
"Aduh!"
Alianora mengusap bokongnya yang untuk kesekian kalinya menatap lantai. Ngilu yang dia rasakan itu seperti menunjukan kalau pantatny ayang mulus kini memiliki bercak biru keunguan.
"Nona kecil, lagi-lagi kau mengulangi kesalahan yang sama. Sudah kubilang, jika pasanganmu melangkah seperti ini, maka kau harus melangkah mundur! Kenapa masih tidak paham juga?"
Sepasang mata amethyst yang tidak asing bagi Alianora, menatapnya dari atas. Sorotnya dingin dan tajam, memeolototinya dengan sinis.
"Maaf, bibi., biarkan aku mencobanya sekali lagi."
Alianora kemudian bangkit dan mengibaskan roknya dari demu, sebelum memulai kembali berlatih dari awal.
Dalam hati, Alianora cuma bisa menggerutu dan bertanya-tanya, kapan kira-kira dia bisa terbebas dari kelas dansanya ini. Dia sudah sangat ingin untuk pergi kekamarnya dan meregangkan ototnya yang pegal akibat menggeliat sana-sini tanpa henti.
Sekitar satu jam sudah Alianora terus berlatih tanpa istirahat, dan sejak itu juga, ocehan demi ocehan memerintah yang memenuhi kepalanya sampai membuatnya penat. Ditambah lagi sekujur tubuhnya sudah sakit semua, Alianora berharap agar tubuh Thalia tidak lebih dulu pinsan di tangan pelatihnya ini, yang tidak lain dan tidak bukan, adalah Margritta Rocheleau, bibi tirinya.
Wanita yang bahkan lebih parah ketimbang ibu tiri Thalia, Annabeth.
Kesan pertama yang Alianora dapatkan ketika bertemu wanita ini adalah, bahwa wanita ini merupakan tipe yang pendiam dan santai, itu karena ekspresinya yang santai, tidak mengkerut seperti Annabeth saudaranya. Dia sampai berpikir kalau rumor-rumor negatif yang dia dengar tentang Marchioness Rocheleau ini tidak benar, dan Alianora sedikit bersyukur. Setidaknya kelas dansa yang membosankan ini tidak tambah mengerikan dengan pelatih yang kaku seperti kayu.
Namun, sedetik kemudian dia menarik perkataanya sendiri.
Alih-alih berbeda, wanita ini, Margritta Rocheleau nyatanya lebih buruk dari rumor-rumor tersebut.
Raut wajah yang kalem tadi langsung berubah menjadi jelek, dalam sekali kedipan mata, dan kata-kata yang dilontarkan sama sekali jauh dari kata 'santai' yang Alianora maksud, dan itu semua terarah padanya. Tingkat kekakuannya juga melebihi batas normal, bila Alianora hanya salah penempatan kaki saja, dia sudah langsung menyuruh Alianora untuk melakukannya dari awal, ditambahi embel-embel omelan juga.
Alianora tidak habis pikir, apa mungkin wanita--wanita yang diakui di pergaulan kelas atas harus memiliki karakteristik seperti ini?
"Nona kecil, apa yang kau pikirkan?! Apa aku mengajarimu untuk tidak menghargai pasangan dansamu seperti ini?!"
*Ah, kena lagi. *Tch, orang ini, apa tidak ada yang pernah menegurnya sebelumnya kalau dia sudah terlalu berlebihan?
"Maaf, bibi. Tadi saya tiba-tiba teringat sesuatu."
"Tidak ada alasan. Hal ini telah melanggar etiket seorang bangsawan. Bahkan bangsawan dari kolong tikuspun tahu, dan kau sebagai putri duke harusnya memberi contoh. Jika kau malah lebih rendah dari para bangsawan rendahan itu, sama saja kau menyuruh mereka menginjak-injak nama Sheridan!"
"Maaf, bibi. Saya tidak akan mengulanginya."
Oh, sudahlah, aku sudah berusaha jadi anak baik, jadi tinggalkan aku sendiri oke?
Alianora memang sadar diri, kalau dalam hal yang tidak penting seperti berdansa, dia bisa dibilang dibawah rata-rata, jadi ketika baru pertama kali latihan seperti ini dia selalu saja melakukan kesalahan. Apalagi, Thalia dulu juga tidak pernah melakukan latihan dansa sebelumnya, tubuhnya juga pasti kaku, tapi itu tidak berarti kalau Alianora harus dibuli seperti ini ketika dia tidak bisa melawan, bukan?
Dari tadi wanita ini hanya mengurusinya, padahal muridnya bukan hanya Alianora seorang, Estelle juga.
Memang, Estelle dulu sudah pernah belajar berdansa sebelumnya, jadi dia sudah lebih bagus dari pada Alianora, tapi dia juga masih belum benar di beberapa gerakan, dan Marchioness Rocheleau juga menyadarinya tapi dia tidak memarahi Estelle. Paling-paling dia hanya menegurnya dan mengigatkannya sebentar lalu di suruh istirahat.
Sekarang Estelle sedang duduk makan kue di sofa sambil menonton penderitaannya dengan wajah tersenyum.
Ah, melihatnya saja Alianora sudah iri.
__ADS_1
Aih, memang Estelle anak emas. Siapa yang tidak sayang padanya?
Dengan sekali langkah terakhir, Alianora akhirnya menyelesaikan gerakan berdansanya. Oh, dia sangat bangga dengan itu karena dia merasa, kali ini dia melakukannya dengan sangat baik, tapi tentu saja, mau sebaik apa yang dia lakukan, di mata bibi tirinya itu, selalu saja ada kesalahan.
"Hm, tubuhmu kaku sekali, dan ada beberapa langkah juga yang hampir membuat kakimu menginjak kakiku. Apa kau tidak bisa paham apa yang sudah kuajarkan? Sangat mengecewakan, Nona Thalia."
Setelah puas menusuk Thalia dengan sorot matanya, Marchioness Rocheleau akhirnya pergi dan duduk di sofa tepat di seberang Estelle, untuk meminum tehnya.
Sedangkan Alianora, dengan acuh tak acuh, hanya memperbaiki dressnya yang kusut, lalu pergi duduk di sofa bersama Thalia. Baginya, omongan bibi tirinya barusan adalah omongan tidak berfaedah yang tidak perlu didengar. Alianora sudah lelah mendengar ocehan wanita itu, dan satu-satunya hal yang ada dalam pikirannya adalah ingin duduk makan, dan itu yang dia lakukan.
"Kak, ini puding kesukaan kakak, tadi aku meminta pelayan untuk membuat ini khusus untuk kakak."
kata Estelle sambil menyodorkan sepiring berisi puding mangga ke depan Alianora, ketika Alianora sudah duduk.
"Terima kasih, Elle."
"Elle, apa kau sudah menyiapkan gaun yang akan kau pakai nanti?"
Marchioness Rocheleau bertanya sambil menatap Estelle dengan tersenyum.
Elle mengangguk, "Tentu saja bibi, aku sudah memesannya dari beberapa hari yang lalu, dan sekarang gaunnya sudah jadi."
"Baguslah, pastikan gaunnya harus bagus dan istimewa, karena kalian adalah keluarga duke, bangsawan tertinggi dibawah keluarga kerajaan. Pastikan apa yang kalian kenakan juga sesuai dengan derajat keluarga Sheridan."
Margritta Rocheleau menekankan kalimat terakhirnya sambil melirik ke arah Alianora, namun Alianora hanya pura-pura tidak melihat dan terus saja menyantap pudingnya dengan elegan.
Alianora memutar bola matanya.
Hal yang sama kembali ditanyakan, seketika Alianora teringat dengan gaun yang dia pilih tadi pagi, dan perasaanya jadi bagus. Setidaknya, dia tidak harus kehilangan muka didepan banyak orang karena memakai gaun usang, atau gaun norak.
"Iya bibi, saya sudah mempersiapkan semuanya. Kebetulan tadi ibu memanggil desainer dari Butik Artemis untuk memilih gaun saya."
Estelle menngigit potongan kuenya dengan tenang, tanpa bersuara.
Margritta mengangkat sebelah alis.
"Butik Artemmis? Annabeth?"
Dia terdiam sebentar sebelum melanjutkan.
"Hmph, kalau Annabeth yang melakukannya, aku tidak ragu. Tapi selain itu, etiket dan tata kramamu juga harus mencerminkan bangsawan kelas atas."
Alianora meminum tehnya sambil menunggu Margritta melanjutkan perkataanya.
"Aku dengar nona Thalia La Sheridan memiliki etiket yang sempurna, meskipun jarang muncul diacara bangsawan, tapi ternyata darah rendahan tetaplah darah rendahan, hm?"
Alianora seketika mengangkat wajahnya untuk melihat sorot mata Margritta tertuju pada kedua kakinya, yang Alianora baru sadar kalau dari tadi sudah mengangkang. Dia langsung cepat-cepat menutup lagi kakinya itu tanpa menatap Margritta.
Ah, itu karena dia sudah terlalu lelah sampai dia tidak memakai topeng bangsawannya dengan benar. Akhirnya Margritta menemukan sesuatu yang bisa menghinanya.
__ADS_1
"Bibi, saya tidak mengerti maksud Anda. Apa hubungannya darah dengan etiket dan tata krama? Etiket dan tata krama adalah sesuatu yang diajarkan, bukan diwariskan. Para bangsawan memiliki tata krama dan etiket yang sempurna itu karena mereka dilatih dengan keras, bahkan rakyat biasapun kalau diajar dengan benar mereka pasti bisa jadi seperti bangsawan. Jadi, menurut saya, jenis darah dan etiket itu tidak ada hubungannya."
Margritta Rocheleau memicingkan matanya.
"Ho, jadi menurutmu, kau sebagai putri duke yang masih salah dalam etiket cara duduk bangsawan itu, malah lebih rendah dari rakyat biasa?"
"Tidak sama sekali. Saya tidak pernah menganggap diri saya rendah, malah sebaliknya. Saya yang tidak pernah diajarkan tentang itu sama sekali, masih memiliki etiket dan tata krama yang standar. Apakah itu tidak lebih baik dari mereka yang harus dilatih lebih dulu?"
Alianora berpikir kalau kali ini, Margritta mungkin saja mencaci makinya habis-habisan, karena omongannya yang sudah diluar batas. Ya, mau bagaimana lagi, wanita ini mengatakan sesuatu yang membuatnya sedikit jengkel. Bisa-bisanya dia mengatakan kalau Alianora darah rendahan, betul betul tidak tahu diri!
Akan tetapi, cacian yang ditunggu-tunggu itu tidak datang-datang, malahan Margritta hanya diam memandangi Alianora dengan tatapan yang tidak dapat dijelaskan.
"Setidaknya kau cukup tahu diri. Kalau kau sudah tahu bahwa etiket dan tata kramamu itu belum sempurna, sudah seharusnya kau menyempurnakannya. Orang tidak ingin tahu apa yang sudah kau lewati, mereka menilaimmu dari status, dan sebagai putri duke, kau harus sempurna. Kukira hal ini cukup jelas dipahami, bahkan untuk seorang rakyat jelata."
Alianora kali ini hanya membalasnya dengan senyum.
"Tentu bibi, saya akan berusaha lebih keras lagi."
Lihat saja, dirinya akan membuat orang-orang ini menjilati liur mereka sendiri.
Dia akan menunjukan kepada mereka semua kalau mereka bahkan tidak pantas untuk merendahkannya.
Hah, beraninya membuli anak kecil yang lugu, apa mereka tidak punya malu?
Jika Thalia yang ada di sini tadi, mungkin dia tidak bisa melakukan apa-apa untuk melawan, tapi sayangnya Alianora tidak akan membiarkan mereka berlaku seenaknya pada 'dirinya'.
"Iya bibi. Elle juga akan berusaha keras seperti kakak."
jawab Estelle secara tiba-tiba dari sampingnya.
Margritta mengangguk.
"Elle sudah tidak perlu belajar dengan keras, etiket serta skill berdansamu sudah bagus, tinggal beberapa yang perlu dimaksimalkan, dan kau Thalia, kuharap kau tidak lupa kalau skill berdansamu masih dibawah standar. Besok aku ingin melihat kemajuan dari hari ini."
Alianora berusaha untuk tidak menghela nafas panjang didepan Margritta.
"Hm, tentu aku tidak lupa bibi."
"Acara ini juga merupakan tempat yang pas untuk para anak-anak bangsawan untuk memperkenalkan diri mereka didepan umum, jadi tentu saja harus dipersiapkan dengan matang. Semuanya akan di nilai, mulai dari etiket sampai skill berdansa, jika ada satu saja yang gagal, maka itu akan jadi omongan banyak orang."
Alianora, "...."
"Hm, pasti seluruh bangsawan dari semua kelas akan hadir. Aku tidak sabar menantinya!"
"Kau harus menantinya, Elle. Ini momen penting untuk para bangsawan kelas atas seperti kita, untuk menjalin relasi dengan keluarga kerajaan."
Menjalin relasi? Oh jangan bilang...hm tapi tentu saja.
"Itu sebabnya skill dansa ini harus disempurnakan dengan baik, jadi jika tiba saatnya keluarga Sheridan dipilih untuk berdansa dengan Pangeran Roberto, itulah saatnya kau akan mencuri semua perhatian orang-orang, termasuk Yang Mulia pangeran sendiri."
__ADS_1