
Sebenarnya semua ini tidak termasuk dalam alur hidup Thalia.
Thalia tidak pernah diajak makan bersama seperti ini, dia juga tidak di ajak ke pesta ulang tahun pangeran dulu, dan hanya tinggal dalam kamarnya saja. Itu karena memang Kalisto dan Annabeth tidak mengajaknya, dan tidak membicarakan apa-apa dengannya.
Thalia tahu tentang acara ulang tahun itu dari Estelle. Persis seperti tadi, Estelle juga menanyakan hal yang sama pada Thalia dulu. Hanya saja, Thalia tidak merespon apa-apa selain mengangguk dan mengatakan kalau dia tidak ingin pergi. Alhasil, dia hanya menjadi pendengar setia ocehan Estelle tentang gaun baru, bagaimana acara di sana nanti, bagaimana dia berdansa dan lain-lain.
Alianora mengangguk sambil meminum jus mangganya. Menghadapi ketiga sejoli Sheridan ini lagi, membuat leher Alianora terasa haus.
"Ya, ayah. Elle tadi sudah memberitahuku."
"Berarti kau sudah mempersiapkan diri?"
Malam ini, mereka memanggil Alianora secara khusus untuk membicarakan tentang ulang tahun pangeran dengannya, dan dari arah pembicaraan mereka, sepertinya mereka juga ingin Alianora ikut serta.
"Iya, tentu ayah. Jangan khawatir."
Aneh, memang aneh, tapi bukan tidak masuk akal. Jika dilihat dari lagi, para bangsawan kali ini sudah mengenal Alianora sebagai Jiwa Apostle, namun masih banyak diantara mereka yang belum pernah melihat dengan jelas bagaimana rupa Thalia. Dengan acara ini, mereka sepertinya ingin memperkenalkan Thalia secara langsung pada dunia bangsawan.
Annabeth kali ini buka suara.
"Sebagai salah satu keluarga duke kerajaan, kita harus tampil memukau. Itu karena, selain keluarga kerajaan, semua orang juga akan memandang kita. Jangan sampai kau mempermalukan nama keluarga."
"Itu pasti, ibu."
Lalu, terbesit di kepala Alianora sebuah ide untuk mengetes pasangan duke dan duchess ini.
Dia ingin lihat bagaimana reaksi mereka ketika Alianora melihat langsung apa yang mereka perbuat pada putri angkat mereka.
Mumpung hari ini mereka mau memulai pembicaraan dengannya.
"Tapi mungkin, aku memilih untuk tampil biasa saja, sejak aku dikenal sebagai putri sederhana di kalangan bangsawan."
Bila berbicara tentang mereka berdua ini, Alianora selalu memiliki tanggapan bahwa mereka sudah tahu apa yang mereka lakukan pada Thalia, dan apa dampaknya bagi anak itu.
Mereka tidak pernah membelikan Alianora hadiah, hanya memberikan uang saku dalam jumlah sedikit pada Thalia, kadang mereka lupa dan tidak memberikan apa-apa, Alianora yakin kalau mereka sengaja melakukan itu.
Entah apa alasannya, mungkin memang karena mereka membenci Thalia. Mereka merasa menyesal mengadopsi Thalia yang memalukan nama keluarga mereka, dan sebagai pelampiasan rasa frustasi, mereka membuat Thalia hidup dengan tidak bahagia.
Tapi di satu sisi, sejak keanehan perilaku Kalisto dan Annabeth saat hari pembaptisan waktu itu, Alianora jadi memiliki asumsi lain tentang pasangan duke dan duchess ini.
Asumsi yang jelas berbeda dari keyakinan pertamanya.
Sekarang, Alianora ingin melihatnya, apa sebenarnya yang mereka pikirkan tentang Thalia.
Annabeth langsung memicingkan mata ke arah Alianora.
"Biasa? Apa maksudmu? Kau pikir biasa itu sudah cukup untuk keluarga ini?"
"Bukan begitu, ibu. Hanya saja, aku tidak memiliki baju yang sangat bagus untuk kupakai."
Alianora melahap dagingnya dengan santai, meneliti setiap ekspresi yang ada di wajah Annabeth, Kalisto, dan juga Estelle.
"Tidak punya baju, apa-"
Dari sebelah Annabeth, Estelle
langsung memotong.
Ho, ada apa ini?
"Tidak masalah, ibu. Aku sudah bilang pada kakak, kalau kakak bisa memakai gaunku."
"Oh, tentu bisa, Elle. Tapi, itu kan gaunmu yang pernah kau pakai untuk menghadiri acara-acara lainnya, pasti orang-orang sudah pernah melihat itu. Jika, aku hadir lagi menggunakan gaunmu, aku takut orang-orang akan berpikir yang aneh-aneh tentang keluarga kita."
Wajah Estelle berubah sedikit, dengan ekspresi yang tidak bisa Alianora jelaskan, pokoknya dia sedikit terganggu dengan jawaban Alianora.
Melihat reaksi Estelle yang seperti ini, Alianora sedikit puas, karena sedikit demi sedikit, Estelle mengeluarkan apa yang sebenarnya ada dalam otak kecilnya itu. Dia senang karena dengan pancingannya yang jitu, dia bisa melihat sedikit dibalik topeng 'anak manis' Estelle.
Sebelum Estelle bisa membuka mulut, Kalisto sudah lebih dulu berbicara.
"Kenapa tidak beli yang baru?"
Bagus, arah yang pas.
__ADS_1
"Ah, i-itu karena...aku, aku tidak punya cukup...uang untuk membeli yang bagus."
Mendengar itu, Kalisto dan Annabeth tertegun sedikit seperti sedang mempertimbangkan sesuatu.
"Ah, ibu, ayah, tenang saja, aku masih punya beberapa gaun yang belum pernah ku pakai, kakak bisa memakai itu juga, tidak masalah kan kak?"
Estelle balik menatap Alianora, dengan senyum simpul, dan mata yang lurus menatap Alianora tanpa berkedip, seakan dia menyuruh Alianora untuk diam dan mengangguk saja.
Alianora menatap Estelle dalam-dalam, mencoba menerka-nerka apa yang ada dalam kepala gadis kecil ini.
Dalam seluruh kehidupan Thalia, Alianora selalu melihat Thalia bersama Estelle.
Kapanpun, dimanapun, mereka berdua selalu bersama.
Thalia selalu bergantung pada Estelle, dan Estelle selalu hadir di saat-saat yang tepat untuk menghibur Thalia.
Itu terlihat seperti Thalia hanya memiliki Estelle saja dalam hidupnya, tanpa Estelle dia tidak akan bisa bertahan.
Awalnya, Alianora berpikir kalau ini semua karena sikap orang tua Thalia dan juga orang-orang di sekitarnya yang cenderung tidak memperdulikannya dan terus menghinanya, tapi setelah melihat sikap Estelle padannya akhir-akhir ini, sepertinya itu bukanlah faktor utama.
Mengapa Estelle selalu memamerkan pada Alianora kalau dia punya segalanya? Dia punya orang tua yang sayang padanya, punya teman-teman, punya pelayan-pelayan yang memujanya, punya banyak barang-barang bagus yang sama sekali tidak dimiliki Alianora?
Apa itu hanya sekedar kesombongan?
Ataukah...
Kalisto... Annabeth...
Hm, jadi seperti itu?
Haha, Estelle La Sheridan, kau benar-benar ular, hm?
Alianora menegak kembali jus mangganya, lalu tersenyum ke arah Estelle tapi dia tidak mengatakan apa-apa. Melihat itu, ekspresi Estelle langsung berubah. Senyum lenturnya berubah kaku, dan pandangannya tidak bisa di jelaskan, tapi ini membuat Alianora senang.
"Baiklah."
Kalisto mempersilahkan pelayan untuk membereskan piringnya dan meletakan makanan penutup.
Alianora mengedipkan matanya beberapa kali.
"Uh...ayah?"
"Besok pagi, aku akan kembali memanggil desainer Butik Artemis. Thalia, kau datanglah ke kamarku besok."
Alianora langsung membelalakan matanya ke arah Annabeth, dan bukan hanya dia saja, bahkan Estelle juga ikut tercengang menatap ibundanya.
Huh? Tunggu, apa dia tidak salah dengar?
"Thalia, apa kau tidak mendengarku?"
Alianora mengedipkan mata lalu mengangguk.
"Baiklah, ibu. Tapi, besok aku harus datang jam berapa?"
"Aku akan mengutus pelayanku untuk memanggilmu, jadi bersiap saja."
Tidak bisa dipercaya.
Alianora yang niatnya hanya mau mengumpan untuk melihat bagaimana reaksi mereka dan juga Estelle, tapi dia tidak menyangka kalau reaksi mereka seperti ini.
Lagi-lagi, mereka bertingkah di luar ekspektasi Alianora.
Orang tua Thalia, dalam tiga kehidupan tidak pernah memberi Thalia apa-apa, dan sekarang mereka akan memberinya sebuah gaun mahal dari butik terkenal?
Apa Annabeth dan Kalisto habis salah makan atau bagaimana?
"I-ibu akan memanggil desainer kemari? T-tapi kakak...."
Ho, lihat itu, sorot mata yang kau tunjukan itu, apa tidak terlalu tajam untuk kakakmu yang tercinta ini, duhai adikku?
"Hm, kenapa Elle? Kalau kau mau, kau juga bisa memilih-milih mana yang kau suka nanti."
Kata Kalisto sambil mengelus kepala Estelle dengan lembut.
__ADS_1
Estelle diam sejenak, lalu mengangguk pelan, tidak lupa memberi Kalisto seutas senyuman sebelum kembali menyantap pudingnya.
Dia sudah tidak berkata apa-apa lagi, Alianora tidak tahu apa yang dia pikirkan tapi untuk melihat ekspresinya tadi, dia tahu kalau setelah ini, Estelle mungkin akan semakin mewaspadainya.
Apapun alasan Estelle dengan membuat Thalia terpuruk, Alianora hanya memiliki gambaran sedikit, namun sepertinya itu bukan hal yang sepele. Sosok Estelle di depannya, masih tidak jelas, dan Alianora ingin mencari tahu lebih dalam lagi.
Namun sekarang, dia lebih baik menikmati kemenangannya sementara, dan memikirkan gaun mana yang akan dia pilih besok.
"Lalu, ada satu hal lagi."
Alianora yang sudah selesai menyantap habis puding mangganya, berpaling ke arah Annabeth.
"Mulai besok sampai tujuh hari kedepan, Elle, dan terutama kau, Thalia, akan memulai kelas berdansa-"
Huh?
Alianora, "Uhuk! Uhuk! Uhuk!"
Apa tadi dia bilang?Tunggu dulu, kenapa tiba-tiba seperti ini?
Alianora mengelap mulutnya menggunakan sapu tangan.
"Ah, maafkan aku ibu, ayah. Oh ya, ibu berbicara sampai di mana?"
Dirinya berdansa? Dirinya? Apakah wanita ini bercanda?
Dalam seumur hidup, Alianora belum pernah tahu bagaimana caranya berdansa. Maklum hal-hal seperti itu merupakan kegiatan yang dilakukan manusia, sebagai dewi dia tidak pernah sekalipun tertarik.
Setelah dia masuk ke dalam tubuh Thalia, dia sedikit bersyukur karena Thalia tidak terlalu sering mengikuti acara-acara formal, jadi dia juga tidak harus mengikuti pembelajaran tata krama dan juga hal-hal lain seperti, berdansa.
Tapi sekarang sejak alur takdirnya sudah mulai melenceng, apa yang tidak dihadapi Thalia dalam tiga hidupnya, saat ini malah dihadapi Alianora, termasuk berdansa ini. Itu membuatnya semakin tidak bersemangat.
Lagipula, untuk apa dirinya berlatih berdansa, toh dia juga tidak berencana untuk berdansa dengan siapa-siapa di sana, dan orang lain juga tidak mau berdansa dengannya, jadi buat apa membuang-buang waktu, tapi sekarang dia tidak bisa melakukan apa-apa selain menerima permintaan Annabeth. Ah, sungguh sial sekali!
Annabeth menyipitkan matanya.
"Aku sudah meminta Bibi Grita untuk melatih kalian berdansa."
Bibi Grita? Maksudnya Marchioness Rocheleau?
Margritta Rocheleau merupakan kakak dari ibu Thalia, Annabeth Rocheleau.
Berbeda dengan Annabeth, Margritta memilih untuk tidak menikah, dan mengambil alih gelar Marchioness sebagai penerus keluarganya.
Thalia belum pernah sama sekali bertemu dengan orang ini sebelumnya, jadi Alianora tidak tahu Margritta ini orang seperti apa, dan wajahnya seperti apa, tapi menurut rumor yang dia dengar, Marchioness Rocheleau adalah wanita yang sangat terpandang di kalangan pergaulan kelas atas.
Tidak ada yang berani macam-macam padanya. Bahkan, dia juga menjadi salah satu wanita yang paling berpengaruh di kerajaan.
Untuk diajari dansa oleh orang seperti itu, Alianora sudah bisa membayangkan bagaimana nasibnya nanti.
Bagus, kombinasi wanita itu dengan latihan berdansa, kombinasi mana yang sebagus itu?!
Hah, barusan saja dia mau merasakan waktu senggang, dan mengisinya dengan hal-hal yang dia sukai, sekarang dia harus kembali sibuk.
Hidup sebagai putri bangsawan memang merepotkan.
*****
Keesokan paginya, tepat setelah sarapan pagi, pelayan yang diutus oleh Annabeth membawa Alianora ke kamar Duchess dan Duke Sheridan.
Alianora yang memang sudah menunggu momen itu, langsung berangkat diikuti oleh Mary, namun kehadiran Mary ditolak oleh pelayan utusan itu, katanya Annabeth mengizinkan hanya Alianora yang boleh masuk, dan Alianora hanya menurutinya.
Hari ini merupakan hari dimana dia akan memilih gaun pestanya sesuakanya, dan dari butik terkenal pula, tapi dia tidak begitu semangat. Itu karena, dia sangat tidak ingin ikut kelas dansa pada hari itu, ditambah lagi hari itu dia harus kelas teologi juga.
Hah, sepertinya membayangkannya saja dia sudah merasa kelelahan.
Setelah sampai dimuka pintu kamar utama, Alianora langsung di sambut oleh kedua pengawal yang menyapanya, sebelum membukakan pintu untuknya.
Cahaya seketika memenuhi penglihatan Alianora, dan sedetik kemudian, dia langsung di sambut oleh pemandangan kamar yang luas minta ampun, dengan berbagai macam dress warna-warni yang digantung di deretan kereta-kereta.
Di tengah ruangan, duduklah Annabeth sambil menyeruput tehnya dengan elegan, sedangkan di sebelahnya sudah ada seorang wanita muda berkacamata yang memandanginya dengan mata terbelalak.
Ah, wanita ini pasti desainernya.
__ADS_1
Annabeth menangkap mata Alianora, dan setelah menaruh cangkir tehnya, dia melirik ke arah Alianora dengan tatapan tajam.
"Lalu, sedang apa kau berdiri di sana? Ayo cepat masuk."