Kontrak Jiwa Putri Palsu Duke

Kontrak Jiwa Putri Palsu Duke
Chapter 12 : Di Acara Pemberkatan


__ADS_3

Ketika Alianora memasuki ruangan, dia langsung disambut oleh pemandangan yang begitu menakjubkan. Ternyata, katedral itu tidak cuma cantik di bagian luar saja, melainkan bagian dalamnya juga tidak kalah bagus. Tembok-tembok kaca yang bertekstur kristal di poles begitu mengkilap sampai Alianora bisa melihat refleksi dirinya dan juga anak-anak lain.


Alianora dan keluarga Sheridan semuanya duduk bersebelahan pada barisan bangku keempat terdepan, berdekatan dengan keempat pasang keluarga duke lainnya yang mulai berbincang-bincang dengan Kalisto dan Annabeth. Estelle juga mulai menyapa putra-putri duke lainnya, dan mereka terlihat sudah akrab.


Alianora hanya memberi mereka senyum sekilas, sebelum perhatiannya kembali tertuju pada bangku-bangku emas kosong pada sebuah teras kecil disamping altar.


Sepertinya keluarga kerajaan tidak hadir hari ini. Ha, padahal kukira aku bisa melihat bentukan Pangeran Noah itu. Sayang sekali.


Beberapa saat kemudian, seorang pendeta dan beberapa pembantu pendeta, dengan jubah putih dan liontin bintang emas berkilau di tengah dadanya, memulai acara pembaptisan hari itu.


“Selamat pagi, tuan dan nyonya dari masing-masing keluarga bangsawan yang terhormat, di hari yang terberkati ini kita semua hadir disini untuk kembali merayakan pesta pembaptisan anak-anak kita yang terkasih dalam terang. Untuk itu, marilah kita bawa hati kita dalam cahaya ilahi Ilios, dan menyambut berkatnya!”


Kemudian misa pembaptisan pun dimulai, diiringi dengan nyanyi-nyanyian dan doa-doa. Selama misa berlangsung, Alianora sama sekali tidak memiliki perasaan yang bagus. Lagu pujian dan juga doa-doa itu terlalu berisik, dan itu mengingatkannya pada Ilios.


Mendengar namanya setelah sekian tahun masih membawa rasa pahit di lidahnya. Alianora berusaha untuk tidak mengenang masa lalu secara berlebihan, dan mencoba membuangnya jauh-jauh sebagai memori yang sudah lewat, tapi entah kenapa semenjak kebangkitannya ini, dia selalu melihat hal-hal yang mengingatkannya pada Ilios. Dewa yang kemuliaannya dibayar oleh nyawa teman baiknya sendiri.


Saat Alianora mengingatnya, dadanya terasa ngilu seakan luka besar yang dulu pernah melubangi dadanya, masih berdarah. Ah, rasanya dia ingin muntah.


“Kakak,” bisik Estelle, “Apa kakak baik-baik saja? Wajah kakak agak pucat.”


Alianora yang tersadar dari lamunannya, segera membalas ekspresi khawatir Estelle dengan senyum simpul.


“Aku baik-baik saja, hanya sempat mengingat seseorang yang tidak menyenangkan saja.”


Peristiwa buruk sudah berhasil dia gagalkan, dan sekarang garis hidupnya sudah berbeda dengan Thalia. Rasanya tidak ada hal serius yang harus diperhatikan lagi, sebaiknya dia mengistirahatkan pikirannya dan menikmati saja acara pemberkatan ini sampai selesai.


*****


Upacara pembaptisan berlangsung lancar namun agak lama. Sudah sekitar satu jam yang lalu, Alianora duduk di bangkunya dengan malas sambil menunggu gilirannya yang tidak kunjung datang. Dia tidak menyangka bahwa acaranya akan selama ini.


Bokongnya sudah mati rasa, ingin sekali dia beranjak keluar untuk cari angin, tapi entah semenjak pergulatannya dengan tiga bocah antagonis itu, Kalisto dan Annabeth selalu memberinya lirikan mematikan setiap kali dia bergerak sedikit. Alianora yakin mereka pasti juga menyalahkannya atas keributan tadi, sehingga pergerakannya kali ini diawasi, takut nanti dia berbuat ulah lagi. Tapi, ya sudahlah.


"Hei."


Alianora terkejut setelah menemukan sepasang mata semerah ruby, menatapnya dari samping.


Dia melirik ke arah Estelle, Kalisto, dan Annabeth disebelahnya, tapi sepertinya mereka masih sibuk berbincang-bincang dengan para duke dan duchess lainnya.


"Kamu memanggilku?"tanya Alianora.


"Tentu saja, siapa lagi?"


Aduh, siapa lagi bocah satu ini?


Alianora masih sedikit bingung tapi dia tetap memaksakan senyum sopannya, "Um, ada perlu apa ya?"


"Namaku Edlyn Von Keilanstein, putri Duke Keilanstein."


kata anak itu sambil menjulurkan tangannya.


Alianora, "...."


Apa dia barusan mengatakan 'Keilanstein'?"


Alianora melirik ke samping lagi dan mendapati sepasang pria dan wanita yang berpakaian, sedang berbincang dengan pasangan Sheridan. Pakaian mereka mewah dan senada satu sama lain, dan itu jelas memiliki desain yang sama dengan apa yang dikenakan anak perempuan berambut oranye disebelahnya.


Duke dan Duchess Keilanstein.


Keluarga Duke Keilanstein, salah satu dari keempat keluarga duke Kerajaan Agris, yang dikenal dengan kemampuan berpedang mereka. Setahu Alianora, mereka hanya memiliki satu putri yaitu seorang ksatria elit wanita pertama di kerajaan Agris.


Tapi kenapa tiba-tiba putri mereka yang itu bisa berada disampingnya saat ini?


"Kenapa? Tidak percaya?"


Edlyn memandangi Alianora dengan sebelah alis terangkat.


Hah, tentu saja, harusnya kau berbicara dengan Estelle bukannya denganku.


Estelle yang dipuja-puja dikalangan bangsawan, dan Alianora yang dikucilkan dan dihina.


Sudah jelas tidak bisa dipercaya kan?


Alianora membasahi bibirnya sambil tetap tersenyum dan balas menjabat tangan Edlyn.


"Ah, tentu saja bukan begitu. Salam kenal juga, Nona Keilanstein. Perkenalkan saya-"


"Oke aku sudah tahu itu, dan 'Edlyn', panggil saja aku Edlyn. Tidak perlu terlalu formal, kita kan seumuran. Salam kenal Thalia."


Alianora, "...Salam kenal ju-"


"Oh, tapi aku bisa memanggilmu Thalia saja kan?"


"...."


Alianora tersenyum dan menutup mulutnya rapat-rapat.


Apa bocah ini sungguhan putri Keilanstein??


"...Tentu saja, Edlyn."


Mendengar jawaban alianora, Edlyn mengangguk dan langsung memegang tangan Alianora.


"Baiklah, kalau begitu sekarang kita berteman ya. Kau tahu, di luar tadi, kau sangat keren! Menghadapi ketiga orang itu dengan tenang, bahkan sampai membuat Michelle yang berisik itu hilang akal, sangat mengaggumkan."


Alianora menelengkan kepalanya.


"Di luar...kamu melihat kejadian tadi?"


"Tentu saja! Dan aku sangat puas! Ketiga orang itu memang sudah kelewatan mengganggu, aku saja sudah muak dengan tingkah mereka yang menjijikan itu. Aku bisa bilang, kau menendang tepat dipantat mereka."


Dari samping, Alianora terus memperhatikan Kalisto dan Annabeth yang sepertinya tidak mendengar Edlyn, begitu juga dengan beberapa bangsawan yang sedang mengobrol dengan mereka.


Syukurlah mereka tidak mendengar itu, kalau tidak bisa-bisa mereka menuduh Alianora telah mengajarkan putrinya yang imut, untuk mengumpat.

__ADS_1


Hah, apa yang salah dengan anak ini?


"Ehem,tidak begitu juga, aku hanya melakukan yang seharusnya kulakukan, aku yakin semua orang yang ada dalam posisiku saat itu akan melakukan hal yang sama."


jawab Alianora dengan merendah.


"Apa maksudmu? Kalau semua orang bisa seperti itu, aku tidak akan mengangapmu keren."


....


....


"...Ah, baiklah, terima kasih atas pujiannya."


Oh, apa dia harus mendengar bocah ini mengumpat hal yang tidak penting.


Apa tidak ada percakapan yang lebih berguna?


Terus, apa tadi yang dia bilang...mari berteman? Anak ini sudah tidak waras.


Edlyn tersenyum dan mengibaskan rambut oranye gelapnya kebelakang.


"Hehe, aku jamin mereka pasti tidak berani menunjukan muka mereka ke acara-acara minum teh kedepannya karena malu. Bagaimana tidak, mereka jelas-jelas dipermalukan sangat parah didepan umum oleh ulah mereka sendiri, dan juga oleh seorang putri yang tidak memiliki sihir."


Edlyn melirik ke arah Alianora dengan santai.


"Maaf ya, aku tidak bermaksud menyinggungmu tapi memang kenyataannya begitu. Semua orang memanggilmu seperti itu, eh, tapi aku tidak pernah mengurusi hal-hal seperti itu dan mengata-ngataimu kok."


Alianora tersenyum. Anak ini memang aneh, tapi Alianora tetap mengaggumi mulutnya yang asal ceplas-ceplos, tidak seperti anak bangsawan pada umunya.


"Makasih Edlyn, aku juga sudah tahu itu. Aku pernah mendengar mereka berbisik-bisik dibelakangku, jadi aku tidak begitu kaget."


"Apa kau tidak kesal?"


"Hm? Tidak juga. Aku tidak begitu peduli dengan omongan orang lain. Terserah mereka mau berbicara apa, itu hak mereka. Itu hanya omongan, tidak bisa berbuat apa-apa padaku, jadi untuk apa aku membuang waktu demi mengurusi hal-hal seperti itu?"


Edlyn menatap Alianora dengan mata lebarnya dan mulut yang sedikit terbuka.


"Sudah kuduga...kau keren sekali...!"


Alianora bengong melihat tatapan berbinar dari anak didepannya ini.


Sorot mata kagum dan respek dari Edlyn begitu menyilaukan baginya.


"Kakak?"


Estelle!


Alianora segera menoleh pada Estelle seperti hendak meminta pertolongan, dan menariknya dengan lembut.


"E-Elle, hahaha...tepat sekali, Edlyn, biarkan aku memperkenalkan padamu, ini adikku Estelle. Elle, ini Nona Edlyn, putri keluarga Duke Keilanstein."


Edlyn hanya menatap Estelle dengan alis mengkerut, sebelum mengalihkan pandangannya.


Estelle melihat Alianora dan Edlyn secara bergantian sebelum wajahnya melukiskan senyuman ramah.


"Wah, Kak Edlyn, apa kabar?"


Alianora, "Apakah kalian pernah bertemu sebelumnya?"


Estelle, "Iya kak, lebih tepatnya tahun lalu sih," dia menoleh pada Edlyn, "Elle tidak tahu kalau Kak Edlyn ternyata disini sama kakak. Elle memberi salam lagi pada Kak Edlyn."


Edlyn hanya melambaikan tangannya sambil menatap lurus pada Estelle, "Ya, ya, hai juga, lalu bisakah kau tidak memanggilku seperti itu? Kita tidak terlalu dekat, Nona Estelle. Lebih baik untuk menggunakan panggilan formal saja."


Mendengar teguran itu, wajah Estelle langsung menampakan perasaan bersalah, "Ah...maafkan aku ka-maksudku, Nona Edlyn."


Alianora yang melihat momen canggung itu hanya bisa tertawa kecil saja.


Baru kali ini dia melihat seseorang tidak terpengaruh senyuman lucu Estelle, malah sebaliknya.


Ksatria wanita dari keluarga Keilanstein, boleh juga.


Tidak lama kemudian, orang tua Edlyn memanggil Edlyn dari tempat duduknya semula. Edlyn yang enggan, akhirnya kembali, tidak lupa mengucap salam perpisahan. Entah ini perasaan Alianora saja atau tidak, tapi ketika itu Duchess Keilanstein melihat Alianora dengan tajam sebelum beranjak pergi bersama keluarganya untuk berbincang dengan keluarga bangsawan lain.


Ha, pasti dia tidak ingin melihat anaknya bermain dengan anak rakyat jelata, huh?


"Hm, Nona Edlyn biasanya tidak banyak bicara, tumben dia bisa bicara banyak dengan kakak hari ini. Apa kakak dan Nona Edlyn sudah pernah bertemu?"


tanya Estelle dengan nada penasaran.


Alianora menggelengkan kepalanya.


"Ini adalah pertama kalinya aku bertemu dengannya. Aku juga kaget dia mau mengajakku bicara."


"Hm."


Estelle tidak berbicara lagi dan menganggukkan kepalanya.


Sedangkan Alianora sedikit mensyukuri percakapannya dengan Edlyn. Meski dia tidak tahu apa alasannya, tapi jika Edlyn dan dirinya betul-betul menjadi dekat, ini bisa menjadi salah satu aset baginya.


Dengan menarik Keluarga Keilanstein menjadi pihaknya, maka jalan Alianora akan semakin mulus. Masalah-masalah akan lebih mudah terselesaikan kalau begini.


Alianora berharap semoga saja pertemuan ini merupakan pertanda yang baik.


Samar-samar Alianora mendengar nama Marquess Elvin dipanggil, dan seorang bocah laki-laki gembul maju ke altar bersama dengan kedua orang tuanya.


Alianora melihat itu dengan malas, sepertinya gilirannya masih belum tiba, tapi bokongnya sudah tidak tahan lagi.


Di sampingnya, Kalisto dan Annabeth masih berbincang-bincang tanpa ada tanda akan berakhir.


Bagus.


"Elle, aku ingin pergi ke toilet sebentar. Tidak akan lama, tolong sampaikan pada ayah dan ibu ya."

__ADS_1


 Sebelum Estelle bisa menanggapi, Alianora sudah beranjak pergi.


*****


Dengan langkah pasti, Alianora menyusuri di sebuah taman bunga yang asri di samping katedral, dengan perasaan lega. Dia tidak ingin pergi terlalu lama, tapi untuk akhirnya menghirup udara segar setelah sejam didalam katedral, membuatnya tidak ingin kembali.


5 menit lagi. Tidak ada salahnya kan?


Sembari menyusuri jalanan setapak, Alianora mendapati sebuah gedung putih di ujung taman. Gedung itu berbentuk mirip dengan desain katedral, namun terlihat lebih modern dan lebih kecil dari katedral. Meskipun letaknya yang agak jauh dari katedral, entah kenapa, Alianora tidak bisa mengalihkan pandangannya dari sana. Dia merasa bahwa dia sangat ingin ke sana.


Kalisto dan Annabeth kelihatanya masih asyik ngobrol, mereka tidak akan menghiraukanku. Baiklah, 15 menit lagi.


Alianora bergegas menuju gedung putih itu. Dia berharap bahwa firasatnya bisa memberikannya sesuatu yang berguna, semacam petunjuk tentang kondisi aneh tubuhnya sekarang.


Alianora berjalan cepat, kemudian berlari. Dia sudah tidak peduli dengan etiket bangsawan yang harus berjalan dengan anggun. Persetan. Tidak ada yang melihatnya, dia sendiri di taman yang sepi.


Namun ternyata dia salah.


Sebuah tangan manusia yang muncul entah dari mana, tiba-tiba menarik tangannya, menghentikan langkahnya.


“Kau mau kemana?”, dari arah belakang sosok seorang anak laki-laki berambut biru gelap yang sedang menatapnya tanpa ekspresi.


Alianora, “...huh?”


“Kau mau kemana? Siapa kau?”


anak itu bertanya lagi.


Karena tiba-tiba di tahan, Alianora sempat kaget sedikit tapi dia segera kembali tenang. Dia menatap balik anak laki-laki itu dengan marah, lalu menarik kembali tangannya dengan kasar.


Siapa lagi anak tidak sopan ini? Bangsawankah? Anak pendeta?


Alianora berbalik menatap bocah itu dengan berusaha untuk tersenyum, "Uhm, maaf. Ada apa ya?”


Mata biru anak itu menatap Alianora denagn menyelidik, "Sedang apa kau disini?"


"Uh, aku tidak bermaksud untuk berbuat macam-macam. Aku hanya ingin jalan-jalan disini sambil menunggu giliranku dibaptis, jadi bisakah kau melepaskan tanganku?"


Bocah itu menghela napas, "Anda tidak bisa berkeliaran sembarangan tanpa izin, terutama disekitar sini.”


Tch, bocah merepotkan!


"Ah, sepertinya ada kesalah pahaman disini. Perkenalkan, aku Thalia La Sheridan, apa aku tidak boleh beristirahat disini walau hanya sebentar saja?"


"Sepertinya Anda masih belum mengerti. Disini adalah area terlarang, tidak ada yang boleh masuk ke sini sembarangan. Apa Anda sudah mengerti? Atau saya perlu mengulanginya sekali lagi?"


Itu dia. Sudah cukup.


Kesabaran Alianora sudah pada puncaknya.


Bocah ini sudah mencari masalah dengannya.


Dengan sekali kedipan, senyuman bangsawan Alianora hilang sepenuhnya, digantikan oleh senyuman gelap, "Dari awal aku sudah mencoba mengabaikan omonganmu, tapi kali ini, aku tidak akan memaafkanya lagi. Biar kukatakan padamu, apa yang aku lakukan, itu bukan urusanmu! Lagipula kau ini siapa? Anak pendeta disini?”


Alianora berpaling dan hendak melangkah pergi tapi lengannya kembali ditahan.


“Huh, apa-apaan kau? Lepaskan!"


“Hanya para pendeta dan keluarga kerajaan saja yang boleh kesini. Baik itu bangsawan ataupun rakyat biasa, semuanya dilarang, tidak terkecuali seorang putri duke.”


Alianora menyipitkan matanya, "Ka-"


“...kak!...Ka....kak!?...Kakak…!?”


suara Estelle menggema dari kejauhan.


Ack, apa sudah giliranku?


Bocah itu menatap Alianora, "Sepertinya kau dipanggil."


"Iya, kalau sudah tahu, lepaskan aku!"


gerutu Alianora yang masih berusaha melepaskan genggaman tangan bocah itu yang tidak disangka susah juga.


Akan tetapi, bukannya melepaskan Alianora, bocah itu malah menggenggamnya semakin erat.


"Sebelum itu, kau harus berjanji agar tidak pernah melangkahkan kaki kemari atau berpikir untuk mendekati tempat ini lagi."


Alianora, "Hah? Memangnya kau siapa? Beran-"


"...kak....? Ka....dimana...?"


Alianora menggigit bibirnya, "Tch, Argh, ya sudah, ya sudah. Baiklah aku berjanji tidak akan kemari lagi, oke? Jadi cepat lepaskan aku!"


Kali ini, bocah laki-laki itu melepaskan genggamannya, dan Alianora langsung menarik tangannya sambil menatap bocah itu dengan sinis, "Aku akan mengingat ini."


Setelah itu, dia cepat-cepat berlari kembali ke Katedral.


Bocah laki-laki itu masih berdiri menyaksikan Alianora yang perlahan menjauh, dengan wajah sama. Mata biru safirnya menanmpakan kecurigaan dan sedikit kebingungan.


Tiba-tiba dari arah samping, seseorang remaja laki-laki berpakaian kesatria, muncul dari semak-semak. “Ah, Anda di sini rupanya!”, wajahnya berkeringat dan rambut oranyenya lengket di dahi, dia terlihat ngos-ngosan.


“...Rowen.”


jawab bocah laki-laki itu.


Rowen menggosok keringat dari dahinya dan menghela napas panjang, "Haa, saya sudah mencari Anda kemana-mana, dan saya baru menemukan Anda di sini. Sebenarnya, Anda dari mana saja, Yang Mulia Pangeran Noah?”


Pangeran Noah menoleh ke arah Rowen, "Tidak ada, aku tadi hanya jalan-jalan sebentar, lalu," dia melirik kembali ke arah dimana Alianora menghilang, "tidak sengaja bertemu dengan Putri Pertama Duke Sheridan."


Rowen menyisir rambut oranyenya yang basah sambil mengikuti arah pandang Pangeran Noah, "Putri pertama...Ah! Nona Thalia La Sheridan barusan disini?! Ah, harusnya aku sampai lebih awal agar bisa bertemu  dengannya. Nona Thalia sangat keren dan sekaligus imut, Anda lihat bagaimana dia beraksi tadi pagi kan? Ah....aku setidaknya ingin mencubit pipinya sedikit-"


"Rowen, ayo kembali."

__ADS_1


potong Pangeran Noah sambil melangkah menuju katedral disusul oleh Rowen yang tak henti-hentinya membicarakan putri duke Sheridan yang lucu.


__ADS_2