
Di depan sebuah meja kasir, dengan bapak penjual senjata sebagai saksi, Alianora berdiri dengan tegap sambil menatap sesuatu. Kedua tangannya dia katupkan di depan dada, menyembunyikan kantong berisi sisa-sisa perhiasan sekaligus uangnya yang 10.000 sol, seakan takut ada saja yang mengambil itu darinya.
Di belakangnya Mary hanya berdiri kaku sambil mengikuti arah pandang Alianora. Dia bahkan dari tadi tidak mengatakan sepatah katapun, sampai kadang jika Alianora terlalu fokus, dia sampai lupa kalau Mary setia menunggunya seperti udara.
Saat itu hari sudah mulai terik, beberapa pengunjung toko senjata tersebut sebagian besar sudah meninggalkan toko untuk mencari makan siang dulu. Kesempatan yang bagus untuk Alianora melakukan ini.
Manik peraknya bergerak-gerak, ke atas dan ke bawah, ke arah sebuah pedang mengkilap di atas meja dan juga ke arah kantongnya. Bibir kecil merah mudanya sedikit berkomat-kamit, seperti menggumamkan beberapa angka random yang tidak bisa diterka oleh orang-orang disekitarnya.
Bapak penjual yang merupakan pria paruh baya bertubuh kekar tapi pendek, mengelus-elus janggutnya yang lebat di sekitar wajahnya.
"Ehem, jadi nona, Anda mau tambah atau tidak?"
Alianora menengok ke arah pria itu, kemudian kembali ke arah pedang di hadapannya. Dengan sepenuh hati dia menatap pedang itu seperti kedua matanya akan copot saja, tidak lupa dengan bulir-bulir keringat yang mengalir di keningnya.
Oke, harusnya ini sudah cukup.
Setelah beberapa saat terdiam, Alianora akhirnya buka suara.
"Saya tambah 500 sol lagi."
"Baiklah, harga dinaikan menjadi 9000 sol."
Pria itu mengetuk meja tiga kali dengan senyum seringai yang dia tampakan benar-benar tidak bisa di sembunyikan lagi. Lumayan, untuk menjual barang dagangannya dengan dua kali lipat harga semestinya, dia benar-benar merasa seperti mendapat uang dari dewa.
Di sisi lain, Alianora merasa bahwa dompetnya akan tamat. Sepertinya, rencananya untuk menjual semua perhiasannya itu sudah tidak bisa di hindari lagi. Sudahlah, dia juga tidak terlalu butuh perhiasan, yang terpenting sekarang adalah yang dia butuhkan dan baginya, memiliki pedang mahal ini tentu berguna. Berguna untuk memuaskan perasaannya, hm?
Akan tetapi, sayangnya, pikiran Alianora lagi-lagi terusik oleh dentingan koin-koin di atas meja di sebelahnya. Dentingan itu bukan cuma satu atau dua, nampun beruntun seperti hujan koin. Alianora, memiliki perasaan jelek akan hal ini.
Seketika, Alianora menoleh ke sampingnya untuk bertatap muka dengan orang yang paling dia kutuk, yakni orang yang membuatnya menguras isi dompetnya begitu saja.
Dia tidak lain adalah bocah bawel yang dia temui di hari pembaptisannya dulu.
Bagaimana Alianora tidak jengkel, kalau bukan karena bocah satu ini, dia mungkin tidak akan kepikiran untuk menghabiskan uang 10.000 solnya itu untuk main tawar menawar pedang.
Semuanya karena bocah sialan itu.
Flashback.
"Apa yang akan kau lakukan sekarang, tuan putri?"
Bocah itu menatap Alianora dengan pandangan lurus, namun karena senyum mengejek tipis pada wajahnya itu memberi kesan pada Alianora kalau bocah itu sedang mempermainkannya. Itu membuat Alianora naik darah.
"Apa yang akan kulakukan? Kukira kau sudah cukup tahu saat ini kau sedang bicara pada siapa."
kata Alianora dengan nada tenang tapi menusuk. Sorot matanya pada bocah itu berubah tajam dan dingin.
Alianora bisa melihat bagaimana mata bocah itu melebar sedikit sepersekian detik, ketika Alianora selesai berbicara. Itu membuat Alianora puas.
"Perilaku tidak sopanmu pada acara pembaptisan kemarin bisa kutolerir, karena aku merasa kau sudah berhasil melarangku untuk berbuat kesalahan. Namun kali ini, jika kau berani menghalangiku lagi maka lihat saja nanti."
Dia tidak tahu bocah ini dari keluarga mana, tapi dia yakin bocah ini pasti berasal dari keluarga bangsawan biasa, sejak Alianora sudah menghafal nama dan wajah dari anak-anak bangsawan kelas atas yang seumuran dengannya. Jika tebakannya benar, dengan gertakan biasa seperti ini saja, harusnya akan membuat bocah ini takut setengah mati.
Akan tetapi, ternyata Alianora terlalu cepat tersenyum.
Selain menatap Alianora dalam diam, bocah itu sama sekali tidak melakukan apa yang Alianora pikir akan dilakukan. Sebaliknya, bocah itu terus menatapnya. Bukan tatapan hanya datar saja, tapi ada sesuatu yang berbeda, mungkin 'kasihan'?
"Jika kau tidak mau ya sudah. Pedang ini jadi miliku."
katanya acuh tak acuh.
Dari belakang Mary mencegat bocah itu.
"Hei kau! Apa kau tidak dengar kata nonaku? Mengabaikan omongan nonaku sama saja menghina Keluarga Duke Sheridan. Kau akan di hukum untuk itu."
"Dihukum? Apa yang kau bisa lakukan padaku?"
Meski nada suaranya terlihat bertanya, namun dari sorot mata biru tua itu, Alianora tahu kalau bocah itu sudah tahu. Dia sudah tahu kalau Alianora tidak akan bisa melakukan apa-apa padanya dengan statusnya yang hanya anak tiri.
__ADS_1
'Sial! Terktuklah mulut yang sudah membocorkan keadaanku di Keluarga Sheridan!'
"Aku akan...."
"Hm?"
'Kau akan apa Alianora? Memukul anak ini? Yang ada aku hanya akan dikurung oleh Kalisto. Atau mungkin langsung dijebloskan ke biara. Tidak. tidak bisa yang itu. Ah, sudahlah lupakan!
"Argh! Ya sudah, baiklah! Aku cuma harus melakukan sesuatu untuk merebut pedang itu darimu kan?"
Bocah itu kembali tersenyum.
"Hn, apapun itu selama kau bisa."
Alianora langsung berpikir cepat. Sebenarnya dia punya dua ide, yang pertama dan yang paling dia ingin lakukan adalah, merebut paksa pedang itu dari tangan bocah itu, namun saat mendapati suasana toko dan jalanan di luar masih sangat ramai, Alianora mengurungkan niatnya. Dia tidak mungkin melakukan itu di suasana ramai begini, yang ada itu hanya akan menimbulkan kekacauan, dan Alianora tidak ingin di cap lagi sebagai pembuat onar.
Terpaksa, Alianora tidak memiliki pilihan lain selain manjalankan ide terakhirnya.
Meskipun itu akan membuatnya menyesal.
"Hah, baiklah, aku menantangmu untuk melakukan tawar menawar, taruhannya adalah pedang itu!"
Flashback End.
Tawar menawar ini di buka dengan harga asli pedang itu, siapa yang bisa menawar dengan harga yang paling tinggi, maka dia akan mendapatkan pedang itu. Sebenarnya, hal ini tidak sulit selama Alianora punya cukup banyak untuk membuat lawannya tidak berkutik, tapi di sinilah letak penyesalannya.
Alih-alih memiliki uang banyak, di kantungnya saat ini hanya ada 10.000 sol yang dia sayang-sayang, sedangkan lawannya kali ini bahkan sudah dua kali menawar dengan harga dua kali lipatnya.
Alianora menengok ke kantungnya yang mengering. Ah, sepertinya dia bisa melihat kekalahannya di depan mata.
Di sebelahnya, bocah tanpa nama, tidak lebih tepatnya, bocah yang Alianora tidak tahu namanya siapa itu menumpahkan sekantung penuh uang koin emas ke atas meja. Tumpukan koin itu seperti gunung tingginya, dan ditambah dengan cahaya lampu kuning dalam ruangan, koin-koin itu malah semakin berkilauan seperti harta karun.
Kedua mata pria penjual didepan langsung terbelalak dan berseri-seri ketika memandang segunung uang itu, bahkan Alianora sendiri tidak bisa menahan mulutnya agar tidak menganga.
Meski Alianora hidup sebagai putri duke, dia bahkan tidak pernah melihat uang sebanyak itu didepan matanya, tidak selama dia hidup kembali jadi manusia.
Sial! Bocah satu ini, memangnya berapa banyak lagi yang dia punya?"
kata bocah itu dengan tenang ketika dia menatap si pria penjual yang berusaha menahan air liurnya agar tidak menetes. Ketika mata biru tua itu menatap wajah Alianora yang masih terlihat bodoh, bocah laki-laki itu mendengus pelan, dan bibirnya yang merah muda membentuk sebuah senyum mengejek yang tak kasat mata.
Argh! Bocah ingusan sialan!
"Totalnya jadi du-dua belas ribu sol!"
Pria tua itu sudah akan mengangkat tumpukan koin didepannya dengan rakus, karena dia berpikir kalau nona miskin macam Alianora yang dari tadi hanya menawar 500 sol, tidak akan mampu menawar lebih, tapi bocah itu mencegat pria itu, dan menatap Alianora.
"Tunggu, pihak satu belum memutuskan."
Pria itu melirik Alianora dengan kesal, tapi tidak berkata apa-apa lagi.
Sekarang semua perhatian tertuju pada Alianora, dan Alianora tidak ingin berlama-lama lagi. Meski dia tidak ingin melihat lawannya menang, tapi saat ini dia sudah kalah telak. Tidak ada yang bisa diperbuat lagi.
"Baiklah kau bisa memilikinya jika kau mau. Aku sudah kehilangan selera."
Alianora menaruh kembali kantong uangnya ke saku dressnya, lalu melirik ke arah bocah itu yang masih menatapnya, "Lagipula, setelah aku lihat-lihat lagi, kualitas pedang itu biasa-biasa saja. Sayang sekali, itu dibeli dengan harga 12.000 sol, huh. Selamat tinggal. Ayo Mary."
Alianora pun melangkah meninggalkan toko itu dengan cepat, dia sudah tidak tahan lagi melihat wajah kemenangan dari bocah ingusan itu.
Hah, dia benar-benar kesal! Bisa-bisanya dia kalah oleh bocah baru lahir kemarin itu.
Jika keuangannya tidak seret begini, pasti dia sudah membawa pulang pedang bagus dan mempermalukan bocah satu itu.
Hah, sungguh! Terkutuklah Kalisto dan istrinya!
Setelah sosok Alianora sudah tidak nampak lagi di teras toko senjata itu, bocah bermata biru itu mendengus kecil sambil menahan tawanya agar tidak meledak.
"Pfff...."
__ADS_1
Dia tidak menyangka bahwa dirinya akan bertemu putri duke itu lagi untuk kedua kalinya, apalagi di tempat seperti ini. Di tambah lagi, sikap putri itu semakin aneh saja, itu membuatnya sedikit bingung, dan entah kenapa, merasa lucu juga secara bersamaan. Dia tidak seperti yang dikatakan dalam rumor-rumor, kalau dia bodoh, kikuk, pemalu, dan anti sosial. Mungkin, dia hanya sedikit polos saja, selebihnya dia sama sekali tidak sama.
Dia tidak habis pikir.
Apa yang membuat seorang putri kikuk untuk berani melabrak orang yang berniat untuk mempermalukannya?
Apa yang membuat seorang putri pemalu bersuara lantang dan percaya diri ketika berhadapan dengannya?
Sorot mata tajam dan pasti dari manik perak biru yang seperti kristal itu, entah kenapa tidak bisa pergi dari pikirannya.
Omong-omong, apa yang putri duke itu lakukan di toko senjata seperti ini?
Dia tidak punya jawaban seperti itu, apa yang sedang putri duke itu pikirkan, dia sama sekali tidak bisa menebaknya.
Thalia La Sheridan, putri angkat Duke Kalisto La Sheridan. Putri yang aneh.
Setelah beberapa saat, bocah itu terdiam lagi, sorot mata birunya kali ini menerawang lurus di hadapannya.
Namun, rumor-rumor tentang putri itu juga tidak sepenuhnya salah.
Hari ini dia melihantnya sendiri, kalau putri duke itu, ternyata seperti yang dia sering dengar. Terbuang dan terlupakan. Tidak dianggap.
Untuk ke tempat umum yang ramai seperti ini, tanpa ada pengawasan dari pengawal pribadi, hanya membawa seorang pelayan, dan uang saku terbatas, hal itu malah lebih menyedihkan lagi.
Itu seperti....
Tiba-tiba, pintu toko itu terbuka untuk menampilkan seorang pemuda yang tidak lebih dari usia 18 tahun, berpakaian ksatria, berdiri sambil ngos-ngosan. Rambut oranyenya yang berkilau sudah kusut dan berantakan, ada yang melekat di keningnya karena keringat yang membanjiri.
Mata hijau lumutnya menatap bocah di depannya dengan tatapan tidak percaya.
"Yang Mulia! Ternyata Anda di sini! Hah, saya sudah mencari Anda kemana-mana, karena Anda tiba-tiba hilang, tapi Anda ternyata di sini, huuu."
Setelah memastikan kalau pemilik toko masih menyusun uang-uangnya dalam berangkas dan belum kembali, serta tidak ada pengunjung lain yang ada dalam toko itu, bocah itu memberikan tatapan tidak senang pada ksatria itu.
"Rowen, sudah kubilang jangan memanggilku seperti itu di sini."
Rowen langsung menutup mutunya dengan telapak tangannya.
"M-maaf Yang Mu-maksutku tuan muda Noah, saya keceplosan. Habisnya saya begitu menyesal karena tidak masuk ke sini dulu, padahal saya sudah melewati toko ini dua kali."
Lalu, dia tiba-tiba teringat akan sesuatu, dan wajahnya seketika berubah berseri-seri.
"Oh ya, Yang-Tuan, Anda tahu tadi saya bertemu siapa? Saya bertemu Nona Thalia La Sheridan tepat di seberang toko ini! Ah, akhirnya setelah hari pembaptisan itu, saya bisa bertemu lagi dengannya. Dia begitu imut-imut tuan."
Mendengar ocehan pengawalnya tanpa henti, Noah hanya terdiam dan sedikit mengernyit, sebelum melemparkan pedang yang baru saja dia beli ke pada Rowen.
"Ya sudah. Ambil ini."
"Eh...Apa ini Yang-maksudku tuan?"
"Menurutmu?"
"Ah, baiklah, maksud saya, apakah Anda membeli ini?"
Noah menghela nafas, lalu beranjak keluar toko di ikuti oleh Rowen.
"Hati-hati, harganya mahal."
"Mahal? Berapa memangnya?"
"12.000 sol."
Rowen mengernyitkan dahi.
12.000 sol untuk sebuah pedang, mahal?
Lalu, pedang sihir yang terbuat dari red magic ore dan esensi batang kayu ilahi, yang di tempa langsung oleh kaum peri, itu termasuk apa?
__ADS_1
"T-tuan, apakah 12.000 sol itu bagi Anda benar-benar mahal."
"Hn, lebih mahal dari seluruh uang yang dimiki seorang putri duke."