Kontrak Jiwa Putri Palsu Duke

Kontrak Jiwa Putri Palsu Duke
Chapter 18 : Pembuatan Rencana


__ADS_3

Alianora duduk di sofa sambil menyeruput tehnya. Sebuah piring berisi beberapa jenis manisan dan kue telah berada dalam pangkuannya, dan sesekali tangannya mengambil satu dan memasukannya kedalam mulutnya.


Manik biru memancarkan aura menyelidik yang jatuh pada pria muda didepannya yang sedang membaca sebuah buku tua.


"Jadi, bagaimana? Apa kau menemukannya?"


Pria itu hanya menggeleng pelan tanpa balas memandang Alianora. Wajahnya masih serius dan keningnya mengkerut.


"Hm, sama sekali tidak ada. Padahal, buku-buku ini cukup langka yang kudapatkan dari kolektor-kolektor terpercaya, aneh sekali, kenapa tidak ada satupun yang berbicara tentang itu?"


Alianora memutar bola matanya dengan frustasi.


"Hm, sudah ku duga. Yang namanya buku kuno di kerajaan ini semuanya sampah."


Dia meraih sebuah cupcake di atas tatanan lalu kembali melahapnya. Archmage Othima yang memandangi dari belakang, hanya bisa tercengang melihat porsi makan seorang anak 10 tahun yang menggila.


"Itu mungkin karena keadaan Anda sangat, sangat langka. Bahkan seumur hidup saya, saya belum pernah melihat seorang yang sama sekali tidak memiliki mana seperti Anda. Apalagi, Anda juga Jiwa Apostle. Itu mustahil."


Alianora mengerti apa yang dia katakan. Mana bukan hanya sebagai bahan bakar untuk ilmu sihir, tapi juga merupakan esensi jiwa seseorang. Mana itu seperti komponen penyusun jiwa, sesuatu yang disebut sebagai energi kehidupan.


Jadi, semua orang yang hidup pasti memiliki mana dalam tubuh mereka, tapi tidak semua orang bisa mengendalikannya. Mengendalikan disini dalam artian dapat mengubah mana menjadi energi dahsyat yang disebut, sihir.


Biasanya, akan lebih mudah untuk mendeteksi mana dalam tubuh seseorang yang bisa mengendalikan mana, daripada yang tidak bisa. Itu karena mana dalam tubuh orang yang terbiasa menggunakan sihir itu lebih fleksibel. Mana mereka tidak lagi diam dalam inti jiwa mereka, melainkan mengalir ke seluruh tubuh mereka secara merata.


Sedangkan bagi orang yang tidak bisa mengendalikan mana, hanya para penyihir tingkat atas yang bisa mendeteksi mana mereka.


Tapi masalah Alianora sekarang, mananya sama sekali tidak bisa terdeteksi oleh seorang archmage sekalipun, oh, bahkan dia yang seorang dewi saja tidak bisa mendeteksinya. Jika Thalia bukan Jiwa Apostle, dan jika tubuhnya tidak bereaksi dengan mantra pembaptisan waktu itu, Alianora pasti akan betul-betul percaya kalau Thalia tidak punya mana.


Alianora melemparkan sisa kue ke dalam mulutnya sambil menggerutu.


"Cih, sungguh merepotkan sekali."


Dari arah rak buku, Archmage Othima termenung menatap Alianora. Pandangannya rumit, seakan-akan ada banyak sekali hal dalam kepalanya yang dia ingin utarakan, tapi dia tidak punya nyali untuk memulai. Mulutnya hanya terbuka sedikit, lalu terkatup kembali, dan pada akhirnya dia hanya menggeleng kan kepala untuk mengusir apapun yang membebani pikirannya.


"Tapi, sebenarnya, ada sebuah tempat lagi yang belum kita periksa. Sepertinya, kita bisa mendapatkan pencerahan di sana."


Alianora meletakan cangkir tehnya, lalu membalikan badannya.


"Dimana?"


"Di gedung arsip gereja."


"Gedung arsip?"


"Anda sudah pernah ke katedral sebelumnya bukan? Apakah Anda pernah melihat gedung putih yang cukup besar di belakang taman sebelah baratnya?"


Ketika Archmage Othima menyebut 'gedung putih', kepala Alianora langsung tersentak oleh ingatan yang sudah lama dia lupakan. Kala dia merasakan ketertarikan untuk pergi ke sana, namun entah siapa bocah cecunguk yang datang menghadangnya.


"Oh, aku tahu. Jadi itu, gedung arsip gereja?"


Archmage Othima mengangguk, "Ya, tapi tidak sembarang orang bisa ke sana, hanya keluarga kerajaan, para pendeta, dan juga penyihir menara yang memiliki jabatan tinggi yang memiliki akses. Tapi tenang saja, aku sudah beberapa kali ke sana untuk meminjam beberapa buku, aku bisa mencari beberapa informasi di sana."


Yang boleh hanya keluarga kerajaan...oh jadi karena ini bocah yang waktu itu sampai bersih keras melarangku.


batin Alianora.


"Gedung arsip adalah tempat penyimpanan dokumen kuno terlengkap di Agris. Buku-buku sihir yang berharga dari menara sihir kerajaan, serta koleksi dokumen gereja yang paling penting dan tidak ada di perpustakaan manapun, di simpan di sana. Jadi kemungkinan, apa yang kita cari juga ada."


Lanjut Archmage Othima, yang menerangkan seperti layaknya seorang guru kepada murid.

__ADS_1


Alianora yang menyimak itu semua, langsung tambah tertarik.


Entah kenapa, setiap kali dia teringat akan gedung itu, perasaannya tetap sama seperti yang waktu itu dia rasakan. Instingnya selalu mengatakan bahwa dia harus ke sana. Bahwa sesuatu yang dia cari ada disana. Tidak tahu apakah itu benar atau tidak, tapi Alianora akan mempercayainya. Lagipula, bila sudah merasakan sesuatu, instingnya tidak pernah salah.


Alianora berpikir sejenak sebelum mengangguk.


"Baiklah. Jika kau bilang begitu, ya sudah. Aku akan menyerahkan semua padamu. Kalau kau menemukan satu petunjuk, beritahu aku."


"Oke, tenang saja."


Setelah menengak habis tehnya, Alianora kemudian beranjak berdiri.


"Hari ini sampai di sini saja. Aku rasa aku sudah terlalu lama disini, dan masih banyak hal lagi yang harus kukerjakan."


"Hm, oke, oh ya, nona kalau nanti kita bertemu lagi, apa aku perlu mengirimkan surat lagi padamu?"


Alianora mengingat kekacauan kemarin malam yang membuatnya sampai pusing kepala oleh karena sepucuk surat dari Aethergarde. Alianora sudah cukup muak akan hal itu, kalau bisa dia memilih untuk tidak membiarkan orang-orang serumahnya tahu tentang apa yang dia lakukan. Itu lebih baik.


"Apakah kau tidak punya cara lain yang lebih, rahasia? Lagipula apa-apan surat bermantra yang kau kirimkan kemarin? Apakah kau mau menarik perhatian satu rumah?"


Archmage Othima tertawa ringan


"Ah, maaf, maaf. Aku tidak sempat memikirkan hal lain untuk memberitahu Anda. Lalu, apa reaksi tuan duke?"


"Dia mengira aku sudah berbuat ulah. Bagaimana jiga dia bisa tahu aku dipanggil sedangkan suratnya saja dimantrai."


"Haha. Yah itu karena aku menggunakan amplop merah. Awalnya aku berniat untuk menggunakan amplop biru, tapi khawatir kalau sampai itu terlihat seperti undangan penerimaan siswa baru. Tapi tenang saja, nona, aku yang akan menjelaskan kepada tuan duke kalau aku bertemu dengannya nanti."


Alianora melihatnya dengan tatapan yang tidak tertarik sama sekali, lalu dia berjalan menuju pintu keluar.


"Terserah kau saja, yang penting jangan lagi membuat masalah bagiku."


...*****...


Dari Aethergarde, Alianora tidak langsung kembali ke kastil Nauchwanstein. Karena saat itu waktu masih belum masuk tengah hari, harusnya Alianora masih punya waktu untuk beristirahat sebelum dia harus menghadiri undangan para anak bangsawan yang sudah terjadwalkan. Jadi dia memutuskan untuk kembali dulu barulah nanti berangkat lagi.


Kalau tidak salah setelah ini aku harus ke rumah Count Salvanye, hm, harusnya itu tidak memakan waktu lama jika berangkat dari rumah.


Setelah sampai di rumah, Alianora tidak sengaja melihat ada sebuah kereta yang sedang parkir di depan pintu utama. Untuk sesaat, dia mengamati kereta itu dengan seksama.


"Mary, apa kau tahu ini kereta milik siapa?"


Dari sampingnya Mary menjawabnya dengan nada bingung.


"Saya juga baru pertama kali melihatnya, nona."


Ingatannya berkata bahwa dia sepertinya sudah pernah melihat kereta ini sebelumnya, tapi dia lupa dimana.


Kereta yang cukup besar tapi tidak sebesar kereta milik keluarga Duke Sheridan. Warna putih dari badan kereta dengan aksen emas, serta roda-roda yang mengkilap. Alianora menyipitkan mata, masih mencoba untuk mengingat-ingat, sampai ketika dia melihat sebuah logo berlapis emas yang terukir di pintunya.


Logo matahari dan api.


Ah, gereja kah?


Lambang Gereja Kerajaan Agris. Lambang ini dipakai di berbagai bangunan dan properti milik gereja, tidak terkecuali kereta kudanya juga. Tapi untuk kereta seputih salju ini, tidak pernah terlintas di Kota Sheridan, sebab kereta ini hanya dimiliki oleh gereja pusat, yaitu Katedral.


Tapi untuk apa para pendeta katedral datang kesini?


"Nona? Apa Anda tidak ingin masuk?"

__ADS_1


Alianora menoleh ke arah Mary yang sudah berdiri didepan pintu.


"Ayo masuk, Mary."


katanya sambil melangkah masuk diikuti oleh Mary.


Setelah sepasang pintu besar berwarna hitam yang kokoh dan megah itu terbuka, Alianora langsung disambut oleh para pelayan dan butler yang membungkuk hormat kepadanya.


"Selamat datang kembali, Nona Thalia."


mereka memberi salam secara bersamaan.


Alianora cuma memberi mereka tatapan tanpa ekspresi. Tidak peduli berapa kali Alianora melihat pemandangan ini, dalam hati dia terus merasa puas, dan bangga akan hasil pengajarannya ini. Selama dua minggu lebih hidup sebagai Thalia, selain pengawal kastil, dia juga berhasil memberi pelajaran kepada para pelayan dan juga butler di kastil ini, sehingga sebagian besar dari mereka tidak berani macam-macam lagi dengannya.


Bagus beginilah harusnya kalian dari awal, tahu dirilah dan tanamlah di otak kalian siapa yang lebih berkuasa di sini.


Meskipun beberapa dari mereka ada yang masih acuh tak acuh, Alianora tidak mengkhawatirkan itu sama sekali. Sebab, dia yakin, pada akhirnya juga mereka akan sama. Pada akhirnya mereka akan sadar, bahwa dirinya bukan seseorang yang bisa diremehkan.


Seorang butler paruh baya, yang Alianora kenal dengan nama Anthony, menahannya sebelum dia bisa langsung ke kamar.


"Mohon maaf, nona. Tadi tuan duke berpesan, jika Anda sudah pulang, Anda bisa langsung ke ruangannya. Tuan duke sekarang sedang menanti Anda, nona."


Alianora membuka mantel luarnya, lalu memberikannya pada Mary. Dalam hatinya, dia sudah bisa menebak sebenarnya untuk apa Kalisto sampai memanggilnya lagi ke ruangannya. Tidak lain, ini pasti ada hubungannya dengan pendeta-pendeta Katedral itu.


"Hm, baiklah, Anthony. Aku akan ke sana. Kau bisa kembali."


Anthony pun membungkuk, diikuti oleh pelayan-pelayan lain, lalu meninggalkan Mary dan Thalia.


Mary melirik ke arah Alianora lalu berbisik.


"Nona, apa Anda tahu mengapa tuan duke memanggil Anda?"


"Mungkin. Semoga saja bukan hal yang aneh-aneh, hm? Dan Mary, bawakan puding mangga untukku ya. Taruh saja di kamar, setelah bertemu duke, aku akan memakannya."


Mary mengangguk dan langsung menuju ke kamar Alianora untuk menaruh mantelnya.


Sedangkan Alianora berjalan terus menuju kantor Kalisto.


Sesampainya didepan pintu, Alianora kembali berpapasan dengan kedua prajurit didepan, dan kali ini tanpa basa-basi, mereka langsung membukakan pintu untuknya.


Pintupun terbuka, dan Alianora seketika bisa melihat sosok orang-orang didalamnya. Mereka semua duduk di sofa yang ada di depan meja kerja Kalisto.


Kalisto dari sofa sebelah kanan, memandanginya datar sambik memangku kaki. Sedangkan dua orang asing di hadapannya memandangi Alianora dengan tersenyum.


Dua orang itu, tidak, lebih tepatnya salah satu dari dua orang itu, Alianora mengenalinya dengan jelas. Rasanya tidak mungkin bagi dia untuk melupakan sosok yang merupakan saksi dari kematian Thalia di kehidupan pertamanya. Mana bisa dia lupa dengan sorot mata kelabu suram itu yang memandangi 'nya' dengan tatapan seperti melihat pendosa.


"Saya memberi salam kepada Nona Pertama Keluarga Sheridan, Nona Thalia La Sheridan."


sambut kedua pendeta itu secara bersamaan.


Alianora membungkuk juga dan membalas salam mereka. Kemudian dia menoleh kepada Kalisto.


"Ayah, ada apa ayah memanggil saya kemari?"


Kalisto memandang lurus ke arah Alianora. Mata birunya yang dingin sama sekali tidak berperasaan ketika dia berbicara.


"Ah, ya. Thalia, perkenalkan mereka adalah para pendeta dari Katedral. Mereka ke sini untuk menjemputmu, dan membawamu ke Katedral, sebagai calon biarawan.


Dan Alianora langsung tertohok.

__ADS_1


__ADS_2