Kontrak Jiwa Putri Palsu Duke

Kontrak Jiwa Putri Palsu Duke
Chapter 21: Menuju Area Pelatihan


__ADS_3

Setelah meninggalkan Mary, Alianora berjalan menyusuri koridor di depan kamarnya.


Siang itu, Alianora berencana untuk mencoba berlatih pedang untuk melihat kekuatan fisik tubuhnya sampai mana. Sejak dia terbangun di tubuh ini, Alianora tidak punya waktu untuk memikirkannya, berkat berbagai kesibukan yang melanda.


Padahal hal itu tentu penting, karena syarat masuk Aethergarde juga, bukan cuma mengandalkan kekuatan sihir, melainkan fisik juga harus tetap maksimal.


Alhasil hari ini, saat Alianora sedang tidak punya pekerjaan apa-apa, dia berniat untuk mencoba kekuatan tubuhnya.


Jadi sekarang, dengan bersemangat, Alianora berjalan menuju ke area latihan Keluarga Sheridan yang biasa digunakan oleh para prajurit dan ksatria Sheridan untuk berlatih.


Alianora berjalan melewati beberapa pelayan yang melakukan pekerjaannya di koridor.


Mereka terlihat sedang sibuk membersihkan perabot-perabot disana seperti biasa.


Alianora melihat mereka secara bergantian, namun ketika mereka bertemu pandang, mereka langsung cepat-cepat mengalihkan pandangan mereka.


Melihat itu, Alianora mengerutkan alis.


Sikap para pelayan kepadanya memang sudah berubah akhir-akhir ini, tapi dia tidak berharap kalau mereka sampai menunjukan reaksi yang sampai seperti ini padanya.


Alianora sebenarnya hanya berharap mereka lebih sopan saja, lebih tahu diri begitu, jika berhadapan dengannya, bukan takut seperti melihat hantu.


Bukannya dia tidak biasa, kalau dia masih dewi pembunuh, dia akan senang untuk mendapati orang-orang bertekuk lutut dihadapannya, tapi sekarang dia adalah seorang putri manusia biasa yang harus memenuhi sebuah misi.


Jadi untuk reaksi kuat seperti ini, itu sudah tidak lagi berguna.


Kalau begini, dia malah terlihat seperti orang jahat disini, bukan?


Tapi kenapa mereka bisa setakut ini dari awal? Memangnya, apa yang kulakukan?


Seingat Alianora, dia tidak melakukan hal yang terlalu ekstrim. Paling-paling hanya menakuti mereka dengan tatapan tajam, serta sedikit memarahi mereka saja.


Tapi, ya sudahlah. Begini juga ada bagusnya, mereka jadi tidak bisa berbuat macam-macam, atau mengganggunya. Setidaknya lingkungannya bisa sedikit tenang.


Saat melewati koridor tempat kamar Estelle berada, Alianora tidak sengaja berpapasan dengan dua orang pelayan yang sudah tidak asing lagi.


Bagaimana dia bisa tidak mengenal kedua pelayan ini? Toh selama dia berada di Kastil Nauchwanstein, kedua pelayan inilah yang sering terlihat melayani Estelle. Ya, mereka adalah pelayan pribadi Estelle, dan juga termasuk dari beberapa pelayan yang masih tidak hormat pada Alianora.


Dimana Estelle pergi, mereka juga ada di sana. Setiap kali Estelle bersamanya, kedua pelayan itu juga ikut, berdiri dibelakang Estelle sambil menatap Alianora dengan tatapan tajam.


Jadi, sekarang, melihat mereka saja tanpa ada Estelle, itu sangat aneh.


Kedua pelayan itu melangkah ke arahnya sambil membawa beberapa handuk bersih dan juga kereta yang berisi beberapa camilan ringan, kue-kue dan juga minuman dingin dalam sebuah teko kaca besar.


Mereka menangkap sorot mata Alianora yang melihat mereka, seperti biasa, mereka hanya melewatinya tanpa sekedar memberi salam. Alianora langsung mencegat mereka.


"Hei kalian disana. Tunggu sebentar."


Namun, alih-alih menjawab panggilan Alianora, pelayan itu hanya berjalan tanpa menoleh sedikitpun, seperti mereka tidak mendengar apa-apa.


Alianora yang sedikit kesal langsung mengencangkan suaranya sampai pelayan di lantai bawah, kaget mendengar suara melengkingnya.


"HEI APA KALIAN TIDAK MENDENGARKU?"


Para pelayan itu akhirnya berhenti, dan membalikan badan mereka menghadap Alianora. Wajah mereka jelas-jelas menunjukan ekspresi tidak sukanya, Alianora juga sempat melihat salah satu pelayan itu memutar bola matanya.


"Iya, ada apa, nona?"


Mereka bahkan tidak minta maaf. Mereka benar-benar punya nyali, huh.


Alianora melangkah mendekati mereka dengan perasaan agak kesal. Dua orang ini memang sudah sering berprilaku seperti ini padanya, dan dia selalu mengabaikan itu. Tapi, sekarang mungkin saatnya dia untuk memberi sedikit pelajaran pada mereka.


"Kenapa kalian tidak menjawab panggilanku tadi?"


Salah seorang dari mereka dengan santai menjawab, sambil menatap lurus ke mata Alianora.


"Oh, itu karena kami tidak mendengar suara nona yang terlalu kecil."


"Apa kalian tidak melihatku berdiri disini?"


Pelayan yang lain menyeringai sambil melihat Alianora dengan rendah.


"Hm? Apa Anda berada disini tadi? Oh, maaf, sebab kami tidak begitu memperhatikan nona tadi."

__ADS_1


Mereka berdua kemudian tertawa kecil tanpa mempedulikan kalau Alianora masih ada di depan mereka.


Sedangkan Alianora, melihat mereka seperti itu, rasanya kemarahannya sudah sampai ke ubun-ubun. Namun, semakin dia jengkel, semakin lebar pula seringai di wajahnya.


"Tidak melihat? Tidak mendengar? Hei kau yang disebelah sana! Apa kau mendengarku?"


Alianora berkata kepada seorang pelayan yang sedang membersihkan vas bunga, tidak jauh dari mereka. Pelayan itu langsung kaget ketika mendengar suara Alianora, dan langsung mengangguk.


"Apa kau juga bisa melihatku?"


"B-bisa, nona...."


Setelah itu, Alianora kembali menatap kedua pelayan didepannya. Wajahnya langsung berubah gelap, sama seperti senyum miring yang terukir manis di mulutnya.


"Oh, ternyata pelayan lain masih bisa melihat dan mendengarku dengan baik. Sepertinya hanya kalian yang bermasalah, hm?"


Kedua pelayan itu yang melihat ekspresi aneh di wajah Alianora mulai sedikit berkeringat. Mereka mundur selangkah ketika Alianora mendekati mereka.


"Jika telinga dan mata kalian sudah tidak berguna, bagaimana kalau kita singkirkan saja, hm? Sebab, Kastil Nauchwanstein, tidak menerima sesuatu yang tidak berguna."


"N-nona, m-maksut Anda...? N-nona jangan mendekat."


Alianora mengambil sebuah pisau makan yang ada di atas kereta, dan memainkannya seperti pensil.


"Oh, tidak apa-apa, aku hanya membantu kalian menyingkirkan bagian tubuh yang busuk. Itu hanya akan sakit sedikit. Tenang saja."


"N-nona...t-tolong! S-siapapun! Tolong!"


Semua pelayan yang melihat itu berwajah pucat, mereka takut tapi tidak bisa bergerak, bahkan ada dari mereka yang sudah gemetaran di tempat.


Alianora sama sekali tidak menyadari itu, fokusnya hanya melampiaskan kemarahannya kepada dua pelayan yang berkeringat dingin didepannya.


"Sshh, jangan berteriak di koridor, bukankah itu peraturan? Atau mulut itu sudah mulai hilang kendali? Apa butuh di singkirkan juga?"


Kemudian satu diantara mereka berdua memberanikan diri untuk merebut pisau ditangan Alianora, namun berkat refleks Alianora yang secepat kilat, Alianora berhasil meraih tangan pelayan itu, lalu menariknya sampai membuat tubuh pelayan itu membungkuk ke depan, dan dalam kedipan mata, Alianora menempelkan pisau di leher pelayan itu dengan agak kuat, sehingga bercak darah sedikit mengotori mata pisau.


Manik perak biru Alianora yang memancarkan aura membunuh yang kuat, menusuk kedalam mata pelayan itu yang terpaku menatapnya.


Tubuhnya semakin bergetar, dan suaranya seperti tertahan di tenggorokannya. Bahkan, beberapa pelayan di sekitar Alianora tidak berani bersuara.


Tiba-tiba, pelayan di sampingnya berlutut di lantai, dan memohon pada Alianora.


"A-ampun nona, k-kami sudah salah...! T-tolong maafkan, nona! Maafkan kami."


Alianora melihatnya tanpa ekspresi, tidak tertarik sekalipun, tapi kemudian dia tersenyum manis ke arah mereka, seperti seorang anak yang tidak berdosa.


Kakinya melangkah mendekati pelayan yang berlutut itu, melepaskan pelayan yang lehernya sudah mengeluarkan tetesan darah.


Alianora mengangkat dagu pelayan yang berlutut itu menggunakan mata pisau.


"Oh, ya. Omong-omong, dimana Elle? Kenapa kalian tidak bersamanya?"


"N-nona Estelle, N-nona Estelle sedang berlatih p-pedang, nona, bersama S-sir Gallahan, di area latihan...."


"Hm, begitu kah? Ya sudah, terima kasih sudah menjawab."


Alianora tersenyum sambil menepuk-nepukkan pisau di pipi pelayan itu.


"Ah, satu hal lagi."


Alianora meletakan pisau di atas kereta kembali, lalu menatap kedua pelayan itu.


"Aku harap kejadian ini tidak terulang lagi, dan jangan beritahukan ini kepada siapapun. Itu berlaku bagi kalian juga, ya."


Kata Alianora sambil melihat ke beberapa pelayan disekitarnya.


"Kalian, mengerti kan?"


...*****...


Setelah selesai 'berbincang' dengan para pelayan, Alianora segera menuju ke area latihan.


Menghadapi para pelayan itu memang membuatnya kadang merasa pusing kepala, sampai kadang emosinya tidak terkendali, tapi setelah dia meluapkannya, perasaannya jadi bertambah enteng, dan Alianora menyukai rasa lega itu.

__ADS_1


Lagipula, melihat dari wajah para pelayan itu tadi, dia merasa puas telah memberi mereka pelajaran agar tidak lagi meremehkannya.


Meskipun dia merasa bahwa kali ini dia sedikit kelewatan melepaskan emosinya.


Alianora memandangi tangannya yang sedikit gemetar, sambil mengernyit.


Tapi berkat itu juga, aku jadi tahu kekuatan tubuh ini. Tak kusangka, kalau tubuh ini memang selemah itu.


Dari awal, Alianora memang sudah merasa bahwa tubuhnya ini lemah. Wajar saja, tubuh putri bangsawan yang tidak lebih dari 10 tahun mau sekuat apa?


Makanya dia berniat untuk melatih fisiknya agar jika dia sudah berada di akademi nanti, setidaknya tubuhnya sudah siap dengan segala pelatihan fisik di akademi nanti, jika ada.


Tapi yang Alianora sulit percaya bahwa tubuhnya ini sangat lemah. Hanya memakai sedikit tenaga untuk menarik seorang pelayan muda saja sudah membuat tangannya gemetaran.


Bagaimana nanti jika tangannya dipakai untuk memegang pedang? Atau senjata lainnya?


Hah, kalau begini caranya, aku harus bekerja keras.


Oleh karena itu, hari ini dia sudah bertekad untuk memulai latihan fisiknya.


Di sisi lain, selain keinginan Alianora untuk berlatih, dia juga sebenarnya dipenuhi rasa penasaran.


Menurut dari apa yang dikatakan pelayan itu, sepertinya area latihan sedang dipakai oleh Estelle, dan jika Estelle sedang berlatih, itu berarti para prajurit Keluarga Sheridan juga.


Hal ini karena Alianora tahu, kalau dulu dikehidupan sebelumnya, yang menjadi guru Estelle adalah salah satu ksatria terbaik di Keluarga Sheridan dan juga di Kerajaan Agris, yaitu Sir Gallahan.


Sir Gallahan selalu melatih Estelle bersama dengan para prajurit pemula lainnya, meski areanya terpisah.


Karena ini Alianora jadi sedikit bersemangat.


Dia sangat ingin tahu bagaimana teknik pedang manusia jaman sekarang, apakah itu masih sama seperti yang dia ingat dulu, ataukah sudah berubah. Bertambah kuatkah? Atau bertambah lemah? Dia ingin melihatnya.


Itu karena, dari dulu, dia senang mengamati manusia yang selalu berubah-ubah, daripada melihat dewa-dewi surga yang sampai kiamat akan tetap sama. Membosankan sekali, bukan?


Selain itu, dia juga penasaran dengan Estelle, adik tirinya yang lemah lembut itu.


Alianora membayangkan bagaimana caranya tangan yang halus, mulus, putih, dan kurus itu bisa memegang pedang dan mengayunkannya ke hadapan lawan.


Dia sama sekali tidak bisa melihatnya.


Tapi tentu saja, Alianora juga tidak bisa terlalu meremehkan Estelle sekarang, sebab tubuhnya juga selemah itu.


Sesampainya di area pelatihan, Alianora langsung disambut oleh pemandangan yang membuat matanya berbinar.


Didepannya sudah ada beberapa barisan prajurit-prajurit Keluarga Duke Sheridan yang sedang melakukan latihan rutin mereka.


Mereka berlatih menyerang boneka-boneka jerami, ada yang berlatih bertarung satu lawan satu, ada juga yang berlatih postur.


Tidak hanya pedang saja, ada juga yang berlatih senjata-senjata lain, seperti panah, tombak, dan lain-lain.


Melihat pemandangan didepannya, Alianora seperti disegarkan kembali oleh ingatannya yang lama.


Sudah lama sekali dia tidak berhubungan dengan pertarungan, dan untuk berada disini, dia merasa bahwa dirinya sebagai Dewi Alianora, telah kembali.


"Kakak!"


Alianora kaget melihat Estelle yang berlari mendekatinya dari arah sampingnya.


Gadis itu berpakaian layaknya pakaian anak bangsawan yang sedang berlatih, dengan baju lengan panjang berkerah berwarna hitam ke emasan, dan juga celana panjang putih, serta rambut panjangnya yang dikuncir satu, itu membuatnya terlihat seperti ksatria wanita bangsawan.


"Kakak, kenapa tiba-tiba ada disini?"


"Hm, aku tadi tidak melihatmu dimana-mana, lalu para pelayan bilang kau disini sedang berlatih pedang. Jadinya, aku kesini. Apa aku mengganggumu Elle?"


Estelle menggeleng pelan.


"Tentu saja tidak, kak. Malah aku senang kakak disini. Hehe."


Tiba-tiba, Alianora kepikiran akan sesuatu, dan itu membuatnya tersenyum ketika balik menatap Estelle.


"Hei, Elle. Apa latihanmu sudah selesai?"


"Belum, kak, aku sedang istirahat sekarang, memangnya kenapa, kak?"

__ADS_1


"Kalau begitu, bisakah aku ikut denganmu?"


__ADS_2