Kontrak Jiwa Putri Palsu Duke

Kontrak Jiwa Putri Palsu Duke
Chapter 26 : Pertemuan Di Toko Senjata


__ADS_3

"Huh? Nona Sheridan?"


Seorang pria muda bertubuh tinggi, menghadang jalan Alianora.


Sambil memegang kepalanya yang agak sakit akibat benturan tiba-tiba, Alianora mengangkat kepalanya untuk bertemu dengan sepasang manik hijau lumut yang melebar memandangnya.


"Nona, benar Nona sheridan, bukan? Wah, saya tidak menyangka bisa bertemu Anda di sini. Memangnya, Anda sedang apa di sini, nona?"


Melihat tingkah sok akrab dari remaja di depannya ini, Alianora memberinya tatapan tidak nyaman.


"Siapa kau?"


Remaja itu memiringkan kepalanya sesaat dengan tampang polos, sebelum menutup mulutnya dan cepat-cepat membungkuk hormat layaknya orang ketika memberi salam. Rambut oranyenya yang rapi jadi agak berantakan ketika kepalanya menunduk.


"M-maaf atas ketidak sopanan saya, nona. Izinkan saya memperkenalkan diri lebih dulu, nama saya Rowen Von Keilanstein, salam kenal, Nona Sheridan."


Pemuda itu tersenyum ke arahnya, menunggu respon dari Alianora.


Sedangkan Alianora sedang memutar kembali otaknya untuk mengingat-ingat, kira-kira bangsawan mana dengan nama belakang Keilanstein itu.


Tidak perlu waktu lama bagi Alianora untuk menyadari kalau keluarga Keilanstein bukanlah keluarga bangsawan biasa, melainkan satu dari empat keluarga duke di kerajaan.


Duke Keilanstein.


Menyadari identitas orang didepannya, tanpa menunggu lagi, Alianora langsung memberi salam kepada pemuda itu.


"Salam kenal juga, Tuan Muda Keilanstein. Maaf saya berbicara agak kasar dengan Anda tadi."


Pemuda itu, Rowen, cuma tertawa kecil.


"Tidak apa-apa, nona. Sebagai seorang ksatria, Anda tidak perlu memperlakukan saya terlalu formal begitu."


Mendengar itu, Alianora baru sadar kalau Rowen sebenarnya sedang memakai seragam Ksatria. Dengan mantel merah berukiran emas, ditengahnya dasi dan bross emas dengan lambang kepala singa, yang merupakan lambang ksatria kekaisaran dibawah pimpinan Duke Keilanstein.


Rowen melirik kanan-kiri ke arah keramaian orang berlalu-lalang di sekitar mereka.


"Omong-omong, Nona, Anda sebenarnya sedang apa di sini? Kenapa Anda datang sendiri tanpa ada pengawal?"


Alianora melihat kebelakang Mary.


"Saya di sini untuk berbelanja sebentar, jadi saya tidak membutuhkan pengawal. Kalau Anda sendiri? "


Tapi sepertinya jawaban Alianora tidak begitu memuaskan Rowen, itu karena dia terdiam untuk sementara sambil menatap Alianora dengan ekspresi rumit, sebelum kembali tersenyum sambil menggaruk kepalanya.


"Ah, saya kemari untuk menemani seseorang, namun ketika saya tidak melihatnya, orang itu sudah menghilang. Sekarang saya sedang mencarinya."


Alianora hanya mengangguk pelan, tapi mencoba untuk tidak mencaritahu lebih dalam lagi tentang masalah ksatria itu. Itu juga bukan urusannya. Dia ingin cepat-cepat mencari celah tepat agar bisa mengakhiri pembicaraan mereka, dan segera melanjutkan perjalanannya.


Oh ya, Alianora juga sepertinya tertarik menuju toko senjata untuk lihat-lihat sekilas, sebelum beranjak ke Butik Miah. Jadi, agar tidak makan waktu, dia harus segera pergi dari sini.


"Sir Rowen, sepertinya saya harus pergi duluan, karena masih ada hal yang harus saya kerjakan."


Rowen, "Ah, tentu saja, nona, kalau begitu, saya juga akan melanjutkan untuk mencari teman saya itu. Sampai jumpa lagi, nona. Saya berharap nanti jika kita bertemu lagi, Anda, uh, tidak perlu terlalu formal dengan saya. Anda, juga tidak perlu memanggil saya dengan 'Sir', mungkin...'kakak' juga boleh, haha."


Dia pun tertawa lepas sedangkan Alianora hanya tersenyum formal kepadanya, tidak berani memberi reaksi aneh tentang kalimat terakhir yang dia lontarkan.


"Oh ya, satu hal lagi, saya berharap lain kali kalau Anda pergi keluar, Anda harus membawa paling tidak satu pengawal. Karena bagaimanapun juga, Anda adalah putri duke, dan tidak ada yang tahu kapan dan dimana Anda bisa di serang. Saya permisi dulu."


dan Rowen pun menghilang, dan wajah Alianora yang tadinya tersenyum, langsung berubah serius.


Dia disuruh membawa pengawal? Yah, mungkin kalau dia putri bangsawan biasa dan bukan Thalia, normal-normal saja jika ada orang awam yang bicara seperti itu.


Tapi dia adalah Thalia, dan orang awam sudah cukup tahu untuk tidak menganggap aneh jika Thalia pergi-pergi tanpa ada pengawal, kecuali ke acara resmi.


Mereka cukup tahu, bahwa Duke Sheridan tidak mungkin membuang waktu untuk mengatur seorang pengawal bagi putri angkatannya yang tidak berguna, dan para ksatria Sheridan juga tidak akan sudi berjalan di belakang seorang putri palsu yang tidak jelas asal-usulnya.


Hah, jadi Alianora bingung mengapa Rowen yang statusnya adalah bangsawan kelas atas bisa berbicara yang tidak masuk akal begitu.


Apa dia tidak tahu kondisi Thalia?


Ataukah dia tahu tapi dia pura-pura tidak tahu?


Tapi untuk apa?


Semakin dipikirkan Alianora semakin tidak mengerti saja. Memang kadang manusia suka aneh dan tidak bisa di tebak.


Alianora menghela nafas untuk membuang jauh-jauh pikirannya itu, lalu dia kembali teringat lagi dengan kalimat yang diucapkan oleh Rowen sebelum itu.

__ADS_1


Seketika wajah Alianora berubah kaku, dan matanya menyipit, sebelum dia tertawa kecil sampai membuat Mary menoleh.


Pemuda itu menyuruhnya untuk memanggilnya 'kakak'?


Mereka baru saja bertemu hari ini, itu pun tidak sengaja. Alianora juga baru pertama kali mendengar namanya, kalau dia tidak salah ingat, tapi ksatria muda itu sudah berbicara seperti dia sudah akrab dengannya.


Alianora menggeleng-gelengkan kepalanya.


Sungguh ksatria muda yang aneh.


Ah, ya omong-omong, dia tahu identitasku dari mana?


Mungkinkah wajahnya ini gampang dikenali?


Lalu Alianora teringat dengan sedikit kekacauan yang dia buat saat hari pembaptisannya, dan dia pun mulai mengerti.


Mungkin wajahnya ini sudah tidak asing lagi untuk para bangsawan, sejak begitu banyak orang yang hadir di acara pembaptisan dan pasti sudah menontonnya. Pasti ksatria itu juga salah satunya.


Alianora menoleh ke arah Mary yang dari tadi hanya diam berdiri dibelakangnya, tanpa bersuara.


"Mary, menurutmu, apa aku harus pakai topeng juga?"


Mary yang sepertinya sudah paham maksud nonanya, cuma mengangguk.


"Bisa saja, nona, mungkin Anda harus mengenakannya sekarang."


Aku suka gadis ini, fufu~


Alianora tertawa ringan, "haha, ya sudah, ayo, Mary. Kita ke toko di sana dulu ya."


Mary mengintip ke arah yang di tunjuk Alianora.


"Toko Senjata? Apa Anda juga perlu membeli senjata?"


"Tidak, aku ke sana untuk melihat-lihat sebentar, mungkin saja ada sesuatu yang kubutuhkan di sana."


Alianora boleh mengatakan ini, tapi sebenarnya dia sedikit tergoda untuk membeli pedang yang bagus-bagus yang dipajang di etalase depan. Kilau bilahnya bersinar menyilaukan mata Alianora, dia tertarik untuk sekedar menyentuh pedang itu sedikit.


Mary melirik Alianora sedikit, sebelum menutup matanya.


"Baiklah, nona. Apapun yang nona inginkan."


Mereka akhirnya menyeberang menuju toko senjata tersebut, yang ternyata lumayan ramai di kunjungi orang-orang. Alianora masuk dengan mata berbinar, dan langsung ke rak-rak persenjataan, dan Mary membuntuti nonanya dengan pasrah.


Alianora memegang, dan melihat-lihat macam-macam senjata dengan antusias. Dia seperti seorang anak kecil yang di bawa ke toko mainan, meski itu agak memalukan untuk ditunjukan oleh seorang bangsawan sekelasnya, tapi dalam toko seramai itu, ditambah dengan tudungnya, tidak akan ada orang yang dapat mengenalinya.


Kecuali orang itu adalah sesama bangsawan.


Tapi lupakan saja, para bangsawan biasanya tidak akan ke sini. Mereka sudah tahu kalau pasar Sherdian ini sangat padat pengunjung, pastinya mereka tidak ingin berdesak-desakan dengan orang banyak, dan juga berkeringat karena pengap. Paling-paling mereka yang ke sini hanya ingin mencari sebuah benda yang spesifik, yang mungkin hanya terjual di Sheridan, sejak barang-barang yang dijual disini kebanyakan barang impor dan juga barang-barang aneh berkualitas bagus.


Namun itu juga sudah bisa di distribusikan ke pasar di kota-kota lain, dengan harga yang meningkat pastinya, tapi bagi bangsawan, harga tidak masalah, yang penting nyaman saja.


Alianora mengangkat sebuah pisau belati kembar yang bilahnya berwarna perak kemerahan daripada silver, dengan gagang emasnya yang sudah dilengkapi lubang kecil untuk batu mana.


"Hm, kalau dilihat dari ujung bilahnya, ini bisa jadi senjata kelas menengah ke atas. Memang menarik juga memakai belati tapi sayang aku tidak terlalu menyukainya. Sedikit susah di kontrol.


gumam Alianora ketika dia menaruh kembali belati itu di rak.


Setelah itu, Alianora kemudian bergeser ke rak-rak yang berisi pedang dengan berbagai macam bentuk.


Tidak hanya bentuk-bentuk kasual yang resmi di pakai oleh para ksatria Kerajaan Agris, tapi ada juga pedang-pedang khas dari kerajaan-kerajaan lain, bahkan dari benua lain juga ada.


Jari Alianora menyapu bilah sebuah pedang yang agak melengkung dibagian ujungnya.


"Ah, semua senjata ini unik-unik hanya saja, masih bukan seleraku."


Dewi Alianora terkenal dengan kekuatannya yang sangat luar biasa. Bukan hanya kekuatan sihir saja, melainkan skill bertarung fisiknya juga tak terkalahkan. Dia dulu bisa menggunakan hampir semua jenis senjata dengan baik, bahkan jika dia disuruh memilih, menggunakan senjata atau murni sihir, dia akan memilih untuk tetap menggunakan senjata.


Dulu, senjata favorit sekaligus andalannya adalah sebilah pedang. Pedang dengan bilah panjang dan ramping dengan ujung melengkung ke atas sedikit, jika dewi Alianora menggunakan pedangnya yang itu, musuh sudah tahu pasti kalau mereka akan tamat.


Setelah bertahun-tahun tidak lagi memegang pedang kesayangannya itu, Alianora sedikit merindukannya. Dia berusaha mencari pedang yang serupa di gudang peralatan pelatihan kemarin tapi hanya berhasil menemukan sebuah pedang tipis saja, sebuah rapier, tentu saja berbeda.


Akan tetapi, entah hari ini merupakan hari keberuntungannya atau apa, ketika dia hendak keluar dari toko, dari ujung matanya, Alianora sekilas melihat sebuah pedang yang terletak di rak paling pinggir bangian dalam toko.


Pedang yang berbentuk sama persis dengan yang dia punya dulu.


Seketika Alianora berbalik kembali untuk membuktikan penglihatannya, dan tepat di bagian tengah, ada sebuah pedang dengan bilah ramping dengan ujung agak melengkung, bergagang putih tebal. Kilau kebiruan pedang itu membuat seolah-olah, pedang itu dibentuk dari balok-balok es yang masih sangat dingin.

__ADS_1


Ya, dingin adalah perasaan yang Alianora dapatkan ketika pertama kali melihat senjata itu.


Tanpa perlu menerawanginya, Alianora sudah tahu kalau pedang ini tentunya memiliki kualitas bagus, apalagi dengan dua slot batu mana di tengahnya, itu sudah sangat bagus.


Alianora sudah bertekad.


Pedang sebagus ini rasanya tidak mungkin lagi dia temukan untuk kedua kalinya.


Ini adalah hari keberuntungannya, dan bertemu dengan pedang ini adalah hasilnya.


Kalau dia mengabaikannya, maka terkutuklah keberuntungannya selanjutnya.


Kalau soal uang, dia masih bisa menjual beberapa perhiasan lagi di kantongnya.


Sayangnya, ketika tangannya hendak meraih pedang itu, tangan lain telah lebih dulu mengambilnya.


Sorot mata Alianora mengikuti kemana pedang itu ditarik dan hasilnya, dia bertatapan muka dengan seorang bocah laki-laki yang tadi dia lihat dari luar toko, tepat berdiri di sampingnya.


Bocah berambut biru tua gelap yang sudah tidak asing.


Bocah tidak sopan di hari pembaptisan!


"Hei, pedang itu, aku melihatnya duluan."


Manik biru safir milik bocah itu yang sedang memandangi pedang ditangannya dengan datar, beralih menatap manik peraknya, tanpa ada rasa terkejut. Dalam hati, Alianora hanya bisa menebak-nebak apakah bocah ini mengingatnya atau tidak.


Dan juga, terkutuklah wajah cantiknya yang melebihi sebagian besar kaum wanita.


"Kau hanya melihatnya, tapi aku mengambilnya duluan. Berarti, ini milikku kan?"


"Aku hendak mengambilnya."


"Tapi kau terlambat, bukan? Kau tidak bisa mengatakan itu karena pedang ini bukan pedangmu, siapapun bisa membeli pedang ini, siapa yang cepat dialah yang dapat."


Bocah itu berkata dengan ekspresi datar, dan nadanya juga datar seperti ekspresinya.


Kemudian dari belakang bocah itu, Mary tiba-tiba muncul.


"Sebaiknya Anda memberikan pedangnya pada nona saya."


Alianora dan bocah itu pun menoleh ke arah Mary."


Bocah itu, "Hm?"


Alianora, "Mary?"


Alianora berpikir kalau Mary sudah keluar duluan tapi nyatanya tidak, kadang keberadaan Mary memang gampang terabaikan.


"Biarkan kami memperkenalkan diri dulu, nona saya adalah putri pertama dari Keluarga Duke Sheridan, Thalia La Sheridan. Sebaiknya, Anda memberikan pedang itu pada nona saya."


Jujur saja, Alianora ingin menghentikan perkataan Mary barusan. Dia merasa sedikit malu untuk membongkar identitasnya hanya karena ingin merebut sebuah pedang dari seorang bocah. Apalagi kalau identitasnya hanya sekedar identitas, sama sekali tidak memberikan kekuatan.


Memangnya kalau dia putri pertama Duke Sheridan kenapa? Memangnya dia akan mengadu ke ayahnya dan ayahnya akan menanggapi, begitu?


Mendengar itu, pandangan bocah itu beralih ke arah Alianora, dan ada seusatu dari sorot matanya yang membuat Alianora tidak bisa menatapnya langsung.


"Hm, jadi begitu."


Alianora yang sudah tidak tahan lagi merasakan sorot mata aneh itu pada pipinya, dia langsung menoleh kembali ke arah bocah itu.


"Sudahlah, dengarkan aku-"


"Pfft...."


"...Huh?"


Alianora membuka matanya yang sempat terpejam untuk menatap bocah didepannya, yang balik menatapnya lurus-lurus.


Sebuah senyum tipis yang hampir kasat mata terukir di wajah cantik itu, dan sorot matanya kali ini mendarat tajam dan menyelidik ke arah Alianora.


Alianora cuma bisa menatap bocah itu dengan pandangan heran.


Bocah ini, apa barusan dia menertawakannya?


"Apa yang ka-"


"Anda menginginkan pedang ini, bukan?

__ADS_1


"Huh?"


"Bagaimana cara Anda merebutnya dariku, tuan putri?"


__ADS_2