Kontrak Jiwa Putri Palsu Duke

Kontrak Jiwa Putri Palsu Duke
Chapter 1 : Putri Yang Tak Berguna Dan Dewi Yang Terkutuk


__ADS_3

Hari itu, bintang tidak bersinar.


Cahaya bulan purnama yang benderang, hanya berupa rentetan sinar-sinar kecil, di kerumunan awan hitam yang berjalan santai.


Angin dingin meniupi pohon-pohon yang mengeluarkan suara gemersik sana-sini, mengisi kekosongan suasana malam yang mencekam.


Semua kehidupan seakan lenyap, jalanan semua sepi, hanya bersisakan deretan rumah-rumah berjendela kayu dan lampu-lampu jalan yang masih berkilau kuning keemasan.


Ditengah keheningan malam, sebuah cahaya remang datang dari satu jendela sebuah bangunan besar bak istana yang megah, kokoh, dan elegan, berdiri ditengah-tengah kota.


Saking tembok-temboknya menjulang sampai ke langit, bahkan cahaya bulan yang kusam sekalipun masih bisa menyinari setiap detail ukirannya.


Siapa yang tidak tahu rumah ini? Bahkan gelandangan yang berasal dari lubang manapun di kota itu saja dapat menyebut silsilah keluarga sang pemilik dengan lengkap.


Dari setiap ujung wilayah Sheridan, bangunan yang gagah seperti itu hanya ada satu, yaitu rumah kediaman Tuan Duke Sheridan sang penguasa wilayah, Kastil Nauchwanstein.


Jendela itu berbingkai besar, sama dengan jendela-jendela lainnya yang menempel pada setiap tembok-tembok tinggi rumah.


Daun jendela terbuat dari kayu tebal berwarna coklat dengan kaca yang bening seperti kristal, membentang lebar keluar.


Sesekali angin malam melesat dan menghempaskan tirai putih transparan yang menutupi jendela itu, memperlihatkan cahaya lentera minyak mencetak samar sebuah bayangan hitam milik seorang gadis kecil berambut panjang yang sedang terduduk di tengah lantai kamarnya.


Gadis itu duduk, lebih tepatnya berlutut dilantai, tidak bergerak, tidak bersuara.


Tubuhnya sedikit bergetar terlebih di daerah telapak tangannya yang terus dia kepal keras.


Mata biru langitnya terbuka lebar, memandang kaku pada setiap goresan-goresan merah tua berbentuk tulisan-tulisan dengan pola lingkaran yang rumit dibawah tubuhnya.


Sesekali api lentera berkedip.


Sesekali titikan air jatuh dari wajah kecilnya.


Sesekali nafasnya tersengal, menghasilkan suara kecil memenuhi setiap sudut ruangan yang sepi.


"Hiks...Haa...Hiks...Hiks....lagi...sekali lagi...hiks...aku, aku tidak bisa...menyelamatkan mereka...hiks...ayah...ibu...Elle...."


Gadis kecil itu menangis tersedu-sedu sambil menggenggam kedua tangannya didepan dada.


Gaun tidurnya lengket ke kulitnya yang terus dibasahi keringat, di tengah suasana kamar yang dingin.


Wajahnya cantiknya mengkerut, dibanjiri oleh air mata yang tak terbendung.


"Hiks...maaf...maafkan aku...aku...aku tidak berguna...maafkan...maafkan Thalia...."


Thalia, seorang putri duke yang terlantar tanpa belas kasih.


Dia yang teraniaya dari kecil hingga dewasa oleh sorot mata ayah dan ibunya yang tak pernah dia miliki.


Namun, dia sendiri tidak pernah membenci mereka. 'Keluarganya'...tidak pernah setiap hari dia lalui tanpa memikirkan mereka.


Sampai keluarganya hancur pun, dia dengan segenap tenaganya yang terbatas, berusaha sekuat tenaga untuk mencegah itu terjadi.


Dua kehidupan dia jual demi keluarganya.


Tapi apa yang dia terima?


Hadiah kecil berupa jepit rambut dan liontin imitasi dari toko biasa tidak terkenal adalah satu-satunya yang berubah dari lingkaran hidupnya yang terulang.


Namun, hatinya yang sudah lama tandus akan kasih sayang, bila diperlakukan seperti itu untuk pertama kalinya, itu terasa seperti disejukan oleh air terjun yang segar.


'Keluarganya ternyata memperhatikannya juga'.


'Keluarganya juga mencintainya'.


Hanya beralaskan harapan kecil seperti itu, cintanya pada keluarganya semakin dalam.


Kehidupan ketiganya sungguh dia anggap sebagai berkah dari dewa.


Jadi ketika dia menyaksikan keluarganya hancur dengan cara yang sama untuk ketiga kalinya, dia mengutuk dirinya sendiri yang tidak bisa melakukan apa-apa selain menonton mereka menjerit kesakitan.


Bahkan setelah diberi kesempatan tiga kali dari dewa, dia masih tidak bisa mengubah takdir.


Dia masih tidak bisa melakukan apapun.


Memangnya, ditengah dunia yang sangat mendewakan sihir ini, apa yang bisa dilakukan oleh seorang putri bangsawan yang tidak diberkahi mana?!


Ah lihat, betapa tidak bergunanya sampah macam dirinya? Bahkan dia sendiri jijik pada dirinya.


Berbeda sekali dengan Elle....


Elle, adiknya yang pandai. Anak yang mengharumkan nama keluarganya, setidaknya dia malu menjadi kakak anak sempurna seperti Elle....


Anak yang 'cacat' hanya menjadi beban keluarga, sama seperti dirinya yang terus menjadi aib keluarga.


Betapa kasihan orang tuanya untuk memiliki putri memalukan seperti dia?


Maka dari itu, dia harus menyelamatkan keluarganya. Entah bagaimana pun caranya, bahkan bila ketiga kehidupannya tidak cukup, maka dia akan senang hati memberi kehidupannya yang keempat ini untuk keluarganya tercinta.


Setidaknya dengan ini, hidupnya sedikit berguna untuk keluarganya..

__ADS_1


Dari tempat Thalia terduduk, sebuah buku usang bersampul kulit coklat yang tergeletak di lantai.


Buku itu tanpa judul, sampulnya kosong, hanya terdapat noda-noda cokelat dimakan usia.


Thalia, menarik buku itu kehadapannya dan menatapnya sebentar sambil tersenyum miring, "...aku sungguh tidak berguna...aku tidak bisa menyelamatkan kalian...jadi ayah...ibu...Elle, mungkin...ini adalah jalan terakhirku...."


Dengan tangan yang tidak berhenti bergetar, Thalia membalik halaman pertama, lalu halaman kedua, dan beberapa halaman selanjutnya dibuka dengan tergesa.


Nafasnya berpacu beriringan dengan degup jantungnya yang tak beraturan.


Srak! Srak!


Suara yang menjadi bukti kejadian hari itu, ditengah kamar gelap yang sepi.


Tidak ada yang mendengar, tidak ada yang datang seperti halnya tidak ada yang tahu penderitaan apa yang dialami olehnya yang telah menjalani tiga kehidupan yang sama.


Tidak ada yang tahu bahwa saat itulah semua akan berubah, takdir gadis kecil itu, Thalia, tidak lagi sama.


Jari jemari mungilnya menyentuh permukaan kertas coklat yang menampilkan tulisan-tulisan panjang dan juga pola lingkaran rumit, persis seperti apa yang terlukis dilantai kamarnya.


Dengan suara lantang, dia merapalkan kata demi kata dalam bahasa lain yang tertulis didalam buku itu.


Setiap kata yang terucap melayangkan garis-garis cahaya hitam yang masuk kedalam pola lingkaran di lantai dan membuatnya bercahaya merah terang.


Seketika angin dingin berhembus kencang, menyibakan tirai transparan dan menjatuhkan lentera dengan bunyi prang! yang keras tapi itu tidak menghentikan Thalia.


Kegelapan menjadi saksi, kesunyian menjadi bukti. Thalia, gadis kecil malang, putri pertama Duke Sheridan, merapalkan mantra terlarang.


Bersamaan dengan kata terakhir terlontar dari mulutnya, sinar merah dari pola lingkaran di lantai bercahaya dengan liar menyoroti setiap sudut ruangan tanpa terkecuali.


Secepat itu, suasana kamar berubah menjadi lebih dingin sampai menusuk.


Thalia, yang belum sempat menarik nafasnya dengan benar, seketika diselimuti rasa sesak di dadanya. Dia mencoba untuk bersuara namun untuk menggerakan mulutnya saja dia tidak bisa.


Pandangannya semakin buram, kelima indranya seakan mati rasa bahkan saat tubuhnya membentur lantai dia sudah tidak merasa sakit.


Sambil tersengal-sengal, Thalia memandangi langit-langit kamarnya yang mulai pudar.


Dia panik, rasa takut yang begitu nyata menggerogoti otaknya.


Padahal, dia sudah yakin untuk menggunakan mantra itu namun ketika merasakan efek samping seperti ini, dia tidak bisa untuk tidak cemas.


Akankah dia berhasil?


Akankah dia gagal?


Ayah, Ibu, Elle? Mereka akan mengulangi nasib yang sama tanpa ada yang berusaha mengeluarkan mereka dari maut.


Tidak.


Itu tidak boleh terjadi.


Dia tidak mengizinkannya.


Meski matanya terasa semakin berat tapi Thalia menolak untuk menutupnya. Walaupun mulutnya kaku seperti dibekukan, dia berteriak dalam hatinya, berharap ada yang bisa mendengar.


Bukan melantunkan sebuah doa, melainkan permintaan yang dia inginkan sejak dulu namun tidak pernah terwujud entah apapun yang dia lakukan.


Kalau ritual ini gagal, maka dia ingin suara batinnya itu terdengar oleh makhluk apa saja, siapa saja yang berbaik hati untuk menolongnya.


Kalau ritual ini berhasil, maka dia berharap agar sosok yang menjadi penolongnya dapat mengabulkan permintaanya ini.


"Jadi tolong, siapa saja, siapapun kamu, tolong selamatkan keluargaku!"


Napasnya terhenti. Jantungnya membeku.


Seketika cahaya terakhir di ujung matanya sirna.


Dengan tubuh yang terbujur kaku di lantai, Thalia tertidur untuk selamanya.


...****...


"Ahhhhh!"


Slash!


"T-tolong Jangan! Argh!"


Jleb!


"K-kumohon! Ugh!"


"****!"


"D-dewa!"


Cratt!


Kepingan demi kepingan gambar dengan latar hitam berputar seperti klise film.

__ADS_1


Berulang kali terlintas wajah orang-orang menangis, terluka, menderita.


Mereka menjerit kesakitan sampai urat leher mereka seakan mau putus. Kilatan horor dimata mereka yang terbelalak, menatap satu sosok yang sama.


"Dewi Alianora, Dewi Alianora yang agung!"


"Ampunilah! Mohon belas kasih!"


"Dewi maha perkasa!"


"Dewi Alianora!"


"DEWI ALIANORA!"


'Dewi pembunuh haus darah' yang melegenda.


Paling ditakuti dan disegani bukan oleh dunia saja, melainkan surga pun tak berani menyebutnya sembarangan.


Dewi yang disembah oleh darah dan ratapan manusia. Hidup untuk membunuh, membunuh untuk disembah.


Tidak pernah ada satu saat pun dalam masa emasnya tanpa melihat tubuhnya bermandikan darah.


Surga mengutuk, sungguh dewi yang berdosa.


Akan tetapi, dunia tidak dibiarkan gelap selamanya. Surga memutuskan untuk memberi hukuman.


Dari sudut surga yang paling kudus, seorang Dewa Cahaya penguasa surgawi, menjatuhkan Dewi Alianora dalam dunia dasar yang paling dalam dan menyegelnya untuk tertidur selama ribuan tahun.


Selama itulah jiwa Dewi Alianora dihantui oleh teriakan mengerikan orang-orang yang merupakan bayangan dalam memorinya di masa lalu.


Dibalik kelopak matanya yang terpejam, dan tubuhnya yang terlentang di dalam ruang dimensi tanpa waktu, adegan demi adegan berdarah berganti satu persatu secara acak.


"Hentikan! Tidakk!"


"Tolong!"


"Arghhh!"


Srak! Srek!


Cahaya hitam menyapu. Latar berganti.


Dibawah gemerlapan cahaya bulan, dari pandangan yang menuju kebawah, kelima orang yang tak asing, berlutut sambil menggumamkan sesuatu.


Layar berkedip selali lagi menampilkan pemandangan dengan warna merah darah.


Lalu dengan sekali kilatan, darah muncrat kemana-mana.


Tombak berbalut cahaya emas berkilauan membelah pandangannya.


Alianora mencoba menggapai gambar yang terbelah itu dengan jari-jarinya namun dia tidak sempat.


Sekelebat cahaya muncul dari sela-sela retakan gambar dari benaknya, perlahan menyelimutinya seutuhnya.


Alianora serentak membuka mata sambil memegang kepalanya.


Saking buruknya gambar terakhir dari memorinnya, itu sampai membuat kepalanya sakit sebelah.


Dia tidak masalah namun tetap saja itu menganggu. Apalagi sudah lama tubuhnya tidak merasa sakit barang sedikitpun.


Hm?


Rasa sakit?


Dalam mimpi?


Alianora berhenti memegangi kepalanya dan menatap tangannya lekat-lekat.


...Apa aku baru saja menyentuh kepala?


Namun, sebelum dia bisa berlama-lama termenung dalam pikirannya, sepasang mata perak biru tiba-tiba sudah ada dalam pandangannya.


Mata itu menatap manik merah darah Alianora dengan ekspresi yang tidak bisa dia jelaskan. Sedih? Gembira? Takut? Mungkin ketiganya.


Hah, siapa ini?


Melihat Alianora yang masih terperangah tanpa melakukan reaksi lainnya, wanita muda pemilik mata cantik itu melangkah kedepan dan langsung tersungkur dengan kepalanya yang dia tundukan kebawah, mirip seperti pose dogeza.


Alianora menjadi semakin terkejut dan bingung.


Eh!? wanita ini...apa yang dia lakukan?


Dari posisi itu, gadis itu serentak mengangkat kepalanya dan memperlihatkan kepada Alianora, wajahnya yang lebih tegang dari sebelumnya dengan mata yang dibanjiri oleh air mata.


Dia berseru lirih, "Tolong selamatkan keluargaku!"


Tunggu


Hah?

__ADS_1


__ADS_2