
"Mary, coba katakan, apakah tidak ada cara lain supaya aku tidak ikut?."
Mary menggeleng pelan, "Maaf sekali lagi, nona, tapi sepertinya itu tidak ada. Hari ini begitu penting, saya yakin Anda sudah tahu itu."
Alianora mengangguk pelan. Harusnya dia sudah tahu dari awal, apapun yang terjadi dia tidak akan bisa menghindari hari ini. Dia tahu itu, dan itulah yang membuat batinnya sangat terbebani kali ini.
Alianora menghela napas berat saat dirinya tengah berdiri dengan tangan terentang, menunggu Mary selesai memasang korsetnya.
"Mary, seandainya kau mau menggantikanku kesana."
"Tidak mungkin, nona."
"Haha...kau sama sekali tidak memiliki selera humor, Mary." jawab Alianora sambil tertawa kering.
Andai saja kau tahu Mary.
Kalau hari ini, nona mudamu akan bertemu tiga cecunguk kecil yang bakalan mengganggunya secara tidak tahu diri, dan membuatnya pusing kepala.
Hari ini bakal jadi hari yang melelahkan jiwa raga Alianora, itu sudah pasti.
Menghadapi cecunguk-cecunguk kecil itu, dibutuhkan pikiran yang rasional.
Itu sebabnya Alianora menghabiskan seharian kemarin untuk menyusun rencana demi menghadapi tiga bocah besok.
Heh, Dewi Alianora yang perkasa ternyata betul-betul mempersiapkan diri untuk menghadapi tiga bocah ingusan.
Alianora menggaruk kepalanya sambil bergumam pada diri sendiri, "Hah, dasar menyusahkan."
Mary, "....."
Semua salah tubuhnya ini.
Jika bukan karena tubuh aneh ini, dia tidak akan disibukkan sampai seperti ini.
Lagipula, sebenarnya apa yang menyebabkan tubuhnya bisa sampai seperti sekarang ini?
Apa anak ini diracuni oleh sesuatu?
Tidak, tidak mungkin ada racun yang sekuat itu sampai bisa membuat tubuh seseorang benar-benar kosong akan mana, dan juga efeknya tidak akan lama.
Kalau bukan itu, apakah anak ini...di kutuk?
“Haa….”, Alianora menghembuskan napas panjang.
Mary yang saat itu sudah tidak tahan lagi mendengar nonanya menghela nafas berulang kali, akhirnya angkat bicara. “Apakah ada sesuatu yang mengganggu pikiran Anda, nona?”
Alianora mengangkat kepala untuk melihat Mary.
“Oh, tidak ada, Mary. Aku hanya sedikit malas.”
Malas memulai kehidupan yang menarik tapi melelahkan ini.
“Nona, saya tahu Anda tidak menyukai acara seperti ini, tapi kalau saya boleh mengatakan, acara ini ada sisi baiknya juga. Di sana akan banyak nona muda atau tuan muda dari keluarga bangsawan terkenal kerajaan ini. Mungkin Anda bisa berkesempatan untuk berkenalan dengan mereka.” sahut Mary yang sedang membenarkan sepatu Alianora.
Alianora menggelengkan kepalanya.
Tentu saja dia sudah tahu itu, tapi dari dulu sampai sekarang, bersosialisasi memang bukan hobinya. Meski itu untuk mencari informasi sekalipun, Alianora memilih untuk menghindarinya.
"Lupakan, Mary. Itu sama sekali tidak berguna bagiku sekarang."
Mungkin nanti, kalau dia sudah berhasil masuk Aethergarde dulu.
Mungkin memang tidak ada cara lain lagi, Alianora memang harus menghadapi hari menyusahkan ini dengan...baik.
Alianora menghela napas lagi, lalu berdiri untuk melihat penampilan terakhirnya di depan cermin.
Gaun biru muda dengan sedikit aksen putih yang hanya dihiasi beberapa batu permata kecil sana-sini yang sedikit memudar. Hiasan kepala yang sederhana, hanya sebuah pita biru tua, dan juga sepatu hak kecil dengan warna senada yang sudah agak usang.
Jika dibandingkan dengan gaun dan aksesoris yang ditunjukan Estelle tadi malam padanya, rasanya sekarang dia lebih terlihat seperti memakai kantung sampah.
Heh, sungguh ironi.
Seorang putri duke yang tidak sanggup beli baju baru sampai harus dikasihani oleh saudara tirinya sendiri.
Untunglah Alianora menolak tawaran licik Estelle kemarin, kalau tidak, harga diri Thalia pasti akan terinjak-injak juga.
Tidak cuma pernak-pernik cantik dan gaun-gaun mahal, bahkan perhatian, cinta, dan kasih sayang orang-orang disekitarnya, hanya untuk adik angkatnya, Estelle.
Sedangkan Thalia, hanya menjadi boneka yang dibuang. Namun dia masih mau juga tunduk pada mereka yang tidak peduli dengannya.
Alianora yang menyaksikannya langsung, tidak bisa untuk tidak merasa kesal.
"Kau tahu nona? Kau bodoh sekali.", kata Alianora sambil menunjuk dirinya sendiri di depan cermin.
Mary yang berdiri di pojok kamar, "...."
Tok. Tok. Tok.
"Kakak? Apakah kau sudah selesai? Aku, ayah, dan ibu sudah menunggu kakak."
Ho, tentu saja.
__ADS_1
Tanpa menunggu lama, Alianora beranjak mendekati pintu kamarnya, dan membukanya.
Terlihatlah wajah cantik dan imut dari seorang gadis kecil yang lebih pendek darinya. Rambut pirang panjangnya yang dihiasi berbagai macam perhiasan rambut yang mewah. Gaun putih bersih yang selutut, terlihat pas di tubuhnya yang kecil, dan mutiara-mutiara di pada bagian bawah gaun itu, menambah anggun penampilannya.
Berbeda sekali dengan penampilannya yang lebih terlihat seperti gadis pelayan, adik tirinya ini lebih terlihat seperti malaikat yang turun dari surga.
"Estelle."
Ohh, namanya keluar begitu saja dari bibir Alianora, sebelum bisa diralat.
Senyuman di wajah Estelle sedikit mengkerut, namun sedetik kemudian wajahnya kembali memamerkan senyum manis seperti biasa.
"...Kakak? Wow, kakak kau cantik sekali!"
Estelle menggenggam kedua tangan Alianora.
Alianora menatapnya sebentar tanpa ekspresi. Mata perak birunya sempat menampilkan aura dingin yang tak bisa dijelaskan, membuat bulu badan Estelle berdiri.
Akan tetapi, bagai ilusi, raut wajah Alianora tiba-tiba berbinar sambil membalas senyuman Estelle.
"Hm, kau juga. Gaun yang kau pakai bagus."
"Iya kan kak! Gaun pemberian ayah memang selalu bagus! Tentu saja cocok dipakai untuk menyambut hari yang sangat penting bagi kakak! Ah! Omong-omong, kakak juga, tidak peduli apapun yang kakak pakai, kakak tetap terlihat cantik!"
Aha, ya aku sudah tahu. Kalian jelas-jelas mengobrolkannya dengan ria kemarin dihadapanku, apa kau lupa?
“Haha, tentu saja.”Alianora membalas senyum Thalia simpel.
Dasar bocah tengil licik.
Alianora masih tidak mengerti apa rencana Estelle sebenarnya, tapi yang dia tahu, bocah ini sungguh memiliki sifat jelek dan bermuka dua. Terlihat manis diluar tapi didalamnya, dia sangat busuk.
“Kakak…?”
Alianora menatap manik biru tua Estelle yang balik melihatnya dengan tatapan penuh arti.
“Ya…?”, jawab Alianora dengan lembut.
“Apa kakak baik-baik saja? Hari ini kakak…sedikit berbeda….”
Alianora membalasnya dengan senyum natural.
“Hm, apa maksudmu Elle? Apanya yang beda? Bukannya aku selalu seperti ini?”, celetus Alianora dengan cepat tapi dengan nada setenang mungkin.
Estelle tetap saja memamerkan pandangan menyelidik ke arahnya.
Dalam hati, Alianora cuma bisa mengernyit.
Tidak, tidak, bagaimana bisa ada orang yang percaya bahwa jiwa seseorang dapat tertukar? Tenang dulu diriku!
Iya, tidak mungkin bocah tengil ini tahu.
Seperti membawa kembali Aianora pada realita, Estelle dengan lincahnya, merangkul lengan Alianora sambil tersenyum manis ke arahnya.
“Sudahlah, mungkin hanya perasaanku saja. Tentu saja, apapun yang terjadi, kakak tetaplah kakak. Benarkan?”
‘Kakakku yang bodoh akan selamanya bodoh’, ya kau benar sekali nona kecil. Teruslah percaya itu sampai akhir hayatmu nanti.
Selama dia bukan Thalia asli, Alianora tidak akan sudi untuk tunduk pada orang-orang itu seperti Thalia.
Dia akan tetap setia pada kontrak, namun itu tidak berarti bahwa dia harus benar-benar menyayangi mereka sebagaimana Thalia
Jika mereka ingin mengabaikannya, maka dia juga tidak akan menghiraukan mereka.
Jika mereka ingin bermuka dua di depannya, maka dia akan lebih munafik dari pada itu.
Dan jika mereka berani-beraninya, membahayakan tubuhnya ini. Dia juga tidak akan segan-segan.
Selama mereka tidak mati saja kan? Heh, itu tidak terdengar buruk juga.
Untuk menutupi senyuman dingin yang mulai terukir di wajah halusnya, Alianora segera melapisinya dengan senyum sehangat mungkin yang dia bisa.
“Uh-huh, kalau begitu, ayo berangkat. Jangan membuat ayah dan ibu menunggu."
Alianora menarik tangan Estelle, dan bersama mereka berjalan keluar.
*****
Klotak! Klotak! Klotak!
Pemandangan ibu kota Kerajaan Agris, Aghrian, di pagi hari yang cerah, ternyata begitu asri.
Matahari pagi yang menyinari sudah mulai terik namun itu tidak menghentikan orang-orang kota untuk berjalan-jalan, melakukan berbagai macam aktifitas mereka masing-masing.
Berbeda dengan Kota Sheridan yang cenderung ramai oleh orang-orang asing, mengingat Kota Sheridan seadalah kota pelabuhan, Kota Aghrian sendiri lebih ramai oleh penduduk lokal.
Semenjak masuk gerbangnya tadi, Alianora sudah melihat hamparan kota yang megah, luas, serta penduduk-penduduknya yang menggunakan pakaian khas Kerajaan Agris.
Selain itu, berhubung hari ini merupakan hari pembaptisan bagi anak-anak bangsawan, banyak kereta-kereta kuda mewah dengan ukiran simbol lambang-lambang keluarga bangsawan dari kelas yang berbeda-beda, memadati jalanan menuju ke Katedral suci ibu kota, tempat acara dilakukan.
Termasuk kereta kuda yang saat ini dia tumpangi.
__ADS_1
Kereta kuda berwarna hitam legam dengan ukiran emas mengkilap dengan lambang 2 kunci emas bersilang, lambang keluarga Duke Sheridan, terukir indah di bagian pintu.
Alianora memandangi kereta warna-warni yang melewati mereka satu persatu dengan malas.
Perjalanan dari wilayah Sheridan ke Aghrian tidak begitu jauh, tetapi bagi Alianora untuk duduk dalam diam tanpa melakukan apa-apa selama sekitar 2 jam, ditambah lagi harus terus berakting sebagai boneka layaknya putri bangsawan, itu sudah menguras hampir sebagian energinya. Apalagi dia harus berbagi kursi dengan anggota keluarga Duke Sheridan yang memperlakukannya seperti udara tipis, rasanya dia mau pulang dan tidur saja.
“Ah, aku sudah tidak sabar untuk melihat-lihat Katedral ibu kota! Ayah! Ayah! Coba ceritakan lagi seperti apa Katedral terlihat? Apakah berbeda sekali dengan gereja di Sheridan?”, tanya Estelle yang duduk tepat disebelah Alianora, dengan bersemangat.
Wajah dingin Kalisto yang berada di hadapan Alianora, kali ini melukiskan seutas senyum kecil yang tulus.
“Hm, Elle, bukannya ayah sudah pernah menceritakan ini padamu sebelumnya?”
“Ah, ulang ayah! Aku ingin dengar lagi! Hehe.”
“Haha, baiklah, baiklah. Jika malaikat kecilku ingin mendengarnya lagi, maka ayah akan menceritakannya sampai seratus kali.”, Alianora memutar bola matanya.
Dari samping Kalisto, Annabeth yang sedari tadi tertidur dengan elegan, membuka matanya amethystnya, dan mengelus rambut pirang Estelle dengan lembut.
“Elle, sayang, kalau kau sangat menyukai katedral, mulai sekarang kita pergi berdoa di katedral saja, hm?”
Raut wajah Estelle langsung berseri, “Wah, benarkah?! Yay!”
Semua pemandangan itu dilihat Alianora dari ujung matanya, dengan tatapan jijik.
Maksudnya, apakah mereka tidak merasa jijik dengan tingkah mereka sendiri?
Karena dia sudah merasa akan muntah, dia segera mengalihkan pandangannya dengan cepat ke arah jendela.
Orang-orang ini benar-benar....
Dia cuma bisa geleng-geleng kepala.
“Thalia.”
Suara berat tanpa ekspresi itu tidak lain berasal dari Kalisto.
Hampir saja Alianora lupa memasang topeng Thalia, dan menjawab Kalisto dengan sebatas, ‘hah?’, tetapi untung saja dia berhasil menarik dirinya tepat waktu.
“Uh, iya, ayah?”
Manik biru muda milik Kalisto menyiratkan kedinginan yang sudah tidak mengejutkan lagi bagi Alianora. Pria itu menyipitkan matanya.
“Pastikan kau tidak akan berbuat ulah nanti.”
Alis Alianora agak tertaut.
Ha! Kapan aku pernah berbuat onar?
Namun Alianora juga tersadar, bahwa di kehidupan Thalia yang pertama, karena dia tidak memiliki sihir dan identitasnya yang hanya anak angkat, para putri-putri bangsawan lainnya enggan bergaul dengannya dan cenderung merendahkannya. Ditambah sifatnya yang pemalu, tidak percaya diri, penakut, dan polos, itu tidak membantunya sama sekali, malah memperburuk keadaan. Sebagai gantinya, Kalisto sering mengurung Thalia dalam kamarnya, tidak diperbolehkan keluar sampai beberapa minggu.
Menyadari hal itu, Alianora sadar kalau diwaktu ini, tepatnya setahun sebelum sekarang, Thalia pernah berbuat ‘masalah’ di suatu acara ulang tahun seorang putri Marquess.
Berkat itu, Kalisto sempat marah besar padanya dan sempat melarangnya keluar rumah.
Sambil memaksakan senyum tipis, Alianora mengalihkan pandangannya menatap mata biru Kalisto yang dingin. “Tentu ayah.”
Sehabis mengatakan itu, Alianora langsung membuang muka ke arah jendela, dan kembali memandang jalanan yang ramai. Senyum tipisnya telah sepenuhnya hilang.
Ah, rasanya dia ingin menampar wajahnya saat itu, saking muaknya.
Melihat dirinya melakukan aktingnya tadi membuatnya ingin memuntahkan salad yang tadi dia makan.
Di sisi lain, Kalisto tertegun sambil terus menatap Thalia dengan ekspresi rumit.
Apakah manik biru anak ini, yang selaras dengannya itu selalu menatapnya begitu?
Berani dan pasti.
Bukannya takut atau sedih.
Hm?
Takut dan sedih?
Apa benar seperti itu?
Sorot mata Thalia yang dia kenal...seperti ada yang tidak sesuai dengan apa yang dia ingat.
Bukannya, terakhir kali Thalia menatapnya, bertahun-tahun yang lalu, saat....
...kapan lagi itu terjadi?
Dimana dia melihatnya?
Dalam mata birunya, dia masih melihat bayangan Thalia yang tersenyum manis sambil menatap matanya dengan percaya diri. Bayangan itu tumpang tindih dengan bayangan kabur lainya yang merupakan Thalia yang sama, memegang hem roknya dengan tubuh yang bergetar, dan arah mata yang tidak berani melihatnya.
Seketika Kalisto menggelengkan kepalanya perlahan dan juga mengerjapkan matanya, mencoba mengusir bayangan aneh itu.
“Ayah?” Estelle menarik kerah baju ayahnya dengan lembut.
Kalisto mengedipkan matanya, seketika bayangan itu hilang, dan dia kembali menatap Estelle. “Ah, Elle, sampai dimana kita tadi…? Oh ya, lukisan dalam katedral….”
__ADS_1