Kontrak Jiwa Putri Palsu Duke

Kontrak Jiwa Putri Palsu Duke
Chapter 5 : Sebuah Keanehan


__ADS_3

Malam itu, dalam kamarnya, Alianora sedang duduk di depan meja dengan wajah serius.


Kertas putih yang sedari tadi dia coret-coret sudah dipenuhi dengan nama-nama dan juga lingkaran-lingkaran hitam, terutama dibagian nama ‘Noah Lex Lumiere Di Agris’.


Dari apa yang disampaikan Mary, sepertinya Pangeran Noah adalah seorang yang tertutup.


Dirinya cenderung menjauhi pergaulan kelas atas, dan juga tidak pernah terlalu menjadi pusat perhatian orang-orang. Para bangsawan hampir tidak pernah tahu, bagaimana rupa pangeran kedua kerajaan itu, kecuali bangsawan-bangsawan kelas atas seperti keempat keluarga duke.


Jadi, wajar sebenarnya jika para kaum aristokrat yang ingin menjilati kaki raja selanjutnya, kebanyakan memilih untuk berpihak kepada Pangeran Roberto, karena mereka yakin bahwa kursi kepemimpinan Kerajaan Agris pasti akan jatuh ke tangannya.


Akan tetapi, Alianora tahu bahwa hal yang diharapkan oleh bangsawan-bangsawan itu tidak terjadi karena buktinya, Raja Tyrion akan lebih memihak kepada pangeran kedua dan bahkan memperkenalkan secara resmi Pangeran Noah sebagai salah satu calon kandidat putra mahkota.


Hal ini akan membuat perseteruan yang berakhir pada terpecahnya kubu aristokrat menjadi dua bagian.


Tapi itu masih akan terjadi di beberapa tahun kedepan, dan jika Alianora ingin tujuannya berhasil, dia harus mempercepat kejadian itu secepat mungkin, setidaknya sebelum Pangeran Noah memulai debut resminya di pergaulan kelas atas pada usianya yang ke delapan belas. Dia perlu mengharumkan nama Pangeran Noah, tidak perlu sampai terlalu mencolok, paling tidak sampai para bangsawan itu semuanya tahu, seperti apa orang yang disebut sebagai ‘Cahaya kecil Kedua Kerajaan Agris’ itu.


“Tapi untuk itu, aku harus berusaha untuk mendekatinya, hm.”


Ini tentunya harus dilakukan dengan cara yang pas, Alianora tidak akan bisa mencarinya di beberapa pesta, atau acara minum teh yang biasa diselenggarakan oleh kaum bangsawan kelas atas, karena itu merupakan hal yang sia-sia, karena Pangeran Noah kemungkinan tidak akan ada disana.


Sebaliknya, cara yang paling masuk akal dan satu-satunya yang paling dia yakini akan membuahkan hasil adalah melalui akademi tinggi untuk para bangsawan, Aethergarde, akademi terbaik di seluruh penjuru Kerajaan Agris, bahkan dalam kanca internasioanalpun, akademi ini masih menjadi salah satu yang terbaik.


Di sana, semua anak bangsawan dengan bakat tinggi, pergi untuk mendalami talenta mereka.


Dan sebuah instansi pendidikan yang diwajibkan bagi keluarga kerajaan.


Walaupun Pangeran Noah menolak untuk bersosialisasi, dia tidak mungkin menolak hal yang diharuskan untuknya.


Disinilah Alianora akan memanfaatkan kesempatan untuk mendekatinya.


“Tapi...sihir, hm?”


Tidak bisa dipungkiri, untuk bisa masuk ke sana, anak bangsawan yang dipilih harus benar-benar cemerlang, dalam artian, mereka harus memiliki bakat yang dianggap spesial, sempurna, dan jelas berguna bagi kerajaan.


Dan sihir di Kerajaan Agris, dianggap seperti berkah dewa. Bakat spesial yang seharusnya dimiliki oleh para bangsawan, yang merupakan orang-orang terberkati.


Tapi mustahil untuk didapat oleh Alianora sekarang.


Dari tiga kehidupan Thalia, Alianora menyaksikan sendiri bagaimana usaha Thalia untuk mengembangkan bakat sihirnya.


Bagaimana ia berlatih siang dan malam, hanya berpegang pada sebuah harapan semu yang dia ciptakan dari sebuah penyangkalan, bahwa dia juga bisa seperti anak bangsawan lainnya, yakni memiliki bakat sihir terpendam.


Tapi tentu saja itu tidak terjadi.


Alianora sudah tahu itu, malah dia sudah bisa merasakan bahwa tidak ada mana yang mengalir dalam tubuh kecil ini.


Hm?


Tunggu, sepertinya ada yang aneh.


Dari awal sebenarnya dia sudah sadar, tapi dia tidak begitu memperhatikannya, dan karena itu, dia jadi melewatkan hal yang paling penting.


Tidak ada mana? Bagaimana bisa?


Saat ini yang ada dalam tubuh itu adalah Alianora. Alianora yang telah meresapi seluruh esensi jiwa Apostle yang dipersembahkan baginya. Harusnya mana yang dia miliki saat ini adalah gabungan dari mananya dan juga mana Thalia.


Mustahil jika dia tidak bisa merasakan mana mengalir sama sekali.


"Mana tidak terikat dengan tubuh, melainkan dengan jiwa. Harusnya, tubuh ini tidak seperti ini."


Seketika itu juga, mata Alianora terbelalak lebar. Dia menatap lurus ke arah tangannya dengan mulut sedikit terbuka.


Tidak. Tunggu dulu.


Mana tidak terikat dengan tubuh.


Tapi dengan jiwa.


Seketika itu juga Alianora merasakan tenggorokannya kering.


Semua ini...apa yang sebenarnya terjadi?


Berbakat atau tidaknya seseorang dalam sihir itu ditentukan oleh jiwa mereka, itu karena mana berasal dari inti jiwa manusia. Jadi jika jiwa seseorang mampu mengalirkan mana dari inti jiwa mereka ke seluruh tubuh, maka mereka pasti bisa mengendalikan sihir.

__ADS_1


Thalia adalah seorang Jiwa Apostle, artinya dirinnya sudah seharusnya berbakat dalam sihir, tapi yang terjadi pada diri Thalia malah kebalikannya.


Dia sampai mati akan dikenal sebagai orang yang tidak memiliki sihir, bahkan dalam tiga kehidupan.


Hal yang secara logika tidak akan pernah terjadi.


Akan tetapi mengapa? Mengapa seorang jiwa Apostle dengan mana suci, tidak memiliki kemampuan sihir?


Dia masih bisa merasakan mana mengumpul dalam jiwanya, namun tubuh ini, kosong. Tidak ada mana yang mengalir.


Dengan perasaan bingung dan terkejut, Alianora mengernyit ke arah tangannya yang sedari tadi dia kepal.


"Apa yang terjadi disini?"


Kalau bukan salah jiwa Thalia.


Lalu apa?


Tok. Tok. Tok.


Alianora yang masih terpaku menatap tangannya sendiri, sambil mencari jawaban dari seribu pertanyaan yang muncul sekaligus dalam pikirannya, terkejut mendengar suara ketukan dari luar pintu kamarnya.


Dia melihat jam yang ada dimejanya, waktu sudah menunjukan pukul sembilan malam, dalam benaknya wajah pelayannya, Mary, muncul.


"Aneh, sudah malam seperti ini, apa yang dia perlukan?"


Karena Alianora tidak segera membuka pintu, ketukan itu kembali terulang, namun kali ini disertai dengan suara halus yang samar-samar bergumam, "kakak?".


"Huh? Suara ini? Adik Thalia...? Kalau tidak salah namanya-"


"Kakak? Apa kakak ada di dalam?"


Alianora langsung bangkit mendekati pintu.


"Ah, iya, silahkan masuk, Estelle."


Ketika pintu kamarnya terbuka, nampaklah seorang anak kecil yang imut-imut dan lucu di hadapannya.


Wajah polos dan lucunya itu memperlihatkan senyum manis ke arahnya.


Estelle La Sheridan, adik angkat Thalia yang saat ini berusia delapan tahun, pertemuan keduanya kali ini barulah Alianora bisa melihat dengan jelas wujud anak ini.


"Selamat malam, kakak. Apa kakak sibuk?"


Alianora menggeleng, mencoba untuk menunjukan senyum yang tidak kalah tulusnya juga.


"Ah, tidak, ada apa Estelle-"


Ah, sepertinya aku salah sebut dibagian itu, hm?


"Eh, Elle?"


Anak ini merupakan adik tersayang Thalia, dan biasanya Thalia selalu memanggilnya dengan nama 'Elle', tapi ketika mendengar Alianora memanggilnya dengan tidak biasa, sedikit menimbulkan kedipan pada kelopak mata Estelle, walaupun itu hanya sekilas.


"Hehe, tidak ada hal penting sih, aku cuma mau bawakan ini untuk kakak."


Estelle mendekati meja Alianora, dan meletakan sepiring kecil puding oranye yang dilapisi dengan cairan kental seputih susu dan sebuah stroberi diatasnya.


Alianora menatap makanan itu dengan bingung.


"Puding mangga? Untukku?"


"Uh-huh. Puding kesukaan kakak kan? Aku tadi menyuruh pelayan membuatnya, lalu kuantarkan kesini deh."


Alianora mengangguk menanggapi jawaban Estelle, berharap dengan begitu Estelle akhirnya pergi meninggalkannya sendirian. Toh, keperluannya disini sudah selesai bukan?


Tapi ternyata, Estelle tetap berdiri pada tempatnya tanpa menunjukan tanda-tanda bahwa dia akan pergi, jelas membuat Alianora tidak tahu apa lagi yang diperlukan Estelle di kamarnya.


Ah, apa aku usir saja bocah ini ya? Secara halus, mungkin?


Namun sebelum Alianora mengeluarkan suara, Estelle sudah lebih dulu memotongnya.


"Uhm, sebenarnya, aku ingin kakak tidak memikirkan hal yang terjadi tadi pagi, dan jangan bersedih lagi."

__ADS_1


"Bersedih?"


Estelle mengangguk, raut wajahnya menunjukan rasa kekhawatirannya dan sedikit rasa kasihan yang memmbuat Alianora sedikit merasa jengkel.


Bersedih? Untuk apa bersedih cuma gara-gara hal macam itu? Apa aku ini bocah? Apa-apaan anak ini?


"Tadi pagi, ibu memang terlalu keras pada kakak. Aku...tidak setuju dengan hukuman yang diberikan ibu pada kakak! Itu tidak adil, hmph!"


Alianora tertawa kecil dan menepuk pundak Estelle.


"Tidak apa, Elle, itu juga karena aku sudah membuat kamarku jadi berantakan."


"Tidak kak, jelas-jelas kakak tidak salah! Makanan itu memang sudah berbau, jika pelayan kurang ajar itu membawanya kepadaku, aku juga akan melakukan hal yang sama."


Alianora tidak bisa banyak bicara, hanya menonton bagaimana anak kecil didepannya ini marah-marah sendiri kepada sesuatu yang sama sekali bukan urusannya.


Apakah bocah memang seperti ini?


Alianora jadi khawatir apa perilakunya sekarang yang tenang seperti ini malah terlihat terlalu dewasa untuk bocah seumurannya.


"Hanya saja, aku tidak mengerti dengan sikap ibu, dia malah membuat kakak membersihkan kamar kakak sendiri. Bagaimanapun, ibu sudah kelewatan kan?"


Estelle menatap Alianora, raut wajahnya seolah meminta Alianora agar meng-iyakan omongannya barusan.


Melihat ini, Alianora jadi tambah bingung dengan sikap Estelle ini.


Memangnya, apa yang harus dia jawab?


Apa aku harus bilang 'iya' begitu?


Untungnya, Alianora masih bisa menyembunyikan kebingungannya dengan baik.


"Ah, Elle, sudahlah, aku tidak apa-apa. Lagipula, itu hanya membersihkan kamar saja, tidak terlalu sulit kok."


Alianora berharap dengan ini Estelle segera tenang dan akhirnya meninggalkan kamarnya, namun yang diterima Alianora malah ekspresi wajah horor yang diberikan Estelle.


"Kakak, apa yang kau katakan? Itu jelas hanya tugas pelayan, bukan tugas bangsawan seperti kita, kan? Kakak tidak boleh menyetujuinya begitu saja."


Semakin kesini, arah pembicaraan Estelle malah semakin membuat Alianora terkejut.


Sebenarnya, apa yang mau anak ini katakan, dan tujuannya apa?


Dia sama sekali tidak mengerti.


"Elle-"


"Selalu seperti ini kan kak?  Jika ada masalah, kakak selalu yang disalahkan. Baik ayah, maupun ibu, mereka tidak pernah membela kakak."


Estelle berjalan mengitari meja dan berdiri tepat didepan Alianora yang sedang duduk bengong menatapnya. Raut wajahnya tidak bisa terbaca, mata birunya menatap lekat-lekat pada Alianora.


"Ayah, ibu, selalu tidak adil. Bukan begitu, kak? Apapun yang dilakukan kakak selalu salah, seperti tadi pagi, ibu tidak memihak kakak. Kasihan sekali."


Tunggu dulu, apa ada masalah dalam kepala anak ini? Apa yang dia bicarakan?


"Tapi ayah dan ibu juga tidak bisa disalahkan iya kan?"


"Dalam rumah ini, sebelumnya selalu ayah, ibu, aku...,"Estelle mencondongkan tubuhnya sangat dekat sampai Alianora bisa melihat ekspresinya yang aneh, "...lalu kemudian kakak. Paham kan kak?"


??


"Ayah dan ibu menyukai anak yang berbakat. Aku mempunyai sihir, tapi kakak...tidak bisa memberikannya."


"Kasihan ayah dan ibu."


setelah mengatakan kalimat terakhir, wajah Alianora tidak terlihat sedih sama sekali, melainkan senyuman kecil yang bengkok, kemudian dia tersenyum lebar yang membuat Alianora sedikit tersentak.


"Tapi tidak apa kak, ada aku disini. Aku akan selalu ada di pihak kakak, apapun yang terjadi. Aku akan selalu menemani kakak, itu karena aku sangat menyayangi kakak. Jadi kakak tidak usah bersedih, karena aku akan selalu bersama kakak. Meski ayah dan ibu seperti itu tapi tetap saja, kita pada dasarnya keluarga kan?"


Setelah itu Estelle menjulurkan kedua lengannya untuk membawa Alianora dalam pelukannya sesaat. Alianora yang masih bingung hanya membiarkan tubuhnya begitu saja sambil terus memikirkan apa yang sebenarnya sedang terjadi, sampai Estelle melepaskannya dan kembali tersenyum polos seperti biasa.


"Kalau begitu kak, makan pudingnya ya, aku mau kembali ke kamar dulu. Selamat malam kak!"


Dengan begitu, Estelle lalu keluar dari kamar dan meninggalkan Alianora yang menatap lurus ke arah pintu kamarnya dengan ekspresi serius.

__ADS_1


__ADS_2