta Varell.. "ucap Danni papa Kiara sambil menepuk pundak Varell.
"Tapi.. apa tidak apa-apa pergi tanpa memberitahu Kiara secara langsung terlebih dahulu.?" tanya Varell.
"Tidak apa-apa nak Varell. " jawab Danni
"Nikmati saja waktu kalian ya Nak. " ucap mama Kiara.
"Aaahh... baiklah" ucap Varell malu.
"Oh iya pa.. ma.. mungkin nanti kami pun akan pindah ke rumah yang sudah di berikan oleh ayah."
"Ooh baiklah nak Varell. Sebelum itu tunggu kami pulang dulu. "ucap Danni.
"Ok.. pa.. "
***
Sinar Matahari sudah mulai terlihat Kiara bangun dari tidurnya dan saat melihat sisi ranjangnya. Kosong.. tanpa sadar tangannya memegang bantal yang tadi malam untuk tidur Varell. Jantungnya tiba-tiba berdetak sangat cepat.
Dag.. Dig.. Dug..
'lagii'pikir Kiara.
"Apa yang sedang kau lakukan? " tanya Varell tiba-tiba dan membuat Kiara kaget.
"Kyaaa... "teriak Kiara.
Kiara pun melempar bantal yang tadi dia pegang.
"Kau.. kau.. kenapa tiba-tiba ada disini" ucap Kiara terbata. Terlihat jelas pipinya merona merah karena malu.
"Dari tadi aku disini. " ucap Varell singkat.
Varell heran apa yang sedang dilakukan Kiara pagi-pagi setelah bangun tidur. Varell pun mengambil bantal yang tadi dilempar Kiara dan menaruhnya kembali disisi ranjang yang dia tiduri dan seketika dia tersadar dan itu membuat Varell ingin mengoda Kiara.
"Apa kau memikirkan hal mesum kepadaku dengan memegang bantal ini. "ucap Varell penuh selidik.
"Ti.. tii.. tidak mungkin.. untuk apa aku melakukan hal seperti itu.. "ucap Kiara terbata dan salah tingkah.
Dan Varell sangat senang melihat wajah Kiara yang sedang malu.
"Dasar wanita bodoh. "ucap Varell gemas sambil menahan senyum.
"Apa! kenapa tiba-tiba mengatakan aku bodoh." ucap Kiara kesal.
Namun Varell hanya diam. Kiara pun pergi keluar dari kamarnya dengan marah-marah dan bergumam.
"Beraninya mengatakan aku bodoh. "
Setelah Kiara keluar Varell pun tertawa puas dengan apa yang ia lihat.
"Kenapa Wanita bodoh ini sangat aneh. "ucap Varell dengan tertawa kecil.
***
"Beraninya mengatakan aku bodoh. "
Kiara menuju ke dapur, namun terasa aneh.
"Kenapa terasa ada yang kurang"bisik Kiara
Saat akan mengambil minum ada secarik kertas yang ditempel dilemari es. Kiara pun membaca memo itu yang isinya.
papa dan mama pergi saat dini hari karena pergi awal papa dan mama tidak berani membangunkan Kiara dan Varell. Papa dan mama akan pulang 3 hari lagi.Jadi urus dirimu dan terutama suamimu. ingat apa yang sudah mama ajarkan padamu. Jangan buat malu Papa dan Mama mu.. i love u bayi kecil mama muach.
"Aaahhhh.... " teriak Kiara.
"Apa ini sungguhan? ini gak mungkin kan? bagaimana mungkin papa dan mama pergi saat hari pertama pernikahan ku? "ucap Kiara bingung.
'Bagaimana aku harus bersama Varell berdua saja dirumah ini! ' ucap Kiara didalam hati.
"Apa yang terjadi Kiara? "tanya Varell tiba-tiba sudah ada dibelakang Kiara
"Hah.. kenapa? "tanya Kiara balik.
"Tadi kau teriak. "
"Aahh..maaf aku cuma kaget. "
"Iya.. kamu kaget kenapa? "
"Gak apa-apa tuan Varell. "
"Kenapa? "
"Huh.. karena harus berdua saja dirumah.. ups!"Kiara pun menutup mulutnya.
'huh mulut bodoh ini!'umpat Kiara sambil memukul ringan bibirnya.
"Kenapa? Apa kau takut hanya kita berdua saja dirumah ini. "
"Tidak untuk apa aku takut. "
"Benarkah? "
Varell pun mendekati Kiara, makin dekat Varell berjalan kearah Kiara. Kiara pun mundur selangkah demi selangkah.
"Apa yang kau lakukan tuan Varell?"
"Apa lagi aku sedang mendekati istriku. "
"Kau harus ingat Tuan Varell pernikahan kita adalah Hitam diatas putih. "
"Tapi pernikahan kita sah secara hukum kau harus ingat ingat itu Kiara. "ucap Varell dan terus menekan Kiara.
__ADS_1
Kiara merasa terpojok dengan sikap Varell. Dia pun mencoba menghindar tapi sayang niatnya harus dihalangi oleh kedua tangan Varell. Sedang wajah Varell makin mendekat.
"Tuan Varell.. Stop. "ucap Kiara parau.
Namun Varell tidak mengindahkan niatnya wajahnya tetap mendekati wajah Kiara tangan kanan Varell mulai memegang dagu Kiara dengan halus hingga Kiara mendongak.
Cup
Varell mengecup bibir Kiara. Tanpa sadar Kiara membuka sedikit bibirnya. Varell pun merasa jika Kiara telah mengizinkannya. Varell pun melumat bibir Kiara dengan sangat lembut dan intens. Sejenak Kiara menikmati ciuman Varell. Namun makin lama makin intens. Tangan kiri Varell mulai meraba tubuh Kiara. Kiara pun melepas ciuman Varell dan mencoba menghindar kesamping.
"Bukankah kau menyukainya? " ucap Varell bergetar.
"Tidak."
"Tapi kau tidak menolak saat aku menciummu dan kau justru memberiku ijin menciummu lebih. "
Kiara hanya terdiam, dia pun mendorong tubuh Varell ke belakang perlahan dan dia pun berjalan pergi meninggalkan Varell.
Dag.. Dig.. Dug..
Suara Jantung Kiara berdetak dengan sangat cepat, nafasnya naik turun, dadanya terasa sesak, perasaan tak nyaman namun mendebarkan dan membuat hatinya bergetar.
'kenapa denganku' batin Kiara
Saat Kiara ada di halaman belakang rumahnya dia pun jatuh terduduk kakinya terasa lemas, pipinya terasa panas dia memikirkan kembali apa yang baru saja terjadi dan memegang bibirnya.
Saat Varell menciumnya rasanya Kiara sudah hampir gila, ciuman Varell begitu lembut dan manis dan membuat Kiara enggan melepaskan ciumannya dan ingin lebih dari itu. Namun kemudian dia sadar jika itu salah Varell tidak mencintainya dan Kiara tidak tahu akan perasaannya. Terlebih lagi mereka menikah hitam diatas putih. Tidak seharusnya Kiara menginginkan lebih dari itu. Kiara menutup wajahnya .Bagaimana mungkin dia menginginkan lebih.
'Dasar aku memang wanita bodoh!' ucap Kiara didalam hati.
Didapur Varell mencoba mengalihkan perhatiannya. Dia tidak mungkin mengejar Kiara dan memaksanya. Segala hal dilakukan Varell seperti mencuci piring. Varell sebenarnya sudah terbiasa hidup mandiri karena selama lima tahun dia harus hidup sendiri di apartemen maka dia melakukan segalanya sendiri. Hanya terkadang Adit pun juga membantunya jika banyak pekerjaan dikantornya.
Setelah selesai mencuci piring dirasakannya perutnya memanggil.
"Aakh aku Lapar" ucap Varell sambil memegang perutnya. Varell pun mencari bahan makanan di dapur untuk dimasak. Namun belum sempat melihat isi kulkas ponselnya berdering. Dilihatnya nama 'sekretaris'
Varell pun langsung menekan tombol jawab.
"Hallo. "Ucap Varell
"Hallo, maaf mengganggu waktu liburmu. " ucap Adit.
"Ya tidak apa-apa!,apa ada masalah dikantor?" tanya Varell.
"Mungkin sekarang kau harus kerumah sakit. Ayahmu semalam kritis dan dibawa ke rumah sakit."
Varell terdiam terkejut.
"Cepat jemput aku sekarang. " perintah Varell.
"Baik. "
Adit langsung menutup teleponnya. Varell bergegas ke kamar hendak menganti pakaian. Kiara melihat Varell yang berlari menaiki anak tangga dan mengikuti nya.
"Ada apa? "tanya Kiara setelah sampai di dalam kamar.
Namun Varell diam saja. dia fokus mencari pakaiannya dengan terburu-buru.
Kiara pun mendekati Varell dan memegang pundaknya. Varell pun menoleh.
"Ada apa tuan Varell? " tanya Kiara pelan.
Varell pun langsung menarik lengan Kiara dan memeluknya. Kiara sontak kaget dan berusaha melepas pelukan Varell.
"Sebentar saja aku mohon. " ucap Varell
Kiara yang tidak mengerti tetap memberontak.
"Aku mohon Kiara, aku saat ini sungguh rapuh. "
Kiara pun berhenti memberontak di rasanya hangat di pundaknya basah karena air mata Varell.
"Kau kenapa? "tanya Kiara.
"Ayahku semalam kritis dan sekarang dia dirumah sakit aku harus menemuinya. Aku sungguh takut Kiara. "
Kiara pun mengusap punggung Varell. Sekarang Kiara tahu jika Varell sama seperti semua orang dia bisa rapuh seperti sekarang. Tidak ada Varell yang dingin dan tak berperasaan. Kini Kiara tahu seperti apa perasaan Varell sesungguhnya.
"Aku ikut" ucap Kiara.
"Tidak kau lebih baik dirumah saja. Aku tidak ingin kau bertemu dengan Vino dan tante Dina. "
"Tidak tuan Varell, bagaimana pun beliau adalah ayahmu dan beliau juga ayahku untuk sekarang.Juga aku sekarang adalah istrimu aku akan mengikuti mu. jika ada Vino ataupun tante Dina. Bukankah kau akan melindungiku." ucap Kiara.
Varell diam sejenak.
"Baiklah tapi kau harus tetap didekatku. " pinta Varell.
"Ok!" jawab Kiara bersemangat.
Varell pun melepas pelukannya dan kembali mencari pakaiannya yang masih ada di dalam koper.
"Kenapa tidak ada kemeja dan Jas disini. " ucap Varell kesal.
"Biar aku siapkan pakaianmu. " ucap Kiara
"Tidak usah biar aku siapkan sendiri. "
"Lebih baik kau bersiap, mandi lah lebih dulu. apa kau ke rumah sakit tidak mandi. " ucap Kiara sambil menutup hidungnya.
Varell pun tersenyum dan menuruti perintah Kiara.
"Aku sudah menyiapkan pakaianmu diatas tempat tidur. Dan aku akan bersiap dibawah. "Teriak Kiara yang kemudian keluar dari kamar.
Tak lama kemudian Varell pun keluar dari kamar mandi dilihatnya pakaian yang disiap kan Kiara.
"Huh..Adit.. Kenapa pakaian santai yang ia kemas. " ucap Varell
Celana tiga perempat dengan kaos warna merah. dan disebelahnya ada jaket warna hitam senada dengan celananya. dan tak lupa Kiara juga menyiapkan pakaian dalam Varell. Varell pun merasa sangat malu dan hampir menangis. Varell pun dengan segera memakainya.
Setelah bersiap Varell pun turun kebawah. Saat dibawah ternyata Kiara belum keluar dari kamar. Varell pun menunggu Kiara di ruang tengah. Namun terasa lama Varell menunggu. Varell pun mengetuk pintu kamar tidak ada jawaban kemudian Varell pun membuka pintunya perlahan.
"Kiara.. aku..masuk" ucapnya
Namun kamar itu pun Kosong.
' Dimana Kiara'pikir Varell.
Tin.. tinn..
suara klakson mobil. Varell pun bergegas keluar . Dia tidak menyangka jika Adit bisa sampai dengan cepat. Namun saat dia membuka pintu dilihatnya itu bukanlah mobilnya. Varell tetap berdiri di depan pintu. kemudian Pintu kemudi pun terbuka.
"Apa kau akan menyetir mobil ini? "tanya Kiara
"Kita akan menunggu Adit. "
"Tidakkah itu terlalu lama. barang kali kak Adit sekarang terjebak macet. "
__ADS_1
Kiara pun mendekati Varell dan menyerahkan kunci mobilnya pada Varell kemudian masuk dikursi penumpang didepan. Namun Varell masih bingung. Kiara pun memanggil Varell. Varell pun kemudian berjalan mendekati mobil Kiara. tangannya masih bergetar.. Varell teringat akan kecelakaannya dulu. Keringat dinginnya mulai bercucuran.
"Kalau kau tidak bisa lebih baik aku saja yang menyetir. " ucap Kiara.
"Tidak" ucap Adit
Adit pun menaiki mobil Kiara dan mulai menyalakan mobilnya. Kiara melihat ketakutan didiri Varell. Kiara pun memegang tangan Kiri Varell dengan lembut.
"Tidak apa. " ucap Kiara.
Varell pun menoleh. Di lihatnya senyum tulus Kiara. Hati Varell terasa hangat gugup dan takut memudar seketika. Varell pun tersenyum dan mulai menjalankan mobilnya perlahan. Saat dilihatnya Varell sudah mulai rileks Kiara pun melepaskan tangannya.
"Aku akan menelepon Kak Adit. "
"Oh baiklah. "
"Boleh pinjam handphone mu.. aku tidak punya nomor kak Adit. "
"Oh iya.. " Varell pun mengambil handphone nya di kantung jaketnya.Dan menyerahkan nya pada Kiara.
"Namanya Sekretaris. "
Kiara pun mencarinya di daftar panggilan dan menekan tombol call.
"Hallo"ucap Adit di seberang.
"Hallo, kak Adit" ucap Kiara.
"Ooh Kiara, ada apa aku sedang dijalan tapi macet. "
"Tidak apa kak. Kita bertemu dirumah sakit saja. sekarang aku dan tuan Varell sedang dijalan menuju rumah sakit. "
"Ooh kalian naik taxi. "
"Tidak kak kita naik mobil Ku. "
"Kiara berbahaya menelepon sambil berkendara lebih baik Varell yang menelepon."
"Kak bukankah kau sendiri yang berkata berbahaya menelepon sambil berkendara. jika aku memberikan telponya pada tuan Varell maka sangat berbahaya. "
"Maksudnya"
"Maksudnya Varell sekarang sedang menyetir jadi dia tidak bisa telpon"
"Apa!!" Adit sangat kaget.
"Varell yang menyetir? " tanya adit tak percaya.
"Iya kak. " Jawab Kiara sambil tersenyum dan melihat ke arah Varell yang ternyata juga sedang tersenyum.
"Varell.. " Adit sungguh terkejut hingga tidak bisa berkata.
"Baiklah hati-hati Kiara, kita akan bertemu dirumah sakit.Dan terimakasih Kiara. "terdengar kata-kata Adit bergetar.
"Baik kak. "
Kiara pun menutup teleponnya.
"Sepertinya kak Adit menangis. " ucap Kiara.
"Hmm. benarkah.. aku saja tidak percaya. " ucap Varell dengan tersenyum.
"terimakasih. " imbuh Varell.
Kiara pun tersenyum. di lihatnya pemandangan kota yang padat dan macet karena kendaraan. pemandangan itu sudah biasa dilihat oleh Kiara setiap harinya. Kiara sangat puas kini dia bisa membantu seseorang menghilang kan ketakutannya.
Setelah beberapa saat Kiara dan Varell telah sampai di rumah sakit. Varell memarkirkan mobilnya terlebih dahulu. Barulah Kiara dan Varell berjalan bergegas masuk kedalam rumah sakit. Saat memasuki lobi dilihatnya Adit sudah duduk menunggu di depan pintu masuk.
"Kau sudah sampai? "tanya Varell
"Iya tadi aku langsung putar balik begitu kiara menelepon ku. "jawab Adit.
"Dimana Ayah? "
"Dia sudah mulai normal sekarang dan sudah masuk di kamar rawat tinggal menunggu beliau sadar. "
"Ooh baiklah. " ucap Varell sedikit lega.
"Rell.. "Panggil Adit.
Varell pun menoleh.
"Kau tidak apa-apa.? "
"Iya aku baik-baik saja kak. " jawab Varell dengan senyum
Adit pun merasa lega dan bersyukur. Varell pun berjalan dengan cepat menuju kamar rawat ayahnya. Dan Adit mengikuti langkah kaki Varell dibelakangnya. Sedangkan Kiara tidak bisa mengimbangi langkah kaki ke dua laki-laki itu. tiba-tiba Varell berhenti dan melihat ke arah belakang. Dilihatnya Kiara berjalan setengah berlari di belakang Adit.
"Ada apa? "tanya Adit
Varell hanya diam setelah Kiara sudah ada disebelah Adit, Varell pun menggenggam tangan Kiara. Sontak Kiara kaget dengan sikap Varell.
"Jangan banyak berfikir."ucap Varell
"Aku hanya tidak ingin harus mencarimu nanti jika kau tidak bisa mengikuti langkah kaki ku." imbuh Varell mengejek.
"Iya tuan Varell saya mengerti. " ucap Kiara.
Mereka pun melanjutkan jalannya.
"Apa tante Dina dan Vino juga disini?" tanya Varell di sela-sela jalannya.
"Tidak... " jawab Adit.
"Dimana mereka? "
"Mungkin dirumah. "
"Aku tidak mengerti kenapa dulu ayah harus menikahi wanita itu. " ucap Varell kesal.
"Tuan William pasti memiliki alasan." jawab Adit.
Setelah sampai dikamar Varell pun bergegas masuk. Kiara pun masih dengan setia digandeng oleh Varell. Setelah didalam kamar. Varell pun melepas tangan Kiara. dan berjalan perlahan ke arah ayahnya.Sedang Kiara dan Adit dibelakangnya.
"Ayah... "ucap Varell Lirih.
Namun tak ada jawaban dari ayahnya. Varell pun duduk disamping ranjang William ayahnya. tangannya menggenggam tangan William. Kiara pun mendekati Varell dipegangnya pundak Varell yang seketika bergetar. Kiara pun memeluk Varell sambil berdiri.
"Tenanglah" ucap Kiara sambil mengusap punggung Varell.
Varell pun menitikkan air matanya.
'Kenapa aku selalu tunjukkan sisi rapuhku pada wanita ini.' bisik Varell dalam hati.
***bersambung***
Guys jangan lupa tekan jempol dibawah ya. Sebagai tanda apresiasi kalian terhadap penulis.. tinggal klik okee guys..
thank you sudah membaca "knocked my heart"😘 kalo sempat kasih komennya..
__ADS_1