
Perpustakaan wilayah Sheridan merupakan salah satu perpustakaan dengan koleksi terlengkap setelah dua perpustakaan besar ibu kota. Mulai dari koleksi berdasarkan genrenya, ataupun berdasarkan kota asal buku-buku tersebut diterbitkan, semuanya tersebar rapi di rak-rak kayu ek yang menjulang tinggi di setiap lantai.
Setiap warga Sheridan akan bisa menemukan apapun yang mereka cari disana, apalagi ditambah dengan fasilitas perpustakaan yang berkelas tinggi, nyaman, dan terawat, membuat mereka betah untuk membaca berlama-lama disana. Tidak heran kalau pada hari-hari biasa, perpustakaan ini sangatlah ramai dikunjungi oleh para bangsawan kecil dan juga warga sipil biasa.
Memang, Alianora harus akui, bahwa kekayaan Keluarga Sheridan benar-benar sangat luar biasa. Bila yang mensponsori perpustakaan ini hanya sekelompok keluarga bangsawan biasa-biasa, mungkin mereka harus menjual ginjal mereka terlebih dahulu.
Namun, di sisi lain keramaian perpustakaan itu sama sekali tidak membuat Alianora senang, sebab dia juga harus memasang topeng 'putri bangsawan yang terhormat' setiap kali berpapasan dengan rakyat biasa dan juga para bangsawan kecil yang dia temui di sana.
"Nona, saya pikir kita harus segera kembali."
Kira-kira sudah empat kali, sejak mereka tiba di sana, Mary mengingatkan Alianora untuk pulang, namun itu semua hanya dibalas dengan suara halaman demi halaman yang dibalik.
"Sebentar lagi Mary, aku hanya butuh waktu sedikit lagi sampai aku menemukannya."
"Tapi Anda sudah duduk di sana selama kurang lebih satu setengah jam, nona."
Alianora meletakan sebuah buku tua yang selesai dia baca, ke dalam tumpukan buku-buku yang berserakan dilantai, kemudian pergi mengambil beberapa lagi dari rak buku yang sudah kosong sebagian dibelakangnya.
"Oh tenang saja, kita masih punya waktu banyak, hari ini hari liburku kan? Tenanglah Mary, tunggu sampai aku mendapatkan sedikit petunjuk. Kau tahu ini sangat penting bagiku kan?"
Sebenarnya, apapun itu yang dicari Alianora dari tadi sama sekali tidak dipahami Mary, tapi dia tidak berani bertanya, takut jika itu dianggap tindakan lancang, atau mungkin dia hanya tidak mau mendengar sesuatu yang membuatnya merasa takut kepada nonanya.
Pada akhirnya, dia hanya bisa pasrah, dan duduk pada bangku kayu di seberang, sambil menanti dengan sabar kapan Alianora akan selesai.
Untunglah sore itu, tidak banyak orang yang datang jadi Alianora setidaknya bisa memonopoli lorong buku-buku sihir kuno, dan mempermudahnya mencari. Namun meskipun begitu, dia masih saja tidak bisa menemukan apa-apa.
Alianora mulai sedikit resah.
Dari semua buku dan perkamen sihir yang dia kumpulkan semuanya merupakan koleksi-koleksi langka dan berharga dari beberapa negara, semuanya hanya berisi tentang informasi-informasi yang sudah dia ketahui saja seperti beberapa penjelasan tentang mana, elemen, tingkatan sihir, beberapa jenis sihir-sihir kuno, dan juga beberapa kelainan-kelainan bawaan yang berhubungan dengan sirkulasi mana.
Tidak ada yang menjelaskan bagaimana seorang dengan Jiwa Apostle memiliki tubuh yang tidak memiliki mana.
Dengan gusar, Alianora membuang buku terakhir yang dia ambil ke dalam gunung buku disampingnya.
Penglihatan Alianora terasa agak berkunang-kunang lantaran terlalu lama membaca tulisan-tulisan kecil, dan semuanya sama sekali tidak berguna. Dia tidak habis pikir mengapa manusia bisa begitu bodoh untuk menulis sesuatu yang bisa di hafal diluar kepala seperti ini.
Apakah ini yang dinamakan catatan kuno?
"Haa...aku sangat menyayangkan uang yang dibuang untuk sampah-sampah ini."
Gumam Alianora sambil tertawa sinis.
"Nona, saya pikir perpustakaannya akan tutup, sebaiknya kita segera pulang."
Mendengar itu, Alianora menoleh ke arah jendela kaca raksasa di sampingnya untuk menemukan bahwa sinar matahari sore sudah lama pudar, dan langit biru telah berubah keunguan.
Suara-suara langkah kaki orang-orang juga telah lenyap, menyisakan kesunyian di sekelilingnya.
Alianora hanya bisa memijit pangkal hidungnya sambil menahan diri agar tidak menyumpahi kesialannya hari itu.
Apakah kesialannya ini juga berkah kutukan takdir?
__ADS_1
Terkutuklah takdir.
Perlahan Alianora bangkit dari tempat duduknya dan melangkah menuju Mary.
"Ya, ayo Mary kita pulang."
"Nona, apakah kita akan kembali kesini lagi besok?"
ujar Mary sambil berjalan dibelakang Alianora.
"Kau tahu besok jadwalku dipenuhi oleh acara-acara macam apa, bukan? Kau pikir aku masih punya waktu, hm? Lagipula, apa yang kucari sepertinya tidak ada di sini."
"Apakah, Anda tidak mencoba untuk ke perpustakaan ib-, ah tidak apa-apa, nona"
"Hoo, apa itu tadi? Sepertinya aku mendengar sebuah usulan bagus, hm?"
"Tidak apa, nona. Lupakan saja."
Alianora hanya tertawa pelan melihat ekspresi Mari yang tetap datar dibelakangnya.
Setelah beberapa hari hidup sebagai Thalia, hubungannya dengan Mary bisa dibilang semakin dekat. Awalnya, Mary masih begitu takut pada Alianora hingga membuatnya sedikit susah untuk berkomunikasi dengannya.
Tapi seiring hari-hari berlalu dan usaha Alianora untuk tidak terlihat terlalu mengintimidasi, dan syukurlah itu semua berhasil.
Ah, untuk hidup sebagai Thalia ini, entah berapa kali dia alami, dia masih menganggapnya terlalu aneh dan merepotkan.
Tapi di sisi lain, lucu juga baginya, untuk mengalami dan merasakan segala sesuatu dari sudut pandang manusia biasa, itu sedikit menantang.
Ah, untung juga bocah tengil Thalia bisa mendapatkan buku sihir tua itu dan membuat kontrak denganku, kalau tidak mungkin aku tidak akan pernah mengalami ini semua.
Dan saat itulah dia teringat.
Hm? Buku tua? Kontrak Jiwa?
.
.
.
!
Tiba-tiba Alianora tersentak dan berhenti melangkah. Mary dibelakngnya hanya melihatnya dengan bingung, dan berusaha memanggilnya namun dia mengabaikannya.
Oh demi surga!
Kenapa dia tidak ingat tentang itu!
Buku bersampul cokelat yang Thalia dapat entah dari mana, yang berisi penjelasan lengkap sampai langkah-langkah tentang ritual Kontrak Jiwanya. Itu jelas lebih langka dari buku-buku di perpustakaan ini.
Kontrak jiwa adalah ritual terlarang jadi hampir tidak ada buku yang mendeskripsikan bahkan sedikit tentangnya, di seluruh negeri di dunia.
__ADS_1
Namun buku itu memilikinya.
Oh dia harus segera kembali!
Melihat Alianora yang menatap kosong ke lantai dengan mata terbelalak, Mary merasa sedikit khawatir. Ada apa lagi dengan nonanya?
"Nona?"
Sedangkan Alianora malah mengagetkannya dengan menggenggam tanganya.
"Mary, itu dia! Aku menemukannya, ayo kita cepat pulang!"
Kemudian Alianora berlari sekencangnya, sambil menarik Mary yang hanya melongo dibelakang.
Mereka berdua berlari menyusuri setiap koridor perpustakaan yang luas, melewati para petugas perpustakaan yang hanya bergumam kepada mereka untuk tidak berlarian dalam koridor. Tentu saja Alianora tidak mendengarnya. Pikirannya saat ini hanya untuk cepat-cepat sampai ke rumah dan menemukan buku itu.
Sialnya bertepatan dengan itu, seseorang dengan jubah panjang tiba-tiba keluar dari dalam sebuah lorong buku yang berlabelkan 'LITERATUR FIKSI'. Alianora terkejut namun kakinya terlambat berhenti, akibatnya dia menabrak laki-laki itu dengan keras sampai membuat mereka berdua, bertiga dengan Mary, tergusur bersamaan.
"Aduh...hei bocah apa kau tidak bisa lihat-lihat kalau jalan!"
Laki-laki itu mengerang sambil mendorong Alianora dan Mary menjauh.
Dan bagai tersengat listrik, laki-laki tersebut langsung menegang. Dia memandangi tangannya yang tadi mendorong Alianora dengan seksama, kemudian ke arah Alianora yang sudah berdiri.
"Ah, maafkan aku, aku tidak sengaja. Aku sedang buru-buru jadi aku permisi dulu!"
jawab Alianora dan kemudian kembali berlari keluar disusul oleh Mary.
Laki-laki itu terus memandang ke arah pintu keluar dengan tatapan terkejut yang sama. Rambut ungu gelapnya berkobar di terpa angin malam, wajahnya perlahan berubah menjadi serius. "Hm...dia, Putri Thalia La Sheridan...?"
*****
Butuh sekitar 30 menit hingga Thalia bisa sampai di Kastil Nauchwanstein berhubung lokasi perpustakaan itu berada sedikit jauh dari pusat kota Sheridan.
Alianora yang sudah tidak sabar, langsung berjalan menuju kamarnya. Dia tidak membuang waktu untuk pergi melapor kepada Kalisto, sebab orang-orang dirumah ini tidak pernah peduli apakah dia ada atau tidak. Jadi jika dia pulang jam berapapun, tidak ada yang akan menanyakannya.
Sepertinya, hari ini tidak seperti itu. Ketika Alianora hendak menaiki tangga, dia bertemu dengan Estelle yang berlari ke arahnya dalam keadaan ngos-ngosan. Wajah lugunya di warnai oleh keterkejutan saat dia berhenti didepan Alianora.
"Kakak! Kakak dari mana saja, kenapa kakak baru pulang sekarang?"
kata Estelle sambil mengatur nafasnya.
Alianora menahan diri untuk tidak langsung meninggalkan Estelle begitu saja. Dia menarik nafas pelan kemudian menatap Estelle dengan alis sedikit tertaut.
"Ada apa, Elle?"
Suara Alianora tidak lagi dibaluti oleh kelembutan palsu yang biasa dia tunjukan ketika berbicara kepada Estelle, tapi mungkin hal yang akan dia sampaikan kepada kakaknya kali ini sangatlah penting sampai dia tidak menyadarinya.
Dengan sekali tarikan nafas, Estelle menatap wajah Alianora dengan serius.
"Kak, surat, surat dari Aethergarde telah tiba!"
__ADS_1