Kontrak Jiwa Putri Palsu Duke

Kontrak Jiwa Putri Palsu Duke
Chapter 7 : Persiapan


__ADS_3

"Wah, selamat ya kak, sebentar lagi kakak akan memulai debut pertama kakak! Kakak akan diakui sebagai salah satu bangsawan di Kerajaan Agris! Kakak akan jadi wanita dewasa!", kata Estelle sambil menyoroti Alianora dengan tatapan gemilang berseri-seri. Dia terlihat lebih bersemangat dan sangat antusias melebihi Alianora sendiri yang merupakan calon baptis sesungguhnya.


Sebenarnya yang mau dibaptis itu siapa?


"Oh ya, ayah, besok Nona Rachel, Nona Michelle, dan Nona Aster juga menerima pembaptisan mereka! Aku tidak sabar bertemu mereka lagi! Pasti besok mereka terlihat cantik sekali!"


Kalisto membasuh mulutnya dengan selembar kain, "Hm? Mungkin saja, tapi tentu saja tidak sebanding denganmu. Apa kau sudah mencoba gaun baru yang ayah berikan? Apa kau suka?"


Wajah Estelle langsung berbinar gembira dan mengangguk cepat,


"Uh-huh! Tentu saja Ayah! Gaunnya cantik dan pas sekali untukku! Terima kasih ayah!"


Estelle bangkit dari kursinya untuk berlari kecil ke arah Kastilo dan mengecup pipi ayahnya dengan manja.


Ugh, bisakah kalian tidak melakukan hal menjijikan didepanku? 


Maksutnya, apakah mereka tidak malu melakukan itu dihadapan orang lain?


Estelle menoleh ke arah Alianora dengan senyum berseri, dalam kilat mata birunya, Alianora bisa melihat sedikit sinar kemenangan terpancarkan.


"Kakak pasti juga sangat ingin cepat-cepat besok kan? Untuk bertemu dengan anak-anak seumuran kakak, yang mungkin bakal jadi teman kakak nanti di Aethergarde."


"Hm, ya. Mungkin."


Alih-alih bersemangat, Alianora malah sangat tidak ingin berurusan dengan siapapun besok. Dia sungguh tidak mengerti, mengapa manusia sangat suka melakukan hal yang tidak berguna. Apa enaknya berkerumun seperti itu?


"Yay, besok pasti akan seru!", Estelle tersenyum lebar sampai matanya menyipit, saking gembiranya membuat


Alianora memasang senyum tipis. Tidak bisa dipercaya bahwa anak kecil yang tidak tahu diri kemarin malam adalah anak yang ada di hadapannya sekarang, sebab jika dia tidak bertemu dengannya tadi malam, dia pasti yakin kalau anak ini adalah anak yang polos, lucu, dan girang seperti kebanyakan anak seusianya.


Mana ada yang menyangka kalau anak sekecil ini sebenarnya bisa mengatakan sesuatu yang jahat.


"Akademi? Baik jika kau diterima."


Disamping Estelle, duduklah Annabeth yang sedang menguyah makanannya dengan santai, Alianora meliriknya dengan tidak pandangan tidak tertarik sama sekali. Entah kenapa, setiap kali wanita ini angkat bicara, Alianora selalu merasa kesal.


Merasa dirinya diperhatikan, Annabeth mengangkat muka untuk memandangi Alianora. Meski wajahnya datar tapi sorot mata amethystnya tajam dan merendahkan.


"Apa kau yakin bisa diterima? Orang sepertimu."


Ekspresi pada wajah Alianora sama sekali tidak goyah biar sedikitpun, meski kata-kata Annabeth tadi menusuk seperti biasanya. Dia bisa merasakan Estelle yang melirik ke arahnya dengan ekspresi ingin tahu yang tersamarkan. Alianora tersenyum.


Setelah menerima pembaptisan dan diakui sebagai anggota resmi bangsawan Agris, para anak-anak bangsawan juga baru bisa dianggap memenuhi persyaratan untuk masuk akademi.


Oleh karena itu biasanya, banyak undangan-undangan dari akademi berbeda yang akan dikirim untuk mereka, salah satunya adalah dari Aethergarde, akademi terbaik yang terbuka secara internasional. Masuk ke sana adalah impian dan kewajiban seluruh anak bangsawan di Kerajaan Agris.


Tetapi, untuk diterima di sana, para anak bangsawan harus bersaing dengan para bangsawan dari Kerajaan lain. Untuk itu, mereka yang ingin masuk harus benar-benar memiliki bakat yang luar biasa.


Dengan mengatakan kalau dia tidak mampu masuk ke sini didepannya secara langsung membuat Alianora berpikir kalau keluarga ini sepertinya bersekongkol untuk melihat Thalia semakin terpuruk, terutama Estelle yang ekspresinya paling jelas, untungnya Alianora sudah sering melihat jadi tidak heran lagi.


Kau sangat ingin melihat kakak tirimu hancur, hm? Tapi sayang sekali adikku yang manis, mana mungkin aku mau mengabulkan keinginanmu begitu saja?


"Ah, ibu benar, aku sudah memikirkannya dan merasa kalau dengan kemampuanku yang seperti ini akan sulit bagiku untuk masuk ke sana, tapi aku akan berusaha."


Tidak, dia sudah pasti akan masuk ke sana, pokoknya dia harus diterima, apapun kondisinya. Ini adalah langkah pertama yang harus dia ambil untuk memenuhi misinya.

__ADS_1


"Ibu, jangan bicara begitu! Kakak, meskipun dalam kondisi seperti 'itu', pasti bisa masuk akademi kok! Meski bukan Aethergarde, tapi paling tidak kakak bisa diterima di akademi lainnya. Iya kan ayah?", potong Estelle yang membuat Alianora sedikit terkejut.


Bukannya tadi kau meyakinkanku, kalau aku akan masuk Aethergarde, duhai adikku?


Kalisto melirik Alianora sebentar sebelum kembali melanjutkan makannya,


"Hanya mereka yang berbakat yang akan diakui, sedangkan yang lain akan ditendang. Jika kau berniat untuk masuk ke akademi selain Aethergarde, lebih baik kau tidak usah masuk akademi."


Suasana disekitar ruang makan itu berubah dingin, dan Estelle yang mendengar perkataan ayahnya terkesiap, dan menutup mulutnya dengan tangan sambil menatap sedih pada Alianora.


Sudah dia duga, bahwa Kalisto yang keras kepala dan sombong pasti mengatakan hal itu.


Para anak bangsawan berlomba-lomba untuk masuk ke Aethergarde.


Bagi mereka yang berhasil diterima, akan selalu dipandang, tapi mereka yang gagal dan masuk akademi lain, mereka akan selamanya dianggap sebagai 'bangsawan kelas rendahan'.


Gelar yang diberikan untuk para bangsawan gagal.


'Bangsawan kelas rendahan' akan diperlakukan tidak jauh berbeda dari rakyat biasa, bahkan bisa dibilang lebih buruk lagi, sebab mereka harus menanggung malu dan hinaan orang-orang di pergaulan kelas atas seumur hidup mereka. Tentu saja itu akan sangat memalukan keluarga dan diri mereka sendiri


Seperti hidup Thalia.


Tapi tentu saja bukan hidup Alianora sekarang.


Sekarang mereka boleh menghinanya, namun nanti dia pasti akan membuat ketiga orang ini menjilati ludah mereka sendiri. Membayangkannya saja Alianora sudah senang.


"Tentu saja ayah, jika ayah tidak ingin aku masuk akademi maka aku juga tidak akan masuk. Tapi itu jika aku tidak berhasil masuk ke Aethergarde."


Alis Kalisto terangkat sebelah. Estelle menatap Alianora dengan mata terbelalak.


Untuk kedua kalinya, bukan kah kau yang pertama kali yakin kalau aku bisa diterima duhai adikku yang labil?


"Tidak salahnya mencoba kan?"


Lagi-lagi ruangan menjadi sunyi dan tiga pasang mata menatap Alianora dengan pandangan terkejut yang sama.


Ah, dia juga tidak ambil pusing, biarlah mereka tercengang sedikit agar dalam pikiran mereka, Alianora tidak dianggap terlalu bodoh dan bisa diremehkan seenaknya.


Tapi satu hal yang Alianora sadar, dari ekspresi rumit Estelle, sepertinya dia akan menunjukan sesuatu yang lain pada Alianora nantinya.


Tidak masalah, tunjukan semuanya padaku, dan aku akan menontonnya.


Thalia boleh jadi korban dalam apapun nama permainan ini, tapi Alianora akan jadi penonton.


Lihat, hal menarik apa lagi yang akan muncul, meski dia akan dibuat sedikit sakit kepala karena itu, tapi dia akan menikmatinya.


Ah omong-omong soal hal menarik, sepertinya aku melupakan sesuatu.


*****


Ya tentu saja dia melupakan hal yang seharusnya menjadi salah satu adegan yang paling penting. Pertemuan dengan tiga antagonis utama yang akan membuat hidup Thalia menjadi seperti neraka, dan itu akan terjadi besok.


Michelle, Rachel, dan Aster, tiga penjahat yang bertanggung jawab atas hancurnya hidup Thalia dalam tiga kehidupan.


Bisa dibayangkan bagaimana keadaan Hari Pembaptisannya besok?

__ADS_1


Alianora tidak bisa membayangkan betapa repotnya dia besok.


Dan dia sempat melupakan ranjau ini?


Untung sewaktu dia kembali kekamar setelah sarapan tadi, dia langsung teringat dengan hal ini, dan cepat-cepat merogoh selembar kertas untuk mulai membuat sketsa rencananya.


"Sekarang, aku harus mulai dari mana?", gumam Alianora sambil mengetuk-ngetukan bolpennya ke atas meja.


Tiga bocah itu akan menjebaknya, mempermalukannya sampai dia betul-betul kehilangan muka, dan tidak berani menampakan dirinya didepan publik. Alianora masih mengingat betul kejadiannya sampai dia bisa mereka ulang adegannya dalam kepalanya.


Tidak bisa dipungkiri lagi, kejadian besok pasti sangat tidak boleh terjadi. Jika Alianora ingin tujuan akhirnya cepat tercapai, maka dia harus menghindari tiga bocah itu besok, apapun caranya.


Tapi, bagaimana bisa?


"Apa aku tidak ikut saja?"


Rasanya, kalau dia tidak ikut acara besok, maka tidak ada hal buruk akan terjadi. Dikehidupan sebelumnnya juga Thalia tidak pernah ikut acara pembaptisan, dan sejauh yang Alianora lihat, itu tidak terlalu berpengaruh pada reputasi Thalia, karena orang menganggap Thalia juga bukan darah bangsawan, ikut atau tidak ikut juga tidak masalah. Selain itu, dia juga tidak usah capek-capek memikirkan cara untuk menangkal anak-anak nakal itu.


Ya, seandainya dia bisa melakukan itu.


"Tapi tentu saja aku harus ikut, huh?"


Jelas dia tidak bisa menghindari acara besok, dia tidak punya alasan untuk melakukan itu, dan biarpun dia pura-pura sakit ditempat tidur, sepertinya Mary akan mengetahuinya. Mary akan memaksanya pergi.


"Ah, tidak ada pilihan lain...kah?", gerutu Alianora sambil menarik napas.


Alianora berbalik menoleh kearah jendelanya yang terbuka. Langit biru yang cerah diterpa sinar mentari yang menyilaukan, serta burung-burung yang berterbangan. Siang hari yang indah dengan pemandangan hijau yang menenangkan, rasanya dia perlu berjalan-jalan sedikit untuk menghilangkan penat dikepalanya.


Lagipula, sejak dia ada di kediaman Sheridan, dia belum sempat melihat-lihat, padahal kastil dan halamannya ini sangat luas. Sudah lama dia tidak melihat peradaban manusia lagi, dan ini adalah kesempatannya.


"Urusan ini kupikirkan nanti sajalah."


*****


Sepanjang lorong yang dia lewati, setiap lekukan-lekukan, tidak ada satu kalipun Alianora tidak menggelengkan kepala. Dulu, tembok-tembok bangunan manusia, khususnya para bangsawan, semuanya terbuat dari batu bata polosan, tidak dicat, tidak ditempeli macam-macam, tidak diapa-apakan, tidak ada apapun yang menggantung disana, keculai lentera saja. Sekarang, dia mendapati dinding kastil Nauchwanstein yang mulus ditempeli wallpaper putih yang elegan, serta dihiasi dengan berbagai macam lukisan wajah para bangsawan, dan hiasan dinding yang indah. Alianora mengaggumi material asing yang digunakan untuk membuat semuanya itu.


Lalu, lantainya, dulu material batu bata juga digunakan untuk membuat lantai. Sekarang, Alianora bisa melihat refleksinya sendiri dari pantulan batu keramik mengkilat dibawahnya, yang juga dilapisi oleh karpet dari bahan kain yang bagus. Bahkan bahan-bahan tekstil dulu sangat susah dibuat, dan hanya bangsawan saja yang bisa menggunakan pakaian dari kain, dan sekarang dia melihat sejumlah besar kain digunakan untuk alas kaki?


"Manusia memang sangat cepat berkembang."


Alianora sangat menikmati acara jalan-jalannya sampai dia tidak menyadari tatapan aneh dari setiap pelayan yang sedang lalu-lalang disana. Mereka melihat Alianora yang meraba-raba dinding, dan karpet lantai, seperti orang gila, tapi mereka tidak ingin membuang waktu mereka untuk mengurusi seseorang yang tidak penting seperti dia.


Alianora melewati beberapa lorong sampai dia menemukan sebuah ruangan yang paling berbeda dari ruangan-ruangan sebelumnya. Dari pintu kayu yang diukir elegan, dengan warnanya yang coklat tua, itu sangat menarik perhatian Alianora.


Ketika Alianora hendak membuka pintu itu, tiba-tiba dari arah sampingnya, pergelangan tangan Alianora segera ditahan.


"Sedang apa kau disini, nona?"


Alianora melihat tangan besar yang menggenggam tangannya begitu erat sampai dia merasa agak mati rasa. Tangan gembul milik seorang pelayan yang menyebalkan.


Perlahan Alianora memalingkan kepalanya untuk bertemu pandang dengan muka bulat dan badan jumbo milik pelayan itu. Oh lihat, seragam pelayannya saja sudah hampir sobek.


"Dolores."


"Sebaiknya kau kembali kekamar. Kau tidak boleh berada disini."

__ADS_1


__ADS_2